Hari ini Cladia harus buru-buru mandi sebelum jam menunjukkan pukul 4 pagi dini hari, bersiap untuk berdandan sebelum menghadiri wisudanya di kampus. Mendengar suara alarm, Niela, sahabat Cladia yang hari itu menginap ikut terbangun.
"Hei, tidak perlu buru-buru Cla, lagipula si Adel dan teamnya akan datang kesini kan, bukan kamu yang ke salon mereka" Dengan wajah masih mengantuk Niela menyingkirkan selimut yang menutupi badannya.
"Ah, kamu seperti tidak mengerti kondisi jalanan ke tempat wisuda, aku tidak mau terlambat. Paling tidak aku harus melakukan yang terbaik di saat-saat terakhir sebelum meninggalkan kampusku," Cladia berkata sambil sibuk mengikat rambutnya yang panjang sebahu ke atas agar tidak basah terkena air.
"Melihatmu semangat hari ini aku jadi tidak sabar melihat semangatmu di hari pernikahanmu minggu depan," Mendengar gurauan Niela spontan Cladia melemparkan bantal yang ada di ujung tempat tidurnya ke muka Niela.
"Ayolah Cla, apa yang kurang dari Ornado, tampan, kaya, baik hati, dimana lagi kamu bisa dapat laki-laki sempurna seperti dia? Kalo boleh dibilang laki-laki seperti dia belum tentu ada 1 banding 1 juta, atau bahkan 1 banding 1 milyar ya?" Niela tertawa kecil, apalagi melihat Cladia yang melotot ke arahnya.
"Kalo kamu tertarik, ambil saja dia buat kamu!" Cladia mendengus kesal, Niela langsung bangkit dari tempat tidur.
"Eui, mana bisa? Bagaimana dengan Jeremy? Bisa-bisa dia memutuskan jadi perjaka tua selamanya kalau aku menikah dengan orang lain." Niela yang memang sahabat sekaligus calon istri Jeremy berkata sambil mencubit pipi Cladia.
"Lagian, apapun kata orang, bagiku laki-laki terbaik bagiku hanya Jeremy," Niela berkata sambil mendorong tubuh Cladia ke arah kamar mandi karena dilihatnya sejak dia menyebut nama Ornado Cladia langsung bermuka masam.
"Kamu selalu mempromosikan Al di depanku, seolah-olah tidak ada laki-laki yang lebih baik dari Al." Cladia masuk ke kamar mandi dengan tetap menggerutu
Di dalam kamar mandi, Cladia kembali teringat saat pertama kalinya Ornado datang bersama James ke rumahnya.
Ingatannya akan masa kecilnya bersama Ornado tidak terlalu bagus, banyak hal yang dia telah lupa, entah karena saat itu dia masih terlalu kecil atau kejadian buruk 5 tahun lalu membuat semua kenangan indah tentang Ornado pelan-pelan memudar.
Hanya satu yang masih dia ingat dengan jelas, dia tidak pernah memanggil Ornado dengan panggilan "Ad", tapi "Al", entah kenapa dia memanggil laki-laki itu Al dia juga sudah tidak bisa mengingatnya lagi.
Ah, aku harus buru-buru sebelum terlambat.
Cladia berkata dalam hati sambil berusaha untuk tidak lagi mengingat-ingat tentang Ornado di masa lalu.
©©©©©©©
Baru saja keluar dari mobil mata Cladia sudah menangkap sosok Ornado berdiri di samping mobilnya dengan membawa seikat mawar merah, bunga kesukaan Cladia, tapi menjadi menakutkan saat dia melihat siapa yang membawanya.
Begitu melihat Cladia dengan balutan baju kebaya dengan dilapisi toga Ornado langsung berjalan mendekat, disusul James di belakangnya.
"Selamat Cla, semoga apapun yang kamu impikan tercapai." Ornado menyodorkan buket bunga mawar yang dipegangnya, Niela yang berdiri di samping Cladia melirik Cladia.
Begitu dia melihat tidak ada tanggapan dari Cladia, Niela buru-buru mengambil buket mawar itu dari tangan Ornado.
"Sini, biar aku yang bawakan, supaya Cladia tidak repot, sebentar lagi dia harus masuk ke main hall, apalagi nanti dia harus menerima penghargaan karena lulus dengan nilai Cumlaude." Ornado tersenyum dan menyerahkan buket bunga yang dibawanya ke tangan Niela.
Jeremy yang baru saja keluar dari mobil langsung menepuk bahu Ornado.
"Bagaimana Ad? karena undangan pendamping buat Cladia hanya berlaku untuk 2 orang, rasanya kamu dan aku orang yang paling tepat untuk mendampingi Cladia di acara besarnya kali ini." Ornado langsung menggangguk sambil tersenyum, sekilas diliriknya Cladia yang sedari tadi lebih memilih untuk diam.
Cladia memasuki main hall hotel tempat wisudanya akan diadakan dengan diapit Jeremy dan Ornado, yang otomatis membuat banyak mata terutama wanita yang terkagum-kagum, atau bahkan merasa iri.
Ornado dengan wajah tampannya, yang disempurnajan oleh mata birunya dan Jeremy yang memiliki ketampanan khas asia yang walaupun dengan tipe wajah berbeda mereka sama-sama termasuk kategori laki-laki tampan bagi siapapun yang melihatnya.
Kalau para wanita itu tidak melihat adanya seorang gadis cantik yang sedang diapit mereka, niscaya akan banyak gadis yang akan mencari-cari alasan untuk sekedar berkenalan dan para orang tua yang akan mencari kesempatan melamar mereka untuk dijadikan menantunya.
"Cladia, Kak Jeremy, apa kabar?" Seorang laki-laki mendekati mereka bertiga, yang langsung disambut senyuman oleh Cladia dan Jeremy.
"Lho, bukannya kamu sudah wisuda 2 tahun lalu Rob?" Laki-laki yang dipanggil Robi yang merupakan kakak tingkat dari Cladia tertawa kecil mendengar pertanyaan Jeremy.
"Aku mengantar sepupuku Kak, kebetulan orang tuanya sakit, tidak bisa hadir di acara wisuda ini, cuma mamanya saja, jadi aku menemani mereka," Robi berkata sambil melirik Cladia yang hari ini tampil begitu cantik.
"Hai Kak Rob, lama tidak ketemu, sekarang kerja dimana?" Cladia berusaha menyapa Robi untuk menunjukkan rasa hormat sebagai seorang yunior kepada seniornya.
"Sekarang aku kerja di Bumi Asia, salah satu dari anak perusahaan Xanderson grup yang jadi perwakilan mereka di Indonesia, perusahaan besar dari Italia," Dengan bangga Robi menjawab pertanyaan Cladia, karena bagaimanapun tiap harinya ratusan lamaran masuk ke perusahaan itu, yang berhasil lolos tes dan interview benar-benar orang-orang berbakat.
Ornado memilih diam dengan matanya tetap memperhatikan wajah Cladia.
"Dengan bakatmu, kamu tidak tertarik bekerja disana? Kalau iya, aku akan mencoba membantumu, aku kenal baik dengan team HRD disana." Jeremy tersenyum kecil.
Memang dibandingkan dengan perusahaan Xanderson, Grup Sanjaya tidak ada apa-apanya, tapi di Indonesia sendiri Grup Sanjaya diakui sebagai salah satu perusahaan perhiasan terbesar di Indonesia, Cladia tentu saja tidak perlu bekerja di perusahaan lain, atau kalaupun Cladia tertarik bekerja disana, ada orang yang akan lebih berkuasa di atas HRD perusahaan itu untuk menarik Cladia dalam teamnya, bahkan tanpa harus bekerja disana sebentar lagi Cladia juga akan menjadi bagian dari Grup Xanderson.
Dan Ornado dalam diamnya masih memperhatikan pembicaraan mereka.
"Ah, tidak Kak Robi, aku tidak tertarik, setelah wisuda aku akan lebih banyak membantu Kak Jeremy," Cladia dengan cepat langsung menjawab pertanyaan Robi, Ornado mengalihkan pandangannya ke samping sambil berdehem kecil.
Alhasil suara deheman Ornado membuat Robi sadar ada laki-laki lain yang saat ini berdiri di samping Cladia.
"Eh, Cla, siapa? Saudaramu? Atau klien bisnis Kak Jeremy? Dari luar negeri ya?" Robi mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ornado, dengan sigap dan senyuman di bibir titpisnya Ornado menyambut uluran tangan Robi.
"Hello, my name is Robi."
"Aku Ornado, bukan saudara Cladia, calon suami Cladia, orang sini menyebutnya tunangan, benar tidak?" Wajah Robi tampak kaget, bukan hanya karena laki-laki berwajah bule di depannya bisa begitu lancar bahasa Indonesia, tapi karena dia memperkenalkan diri sebagai calon suami Cladia, gadis yang selama ini diam-diam sebenarnya sudah mencuri hatinya sejak pertama kali mereka bertemu di kelas statistik 3,5 tahun yang lalu.
"Maaf, kami duluan," Jeremy segera menggandeng tangan Cladia mengajak memasuki main hall untuk dapat mengendalikan suasana kaku akibat keterkejutan Robi.
©©©©©©©
Cladia duduk tersenyum di depan kamera sambil di kelilingi belasan buket bunga yang dia terima dari teman-teman, saudara-saudara, termasuk Jeremy, Niela, dan tentu saja Ornado sebagai ungkapan selamat atas wisudanya.
"Cla, waktunya kita foto sama-sama," Niela berkata sambil menarik tangan Jeremy dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya memberi kode pada Ornado untuk ikut berfoto.
"Eh, ayo," Niela yang berdiri di samping kiri Cladia menarik tangan Ornado dan membuat laki-laki itu berdiri di samping kanan Cladia, sedang Jeremy berdiri di samping kiri Niela.
"Ok, sudah, kita harus makan siang sebelum aku jatuh pingsan karena kelaparan. Selamat ya Cla, papa mama pasti bangga padamu." Jeremy mencium kedua pipi adiknya, disusul Niela.
"Selamat Cla, kejar kebahagiaanmu ya," Niela memeluk Cladia selama beberapa detik dan mengelus pundaknya, setelah itu dia berlari-lari kecil mengikuti Jeremy yang sudah duluan berjalan keluar studio foto.
Ornado yang masih berdiri di samping kanan Cladia menundukkan kepalanya di samping telinga Cladia, tangan kanannya menyerahkan sepasang boneka beruang sambil berbisik lembut.
"Sei la mia vita.....la mia futura moglie" Cladia membelalakkan matanya terkejut mendengar ucapan lembut Ornado.
(Kau adalah hidupku.....calon istriku)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Uni Alif Mahmud
semakin menarik 👍👍👍 maaf Author mampir juga yah di karya tamatku. Single Parent rebutan para CEO Tampan dan Masihkah harus memilihmu sayangku .Author Munira 🙏🙏
2023-04-17
0
Nailott
mesranya ornado ,tapi cladia. cuek aja.
2022-08-13
0
norliani2R
menarik ceritanya
2022-04-24
0