"SHEVA, BERHENTI!"
Elzin berdiri dengan angkuhnya, menutup jalan Arkan dan Sheva.
"Siapa kamu?" Arkan merasa cemburu terhadap sikap yang ditunjukkan Elzin.
"Aku penguasa di tempat ini. Apa hakmu membawa Sheva pergi!" ekspresi wajah Elzin mengeras.
"Aku suami Sheva yang sah." Jawab Arkan.
"Tapi dia sudah mati. Dia tidak akan pernah bisa kembali." Elzin menyorot tajam ke arah Arkan.
Arkan dengan lembut berbalik menghadap Sheva yang masih dalam kebingungan dan kebisuan.
"Sayang kamu masih hidup, ragamu ada di rumah sakit. Kembalilah. Di dalam sini ada anak kita, kamu sedang hamil." Arkan meletakkan telunjuknya ke perut Sheva.
"Aku, hamil?" Sheva melirik ke arah perutnya.
"Iya sayang. Kita akan punya anak. Kamu harus kembali. Apa kamu tega membiarkan anak kita tidak lahir ke dunia. Dia berhak untuk hidup, dia berhak mendapatkan kasih sayang orang tuanya. Aku yakin, kamu orang tua yang baik, yang sangat menyayangi anaknya. Kamu orang yang penuh kasih sayang. Kembalilah sayang." Arkan menunjukkan ketulusan.
"Sheva, hanya aku yang bisa membuatmu bahagia. Semua keinginanmu akan aku penuhi. Kamu ingin Kerajaanku, akan aku beri." Bujuk Elzin.
"Sayang, pandangi lah aku. Lihat mataku. Apakah kamu melihat kejujuran dan ketulusan di situ?" Arkan menggenggam lembut jemari Sheva.
Tatapan Arkan bagai busur panah yang menancap ke jantung hati Sheva, tampak kekaguman di wajahnya. Sheva membalas manis saat Arkan mengecup bibir mungilnya.
"SHEVA!" darah Elzin mendesir merangkak naik di wajahnya. Tak sanggup melihat kemesraan mereka berdua.
Perlahan Arkan dan Sheva menghilang, asap putih menyelimuti mereka. Elzin lengah, Arkan dan Sheva berhasil lolos dari Kerajaan gelapnya.
* Di rumah sakit kamar Sheva.
Jiwa Arkan dan jiwa Sheva kembali ke tubuh mereka masing-masing. Tante Oky mengunci jiwa Sheva agar tidak keluar lagi dari raganya.
Arkan membuka mata, Arkan merasakan jemari Sheva bergerak lemah.
"Ahsan, panggil Dokter," ucap Arkan.
Ahsan keluar ruangan, tidak berapa lama Ahsan kembali bersama Dokter dan beberapa perawat. Dokter memeriksa keadaan Sheva. Sheva mulai menggerakkan anggota badannya. Sheva susah payah membuka matanya yang berat, serasa ada perekat kuat yang menempel di matanya. Samar-samar terlihat bayangan pria.
"Dok, dia sadar." Suara pria itu terdengar.
Semakin lama pandangannya semakin jelas. Sheva mulai menggerakkan jemarinya. Mata Sheva memutar menjelajahi ruangan dimana banyak alat-alat medis menempel di tubuhnya. Sheva juga melihat alat bantu pernapasan menutup separuh wajahnya.
"Ibu Sheva harus istirahat. Kita bisa melihat perkembangannya beberapa jam lagi." Kata Dokter Selvi.
"Terima kasih, Dok," ucap Arkan.
Beberapa jam kemudian, alat-alat medis yang menempel di tubuh Sheva satu persatu dilepas. Sheva merasa leluasa, badannya terasa sakit. Sheva merasa tidak nyaman dengan situasinya. Lagi-lagi pria yang sedari tadi ada di dalam ruangan Sheva mendekat.
"Sayang, kamu sudah sadar? Ada yang sakit?" tanya Arkan.
"Maaf, aku siapa? Dan Anda siapa?" Sheva memberanikan diri untuk bertanya.
"Dok, apa yang terjadi?" Arkan panik.
"Karena benturan di kepalanya cukup keras, Ibu Sheva mengalami amnesia. Pak Arkan jangan cemas, kami berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Bu Sheva." Dokter Selvi menenangkan Arkan.
Setelah Dokter Selvi dan beberapa perawat meninggalkan mereka, Arkan memberanikan diri mendekat duduk di sebelah Sheva.
"Sayang, aku Arkan suamimu. Dan namamu Sheva Naila."
"Sheva namaku Sheva." Beo Sheva.
"Apa kamu ingin jalan-jalan?" ajak Arkan.
"Hmmm jika tidak merepotkan, boleh." Jawab Sheva.
Arkan mengambil kursi roda yang sudah disiapkan perawat di sudut ruangan. Arkan perlahan mengangkat tubuh Sheva dan mendudukkannya di kursi roda. Arkan membawa Sheva jalan-jalan, di depan rumah sakit ada taman kecil untuk pasien dan anggota keluarga yang ingin beristirahat. Arkan duduk di bangku taman berhadapan dengan Sheva yang duduk di kursi roda.
"Sayang, apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Arkan.
"Badanku masih terasa sakit. Kira-kira sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Hampir dua bulan." Jawab Arkan.
"Selama itu juga kamu menungguku?" Sheva mencoba mencari tahu.
"Iya, karena aku mau orang yang kamu lihat pertama kali itu adalah aku." Arkan kembali menatap lembut ke arah Sheva.
Lagi-lagi Sheva tidak dapat mengontrol irama jantungnya yang cepat. Seandainya saja Arkan punya mata super, mungkin saat ini Arkan akan melihat bunga-bunga bermekaran dan balon-balon cinta berterbangan di sekeliling Sheva.
"Sayang, aku ingin menyelenggarakan resepsi pernikahan kita yang tertunda," ujar Arkan.
"Resepsi pernikahan?" Sheva mengerutkan keningnya.
"Maafkan aku sayang, resepsi pernikahan kita tertunda karena kamu kecelakaan. Apa kamu bersedia? Kita akan melaksanakan resepsi secepat mungkin. Takutnya baju pengantin yang aku pesan tidak cukup karena perutmu yang membuncit." Tunjuk Arkan.
"Maksudnya aku gendut?" Sheva mengernyitkan wajahnya.
"Iya sayang, karena kamu sedang hamil." Jawab Arkan.
"Apa? Aku hamil!" Sheva memegang perutnya.
"Kenapa sayang? Kamu tidak mau hamil?" ada perasaan yang membuat Arkan tidak nyaman setelah melihat keterkejutan Sheva.
"Bagaimana kandunganku? Bagaimana anak kita? Selama aku tidak sadarkan diri apa dia baik-baik saja?" Sheva panik.
"Sayang tenang, maaf aku kira kamu tidak menginginkan kehamilan. Aku salah paham. Dia baik-baik saja. Kamu harus sehat sayang demi dia dan demi kalian." Arkan memeluk erat Sheva dan mengecup keningnya.
Sheva merasa nyaman dipeluk Arkan, Sheva merasa aman sungguh beruntung Sheva memiliki suami yang Sheva sendiri tidak mengingat siapa dia, kapan mereka bertemu dan mengapa dia memilih Sheva. Yang pasti sekarang Sheva menerima kehadiran Arkan.
"ARKAN!" seorang wanita sangat cantik berteriak di hadapan mereka.
Arkan dan Sheva terkesiap menoleh ke arah belakang.
"Arkan, apa kamu serius dengan dia? Mengapa kamu membuang waktu dengannya? Sekarang aku sudah kembali. Lepaskan dia!" wanita itu menarik Arkan dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Arkan.
"Elvira, lepaskan!" Arkan mendorong tubuh wanita itu sehingga tersungkur ke tanah.
"Kurang apa aku darinya?" Elvira melotot ke arah Sheva.
"Si--- siapa dia?" tubuh Sheva bergetar.
"Aku tunangan Arkan. Gara-gara kamu wanita liar Arkan meninggalkan ku!" Elvira berdiri dengan penuh kemarahan maksud hatinya ingin menjambak rambut Sheva, tapi Arkan lebih dulu menahan langkahnya.
"Elvira hentikan! Aku dan dia sudah menikah."
"Apa? Kalian sudah menikah? Arkan itu bohong kan? Kamu bohong kan?" Elvira mengguncang badan Arkan.
"Iya kami sudah menikah. Sebentar lagi kami akan mengadakan resepsi pernikahan kami yang tertunda. Aku harap kamu mengerti. Tidak ada lagi hubungan di antara kita." Jawab Arkan tegas.
"Kamu! Apa kamu merayu Arkan dengan tubuhmu! Aku tidak terima, aku dikalahkan oleh orang sepertimu!" Elvira di luar kendali, dia mengamuk.
Arkan menahan tubuh Elvira yang ingin mencelakakan Sheva. Elvira melayangkan tendangan.
DUAGH!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Queen
ciee ciee
2024-02-16
1
Queen
😱
2024-02-16
1
Queen
uhuyyyy
2024-02-16
1