Air Darah

Air Darah

Awal mula Legenda Kuntilanak Merah

Jeder⚡⚡⚡⚡⚡

Di temani kilatan Petir dan hujan yang membasahi bumi, terdapat Tubuh Ketiga Pria dewasa yang tengah meringkuk kedinginan di dalam sebuah tenda.

"Aduh Yon kok aku makin kedinginan begini ya?"Ucap Agus terbata karena sedang menghayati tubuhnya yang menggigil.

"CK. Kamu pikir aku enggak hah? Kamu lihat ini tanganku sampai membiru!"Ucap Yono sembari menunjukkan kuku jari-jarinya, Bahkan ia memperlihatkan tangannya yang menjadi keriput semua.

"Hahahaha" Suara tawa Agus dan Barata sampai tertawa terpingkal-pingkal karena melihat tangan Yono menjadi keriput seperti orang tua saja.

"Hus jangan berisik, Pamali magrib-magrib begini tertawa! Apalagi sedang hujan petir seperti ini."Gumam Yono pada kedua sahabatnya.

Kedua Pria yang tadi sempat tertawa akhirnya memutuskan untuk menghentikan tawanya, karena membenarkan apa yang tadi di katakan oleh sahabatnya yang bernama Yono. Memang di daerah Jawa selalu di ingatkan oleh para orang tua, jika sedang magrib tidak di anjurkan untuk keluar rumah ataupun berisik. Karena jam-jam seperti itu adalah jam-jam rawan, katanya banyak setan yang berkeliaran mengganggu manusia yang sedang sibuk dengan dunia.

"Aduh kok perutku sakit ya?"Keluh Barata sambil memegangi perutnya.

"Hoalah ta ta Kon itu mbok yo jangan mengada-ada! ini itu magrib ta, bisa tidak di tahan dulu sakit perutnya? Mana lagi hujan juga!"Ucap Agus dengan geleng-geleng kepala.

"Kamu pikir orang sakit perut bisa di prediksi kapan datangnya? Wes gak usah berisik, siapa yang mau nganter aku keluar sekarang?"

"Yono aja sana, aku mah ogah ta ta. Daripada ketemu kuntilanak di luar sana mending aku tidur."Ucap Agus sembari meringkuk bagaikan hewan trenggiling yang sedang berlindung dari predator.

Jederrrrr

Tiba-tiba saja lampu penerangan di tenda mereka meredup dan Tiba-tiba mati seketika.

"Walah"Teriak ketiganya kebingungan.

"Gara-gara kamu ini Gus Gus, pakai segala mengabsen mbak Kunti akhirnya begini to?"Sewot Yono sedikit emosi.

"Lo Lo Lo Kok aku sing di omeli? Barata itu Lo yang gak tau waktu. Masak pengen Buang Air besar kok jam segini? Mbok di tahan Sampek besok aja kan bisa. Bahaya lo malam-malam begini cari tempat pembuangan? Posisinya kita ini lagi di tengah hutan belantara, udah gitu sedang hujan, Lalu minim lampu penerangan. la terus nak tiba-tiba saja ada hantu lewat gimana kita melewatinya hah?"Cerocos Agus tidak terima.

Jederr

Tiba-tiba saja petir menyambar salah satu pohon di samping tenda mereka hingga tumbang.

Brak

CIT CIT CIT

Terdengar seperti suara anak ayam berada di sekitar Tenda ke tiga pria yang nampak ketakutan.

Srek srek srek

"Mati aku, Demit Ki, mesti demit gak salah lagi!" Ucap Barata dengan berlari keluar tenda guna melihat apa yang terjadi di luar. Alangkah kagetnya ia karena menyadari jika pohon besar yang ada di depan tenda mereka tumbang begitu saja, Apa lagi saat ini ia tidak sengaja melihat sosok mahluk seperti seorang perempuan berbaju merah tengah menatapnya dari belakang pohon yang ada di samping pohon yang tumbang tengah menyeringai padanya.

"Apa itu? Aku tidak salah lihat kan?masak iya di tengah hutan seperti ini ada perempuan sendirian? Eh tapi bisa jadi dia juga pendaki dan bisa saja ia sedang tersesat atau membutuhkan bantuan? aku harus menolongnya!"Batin Barata bermonolog.

Dengan segera ia berlari ke arah Wanita yang sejak tadi menatapnya tanpa ada rasa curiga sedikitpun di benaknya jika saja wanita yang dia lihat itu adalah mahluk dari dimensi lain!

"Mbak sedang apa di sini?"Tanya Barata dengan cukup Antusias, Ia tidak menyangka bisa bertemu wanita cantik di hutan seperti ini. Bahkan ia sampai lupa jika tadi ingin sekali buang Air besar! Benar-benar wanita adalah racun dunia pikir Author.

Sementara Di dalam tenda Agus dan Yono Benar-benar di buat gelisah dengan Keberadaan Barata yang tak kunjung kembali.

"Yon kau lihat keluar sana di mana Barata sekarang? Aku takut tu bocah tersesat! kamu tau kan ini tu hutan bukan Taman hiburan? Tu bocah baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat seperti ini"Ucap Agus.

"Halah kenapa enggak kamu aja yang nyariin Barata, kenapa harus aku?kamu gak lihat di luar hujan lebat begitu?"Protes Yono tidak terima.

Hingga mereka berdua sangat lama beradu argumen dan tidak ada yang saling mau mengalah. Beda penglihatan di mata dua sahabatnya, jika di penglihatan Yono dan Agus saat ini sedang hujan lebat dengan angin yang cukup kencang! justru sebaliknya, di penglihatan Barata tempat itu terasa sejuk bahkan seakan tidak pernah terjadi hujan. Apalagi di hadapannya berdiri sesosok gadis cantik yang sejak tadi menatapnya lembut. Namun aneh bagi Barata kenapa sosok di depannya seakan malu-malu melihatnya? Apalagi melihat wajahnya memang cantik, namun ada yang berbeda tapi apa?.

"Tunggu dulu! Kenapa di bawah hidungnya tidak ada filtrum nya jangan-jangan Dia bukan?"

Deg

Jantung Barata berdetak lebih kencang kala menyadari jika apa yang di lihatnya bukanlah Manusia biasa. Barata memanglah peka dengan hal-hal berbau mistis. namun terkadang dia terlambat membedakan mana yang astral mana yang nyata, dan kali ini dia lagi-lagi mengalami hal yang sama.

Hihihihihihi

Bukannya menjawab serentetan pertanyaan Barata, Wanita berbaju merah itu malah asik tertawa seraya berjalan menjauh dari Barata yang terus memanggilnya.

''Han-Hantu" Karena Shock Barata malah jatuh seraya merangkak mundur setelah melihat punggung wanita itu yang bolong.

Dengan terburu-buru Barata berlari bermaksud untuk kembali ke arah tendanya yang tidak begitu jauh dari pohon di mana wanita cantik tadi berdiri. Alangkah terkejutnya saat dirinya kembali tapi tidak mendapati di mana tenda yang ia tempati bersama teman-temannya.

"Lah kemana Yono dan Agus? Jangan bilang jika mereka ninggalin aku sendiri di sini?"Gumam Barata berprasangka jelek."Gus,Yon! Kalian dimana?"Ucap Barata dengan berteriak kencang. Dia sampai lupa jika posisinya saat ini ada di tengah Hutan belantara, dan mitosnya jika berteriak di dalam hutan bisa memanggil mahluk tak kasat mata mengganggunya. Tidak mau menyerah begitu saja ia terus berputar-putar mengelilingi tempat tersebut namun tetap saja di pandanganya jika tenda mereka sudah tidak ada. Lain halnya di penglihatan Agus dan Yono yang masih setia meringkuk di dalam tenda. Tadi setelah keduanya berdamai mereka sepakat untuk keluar mencari Barata bersama, namun belum sampai mereka keluar tiba-tiba saja tenda mereka seperti di guncang dari luar.

"Yon ada apa ini Yon?"Ucap Agus sembari berpegangan Kuat di tangan sahabatnya Yono.

"Mana aku tau Gus, Apa ada gempa bumi ya di luar sana?"Ucap Yono asal.

"Hus gemblung, mana ada gempa bumi yang getar tendanya bukan tanahnya?"Sindir Agus sambil geleng-geleng kepala.

"Ya siapa tau Gus, namanya juga usaha!"Ucap Yono sembari menyengir kuda.

Di pengelihatan ketiganya benar-benar berbeda. Waktu pun yang di habiskan juga jauh berbeda, Ternyata hilangnya Barata sudah hampir 3 hari lamanya! Sedangkan menurut Barata ia meninggalkan tenda baru beberapa menit saja dan saat ini dia sedang bersama wanita yang tadi sempat ia lihat.

Episodes
1 Awal mula Legenda Kuntilanak Merah
2 Legenda kuntilanak merah
3 Pencarian
4 Pencarian 2
5 Penjaga
6 Asti Prameswari
7 Pernikahan dengan Jin
8 Bertemu kembali
9 Sosok penjaga Yono
10 Penjelasan perihal kodam
11 Naik jabatan
12 Iri
13 Ingin mengungkapkan kebenaran
14 Sekalinya setan tetaplah setan
15 Tipuan
16 Pohon kembar
17 Perjanjian
18 Kepergian adik Agus secara mendadak
19 Korban pertama
20 Mencari titik terang
21 Chapter 21
22 Menikah lagi
23 Gangguan
24 Awal gangguan
25 Kerasukan
26 Ancaman
27 Tumbal
28 Cekcok
29 Kecelakaan
30 Korban ke 2
31 Battle
32 Kecurigaan Ustadz Hanif
33 Mencari pertolongan
34 Jiwa yang tertawan
35 Nunik jadi Kuntilanak
36 Bisikan Lirih
37 Kasihan Nunik
38 Siapa Nala?
39 Ku ambil hakKu
40 Ku ambil hakku
41 Menantu yang baik
42 Kepulangan dedek bayi
43 Kemunculan Kuntilanak merah di pemakaman
44 Ayu pulang benarkah?
45 Ayu atau asti
46 Air Darah
47 Kemunculan Ayu
48 Teror di mulai
49 Keresahan warga
50 Emosi
51 Keresahan warga mengenai kemunculan Kuntilanak merah
52 Keresahan Warga part 2
53 Teror Asti
54 Poling
55 Gentayangan
56 Menghantui warga
57 Dendam Barata
58 Kelainan Jiwa
59 Hutang nyawa di bayar dengan nyawa pula
60 Firasat
61 Menutut balas
62 Asti Menutut Balas
63 Hari Mencekam
64 Teror pocong
65 23 Tahun kemudian
66 Bertemu kembali
67 Tuntutan dendam Nala
68 Teror di mulai
69 tanah kelahiran
70 Pulang ke rumah
71 Sidang pertama
72 Kemunculan Kuntilanak merah
73 Mulainya teror
74 Kejanggalan
75 Gagal
76 Menuntut Tumbal nyawa
77 Gangguan 1
78 Tumbal
79 Rombongan
80 Perlawanan
81 pemgusiran
82 Pulang
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Awal mula Legenda Kuntilanak Merah
2
Legenda kuntilanak merah
3
Pencarian
4
Pencarian 2
5
Penjaga
6
Asti Prameswari
7
Pernikahan dengan Jin
8
Bertemu kembali
9
Sosok penjaga Yono
10
Penjelasan perihal kodam
11
Naik jabatan
12
Iri
13
Ingin mengungkapkan kebenaran
14
Sekalinya setan tetaplah setan
15
Tipuan
16
Pohon kembar
17
Perjanjian
18
Kepergian adik Agus secara mendadak
19
Korban pertama
20
Mencari titik terang
21
Chapter 21
22
Menikah lagi
23
Gangguan
24
Awal gangguan
25
Kerasukan
26
Ancaman
27
Tumbal
28
Cekcok
29
Kecelakaan
30
Korban ke 2
31
Battle
32
Kecurigaan Ustadz Hanif
33
Mencari pertolongan
34
Jiwa yang tertawan
35
Nunik jadi Kuntilanak
36
Bisikan Lirih
37
Kasihan Nunik
38
Siapa Nala?
39
Ku ambil hakKu
40
Ku ambil hakku
41
Menantu yang baik
42
Kepulangan dedek bayi
43
Kemunculan Kuntilanak merah di pemakaman
44
Ayu pulang benarkah?
45
Ayu atau asti
46
Air Darah
47
Kemunculan Ayu
48
Teror di mulai
49
Keresahan warga
50
Emosi
51
Keresahan warga mengenai kemunculan Kuntilanak merah
52
Keresahan Warga part 2
53
Teror Asti
54
Poling
55
Gentayangan
56
Menghantui warga
57
Dendam Barata
58
Kelainan Jiwa
59
Hutang nyawa di bayar dengan nyawa pula
60
Firasat
61
Menutut balas
62
Asti Menutut Balas
63
Hari Mencekam
64
Teror pocong
65
23 Tahun kemudian
66
Bertemu kembali
67
Tuntutan dendam Nala
68
Teror di mulai
69
tanah kelahiran
70
Pulang ke rumah
71
Sidang pertama
72
Kemunculan Kuntilanak merah
73
Mulainya teror
74
Kejanggalan
75
Gagal
76
Menuntut Tumbal nyawa
77
Gangguan 1
78
Tumbal
79
Rombongan
80
Perlawanan
81
pemgusiran
82
Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!