Bab 16 Bertemu Kafeel

AAAAAAAA!

Sheva dengan nafas yang terengah-engah terduduk bangun dari tidurnya.

"Sayang, ada apa?" Arkan mengambil air putih yang ada di meja dan meminumkannya kepada Sheva.

"Ka." Sheva masih mengatur nafasnya, "Aku bermimpi, ada yang menginginkan ginjalku." Sheva memegang dadanya.

"Siapa?" Arkan memandangi Sheva.

"Seorang bapak-bapak dan disampingnya ada seorang gadis yang sakit duduk di kursi roda." Jawab Sheva.

"Dia pasti ayahmu. Ya sudah, kembalilah beristirahat. Kamu harus memikirkan kesehatan." Arkan menidurkan Sheva.

Setelah beberapa hari, akhirnya Sheva resign dari kantor Elzin. Sheva, Arkan, Kak Lina, Rafael dan Ahsan kembali ke Kota A. Kedatangan mereka disambut Mama dan Papa Arkan. Mama berjanji akan melindungi Sheva dan tidak akan membiarkan Arkan bersama wanita lain. Begitu juga Papa tidak akan membiarkan siapapun berbuat jahat kepada menantunya. Sheva sangat berterima kasih kepada keluarga suaminya, Sheva juga meminta maaf karena sudah salah paham dan menghilang. Untungnya mereka semua mengerti. Sheva merasa bahagia berada diantara keluarganya.

Kandungan Sheva sudah memasuki usia ke tujuh bulan. Arkan pun sudah tidak merasakan ngidam lagi dan dalam beberapa bulan terakhir kembali bekerja di kantor. Sedangkan Sheva menyibukkan diri dengan membuka toko kue. Sheva ternyata berbakat membuat aneka kue. Di toko kuenya Sheva dibantu beberapa orang karyawan yang dia ambil dari beberapa orang yang kurang mampu yang dia temui di jalanan. Sheva tergerak hatinya untuk menolong sesama. Sheva mengajari mereka membuat kue dan berdagang. Sheva memberikan mereka tempat tinggal tepat di belakang toko kuenya.

Semua karyawan Sheva sangat terampil dan pekerja keras. Mungkin karena latar belakang mereka yang dari keluarga kurang mampu. Sheva merasa senasib dengan mereka. Para karyawan sangat bersyukur bisa bertemu dengan Sheva. Dari hasil mereka bekerja di Toko Sheva mereka bisa membantu perekonomian keluarga mereka.

Toko Sheva dibanjiri banyak pelanggan setiap harinya. Yang tadinya hanya sebuah toko kecil sekarang menjadi cafe. Cafe Sheva semakin terkenal baik itu dari media sosial ataupun dari mulut ke mulut. Berita itu terdengar sampai ke telinga Kafeel mantan Sheva.

Kafeel selama ini menjalin hubungan dengan Radin. Tujuan utama Kafeel adalah menjadi menantu di keluarga Radin karena Kafeel menganggap ayahnya Radin seorang konglomerat. Ternyata setelah beberapa bulan menjalin cinta dengan Radin, akhirnya Kafeel mengetahui bahwa papanya Radin seorang yang elit alias ekonomi sulit. Kafeel mengetahui Dafa punya banyak hutang untuk pengobatan Radin. Dafa juga tega menjual Sheva seharga 400 juta kepada orang lumpuh. Dan hari ini Kafeel melihat Sheva yang sedang hamil di media sosialnya sukses dengan usaha Cafenya.

Kafeel mencoba mampir ke Cafe Sheva. Dia masuk dan memesan kue dan juga minuman. Kafeel memperhatikan ruangan yang begitu besar dengan etalase kue yang panjang berisi pastry, aneka kue bolu, desert hingga kue kering, ramai banyak pengunjung. Karyawan yang banyak dan juga ramah. Kue yang enak dan minuman yang menyegarkan. Sungguh beruntung Sheva mendapatkan suami lumpuh tetapi kaya, begitu pikir Kafeel.

Mata Kafeel terus menjelajahi setiap sudut Cafe berharap dia melihat Sheva. Dan akhirnya orang yang dia tunggu telah menampakkan diri. Sheva terlihat ingin keluar Cafe. Kafeel mengejarnya.

"Sheva." Panggil Kafeel.

Sheva yang berjalan jauh keluar Cafe merasa dirinya dipanggil menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang.

"Iya, Anda memanggil saya?" tanya Sheva sopan.

"Sekian lamanya tidak bertemu semudah itu kamu melupakan ku." Jawab Kafeel.

"Maaf, saya sungguh tidak mengenal Anda." Sheva mundur beberapa langkah ke belakang.

"Sheva jangan bercanda kamu!" Kafeel berusaha mendekati.

"Maaf, saya tidak mengenal Anda." Sheva berbalik mencoba lari dari Kafeel.

Kafeel yang mulai kesal menangkap tangan Sheva kemudian menggendongnya dan memasukkannya ke dalam mobilnya. Kafeel menduga Sheva sengaja menghindarinya dan berpura-pura tidak mengenalinya. Sheva terus bertanya dia siapa. Mau dibawa kemana. Apa tujuannya. Kafeel semakin kesal. Kafeel melajukan mobilnya. Sheva gemetar, ketakutan tangannya refleks memegang liontin kalungnya.

Liontin Sheva mengirim sinyal ke ponsel Arkan. Arkan yang sedang meeting di kantornya segera mencek ponselnya. Liontin Sheva selama beberapa bulan ke belakang tidak pernah mengirimkan sinyal makanya Arkan selama itu tidak mengetahui keberadaan Sheva. Tapi sekarang Sheva mengirim lokasi dimana dia berada.

Arkan mengakhiri meeting. Arkan meminta Ahsan mengikuti sinyal yang dikirim liontin Sheva. Ternyata sinyal itu mengarah ke luar kota. Ahsan terus melarikan mobilnya secepat mungkin, takut terjadi sesuatu kepada Sheva.

Sepanjang perjalanan Arkan memutar rekaman CCTV yang ada di Cafe Sheva. Terlihat Sheva dibawa paksa oleh seorang pria. Sheva berontak berusaha melepaskan diri.

"Ahsan, apa kamu kenal dengan pria itu?" Arkan menaruh gawainya di atas phone holder.

Ahsan melirik ke arah ponsel sambil terus memperhatikan arah jalan. "Dia mantan kekasih Sheva, dia bajingan. Di belakang Sheva dia menggoda gadis-gadis lain."

"Apa yang dia inginkan dari Sheva?" Arkan mengepal tangannya.

* Di tempat lain, di pinggir pantai.

Kafeel membawa Sheva ke sebuah Villa. Kafeel menarik paksa Sheva untuk masuk ke dalam Villa tersebut. Ternyata di dalam Villa itu ada Radin, Dafa dan juga Ola. Mereka terkejut melihat Kafeel yang datang bersama Sheva.

"Bang Kafeel, kenapa bisa bersama dengan Kak Sheva?" Radin tidak suka melihat Kafeel yang memegang tangan Sheva.

"Pak Dafa, apakah Anda menginginkan Sheva?" tanya Kafeel.

"Maksudnya apa?" Radin memandangi Kafeel dan juga Papanya.

Sheva juga tidak mengerti, mengapa semua yang ada di dalam ruangan ini mengenalnya. Sheva berusaha mengingat wajah gadis dan juga bapak itu. Semakin Sheva berusaha mengingat semakin sakit kepala yang Sheva rasa. Tubuh Sheva merosot ke bawah, kedua tangannya memegang kepala.

"Radin, kamu sedang sekarat. Dan Papa kamu menginginkan ginjal Sheva untuk diberikan kepada kamu." Jawab Kafeel.

"Apa! Tidak, tidak mungkin!" Radin juga terduduk di kursi tamu.

Radin tidak percaya ayahnya tega berbuat seperti itu kepada Sheva. Semenjak jiwa Sheva pernah merasuk ke dalam raga Radin, Radin sedikit banyaknya mengetahui isi hati Sheva yang rapuh. Sheva selama ini tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Dan ibunya pun sangat benci kepada Sheva. Padahal selama ini Sheva dengan suka rela memberikan darahnya untuk Radin.

"Iya, terima kasih Kafeel. Kamu sudah membawa Sheva kemari. Sheva pasti akan suka rela memberikan ginjalnya," kata Dafa.

"Tapi semua ini tidak gratis." Sahut Kafeel.

"Apa maksud mu?" Dafa terbelalak.

"Saya ingin bayaran. Tidak mudah untuk membawa Sheva kesini." Jawab Kafeel.

"Berapa!" Dafa mulai kesal dengan Kafeel.

"400 juta." Jawab Kafeel.

"Cukup! Siapa sebenarnya kalian? Dan kenapa kalian ingin keuntungan dari ku? Memangnya aku ini siapa!" Sheva berteriak histeris.

"Kamu hanyalah anak haram!"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Queen

Queen

apa 😱😱😱😱😱

2024-02-26

1

Queen

Queen

Ahsan bisa tau ya 🤔

2024-02-26

1

Queen

Queen

ada udang di balik bakwan ternyata

2024-02-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!