Korban pertama

...🔥🔥🔥🔥...

Dengan Hati emosi, Agus berjalan menghampiri Jenazah adiknya Diki. Ia menutup kembali tali PO*cong yang sempat di buka oleh orang-orang dan pak ustadz tadi. Entah tujuan mereka apa melakukan itu, yang jelas Hati Agus sedang sangat dongkol saat ini. Tanpa pikir panjang Agus lalu mengangkat tubuh yang sudah kaku itu sendiri tanpa bantuan orang lain dengan mudah.

Semua orang nampak tercengang tak percaya. Mereka yang ada di sana sampai berbisik-bisik, bergumam sendiri menyaksikan kejadian yang baru pertama kali terjadi di kampung mereka. mengingat tadi semua orang sudah berfikir mencoba mengangkat keranda, dengan seluruh jumlah Tiap Grub terdiri dari 6 orang. Namun tetap saja tubuh itu tidak mau terangkat dari tempatnya! Lalu apa ini, kenapa dengan mudahnya Agus melakukannya? Bahkan saat ini ia berjalan sendiri sembari membopong tubuh yang sudah tidak bernyawa itu menuju tempat peristirahatan terakhirnya.

Semua oran mengikuti Agus dari jauh. Jujur saja mereka sedikit merasa takut dengan fenomena langka yang baru saja mereka lihat."Dasar orang-orang tidak becus, begini saja mereka banyak alasan. Yang berat lah, yang tidak terangkat lah, yang aneh lah! Memang sial kalian semua."Pekik Agus dengan emosi.

Pak ustadz yang menyaksikan itu geleng-geleng kepala. Ia sudah tau apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Ia takut jika dirinya ikut campur maka keluarga Agus akan tersinggung dan menuduhnya menyebar fitnah.

"Pak ustadz, kenapa jadi begini?" Tanya bapak Agus.

"Sabar pak, Mungkin saja almarhum Fiki memiliki janji atau sedang merindukan abangnya? Makanya ia hanya ingin di angkat oleh abangnya saat ini!"Ucap Pak ustadz dengan berbohong.

Sementara Agus nampak merasakan hal aneh, kenapa bobot tubuh adiknya Diki seakan Ringan sekali?

Sesampainya di dekat liang lahat, Agus berusaha meminta tolong pada orang-orang untuk menunggu di bawah supaya lebih mudah mengangkat jenazah Fiki.

"Tolong pak, bantu saja turunkan Fiki!" Ucap Agus, sembari mengulurkan Tangannya menurunkan jenazah adiknya.

Setelah pemakaman usai. Semua orang Nampak termenung duduk di ruang tamu rumah Agus yang masih terdapat alas tikar, suasana di rumah itu masih dalam keadaan berduka karena kepergian Fiki secara tiba-tiba.

"Ahhhhhhh" Tiba-tiba saja terdengar teriakan dari dalam rumah, ternyata teriakan itu berasal dari ibu Agus yang mengalami kesurupan. Di saat itu, ibu Agus nampak meraung-raung di atas lantai. Bergulung-gulung seperti seorang yang nampak seperti kesakitan."Auhhhhh Sakit!, tolong buk! tolong pak, badan Fiki sakit buk, pak!"Keluh Ibu Agus, namun anehnya. Suaranya nampak seperti suara Fiki yang baru saja meninggal.

Pak ustadz yang belum pulang berjalan mendekat ke arah ibu Agus, seketika ia mengucapkan istighfar beberapa kali saat melihat kondisi ibu Fiki yang nampak memperhatikan."Astagfirullah, gak bener ini!"Pekik pak ustadz.

Deg

Semua orang nampak bingung dengan ucapan pak ustad yang baru saja mereka dengar. Lantas menatap aneh ke arah ustadz yang malah geleng-geleng kepala bukanya membantu.

"Lepaskan!" Ucap pak ustadz menginterupsi ke pada bapak Agus dan juga Agus sendiri.

"Maksudnya gimana pak? Apa bapak tidak lihat ibu saya sampai seperti ini?" Ucap Agus dengan nada kesal setengah mati.

"Maksud saya, jin yang menguasai jasad ibumu nak. Ibumu sedang kerasukan jin Qorin Fiki!" Ucap Pak ustadz.

Deg

Seluruh orang yang ada di sana nampak kaget bukan kepalang. Awalnya mereka tidak percaya dengan apa yang di ucapkan pak ustadz pada mereka! Tapi setelah melihat gerakan ibu Agus yang nampak aneh sejak tadi, mereka baru percaya. Apalagi ucapan yang di lontarkan ibu agus juga nampak aneh. Ia terus meraung,meronta tidak jelas seperti orang yang tengah kesakitan karena di siksa.

"Ampun Aduh ampun, tolong pak, tolong buk. Sakit buk!" sepertinya itulah ucapannya.

Sementara pak ustadz sejak tadi malah fokus menatap Agus yang terlihat diam saja sembari salah tingkah sendiri, karena sadar jika sejak tadi pak ustadz terus menatapnya tajam.

"Nak Agus, bisa kita bicara empat mata?" Ucap pak ustadz menginterupsi.

"A__Ada apa pak memangnya?"Ucap Agus sedikit terbata. Ia seperti sudah menduga jika saja pak ustadz mengetahui sesuatu tentang dirinya.

"Saya tidak bisa bicara di sini nak. Kita bicara di luar saja!" Ucap pak ustadz lagi. Lalu ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar rumah Agus, di ikuti Agus berjalan di belakangnya.

Setelah sampai di depan rumah. pak ustadz meminta Agus untuk duduk di kursi plastik bekas para tamu yang bertakziah tadi.

"Duduk gua, bapak mau tanya sesuatu boleh?"Tanya pak ustadz dengan tenang.

"Silahkan pak!" jawab Agus penuh percaya diri.

"Kamu dari mana gus? Kenapa baru datang?"Ucap pak ustadz basa basi.

"Saya dari tempat kerja lah pak, dari mana lagi?"Ucap Agus dengan berbohong.

Pak ustadz menarik nafasnya dengan kasar karena tau jika apa yang di ucapkan Agus adalah bohong.

Flashback On

Tadi sebelum Agus datang pak ustadz tidak sengaja mencuri dengar jika dua sahabatnya Agus datang lebih dulu dan bertanya dimana keberadaan Agus? Nyatanya kedua orang tua Agus malah bingung dengan pertanyaan itu! bukanya Agus berada di pulau bersama mereka? Lalu kenapa kedua sahabatnya marah bertanya kepada mereka?"

"Tidak pak, bahkan Agus sudah ijin pulang kampung sejak 2 Minggu lalu. Kamu juga baru tau kalau ternyata Agus tidak mengambil cuti, melainkan mengundurkan diri dari Perusahaan!"Jelas Yono.

"Apa? Tapi sumpah bapak tidak tau kalau Agus pulang nak. Bahkan sejak dua Minggu yang lalu dia tidak datang ke sini!"Ucap Bapak Agus dengan hati yang penuh rasa khawatir. Kemana anak pertamanya itu pergi?

Yono dan Agus nampak terpaku di tempatnya, jujur saja mereka juga bingung dengan sikap Agus yang biasanya terbuka. Kini jadi lebih tertutup! "Memangnya Agus tidak ngasih kabar ke bapak selama ini?" Sapa Barata yang ikut nimbrung.

Bapak Agus menjawab dengan gelengan kepala. Jujur saja selama 2 Minggu ini memang mereka lost kontak dengan putra pertama mereka. Bahkan sebelum Fiki pergi, putra keduanya itu selalu saja Uring-uringan mencari keberadaan kakaknya yang sangat sulit di hubungi. Di telpon tidak bisa, di kirimi pesan pun sama!.

"Aneh."Ucap Barata sembari garuk-garuk kepala.

Flashback Off

"Begitu nak ceritanya!" Ucap Pas ustadz yang baru selesai menjelaskan.

Glek

Agus Nampak kembali menelan ludahnya dengan kasar. Agaknya ia tidak bisa mencari alasan lagi setelah ini! Sepertinya semua orang sudah menyadari jika selama ini ia sudah berbohong.

Episodes
1 Awal mula Legenda Kuntilanak Merah
2 Legenda kuntilanak merah
3 Pencarian
4 Pencarian 2
5 Penjaga
6 Asti Prameswari
7 Pernikahan dengan Jin
8 Bertemu kembali
9 Sosok penjaga Yono
10 Penjelasan perihal kodam
11 Naik jabatan
12 Iri
13 Ingin mengungkapkan kebenaran
14 Sekalinya setan tetaplah setan
15 Tipuan
16 Pohon kembar
17 Perjanjian
18 Kepergian adik Agus secara mendadak
19 Korban pertama
20 Mencari titik terang
21 Chapter 21
22 Menikah lagi
23 Gangguan
24 Awal gangguan
25 Kerasukan
26 Ancaman
27 Tumbal
28 Cekcok
29 Kecelakaan
30 Korban ke 2
31 Battle
32 Kecurigaan Ustadz Hanif
33 Mencari pertolongan
34 Jiwa yang tertawan
35 Nunik jadi Kuntilanak
36 Bisikan Lirih
37 Kasihan Nunik
38 Siapa Nala?
39 Ku ambil hakKu
40 Ku ambil hakku
41 Menantu yang baik
42 Kepulangan dedek bayi
43 Kemunculan Kuntilanak merah di pemakaman
44 Ayu pulang benarkah?
45 Ayu atau asti
46 Air Darah
47 Kemunculan Ayu
48 Teror di mulai
49 Keresahan warga
50 Emosi
51 Keresahan warga mengenai kemunculan Kuntilanak merah
52 Keresahan Warga part 2
53 Teror Asti
54 Poling
55 Gentayangan
56 Menghantui warga
57 Dendam Barata
58 Kelainan Jiwa
59 Hutang nyawa di bayar dengan nyawa pula
60 Firasat
61 Menutut balas
62 Asti Menutut Balas
63 Hari Mencekam
64 Teror pocong
65 23 Tahun kemudian
66 Bertemu kembali
67 Tuntutan dendam Nala
68 Teror di mulai
69 tanah kelahiran
70 Pulang ke rumah
71 Sidang pertama
72 Kemunculan Kuntilanak merah
73 Mulainya teror
74 Kejanggalan
75 Gagal
76 Menuntut Tumbal nyawa
77 Gangguan 1
78 Tumbal
79 Rombongan
80 Perlawanan
81 pemgusiran
82 Pulang
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Awal mula Legenda Kuntilanak Merah
2
Legenda kuntilanak merah
3
Pencarian
4
Pencarian 2
5
Penjaga
6
Asti Prameswari
7
Pernikahan dengan Jin
8
Bertemu kembali
9
Sosok penjaga Yono
10
Penjelasan perihal kodam
11
Naik jabatan
12
Iri
13
Ingin mengungkapkan kebenaran
14
Sekalinya setan tetaplah setan
15
Tipuan
16
Pohon kembar
17
Perjanjian
18
Kepergian adik Agus secara mendadak
19
Korban pertama
20
Mencari titik terang
21
Chapter 21
22
Menikah lagi
23
Gangguan
24
Awal gangguan
25
Kerasukan
26
Ancaman
27
Tumbal
28
Cekcok
29
Kecelakaan
30
Korban ke 2
31
Battle
32
Kecurigaan Ustadz Hanif
33
Mencari pertolongan
34
Jiwa yang tertawan
35
Nunik jadi Kuntilanak
36
Bisikan Lirih
37
Kasihan Nunik
38
Siapa Nala?
39
Ku ambil hakKu
40
Ku ambil hakku
41
Menantu yang baik
42
Kepulangan dedek bayi
43
Kemunculan Kuntilanak merah di pemakaman
44
Ayu pulang benarkah?
45
Ayu atau asti
46
Air Darah
47
Kemunculan Ayu
48
Teror di mulai
49
Keresahan warga
50
Emosi
51
Keresahan warga mengenai kemunculan Kuntilanak merah
52
Keresahan Warga part 2
53
Teror Asti
54
Poling
55
Gentayangan
56
Menghantui warga
57
Dendam Barata
58
Kelainan Jiwa
59
Hutang nyawa di bayar dengan nyawa pula
60
Firasat
61
Menutut balas
62
Asti Menutut Balas
63
Hari Mencekam
64
Teror pocong
65
23 Tahun kemudian
66
Bertemu kembali
67
Tuntutan dendam Nala
68
Teror di mulai
69
tanah kelahiran
70
Pulang ke rumah
71
Sidang pertama
72
Kemunculan Kuntilanak merah
73
Mulainya teror
74
Kejanggalan
75
Gagal
76
Menuntut Tumbal nyawa
77
Gangguan 1
78
Tumbal
79
Rombongan
80
Perlawanan
81
pemgusiran
82
Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!