"Kamu hanyalah anak haram!" kata Dafa.
"Walaupun saya anak haram apakah pantas saya diperlakukan seperti ini! Saya tidak mengenal Anda!" Sheva kembali berdiri dan menyorot tajam ke arah orang yang mengaku ayah.
"Berani kamu ya sama orang tua!" Dafa tidak terima diperlakukan kasar oleh anak haram.
"Orang seperti Anda tidak pantas dihormati. Dan apakah anak Anda itu memang benar anak kandung Anda? Saya perhatikan tidak sedikit pun mirip dengan Anda. Jangan-jangan dia juga anak haram!" tunjuk Sheva ke arah Radin.
"Kamu!" Dafa murka berlari mengejar Sheva.
Sheva berlari keluar dari Villa. Diikuti Kafeel dari belakang. Terjadi kejar-kejaran di antara mereka. Radin juga ikut berlari, Ola yang mengkhawatirkan keadaan Radin pun menyusul.
Tepat di bibir tebing Sheva berhenti. Sheva panik, mati langkah, pandangannya tertuju pada orang yang dianggap ayah. Sheva kembali merasa sakit yang sangat di kepalanya. Ingatan demi ingatan satu persatu bak puzzle mulai tersusun rapi.
Ingatan di saat hari ulang tahunnya di saat ayahnya memberikan minuman yang membuat Sheva melakukan malam panas dengan orang asing. Kemudian ayahnya menikahkan paksa dirinya dengan orang cacat. Dan tante yang dianggap sebagai ibunya meninggal sebelum operasi. Nampak dengan jelas ingatan di saat Sheva yang nekat loncat bunuh diri.
"Kamu, dasar tidak tahu balas budi!" Dafa mendekati Sheva.
"Apa? balas budi? Bukankah Ayah menyerahkan ku ke tante Puspa dan om Riza. Mereka lah orang tuaku yang sebenarnya." Sahut Sheva.
Pertengkaran Sheva dan Dafa menarik perhatian orang di sekitar mereka. Sheva mengeluarkan isi hatinya di depan khalayak ramai. Sheva mengungkapkan betapa sakit hatinya ketika orang tuanya bercerai. Setelah perceraian Sheva tidak dianggap oleh ayahnya. Terlebih lagi ketika ayahnya menikah dan mempunyai seorang anak yang sakit. Setiap beberapa bulan Sheva memberikan darahnya untuk Radin, tapi semua itu tidak cukup untuk mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Malahan ayahnya dengan paksa meminta ginjalnya untuk anaknya Radin.
Semua orang yang mendengar curhatan Sheva kesal, marah, mereka mengumpat ke arah Dafa. Dan mengutuk perbuatan Dafa.
"Ada ya bapak yang tega berbuat seperti itu kepada anaknya," kata orang yang ada di sana.
"Jangan-jangan anaknya yang sakit itu bukan anak kandungnya." Sahut yang lain.
"Benar sekali, dia bukan anak kandungnya!" Tunjuk seorang wanita ke arah Radin yang berdiri di samping Ola mamanya.
"Mana buktinya! Jangan ngarang kamu!" balas Ola.
"Lama tidak berjumpa Tuan Dafa." Sapa Nida.
"Bunda." Sheva berlari memeluk bundanya.
"Maafkan Bunda sayang, Bunda meninggalkanmu dengan pria durhaka ini." Nida memeluk erat Sheva.
"Bawa pergi anak harammu itu!" Dafa berbalik hendak melangkah pergi.
"Tunggu, apa kamu tidak ingin mengetahui Radin anak siapa?" Nida melemparkan senyuman sinis ke arah Dafa dan juga Ola.
"Mas Dafa jangan dengarkan dia!" Ola menggandeng tangan Dafa.
"Kenapa? Apa kamu takut kebusukanmu tercium?" ejek Nida.
"Mas Dafa, dia hanya ingin menghancurkan rumah tangga kita." Ola berusaha mendapatkan simpati dari Dafa.
"Setelah menghancurkan rumah tangga orang, kamu juga memanfaatkan kebaikan Dafa. Kamu tahu Tuan Dafa, Radin bukan anak kandungmu. Silakan cek DNA kalau kamu tidak percaya. Ola sebelum menikah denganmu hamil dengan orang lain, tapi pria itu meninggalkannya dan pria itu bukan mantan suaminya. Kamu penasaran siapa ayahnya Radin? Dia mantan sopir kamu, Edo." Nida meraih tangan Sheva membawanya pergi.
Terjadi percekcokan antara Dafa dan juga Ola. Dafa meminta penjelasan kepada Ola tapi Ola menyangkal semua tuduhan Nida kepadanya. Radin pingsan, Dafa dan Nida meminta bantuan Kafeel untuk membawa Radin ke rumah sakit terdekat.
Arkan dan Ahsan tiba di lokasi Sheva berada. Sheva kaget Arkan bisa menemukannya, Sheva tersadar ponselnya ketinggalan di Cafe oleh karenanya Sheva tidak memberi kabar kepada suaminya. Sheva mengenalkan Arkan dan Ahsan kepada Bundanya. Bunda Nida terharu dan bersyukur Sheva sudah menikah dan sedang mengandung cucu pertamanya. Bunda Nida mengundang mereka ke Villa tempatnya menginap.
Bunda Nida sengaja datang ke tempat ini karena diundang oleh Fadi Kakak Tiri Sheva anak dari Ola. Fadi sudah lama mencari Bunda Nida dan baru beberapa minggu yang lalu Fadi berhasil mendapatkan kontaknya. Setelah mereka bertemu, Fadi menceritakan semua kejadian setelah Dafa dan Ola menikah. Sheva tidak dianggap, Sheva dibesarkan tante dan omnya.
Fadi juga yang menceritakan bahwa Radin anak dari perselingkuhan Ola dengan Edo. Ola dan Edo berpisah dan akhirnya Ola berhasil merayu dan mendapatkan Dafa. Ola sebenarnya sudah mengetahui janin yang ada di dalam kandungannya bermasalah. Tapi Ola berusaha untuk mempertahankannya. Dafa yang begitu menyayangi Radin rela menghabiskan banyak uang untuk kesembuhan Radin. Karena baginya Radin adalah anak kandungnya. Fadi tidak tahan dengan perlakuan Dafa kepada Sheva. untuk itulah Fadi mati-matian mencari informasi Bunda Nida.
"Bund, ternyata Bang Fadi baik ya. Sheva kira tidak ada yang menyayangi Sheva." Kata Sheva.
"Yank, ada aku, kami semua. Kamu tidak sendirian." Arkan menggenggam tangan Sheva.
"hmmm Kak Arkan, aku sudah ingat semuanya. Aku juga ingat awal pertemuan kita," ujar Sheva
"Benarkah?" tanya Arkan.
"Iya, aku juga mengingat siapa Kak Ahsan. Kak Ahsan juga yang selama ini melindungiku dari orang-orang jahat di saat aku membanting tulang mencari makan." Sheva mengatupkan kedua tangannya.
"Syukurlah kamu sudah sehat." Ahsan juga mengatupkan kedua tangannya.
"Arkan, Bunda titip Sheva kepadamu ya. Cintai dan sayangi dia. Sudah terlalu pahit perjalanan hidupnya. Buatlah dia bahagia. Maaf, maafkan Bunda sayang." Bunda Nida menumpahkan air mata yang sedari tadi tertahan.
"Iya Bunda, saya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Sheva." Arkan memeluk dan mengecup kening Sheva.
"Yank, Bund, perut Sheva sakit, sangat sakit." Sheva merintih kesakitan sambil memegang perutnya.
Bunda Nida berdiri di samping Sheva, memegang perutnya dan tiba-tiba celana yang dipakai Sheva basah seperti orang ngompol, airnya berwarna jernih. Dan air itu terus saja mengalir dari bagian bawah Sheva.
"Arkan, cepat bawa Sheva ke rumah sakit. Sheva mau melahirkan!" Bunda Nida panik.
Ahsan segera keluar dari Villa untuk menyiapkan mobil. Arkan mengangkat tubuh Sheva dengan hati-hati. Bunda Nida menelpon seseorang. Mereka semua menuju rumah sakit bersalin terdekat.
Akhirnya Sheva dimasukkan ke dalam ruangan bersalin didampingi Arkan. Sheva memilih melahirkan secara normal. Sheva sekuat tenaga berjuang melahirkan buah hatinya. Arkan menjadi saksi perjuangan seorang ibu Ibu untuk melahirkan anaknya ke dunia. Tapi sayang karena satu dan lain hal akhirnya Sheva disarankan melahirkan secara Caesar.
"Yank, kamu pasti bisa. Bertahanlah demi anak kita." Arkan membisiki Sheva.
"Yank, aku takut." nampak ketakutan di wajah Sheva.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Kamu hanya tertidur dan setelah bangun akan ada bayi kita." Arkan memberi semangat kepada Sheva.
"Yank, bagaimana kalau aku tidak bangun lagi?" lirih Sheva.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Queen
😱😱😱😱😱😱😱
2024-02-27
1
Queen
thanks Fadi
2024-02-27
1
Queen
astaga 😱😱😱
2024-02-27
1