Tipuan

...🔥🔥🔥🔥🔥...

Tak terasa hari demi hari berlalu. Mereka bertiga bekerja seperti biasa, Agus pun sudah mulai kembali seperti semula. Namun setelah enam bulan, entah apa yang terjadi hingga Agus memutuskan untuk cuti.

"Gus yang benar saja, masa kamu mau cuti lagi?"Ucap Yono seakan Protes.

"Yee memangnya kenapa kalau aku cuti?"Ucap Agus sedikit ngeyel.

"Sudah-sudah, lagi pula Agus kan cuti karena ibunya sakit. Jadi wajar saja jika dia mau merawat ibunya Yon."Ucap Barata menengahi.

"Nah ini baru sahabatku!"Ucap Agus sembari menepuk pundak Barata dengan tersenyum senang. Ternyata enak juga memiliki sahabat seorang atasan, bisa ijin pulang setiap saat tanpa di omeli sama mandor.

"Kapan memangnya kamu mau berangkat Gus?"Tanya Yono lagi.

"Dua hari lagi."

"Apa?" Ucap Yono dan Barata berbarengan.

"Sudahlah, tidak usah kaget begitu. Lebih baik kita pulang saja sudah hampir malam. Iya kali kita di tengah tambang begini, yang ada di samperin Mbak Kuti!" Ucap Agus sembari bergidik ngeri.

"Hus jangan sembarangan Gus, kamu lupa kalau orang yang di sebelahku itu suaminya Kunti?" Sindir Yono dengan tertawa cekikikan.

"Sutttttt. Beda lah,Istriku itu Kunti dari bangsa bangsawan. Jenis kuntilanak merah yang di takuti."Ucap Barata membela diri.

"Heleh sama saja. Sekalinya setan ya tetep setan."Ucap Yono dengan nada kesal. Ia sampai mengusap wajah Barata dengan sangat kasar untuk melampiaskan kekesalannya.

"Sialan kamu Yon.Sini kamu" Bentak Barata sembari berlari berusaha mengejar langkah kaki Yono yang sudah melangkah jauh. Tak mau di tinggal, Agus pun ikut menyusul dua sahabatnya yang sudah berlari cukup jauh meninggalkan dirinya.

*

*

Dua hari kemudian, Yono dan Barata mengantar sahabat mereka Agus ke bandara yang ada di pusat kota.

mereka berjalan beriringan dengan sesekali melempar candaan ringan sebelum sahabatnya Yono cuti selama dua Minggu. "Gus jangan lupa nanti balik kesini bawain aku oleh-oleh dari kampung Sambel pecel Madiun Yo!"Ucap Yono sembari membayangkan betapa nikmatnya makan dengan menu pecel khas kampungnya.

"Iya Yon, aku juga kangen sama Makanan khas kampung kita. Jangan lupa ya bawain aku juga yang banyak sekalian buat stok, kalau perlu stok setahun juga boleh!" Ucap Barata sembari menyengir kuda.

"Sialan, kamu mau bikin aku miskin mendadak ya?orang kamu yang udah kaya, kenapa malah aku yang di poroti?"Ucap Agus sembari merenggut kesal.

"Hehehe" Barata hanya bisa tertawa cengengesan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Yowes aku berangkat dulu ya? Jangan lupa bersihkan kamarku."Ucap Agus dengan tertawa sumbang. beberapa saat kemudian Agus sudah berjalan masuk ke dalam pesawat dengan tersenyum menyeringai, bayangan harta melimpah sudah ada di depan mata. Tanpa sepengetahuan kedua sahabatnya nyatanya Agus ada niat terselubung di balik menjual kesedihan dengan beralasan pada teman-temannya jika ibunya sedang sakit. Padahal Agus sudah merancang rencana untuk kembali ke gunung Kemukus Guna mencari kerajaan Kuntilanak Merah seperti yang di ceritakan Barata tempo hari.

"Memangnya Barata saja yang bisa dan mau. Aku juga lah, kalau perlu aku akan minta supaya bisa lebih kaya dan sukses ketimbang Barata!"Ucap Agus penuh dengan semangat.

Singkat cerita pesawat Agus sudah landing di bandara Adisumarmo Solo. sekalinya kaki Agus menginjak tanah Jawa, bukannya kembali ke kota asalnya Agus malah langsung menuju ke Arah gunung Kemukus dengan mengendarai taksi dari Bandara ke kota xx untuk transit.

"Ini uangnya mas!" Ucap Agus pada sang supir taksi.

Supir taksi itu menerima uang Agus dengan expresi heran, baru pertama kali ini ia di minta mengantarkan penumpang ke daerah gunung seperti ini! Apalagi kondisinya saat ini sedang hujan gerimis, dan jalanan yang mereka lewati nampak sepi. "Maaf mas, mas yakin mau turun di sini?"Ucap sang Sopir setelah menerima uang dari Agus dan memasukkannya ke kantong baju. Ia nampak menengok kesana kemari guna memastikan jika apa yang ia rasakan tadi memanglah benar. Jalan ini adalah rute awal pendakian, apakah penumpangnya ini memang berniat mendaki atau bagaimana?. Sang sopir mengamati Agus dari atas sampai bawah, menurutnya tidak ada yang aneh, kalau pun mendaki, masak ia mau mendaki sendiri? Begitulah pikirnya.

"Iya mas yakin. Memangnya kenapa ya mas? Kok kayaknya menatap saya aneh begitu?"Ucap Agus sedikit merasa tersinggung dengan cara tatap sopir taksi.

"Ehh maaf mas, buka begitu maksud saya? Saya hanya ingin tau apa mas ini berniat mendaki atau bagaimana? Kalau iya masak mas mau mendaki sendiri, apa tidak bahaya?"Ucap sang sopir sedikit khawatir.

"Oh masalah itu. Hehe tenang saja mas, saya sudah membuat janji sama teman-teman saya bertemu di sini, jadi mas tidak usah khawatir!" Ucap Agus dengan berbohong. Ia tidak mau rencananya di ketahui siapapun, pokoknya niatnya sudah bulat. Ia ingin mendapatkan harta yang melimpah sebelum menikahi kekasih pujaan hatinya.

"Oalah ya sudah kalau begitu mas, saya pamit dulu. Ini sudah mau malam saya permisi ya mas!" Ucap sang supir sesaat sebelum tancap gas meninggalkan Agus yang masih berdiri di pinggir jalan dengan tatapan tajam.

Ia berfikir jika ia sudah kaya raya ia yakin pasti orang tua kekasihnya tidak akan lagi menghina dirinya. apalagi mau melarangnya menikahi anak mereka!."Sinta tunggu mas Agus ya dek, setelah ini mas Agus yakin pasti bisa nikahi adek dengan mahar yang besar seperti apa yang di syaratkan bapak ibumu waktu itu. Jangankan mobil, bahkan rumah beserta isinya, mobil beserta showroom nya pun mas belikan buat kamu setelah ini!" Ucap Agus penuh keyakinan.

Agus memutuskan untuk segera naik ke arah jalan setapak yang ada di sana, ia berencana mencari rute lain sehingga tidak harus melewati pos pendakian supaya tidak ada yang mengetahui wi rencananya saat ini. "Ayo Gus, kamu harus bisa sampai ke pohon beringin besar itu jika kau ingin kaya. Taklukkan orang tua Sinta yang sombong itu dengan memberinya harta yang tidak bisa habis tuju turunan. Agaknya ia terlena melihat sahabatnya Agus begitu mudah menjadi kaya dan mendapatkan promosi, sehingga membuatnya gelap mata.

"Eh tapi aku lupa tidak bertanya pada Barata apakah Pesugihan kuntilanak itu membutuhkan tumbal atau tidak? Setauku keluarga Barata masih utuh semuanya, kecuali Mbah buyut Barata yang mati karena sudah tua!" Ucap Yono sembari cekikikan sendiri.

Ia terus berjalan dengan tatapan fokus ke depan. Sesekali ia menatap ke samping kanan dan kiri guna memastikan bahwa sekelilingnya aman entah dari hewan ataupun manusia.

Episodes
1 Awal mula Legenda Kuntilanak Merah
2 Legenda kuntilanak merah
3 Pencarian
4 Pencarian 2
5 Penjaga
6 Asti Prameswari
7 Pernikahan dengan Jin
8 Bertemu kembali
9 Sosok penjaga Yono
10 Penjelasan perihal kodam
11 Naik jabatan
12 Iri
13 Ingin mengungkapkan kebenaran
14 Sekalinya setan tetaplah setan
15 Tipuan
16 Pohon kembar
17 Perjanjian
18 Kepergian adik Agus secara mendadak
19 Korban pertama
20 Mencari titik terang
21 Chapter 21
22 Menikah lagi
23 Gangguan
24 Awal gangguan
25 Kerasukan
26 Ancaman
27 Tumbal
28 Cekcok
29 Kecelakaan
30 Korban ke 2
31 Battle
32 Kecurigaan Ustadz Hanif
33 Mencari pertolongan
34 Jiwa yang tertawan
35 Nunik jadi Kuntilanak
36 Bisikan Lirih
37 Kasihan Nunik
38 Siapa Nala?
39 Ku ambil hakKu
40 Ku ambil hakku
41 Menantu yang baik
42 Kepulangan dedek bayi
43 Kemunculan Kuntilanak merah di pemakaman
44 Ayu pulang benarkah?
45 Ayu atau asti
46 Air Darah
47 Kemunculan Ayu
48 Teror di mulai
49 Keresahan warga
50 Emosi
51 Keresahan warga mengenai kemunculan Kuntilanak merah
52 Keresahan Warga part 2
53 Teror Asti
54 Poling
55 Gentayangan
56 Menghantui warga
57 Dendam Barata
58 Kelainan Jiwa
59 Hutang nyawa di bayar dengan nyawa pula
60 Firasat
61 Menutut balas
62 Asti Menutut Balas
63 Hari Mencekam
64 Teror pocong
65 23 Tahun kemudian
66 Bertemu kembali
67 Tuntutan dendam Nala
68 Teror di mulai
69 tanah kelahiran
70 Pulang ke rumah
71 Sidang pertama
72 Kemunculan Kuntilanak merah
73 Mulainya teror
74 Kejanggalan
75 Gagal
76 Menuntut Tumbal nyawa
77 Gangguan 1
78 Tumbal
79 Rombongan
80 Perlawanan
81 pemgusiran
82 Pulang
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Awal mula Legenda Kuntilanak Merah
2
Legenda kuntilanak merah
3
Pencarian
4
Pencarian 2
5
Penjaga
6
Asti Prameswari
7
Pernikahan dengan Jin
8
Bertemu kembali
9
Sosok penjaga Yono
10
Penjelasan perihal kodam
11
Naik jabatan
12
Iri
13
Ingin mengungkapkan kebenaran
14
Sekalinya setan tetaplah setan
15
Tipuan
16
Pohon kembar
17
Perjanjian
18
Kepergian adik Agus secara mendadak
19
Korban pertama
20
Mencari titik terang
21
Chapter 21
22
Menikah lagi
23
Gangguan
24
Awal gangguan
25
Kerasukan
26
Ancaman
27
Tumbal
28
Cekcok
29
Kecelakaan
30
Korban ke 2
31
Battle
32
Kecurigaan Ustadz Hanif
33
Mencari pertolongan
34
Jiwa yang tertawan
35
Nunik jadi Kuntilanak
36
Bisikan Lirih
37
Kasihan Nunik
38
Siapa Nala?
39
Ku ambil hakKu
40
Ku ambil hakku
41
Menantu yang baik
42
Kepulangan dedek bayi
43
Kemunculan Kuntilanak merah di pemakaman
44
Ayu pulang benarkah?
45
Ayu atau asti
46
Air Darah
47
Kemunculan Ayu
48
Teror di mulai
49
Keresahan warga
50
Emosi
51
Keresahan warga mengenai kemunculan Kuntilanak merah
52
Keresahan Warga part 2
53
Teror Asti
54
Poling
55
Gentayangan
56
Menghantui warga
57
Dendam Barata
58
Kelainan Jiwa
59
Hutang nyawa di bayar dengan nyawa pula
60
Firasat
61
Menutut balas
62
Asti Menutut Balas
63
Hari Mencekam
64
Teror pocong
65
23 Tahun kemudian
66
Bertemu kembali
67
Tuntutan dendam Nala
68
Teror di mulai
69
tanah kelahiran
70
Pulang ke rumah
71
Sidang pertama
72
Kemunculan Kuntilanak merah
73
Mulainya teror
74
Kejanggalan
75
Gagal
76
Menuntut Tumbal nyawa
77
Gangguan 1
78
Tumbal
79
Rombongan
80
Perlawanan
81
pemgusiran
82
Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!