Bab 2 Kedukaan

AAAGGHHH!

Ada sesuatu yang sobek di bagian inti Sheva. Erangan Sheva bagaikan nyanyian yang mampu meningkatkan gairah pria itu perlahan tapi pasti. Entah berapa kali dalam semalam mereka melakukannya. Keduanya begitu menikmati percintaan malam panas mereka. Sehingga mereka tidak sadar tubuh mereka menjadi candu satu sama lain. Sheva lemas tertidur pulas di atas pelukan pria itu. Pria itu memakaikan sebuah kalung kepada Sheva dan tidak lupa pria itu mengambil gawai dan memotret Sheva.

"Gadis, kamu milikku." Pria itu mengecup lembut kening Sheva dan tertidur pulas.

** Keesokan harinya **

Sheva merasakan sakit luar biasa di seluruh tubuhnya. Sheva memegang kepalanya dan memperjelas pandangannya. Betapa terkejutnya Sheva melihat dia berada di atas tempat tidur tanpa busana dan ada noda darah di atas sprei. Banyak bercak merah di sekujur tubuhnya. Sheva menutupi tubuhnya dengan selimut. Dan siapa orang yang tidur memunggunginya. Apa orang itu yang sudah membobol keperawanannya?

Sheva memejamkan mata mencoba mengingat kejadian tadi malam. Seingatnya dia makan malam bersama ayahnya dan ayahnya memberikan cardlock kamar sebagai hadiah ulang tahunnya. Kemudian Sheva merasakan pusing teramat sangat di kepalanya dan terjadilah malam panas di antara mereka.

Sheva perlahan turun dari tempat tidur, dengan menahan rasa sakit di bagian intinya, Sheva memunguti pakaiannya yang berhamburan di lantai. Sheva membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Dengan berderai air mata Sheva menyesali apa yang telah terjadi.

Sheva perlahan meninggalkan kamar panasnya dengan pria asing itu. Sheva menuju kamar yang sudah disiapkan ayah untuknya. Di dalam kamar, ayahnya menunggu duduk di atas sofa. Wajah ayahnya memancarkan aura kemarahan. Perlahan Sheva mendekat.

"Ayah." Panggil Sheva.

"Kemana kamu semalam?" tanya Dafa tegas.

"Maaf Ayah, Sheva salah masuk kamar." Sheva menunduk, badannya gemetar menahan takut.

"Gara-gara kamu, tuan Erik membatalkan perjanjian!" Dafa mengepalkan tangannya.

"Tuan Erik? Siapa?" tanya Sheva dengan bibir yang gemetar.

"Tuan Erik orang yang akan bekerja sama dengan perusahaan Ayah. Karena kamu tidak ada semalam, dia membatalkan perjanjian!" Dafa berapi-api.

"Maksudnya?" Sheva masih tidak mengerti.

"Ayah berjanji akan mengenalkan mu kepada tuan Erik. Tapi kamu tadi malam tidak ada di sini. Bukankah Ayah mengatakan hadiahmu ada di dalam kamar ini!" Dafa semakin emosi.

"Oh, jadi Ayah ingin menjualku kepada orang asing. Jadi tadi malam hanya sandiwara. Ayah, sejak kecil Sheva hanya ingin disayang oleh Ayah. Ingin mendengar Ayah memanggil 'Nak'. Hanya itu yang Sheva ingin. Apa bedanya Sheva dengan Radin? Kami sama-sama anak Ayah. Selama ini Sheva tulus memberikan cinta dan kasih sayang Sheva kepada Radin. Tapi kalian hanya memanfaatkan Sheva. Darah Sheva mengalir dalam tubuh Radin. Apa Ayah tidak sadar tanpa Sheva, Radin tidak akan hidup!"

PLAK!

"Kamu anak selingkuhan dari Bundamu." Dafa memegang tangannya yang terasa panas.

Sheva diam dan memegang pipinya yang terasa ngilu.

"Apa Sheva tidak ada artinya di hadapan Ayah. Jika Sheva tiada apakah Ayah akan bahagia?" tanya Sheva.

"Kamu harus tetap hidup. Radin masih memerlukanmu. Radin juga membutuhkan ginjalmu."

"Radin, Radin, Radin! Di mata Ayah hanya Radin. Apa Ayah tidak pernah berpikir Radin itu anak siapa? Apakah Radin benar anak Ayah!" untuk pertama kalinya Sheva berani berteriak di depan Dafa.

PLAK!

"Dasar anak haram! Beraninya kamu bicara seperti itu terhadap Radin!" Dafa mencekik leher Sheva.

"Jika Sheva mati, Radin juga mati!" Sheva menahan tangan Dafa.

Dafa melepaskan tangannya dengan kasar. Sheva merasakan nafasnya hampir habis.

"Ingat, Radin memerlukan ginjalmu." Dafa meninggalkan Sheva.

Sheva terduduk di lantai dingin kamar hotel. Sheva merasa kedua pipinya panas dan ngilu. Sheva melampiaskan dukanya dalam air mata. Sheva teringat kekasihnya, Sheva berniat menemuinya dan berharap kekasihnya menjadi tempat bersandar untuknya.

Sheva memasuki sebuah rumah yang selama ini sering dikunjunginya. Sheva membuka pintu. Perlahan dia masuk, Sheva ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya. Dan ternyata di luar dugaan. Bukannya memberi kejutan untuk kekasihnya, malah Sheva yang mendapatkan kejutan serangan jantung melihat kekasihnya bercinta di depan matanya sendiri dengan sahabatnya.

Saking panasnya percintaan mereka, sampai-sampai mereka tidak menyadari kehadiran Sheva yang terbakar api cemburu, marah, benci, merasa dikhianati dan tersakiti. Sheva berlari keluar dari rumah kekasihnya. Darahnya mendidih setelah melihat perselingkuhan di depan matanya. Hatinya seperti tersayat sembilu. Teriakan kekecewaannya membelah angkasa.

Sheva lagi-lagi mendapatkan kejutan. Om Riza menghubunginya lewat telepon, tante Puspa masuk rumah sakit. Dan harus segera dioperasi. Tidak lama setelah mm Riza menelpon, Dafa ayahnya juga menghubungi Sheva untuk segera datang ke kantornya.

Sheva masuk ke dalam kantor Dafa. Kehadirannya sudah ditunggu Assisten Dafa di ruangan lobi. Sheva masuk ke dalam kantor Dafa.

Dafa menyodorkan sebuah kertas di atas meja kepada Sheva. Sheva membacanya dengan hati-hati dan teliti tiap huruf yang ada di kertas itu.

"Tante Puspa dalam keadaan kritis. Kamu harus mengambil keputusan. Jika kamu sayang dengan tante Puspa, kamu harus menandatangani surat ini." Kata Dafa.

Surat itu berisi surat pernyataan bahwa Sheva akan melakukan pernikahan dengan seseorang yang dipilih oleh ayahnya. Setelah menikah dengan orang pilihan ayahnya, Sheva akan mendapatkan uang sebesar 200 juta cash. Tanpa pikir panjang lagi Sheva menandatangani surat pernyataan itu. Karena pikiran Sheva saat ini fokus kepada tante Puspa, karena Sheva sangat mengetahui perekonomian om Riza. Sheva harus membalas budi terhadap mereka berdua.

Akhirnya pernikahan Sheva pun dilaksanakan setelah beberapa jam Sheva menandatangani surat pernyataan. Ternyata suami yang dipilihkan ayahnya adalah seorang yang cacat. Sheva memandangi calon suaminya yang terbaring di atas tempat tidur. Calon suaminya tersenyum menatap ke arahnya. Calon suaminya menandatangani berkas-berkas perkawinan. Sheva pun sama. Kini mereka resmi menjadi suami istri di atas kertas.

Sheva meminta uang yang telah dijanjikan ayahnya. Dafa hanya tertawa, Dafa berhasil menipu Sheva dengan perkawinan. Betapa terpukulnya Sheva. Sheva meratapi betapa pahit kehidupannya. Mengapa hidup begitu tidak adil terhadapnya. Untuk apa dia hidup? Apa hanya untuk menderita?

Sheva dengan membuang rasa malunya berlutut di hadapan suaminya.

"Maaf, bisakah aku meminjam uang? Aku akan mencicil untuk melunasinya." Sheva menundukkan kepalanya.

"Untuk apa?" tanya suaminya.

"Untuk membayar operasi tanteku. Beliau sedang berjuang di meja operasi." Jawab Sheva.

"Baiklah akan aku turuti." Suami Sheva menyuruh Assistennya untuk menemani Sheva ke rumah sakit.

Sheva dan Assisten suaminya tiba di rumah sakit. Dan kedatangan Sheva terlambat. Tante Puspa sebelum dioperasi sudah menghembuskan nafas yang terakhir.

Sheva sungguh merasa kosong, hampa. Kedukaannya bertambah, orang yang dianggapnya sebagai ibunya telah tiada. Dalam diam dan sepi Sheva mendengar suara bisikan yang membawanya berjalan jauh tanpa henti. Dan tibalah di sini di sudut bibir tebing Sheva berdiri.

BYUUUUR!

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Queen

Queen

oh tidak

2024-02-12

1

Queen

Queen

waduh kawin paksa

2024-02-12

1

Queen

Queen

sudah darah kini ginjal👿

2024-02-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!