"Cla...," Ornado semakin tidak bisa mengendalikan ritme suaranya lagi, apalagi detak jantungnya semakin lama semakin tidak terkendali. Bagi Ornado, Cladia seperti minuman yang memabukkannya, semakin banyak meminumnya, akan membuat kesadarannya semakin hilang, semakin dia dekat dengan gadis itu, dia semakin sulit mengendalikan pikiran warasnya.
Tangan kanan Cladia yang memeluk Ornado tetap tidak mau melonggarkan pelukannya, justru tidak berapa lama tangan kiri Cladia ikut memeluk leher Ornado dan menarik wajahnya sehingga membuat bibir Ornado menempel pada bibir Cladia. Tubuh Ornado saat itu benar-benar dalam posisi menempel pada tubuh Cladia. Dengan cepat Ornado berusaha melepaskan tangan Cladia dari lehernya dan langsung menarik badannya, menjauhi tubuh Cladia dengan nafas tersengal-sengal. Tangan kanan Ornado memegang dadanya yang bergemuruh.
Ornado menarik nafas panjang, untuk beberapa saat Ornado memejamkan matanya, berusaha mengendalikan gejolak dalam dirinya, bagaimanapun dia seorang laki-laki normal, yang sudah menunggu lama untuk dapat menjadikan gadis di hadapannya sekarang miliknya seutuhnya. Saat membuka matanya kembali Ornado hanya bisa melenguh panjang memandangi wajah Cladia yang masih menikmati tidurnya, dengan senyum di wajahnya, tanpa menyadari Ornado yang sedang berjuang keras menahan godaan itu. Dan beberapa detik kemudian tangan kanan Cladia kembali meraih tubuh Ornado dan memeluknya, mata Ornado membeliak kaget.
"Cladia...., maaf, aku tidak dapat menahannya lagi," Ornado kembali mencium bibir Cladia, tetap dengan lembut, tapi kali ini ada dorongan yang begitu besar dalam dirinya untuk meminta lebih dari sekedar mencium gadis yang sangat dicintainya itu. Tangan Ornado dengan lembut membuka satu persatu kain yang memisahkan kedua tubuh mereka.
"Cintaku...," Ornado berbisik lembut, kulit lembut Cladia yang menyentuh tubuh Ornado semakin membuat Ornado kehilangan kontrol dirinya untuk dapat menjauhi Cladia, sampai akhirnya Ornado membalas pelukan Cladia dengan erat dengan bibirnya tetap mencium dengan lembut tapi menuntut, membiarkan seluruh rasa rindunya yang sudah lama dipendamnya meluap keluar, menjadikan mereka bukan lagi dua tapi satu.
"Aaahhh!" Cladia berteriak histeris begitu bangun dari tidurnya menyadari gaun pengantinnya sudah tergantung rapi di pintu lemari pakaian, di sampingnya terlihat Ornado yang tidur dengan bertelanjang dada. Saat dia membuka selimut yang menutupi tubuh telanjangnya ada begitu jelas tanda merah di beberapa bagian tubuhnya dan ada bercak darah di sprei kasurnya. Ornado yang mendengar teriakan Cladia langsung terbangun dan menutup mulut Cladia dengan tangan kanannya, Cladia meronta-ronta dengan sekuat tenaganya, tapi jelas usahanya sia-sia belaka. Dibandingkan tenaga Ornado, jelas Cladia tidak mampu melawannya.
"Aku lepaskan, tapi jangan teriak seperti itu lagi," Ornado berkata lembut, Cladia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah ketakutan, air matanya mengalir membasahi pipinya. Ornado melepaskan tangannya.
"Kamu jahat Al, benar-benar jahat, " begitu Ornado melepaskannya, Cladia langsung bangkit berdiri sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dengan cepat pula Ornado ikut bangkit berdiri.
"Maaf Cla, tapi kamu istriku Cla," Ornado mendekati Cladia.
"Kamu jahat, aku tidak akan memaafkanmu!" Cladia mendorong tubuh Ornado dengan sekuat tenaga, kemudian berlari menuju pintu di sebelah selatan, membukanya dengan cepat dan langsung menutupnya. Ornado hanya bisa memandanginya, tetap tidak bergerak dari posisinya dengan diam, sengaja memberikan kesempatan bagi Cladia untuk tenang.
Cladia menyandarkan tubuhnya di pintu sampai jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya, badannya menggigil hebat.
"Mama, Al jahat, apa yang harus aku lakukan ma? Aku takut sekali ma," Cladia menundukkan kepalanya di kedua lututnya. Untuk waktu yang tidak sebentar Cladia menghabiskan waktunya untuk menangis, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini, sampai akhirnya di bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi.
“Mandi sepuluh kalipun rasanya tidak bisa membersihkan badanku,” Cladia bergumam pelan sambil memandangi tubuhnya di depan cermin, rasanya dia ingin berteriak dan segera meninggalkan rumah ini, tapi tentu saja itu adalah hal yang mustahil. Jika dia memutuskan untuk meninggalkan Ornado sekarang, penjelasan apa yang akan dia berikan ke semua orang, terutama Jeremy? Apa yang akan terjadi pada Jeremy kalau dia mengetahui kondisi Cladia. Bukannya tidak mungkin Jeremy akan memaksanya bertemu dengan psikiater, kembali menjalani terapi yang membuatnya benar-benar tersiksa, harus sering-sering mendengar pertanyaan dan menjelaskan kejadian 5 tahun lalu, yang walaupun dengan sekaut tenaga ingin dia lupakakan tapi tetap dengan jelas tinggal dalam ingatannya.
Cladia menarik nafas panjang, berusaha menguatkan hatinya, mengendalikan emosinya, menjernihkan pikirannya. Dia tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan menyusahkan Jeremy. Dengan pelan Cladia membuka pintu kamar mandi dan matanya langsung dikejutkan dengan kehadiran Ornado di kamar itu. Pria tampan itu sudah berpakaian rapi, berdiri di pintu penghubung kedua kamar tersebut dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya, seperti seorang laki-laki yang sedang menunggu kekasihnya untuk pergi berkencan.
Emosi Cladia kembali meledak, apalagi menyadari saat ini tubuhnya hanya terbalut oleh handuk.
“Mau apa kamu kesini?” Ketika Ornado mulai melangkah ke arahnya, Cladia buru-buru mundur, tangannya dengan erat memegang erat handuk yang menutupi badannya, seolah-olah handuk itu akan jatuh dan mempermalukan dirinya di Ornado.
“Jangan mendekat!” Cladia memberikan tanda stop pada Ornado dengan tangannya, Ornado segera menghentikan langkahnya. Sebenarnya melihat Cladia bertingkah seperti itu Ornado sudah hampir menyunggingkan senyum di wajahnya, tapi dia berusaha keras untuk menahannya, tidak mau kemarahan Cladia semakin meledak.
“Aku cuma mau mengajakmu makan, semua orang sudah berkumpul di meja makan, tidak akan ada yang berani memulai makan kalo kita berdua sebagai tuan rumah belum hadir disana,” Ornado menjelaskan.
“Pergilah kesana duluan, aku menyusul, sebaiknya kamu keluar sekarang, aku tidak akan membiarkan matamu jelalatan,” Ornado mengangkat bahunya.
“Baik, aku tunggu di bawah,” Begitu Ornado keluar dari kamarnya, Cladia buru-buru menutup pintu penghubung itu, dan menarik nafas panjang. Setelah beberapa saat berlalu dan Cladia yakin Ornado sudah turun ke meja makan, Cladia buru-buru ke kamar sebelah dan membuka lemari pakaian. Dengan cepat Cladia mengambil pakaian-pakaiannya dan segera memindahkannya ke kamar sebelah selatan.
Di ruang makan, saat Orlando datang, Tante Ema sudah duduk menunggu kedatangannya.
“Mana Cladia Ad?” Ornado tersenyum mendengar pertanyaan Tante Ema, bagaimanapun kejadian tadi malam masih begitu membekas di otaknya.
“Masih berganti pakaian tante,” Ornado menarik kursinya dan duduk. Begitu duduk Ornado menarik nafas panjang, membuat Tante Tante Ema mencondongkan badannya ke arah Ornado dan berbisik.
“Bagaimana semalam Ad?” Mendengar pertanyaaan tantenya, Ornado sedikit tersentak, tapi dengan cepat dia menyunggingkan senyumnya.
“Menurut Tante?” Ornado ganti menggoda tantenya yang langsung tertawa kecil.
“Kamu selalu menyebut Cladia gadis kecilmu, bunga mawarmu, jadi…….Apa yang terjadi tadi malam?” Ornado langsung tergelak mendengar pertanyaan tantenya.
“Apa yang tante harapkan terjadi tadi malam?” Ornado mendekatkan wajahnya ke telinga Tante Ema dan berbisik pelan.
“Mawar memang berduri tante, tapi tetap orang tidak akan tahan melihat godaan warna cantiknya dan bau harumnya, durinya tidak akan membuat orang takut dan membatalkan niat untuk memetiknya.” Mendengar bisikan lirih Ornado Tante Ema tersenyum simpul.
“Apa itu artinya aku akan segera mendapat cucu keponakan? Atau…..” Tante Ema segera menghentikan bicaranya melihat mata Ornado yang memberi kode untuk melihat ke arah tangga, yang ternyata nampak Cladia berjalan menuruni tangga itu. Tante Ema buru-buru membetulkan posisi duduknya.
“Pagi Cla,”
“Pagi,” Cladia menjawab sapaan Ornado dengan sedikit ketus, dan Ornado buru-buru memberi kode ke tantenya lewat pandangan matanya agar tantenya lebih baik diam, tidak menanyakan apa-apa kepada Cladia.
“Hari ini Tante sengaja memasakkan udang saos lemon dan lasagna buat kamu Cla, kata Ad kamu paling senang makan udang saos lemon,” Cladia melirik sinis ke arah Ornado, laki-laki itu memilih pura-pura tidak tahu sedang mendapatkan hadiah lirikan mematikan dari Cladia. Tante Ema buru-buru menyodorkan masakan udangnya di depan Cladia untuk meredam suasana tegang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Susanti
Ornado memetik mawar tanpa ijin... 😁😁😁.. no lanjutkan thor...
2022-10-11
0
Alexandra Juliana
MP nya Cladia sambil tidur, jd g sadar dong dgn apa yg terjadi 🤭🤭🤭
2022-10-09
0
Nailott
cladia,cladia. ornado suamimu. kamu yg kafih obst tidur,ksmu yg minum sendiri ,kena kamu cla senjata makan tuan.
2022-08-14
0