Perjanjian

...🔥🔥🔥🔥...

Nala nampak sangat Murka mendengar ucapan dari Agus yang sangat melukai Harga dirinya. "Itu jika kau mau, jika kau tidak mau pun aku tidak masalah! lagi pula siapa yang membutuhkan Pria pemalas seperti dirimu yang hanya menginginkan rata dan jabatan tanpa mengukur kemampuanmu sendiri!" Ucap Nala memprovokasi.

Deg

Jantung Agus mencelos, bahkan Nala yang dari bangsa jin saja berani menghinanya sebagai manusia yang tidak berguna. Apalagi Nala juga sangat tau tujuannya datang ke tempat itu tidak hanya kebetulan semata, melainkan Tujuan sebenarnya adalah Untuk mencari keberadaan kerajaan jin yang di pimpin oleh ayah Nala sebagai seorang Raja."Tapi apa kamu bisa menjamin jika Aku bisa kaya seperti sahabatku yang menikahi wanita dari bangsamu juga?" Ucap Agus memastikan.

Nala yang awalnya memilih berjalan pergi dari tempat di mana Agus tidur tadi, kini menghentikan langkah kakinya sembari tersenyum smirk."Akhirnya Manusia yang bisa ia percaya datang juga. Nala tidak sabar memiliki Suami seperti adiknya yang nampak bahagia dengan kehidupannya!" Nala membalikkan Tubuhnya lalu berjalan kembali menuju ke arah Agus yang sedang duduk di atas dipan panjang di sebuah ruangan yang nampak luas penuh dengan hiasan dan buah-buahan yang tertata rapi di atas meja.

Nala mendudukkan bokongnya di Dipan yang kosong sebelah kaki Agus seraya memberikan Satu buah anggur hitam kepada Pria itu. "Makanlah!" Ucap Nala sembari mengulurkan tangannya yang memegang anggur ke arah Agus.

Dengan ragu Agus menerima satu butir anggur itu dan langsung memakannya dengan satu hal saja. Buah anggur itu sudah hancur di dalam mulutnya, wajah Agus nampak sumringah karena merasakan manis di atas lidahnya!" Heemmm, Rasanya manis sekali, jenis apa anggur itu?" Tanya Agus sangat penasaran.

Bibir Nala terangkat ke samping penuh misteri sebelum menjawab pertanyaan Agus."Itu adalah syarat jika kau dan aku sudah menikah. Dan mulai hari ini, aku akan menanggung hidupmu. Aku hanya ingin kau menyiapkan satu kediaman kosong untukku setiap kali ingin menemuimu dengan meminta hak ku, kau paham kan?"Ucap Nala.

"Hah maksudnya? mana bisa aku menerimamu rumah jika aku saja tidak memilik harta dan pekerjaan saat ini Nala!" Ucap Agus dengan nada kesal, niat hati ingin mendapatkan harta pesugihan, eh malah di paksa menikahi bangsa jin.

"Tenanglah, setelah ini aku akan memberikan mu harta yang berlimpah ruah. Tapi jangan sesekali melanggar janjimu itu Agus, dan setiap tahunya kau harus datang ke tempat ini dan memakan buah anggur yang sama di bulan dan hari Neptu yang sama."Ucap Nala menjelaskan aturan mainnya.

"Itu saja?" Ucap Agus dengan ragu.

"Nala menganggukkan kepalanya, ia memilih bangkit dari duduknya lalu menghilang begitu saja dari balik pintu kamar yang sangat luas itu.

"Pantas saja Barata betah, syarat pesugihannya cuma begitu saja! Aku pikir jika akan ada tumbal yang harus di persembahkan, nyatanya cuma makan anggur saja setiap tahu. Gampang lah, asal bisa kaya raya lebih dari Barata aku mah siap!" Ucap Agus membatin senang.

Malam harinya, setelah Agus dan Nala melakukan ritual malam. Nyatanya benar jika pagi harinya di sekeliling terdapat banyak sekali emas..

Alangkah kagetnya Agus mana kala saat bangun tidur, tiba-tiba dirinya sudah ada di bawah pohon beringin yang di apit oleh dua pohon randu kembar. "Loh kok aku di sini?" Gumam Agus sembari mengamati sekelilingnya. Ia melihat jika tenda yang ia dirikan semalam nyatanya masih berdiri kokoh di sana, tapi ada keanehan kenapa api unggun yang semalam ia nyalakan nampak mengering seakan-akan sudah sangat lama di biarkan begitu saja."Loh loh loh, kok aneh. Bukanya baru semalam aku menyalakannya? Tapi kok tiba-tiba sudah kering saja?"Ucap Agus sembari berjalan menghampiri tendanya. Ia nampak mengamati sekeliling tendanya yang nampak sedikit koyak di bagian samping. "Aneh, ini kan tenda baru juga. kenapa udah jebol begini?" Batin Agus penuh tanya."Atau jangan-jangan?Wah jangan-jangan aku mengalami seperti Barata yang hilang seminggu penuh padahal menurutnya baru beberapa jam saja?" Ucap Agus menduga-duga. Kini ia mengibaskan tangannya ke depan wajahnya, agaknya ia menolak mentah-mentah apa yang tadi sempat lewat dalam Pikirannya.

Tanpa mau menduga-duga lagi, Agus mengambil tasnya yang ada di dalam Tenda lali kembali ke bawah pohon beringin untuk mengambil batangan emas yang di berikan Nala padanya."Wah apa Barata juga kayak gini juga ya dulu?Jika ia, pelit sekali dia tidak mau bagi-bagi dengan kami sahabatnya? Padahal kami sudah berjuang untuk mencarinya siang malam, eh dia malah enak-enakan sama kuntilanak yang menjadi istrinya!"

Buk

"Aduh"

Tiba-tiba saja ada buah randu yang jatuh tepat di atas kepalanya seakan-akan memperingatinya agar tidak sembarangan bicara."Ampun mbk Kun, ampun. Maaf jika saya salah bicara!"Ucap Agus dengan mengatupkan kedua tangannya di atas kepala. Tidak mau mati konyol di sana, Agus memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu untuk kembali ke kota, tepatnya kota kelahirannya.

Sekembalinya ke kota, tidak di sangka jika kedatanganya di sambut Isak tangis dari keluarganya.

"Huhhuhuhuhu"Tangis terdengar sumbang dari seluruh keluarga yang ada di depan keranda yang di semayamkan di dalam rumah milik keluarga Agus.

Deg

Betapa kagetnya Agus kala menyadari ada salah satu dari keluarganya yang berpulang lebih dulu. Buru-buru Agus berlari menerjang para pelayar yang menghalangi jalannya hingga ada yang terjungkir ke samping karena terdorong tubuh Agus yang lebih tinggi. "Aduh Gus, Gus mbok ya lihat-lihat kalau jalan!" Ucap Pelayar yang melihat tetangganya sampai terjungkir karena ulah agus.

Agus sama sekali tidak perduli dengan cibiran orang-orang yang melihat tingkahnya. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah ingin melihat siapa anggota keluarganya yang berpulang lebih dahulu ke hadapan yang kuasa.

Brak

Tiba-tiba saja tubuh Agus limbung dan terjatuh tepat di samping keranda, ia merangkak menuju susu keranda guna menggapai kain penutupnya untuk ia buka.

"Jangan!" Teriak bapak Agus dengan nada yang cukup tinggi.

"Jangan Gus, kasihan adikmu."Ucap Bapak Agus sembari menarik tangan anaknya untuk mundur agar duduk di sampingnya.

"Adik, Maksud bapak yang di dalam keranda itu Fiki adikku?" Ucap Agus yang masih belum percaya sepenuhnya.

"Benar Gus."Ucap Bapak Agus dengan anggukan kepala.

Episodes
1 Awal mula Legenda Kuntilanak Merah
2 Legenda kuntilanak merah
3 Pencarian
4 Pencarian 2
5 Penjaga
6 Asti Prameswari
7 Pernikahan dengan Jin
8 Bertemu kembali
9 Sosok penjaga Yono
10 Penjelasan perihal kodam
11 Naik jabatan
12 Iri
13 Ingin mengungkapkan kebenaran
14 Sekalinya setan tetaplah setan
15 Tipuan
16 Pohon kembar
17 Perjanjian
18 Kepergian adik Agus secara mendadak
19 Korban pertama
20 Mencari titik terang
21 Chapter 21
22 Menikah lagi
23 Gangguan
24 Awal gangguan
25 Kerasukan
26 Ancaman
27 Tumbal
28 Cekcok
29 Kecelakaan
30 Korban ke 2
31 Battle
32 Kecurigaan Ustadz Hanif
33 Mencari pertolongan
34 Jiwa yang tertawan
35 Nunik jadi Kuntilanak
36 Bisikan Lirih
37 Kasihan Nunik
38 Siapa Nala?
39 Ku ambil hakKu
40 Ku ambil hakku
41 Menantu yang baik
42 Kepulangan dedek bayi
43 Kemunculan Kuntilanak merah di pemakaman
44 Ayu pulang benarkah?
45 Ayu atau asti
46 Air Darah
47 Kemunculan Ayu
48 Teror di mulai
49 Keresahan warga
50 Emosi
51 Keresahan warga mengenai kemunculan Kuntilanak merah
52 Keresahan Warga part 2
53 Teror Asti
54 Poling
55 Gentayangan
56 Menghantui warga
57 Dendam Barata
58 Kelainan Jiwa
59 Hutang nyawa di bayar dengan nyawa pula
60 Firasat
61 Menutut balas
62 Asti Menutut Balas
63 Hari Mencekam
64 Teror pocong
65 23 Tahun kemudian
66 Bertemu kembali
67 Tuntutan dendam Nala
68 Teror di mulai
69 tanah kelahiran
70 Pulang ke rumah
71 Sidang pertama
72 Kemunculan Kuntilanak merah
73 Mulainya teror
74 Kejanggalan
75 Gagal
76 Menuntut Tumbal nyawa
77 Gangguan 1
78 Tumbal
79 Rombongan
80 Perlawanan
81 pemgusiran
82 Pulang
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Awal mula Legenda Kuntilanak Merah
2
Legenda kuntilanak merah
3
Pencarian
4
Pencarian 2
5
Penjaga
6
Asti Prameswari
7
Pernikahan dengan Jin
8
Bertemu kembali
9
Sosok penjaga Yono
10
Penjelasan perihal kodam
11
Naik jabatan
12
Iri
13
Ingin mengungkapkan kebenaran
14
Sekalinya setan tetaplah setan
15
Tipuan
16
Pohon kembar
17
Perjanjian
18
Kepergian adik Agus secara mendadak
19
Korban pertama
20
Mencari titik terang
21
Chapter 21
22
Menikah lagi
23
Gangguan
24
Awal gangguan
25
Kerasukan
26
Ancaman
27
Tumbal
28
Cekcok
29
Kecelakaan
30
Korban ke 2
31
Battle
32
Kecurigaan Ustadz Hanif
33
Mencari pertolongan
34
Jiwa yang tertawan
35
Nunik jadi Kuntilanak
36
Bisikan Lirih
37
Kasihan Nunik
38
Siapa Nala?
39
Ku ambil hakKu
40
Ku ambil hakku
41
Menantu yang baik
42
Kepulangan dedek bayi
43
Kemunculan Kuntilanak merah di pemakaman
44
Ayu pulang benarkah?
45
Ayu atau asti
46
Air Darah
47
Kemunculan Ayu
48
Teror di mulai
49
Keresahan warga
50
Emosi
51
Keresahan warga mengenai kemunculan Kuntilanak merah
52
Keresahan Warga part 2
53
Teror Asti
54
Poling
55
Gentayangan
56
Menghantui warga
57
Dendam Barata
58
Kelainan Jiwa
59
Hutang nyawa di bayar dengan nyawa pula
60
Firasat
61
Menutut balas
62
Asti Menutut Balas
63
Hari Mencekam
64
Teror pocong
65
23 Tahun kemudian
66
Bertemu kembali
67
Tuntutan dendam Nala
68
Teror di mulai
69
tanah kelahiran
70
Pulang ke rumah
71
Sidang pertama
72
Kemunculan Kuntilanak merah
73
Mulainya teror
74
Kejanggalan
75
Gagal
76
Menuntut Tumbal nyawa
77
Gangguan 1
78
Tumbal
79
Rombongan
80
Perlawanan
81
pemgusiran
82
Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!