Cladia memandang wajahnya di depan kaca besar di kamarnya, cantik, dia seakan-akan tidak mengenali wajahnya sendiri dalam balutan gaun pengantin putih yang berhiaskan mutiara asli di bagian dadanya.
Tangan kanan Cladia naik ke atas menyentuh kalung berlian yang melingkar di lehernya. Kalung berlian design terbaru, kerjasama antara Sanjaya dan Xanderson Grup, di design khusus untuknya, khusus untuk hari pernikahannya.
Ingatan Cladia kembali ke 5 tahun lalu, mengingat kejadian yang sampai saat ini menjadi mimpi terburuk dalam hidupnya.
Tidak Jeremy, tidak Niela apalagi Ornado yang tahu bagaimana Cladia benar-benar tersiksa dengan ingatan kejadian 5 tahun lalu, berjuang untuk melupakannya, tapi setiap dia melihat laki-laki apalagi laki-laki asing ingatan itu selalu terbersit di pikirannya.
5 tahun lalu dengan jelas Cladia melihat sahabatnya Dina diperkosa oleh teman satu kelasnya sendiri dan dibunuh di depan matanya.
Masih jelas di ingatan Cladia, 5 tahun lalu, saat dia dan Dina sama-sama masih duduk di bangku SMA, mereka berdua berbeda kelas, tapi di luar kelas dimana ada Dina pasti ada Cladia.
Dina gadis yang cantik, baik dan ramah, bahkan seringkali kebaikan dan keramahannya membuat laki-laki salah paham, tapi Cladia tahu dengan pasti Dina tidak pernah menyakiti laki-laki manapun.
Seminggu sebelum kematiannya Dina mengeluh kepada Cladia akhir-akhir ini dia sering merasa dalam perjalanan pulang diikuti oleh seseorang. Kebetulan rumah Dina dan sekolah hanya berjarak 500 meter, jadi dia lebih memilih jalan kaki untuk ke sekolah.
Sebelumnya Cladia juga mendengar keluhan dari Dina tentang Edo, teman sekelasnya yang menyatakan cintanya tapi Dina menolaknya. Bukan karena jelek atau tidak pandai atau alasan apapun Dina menolak Edo.
Teman sekelasnya itu termasuk tampan, rangking 1 di kelasnya, banyak teman-teman satu kelasnya bahkan dari kelas lain yang naksir, tapi Edo tidak pernah menanggapi.
Dari awal Dina tidak pernah merasa tertarik dengan Edo, bukan hanya karena dia terlalu pendiam dan matanya yang tajam terkesan kejam dan mengerikan, tapi karena dengan mata kepalanya sendiri Dina pernah melihat Edo menyiksa seekor kucing liar di kebun sekolah dan akhirnya membunuh kucing itu, bahkan dengan senyum di wajahnya.
Sejak kejadian itu sebenarnya Dina sudah berusaha untuk menghindari Edo, tapi tampaknya Edo terus berusaha menyatakan cintanya pada Dina.
Siang itu Dina merayu Cladia untuk menemaninya tidur di rumahnya, karena sejak dua hari lalu papa mamanya harus pergi keluar pulau untuk menjenguk kakaknya yang tinggal disana, akan kembali 4 hari lagi.
Karena hari itu sudah masuk liburan sekolah, Cladia dengan bersemangat mengiyakan ajakan Dina.
Malam itu Jeremy sendiri yang sengaja mengantar Cladia langsung ke rumah Dina, karena sejak Pagi Jeremy sudah merasa firasat tidak enak selama di kantor, sehingga memaksa Cladia untuk dia sendiri yang mengantar.
Begitu sampai di depan pintu rumah Dina Cladia langsung menelpon Dina tapi tidak ada respon, dengan hati-hati Cladia mencoba membuka pintu rumah Dina yang ternyata tidak terkunci.
Begitu melihat di dalam ruang tamu Cladia berteriak histeris, Dina dengan kondisi hampir telanjang dan berlumuran darah, di samping tubuhnya tampak Edo yang masih memegang belati yang masih meneteskan darah segar.
Melihat itu Cladia langsung berteriak histeris, membuat Edo dengan beringas menoleh ke arah Cladia dan langsung berjalan ke arahnya. Cladia berusaha berlari ke arah pintu keluar, dengan sigap Edo dengan tangan yang berlumuran darah memegang bahu Cladia dan menariknya sehingga Cladia terjengkang jatuh.
Dengan ganas Edo melibaskan pisaunya ke arah jantung Cladia yang langsung menggerakkan badannya ke samping berusaha menghindar. Pisau itu tidak sempat melukai Cladia, tapi mengenai baju Cladia sehingga robek.
Edo langsung menarik tangan kanan Cladia, untuk kedua kalinya Edo megarahkan pisaunya ke arah Cladia. Saat itu Cladia sudah membayangkan dia akan mati sampai dia mendengar suara teriakan yang dia kenal, suara Jeremy, setelah itu Cladia pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Begitu sadar Cladia sudah ada di kamarnya sendiri, dengan baju yang sudah diganti bersih, di sampingnya tampak Jeremy duduk menunggunya.
"Cla, bagaimana kondisimu?" Apa ada yang sakit?" Jeremy mengelus rambut Cladia dengan lembut, walapun terlihat tenang, Cladia bisa melihat Jeremy berusaha menahan airmatanya supaya tidak jatuh.
"Jangan takut, Ada kakak disini, semua akan baik-baik saja" Jeremy mencium punggung tangan Cladia.
"Kak, Dina......" Cladia langsung menangis sejadi-jadinya, tidak dapat meneruskan kata-katanya.
"Maaf, kakak tidak berhasil menyelamatkannya, saat ambulan dan polisi datang, Dina sudah tidak ada, maaf," Akhirnya pertahanan Jeremy jebol, dia ikut menangis bersama Cladia yang perasaannya bercampur aduk, takut, sedih, merasa ikut bersalah, kehilangan sahabatnya yang begitu berharga.
Sejak kejadian itu Cladia lebih banyak berdiam diri, walaupun nilai-nilai pelajarannya tidak terpengaruh, tapi sepulang sekolah dia tidak lagi mengikuti jadwal ekstra, lebih banyak mengurung diri di kamar tanpa melakukan apa-apa, hanya duduk termenung dan kadang pada malam hari mimpi buruk membuat dia berteriak sehingga Jeremy dengan buru-buru pasti datang dan menemaninya.
Selain mimpi buruk hampir setiap malam, Cladia mengalami phobia terhadap laki-laki, apalagi laki-laki asing. Dia tidak akan pernah membiarkan kulitnya bersentuhan dengan laki-laki kecuali kakaknya Jeremy.
2 tahun Cladia harus berjuang melawan traumanya. Walaupun Jeremy memberikan psikiater terbaik, bahkan mendatangnya dari luar negeri, dan dia dinyatakan sudah pulih secara emosional, ada satu hal yang Cladia tetap menyimpan rapat-rapat dari Jeremy bahwa dia menjadi phobia dengan laki-laki sejak kejadian itu.
Begitu dia bersentuhan dengan laki-laki secara langsung dia akan langsung menendang atau menampar laki-laki itu untuk mempertahankan dirinya.
Kalau bukan karena surat wasiat itu, sejak kejadian 5 tahun lalu Cladia sudah memutuskan tidak akan menikah dengan siapapun, bagi dia cukup menjadi tante yang baik seperti ibu kandung bagi anak-anak Jeremy kelak, apalagi calon istri Jeremy adalah Niela, yang sekarang merupakan sahabat terdekatnya.
©©©©©©©
Ah, Cladia menggigit bibir bawahnya, saat ini dia benar-benar takut, rasanya dia ingin melompat dari jendela untuk lari dari pernikahannya hari ini. Tapi itu amat sangat tidak memungkinkan, di bawah jendela kamarnya, di depan pintu kamar, di depan pintu masuk rumahnya, bahkan di semua sisi rumahnya banyak penjaga dan saudara-saudara sedang bersiap menunggunya turun dari kamar untuk berangkat ke gedung pernikahan.
"Cla, apa kamu sudah siap?" Niela menerobos masuk ke kamar Cladia karena lebih dari 15 menit sejak Adel, MUA nomer satu di Indonesia keluar dan menyatakan Cladia sudah siap, Cladia tetap tidak keluar dari kamarnya.
"Wowwwwww, cantik sekali ratu kita hari ini, aku penasaran dengan reaksi Ornado saat dia melihat kecantikanmu hari ini!" Niela menarik tangan kiri Cladia.
Kalau saja ini bukan hari pernikahannya dengan Ornado, dengan senang hari Cladia akan menanggapi omongan Niela, tapi saat ini dia benar-benar dalam situasi yang menakutkan baginya, rasanya tidak ada cara untuk melarikan diri, satu-satunya cara mungkin adalah bertahan.
Tangan kanan Cladia yang menggenggam sesuatu berusaha membuat Niela tidak memperhatikan apa yang dilakukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Susanti
baru mulai baca lagi...😁...
2022-10-11
0
Nailott
cladia ornafo sangat memcintaimu.tinngal mungkin akan menyskiti orang yg samgt dicintainya.yaitu kemu
2022-08-13
0
Juragan Jengqol
kereeeen thor. siap marathon lagi nih 👍🏻
2022-05-20
0