BYUUUUR!
Tubuh Sheva jatuh ke dalam air laut. Deburan keras ombak langsung menyapa tubuh dan hatinya yang rapuh. Sheva mengambang dengan tangan yang menjulur di dalam air, matanya menatap langit, bibirnya mengukir senyuman, dalam hati dia berkata, selamat tinggal dunia, selamat tinggal duka, tak ada yang mengharapkan aku ada.
Air laut berlomba-lomba masuk ke dalam tubuhnya, oksigennya semakin menipis. Samar-samar Sheva melihat seseorang berenang kearahnya. Kepala Sheva mendapat hantaman keras, pandangannya terhalang cairan berwarna merah dan kali ini kepala dan tubuhnya terhempas, terombang-ambing batu karang di lautan. Sheva menutup rapat matanya.
Seorang pria penuh makian dalam hati berusaha sekuat tenaga berenang melawan kuatnya gelombang laut dan hempasan ombak. Dia susah payah menggapai Sheva yang sudah tidak ada pergerakan. Tubuh Sheva dipeluknya, dibawanya berenang kepermukaan dan menyeretnya ke tepian pantai.
Di atas pasir putih, pria itu meletakkan tubuh Sheva yang sudah memucat. Dia memberikan pertolongan pertama menekan-nekan dada Sheva dengan kedua tangannya dan memberikan nafas buatan untuk Sheva. Terus berulang-ulang dia lakukan sampai akhirnya Sheva terbatuk memuntahkan air asin yang ada di dalam tubuhnya.
"Bos Arkan, pertolongan sudah datang." Seseorang berlari bersama beberapa orang yang memakai seragam putih.
Akhirnya Sheva, Arkan dibawa ke rumah sakit. Sheva mengalami luka yang serius, kepalanya terhantam batu karang. Tubuhnya terdapat penuh luka. Begitu juga dengan Arkan, kaki dan tangannya harus dipasangi gips. Arkan meminta untuk satu ruangan dengan Sheva, agar Arkan dapat menjaga Sheva.
Arkan memandangi Sheva yang masih belum sadarkan diri. Ingatan Arkan kembali ke beberapa hari yang lalu.
Setelah malam panas itu. Arkan menandai Sheva sebagai miliknya. Arkan terbangun dan mencari Sheva yang sudah tidak ada di kamarnya. Arkan membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Suara ketukan terdengar, seorang pria muda masuk ke dalam kamar Arkan.
"Siapa yang mengirim gadis ke kamarku tadi malam?" tanya Arkan kepada Assistennya.
"Gadis? Siapa Bos?" tanya Ahsan.
"Tolong kamu cari informasi tentang gadis ini." Arkan mengirimkan foto Sheva ke ponsel Ahsan.
Ahsan memperhatikan foto Sheva.
"Saya mengenalnya, dia bernama Sheva. Sejak kecil dia tidak diakui anak oleh ayahnya. Dia tinggal bersama om dan tantenya. Ayahnya mata duitan, baru saja saya berpapasan dengannya. Dia bertemu dengan pak Erik yang terkenal dengan hidung belangnya. Rupanya dia ingin menjual Sheva ke pak Erik dan rencana itu gagal karena Sheva semalaman tidak berada di kamarnya. Pak Erik sangat marah dan membatalkan kerja sama dengan pak Dafa," kata Ahsan.
"Hmmm, buat pertemuan dengan pak Dafa secepatnya. Bebaskan Sheva dari ayahnya dan siapkan pernikahan untuk kami segera!" Arkan memberikan perintah.
"Apa!" Pernikahan?" mata Ahsan membelalak tak percaya.
"Kenapa?" Arkan menyipitkan matanya.
"Bos, kenapa harus dia? Saya juga menyukainya." Ahsan kesal sekaligus sedih orang yang selama ini dia sukai akan menjadi isteri Bosnya.
"Jodoh itu di tangan Tuhan. Dan maaf kamu kurang beruntung. Cepat laksanakan!" Arkan memutar punggung Ahsan dan mendorongnya pelan.
"Bos, begini ya rasanya patah hati?" Ahsan bicara tanpa memandang ke arah Arkan.
"Hmmm kira-kira begitu. Ok, setelah semua beres bonus kamu kali ini lima kali lipat dari sebelumnya." Arkan duduk sambil tersenyum kearah Ahsan.
"Ok Bos. Laksanakan!" Ahsan berbalik badan tangannya memberi hormat kepada Arkan. Ahsan pun segera melaksanakan tugasnya.
Ahsan menemui Dafa di kantornya. Ahsan bermaksud untuk melamar anak Dafa untuk bosnya yang mengalami kelumpuhan. Awalnya Dafa menolak, Dafa sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikahkan Radin dengan pria cacat yang tidak diketahui asal usulnya. Ahsan sebelumnya sudah menyelidiki, Dafa ternyata mempunyai hutang selama ini yang tidak orang ketahui. Hutang untuk pengobatan Radin. Ahsan memanfaatkan keadaan untuk membujuk Dafa.
"Maaf Pak Dafa, kami mendapat informasi Pak Dafa mempunyai anak yang sangat cantik. Kebetulan Bos kami ingin menikahkan anaknya dengan anak Pak Dafa. Karena usianya sudah cukup berumah tangga. Dan kami juga mendapatkan informasi, Pak Dafa memiliki hutang di luar sana sebesar 400 juta."
"Apa! Kalian menyelidikiku! BRAK!" Dafa memukul keras meja kerjanya.
"Ayolah Pak Dafa, penawaran kami ini sama-sama menguntungkan. Pak Dafa mendapatkan uang untuk membayar hutang. Dan Bos saya mendapatkan menantu untuk anaknya yang lumpuh," kata Ahsan.
Dafa berpikir sejenak memutar otak. Terlintas Sheva dalam benaknya. Dafa akan menyerahkan Sheva ke orang asing dan dia akan mendapatkan uang.
"Baiklah, apa syaratnya?" tanya Dafa.
"Ternyata Anda orang yang cerdas Pak Dafa. Memang segala sesuatu tidak ada yang gratis. Anda harus menandatangani surat pernyataan ini." Ahsan menyerahkan selembar kertas putih.
Ternyata isinya pernyataan Dafa menyerahkan sepenuhnya anaknya kepada Bos Ahsan. Setelah menandatangani surat pernyataan Dafa dan anaknya memutuskan hubungan. Dafa tidak berhak lagi atas anaknya. Dan Dafa menyetujuinya.
"Mohon maaf Pak Dafa, siapa nama anak Pak Dafa yang akan menikah dengan Bos saya?" tanya Ahsan.
"Namanya Sheva Naila." Jawab Ahsan.
Ahsan tersenyum puas, akhirnya umpan yang dia lemparkan ditangkap Dafa. Ternyata dia memang ayah yang kejam, mengapa Sheva yang dia korbankan. Sheva setelah ini, kamu aman bersama Bos Arkan, kata Ahsan dalam hati.
Akhirnya Dafa menandatangani surat pernyataan. Ahsan meminta Dafa untuk menyiapkan Sheva untuk melaksanakan pernikahan dalam dua jam ke depan. Dan Dafa memanggil Sheva untuk memaksanya menikah dengan orang asing. Sheva pun dengan terpaksa menerima karena keadaan yang begitu tidak berpihak. Ternyata lagi-lagi Dafa ingkar janji dan hanya ingin mengambil keuntungan dari Sheva. Dafa tidak memberikan uang yang dia janjikan kepada Sheva.
Dan Sheva, jiwanya tidak sanggup lagi menahan guncangan kepedihan, kehilangan, keputusasaan. Sheva dikendalikan jiwa yang kesepian, berharap sepertinya yang mati dalam kesengsaraan. Sheva mencoba meninggalkan dunia dengan cara loncat dari tebing.
TIT! TIT! TIT!
Arkan disadarkan dari ingatannya. Sheva masih diam, matanya masih tertutup rapat. Sheva seolah enggan kembali ke dunia.
"Bodoh, dasar bodoh! Apa kamu lupa kamu sudah punya suami. Bangun! Bangun Sheva! Apa kamu ingin aku sendirian di dunia ini. Sheva, aku akan menjadikanmu wanita yang paling bahagia." Arkan berbisik di telinga Sheva.
Sementara itu di dimensi dunia lain.
Sheva bangun dari tidurnya. Sheva bisa melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dan Sheva menyadari orang lain tidak ada yang melihatnya. Sheva tersenyum bahagia akhirnya dia bisa terlepas dari dunia yang membuat sesak dan penuh tipu daya.
Sheva berjalan menghirup udara kebebasan. Rasanya seperti terlahir kembali, semua beban berat yang dipikulnya hilang. Langkahnya semakin ringan, dengan senyuman Sheva meluapkan kebahagiaan.
"Apa sekarang kamu merasakan kebahagiaan?"
Langkah Sheva terhenti perlahan Sheva membalikkan badannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Queen
hmmm
2024-02-13
1
Queen
😁😅
2024-02-13
1
Queen
wawww
2024-02-13
1