Bab 19 Junior

TULALIT! TULALIT!

Ponsel Sheva berbunyi, Arkan mengangkatnya. Terdengar suara berat dari seseorang.

"Letakkan uang 400 juta di dalam bak sampah warna merah dekat pelabuhan Rambang."

"Saya ingin melihat anak itu aman, kirim videonya!" Jawab Arkan.

TUT! TUT! TUT!

Telpon ditutup. Tidak berapa lama orang itu mengirim foto bayi yang baru lahir sedang tertidur. Arkan memperbesar tampilan layar. Nampak dengan jelas di pergelangan tangan bayi tertulis nama ibu dari Sang Bayi. Arkan segera berdiri, Arkan menelpon Ahsan dan memberitahu apa yang terjadi.

Kemudian Arkan pergi ke ruangan bayi mencari seseorang. Terdengar suara tangisan dan suara keributan di luar ruangan bayi. Suara tangisan dari seorang Ibu-ibu dan beberapa orang yang marah karena kelalaian para perawat sehingga mengakibatkan seorang bayi menghilang.

Arkan perlahan masuk ke dalam ruangan bayi. Fokus Arkan saat ini mencari bayi yang berada di dalam inkubator. Satu persatu Arkan memperhatikan nama yang tertulis di pergelangan tangan bayi. Dan akhirnya Arkan menemukan seorang bayi berkulit putih, wajahnya sangat mirip dengan dirinya. Dia adalah anak Arkan, dan di pergelangan tangannya bertuliskan Bayi Ny. Sheva Naila.

Arkan perlahan keluar dari ruangan bayi berusaha menenangkan anggota keluarga yang ribut dengan para perawat. Arkan bertanya apakah mereka mencari Bayi Ny. Marsha. Mereka menjawab iya. Arkan menceritakan semuanya dan menunjukkan foto bayi yang dikirim penculik.

Dan benar itu adalah bayi mereka yang hilang. Arkan juga memberitahu penculik meminta uang tebusan sebanyak 400 juta. Sontak semua anggota keluarga Sang Bayi terkejut. Mereka tidak mungkin dapat mencari uang tersebut dalam hitungan jam. Dan nyawa bayi mereka dalam bahaya. Menurut perkiraan Arkan si penculik salah sasaran. Maksud hati ingin menculik bayi Arkan tetapi dia mengambil bayi orang lain.

Arkan kembali mendapatkan telpon dari penculik. Penculik itu sangat marah karena uang yang ada di koper palsu semua. Ketika si penculik sedang lengah, Ahsan dan pihak kepolisian dengan sigap mengepung dan menangkapnya. Ahsan segera mengambil ponsel si penculik dan bicara dengan Arkan.

"Lapor Bos, bayinya selamat. Dan penculiknya sudah diamankan pihak kepolisian. Saya akan segera ke rumah sakit." Ahsan menutup telepon.

Arkan menyampaikan kabar gembira kepada keluarga Sang Bayi. Mereka sangat berterima kasih kepada Arkan. Berkat Arkan bayi mereka selamat. Mereka baru saja kehilangan Ibu Sang Bayi yang baru saja meninggal setelah melahirkan bayinya. Ternyata ibu anak itu orang yang dianggap Arkan dan Bunda Nida sebagai Sheva. Sungguh suatu kebetulan.

Satu jam berlalu, Ahsan datang dengan membawa bayi dalam gendongan. Kedatangan Ahsan sangat dinantikan keluarga Sang Bayi. Pihak kepolisian meminta informasi dan keterangan saksi-saksi. Ahsan dan Arkan juga memberikan kesaksian mereka. Tidak lupa Arkan dan Ahsan mengucapkan terima kasih kepada pihak kepolisian dan pihak keamanan rumah sakit.

Arkan dan Ahsan kembali ke ruangan anak. Bayi Arkan di pindahkan ke ruangan NICU untuk mendapatkan perawatan medis yang diperlukan. Dari balik kaca Arkan menatap lembut penuh haru ke arah bayi Juniornya yang masih di dalam inkubator dengan berbagai macam alat medis di badannya. Dia adalah fotocopy dirinya. Benih yang dia tanam di rahim Sheva. Arkan mendapat telepon dari Papa Adlan, Sheva sudah siuman dan bersikeras ingin menemui anaknya. Arkan berlari menuju ruangan Sheva.

"Bund, Ma, anak Sheva diculik, anak Sheva diculik." Sheva berusaha menggerakkan badannya untuk bangun, tapi masih terasa sakit di bagian perut yang baru dioperasi.

"Tenang sayang, tunggu suamimu," kata Bunda Nida.

"Pa, panggil Arkan!" Mama Hilla juga panik melihat Sheva.

"Maaf, Arkan ada urusan. Yank, tenang. Anak kita selamat." Arkan menenangkan Sheva.

"Anak kita diculik." Sheva menangis.

"Anak kita ada di ruang NICU. Coba lihat si Junior." Arkan menunjukkan video dari tabletnya.

Sheva, Bunda Nida, Mama Hilla dan Papa Adlan terharu melihat Junior yang terlihat lemah di dalam inkubator. Arkan kemudian menceritakan tentang kejadian hari ini kepada mereka. Ada yang berniat jahat kepada Sheva, dia ingin menculik Junior dan meminta tebusan. Tapi sangat disayangkan penculik itu tidak menyadari dia salah mengambil bayi. Dan beruntung Ahsan dan pihak kepolisian dapat mengelabui dan menangkap penculik. Dan ternyata penculik itu bersengkongkol dengan Kafeel mantan kekasih Sheva.

"Benarkah? Kafeel dibalik semua ini?" Sheva naik darah.

"Iya sayang. Kafeel pelakunya. Dia membawa Radin ke rumah sakit ini. Dan dia melihat kedatangan kita. Kafeel mencari tahu informasi tentang kamu. Dan berencana ingin memerasmu dengan menculik anak kita. Dia cemburu melihat kehidupanmu yang kebih baik dari dirinya." Jawab Arkan.

"Bagaimana dengan Ayahnya Sheva? Papa tidak mau dia berlaku macam-macam kepada Sheva." Papa Adlan wajahnya menegang.

"Tenang Pa. Ahsan sudah mengirim pengawal ke ruangan Radin. Sheva aman." Sahut Arkan.

* Di ruangan Radin masih di rumah sakit yang sama.

Sejak Radin diperiksa dan dimasukkan ke dalam ruang perawatan, Dafa hanya diam. Dafa penasaran dengan apa yang dikatakan Nida. Apakah benar apa yang dikatakan Nida? Mengapa Nida begitu yakin Radin bukan anak kandungnya. Dafa yang sudah lama mengenal Nida sangat yakin apa yang dikatakannya itu suatu kebenaran. Dan diam-diam Dafa mencocokkan DNA miliknya dan juga milik Radin.

Dafa teringat kejadian masa silam dikala ada seseorang mengirim sebuah amplop berisikan foto-foto Nida bersama dengan seorang pria. Di dalam foto itu mereka sangat intim. Nida seperti menemukan kebahagiaan bersama pria itu di dalam foto. Kebetulan pada saat itu Nida ada urusan di luar kota. Tanpa meminta penjelasan dan memberikan kesempatan kepada Nida, Dafa mengajukan perceraian dengan tuduhan selingkuh.

Nida berulang kali meminta bukti perselingkuhannya tetapi Dafa tidak pernah sekalipun menunjukkannya kepada Nida. Dafa cemburu, sakit hati. Dan di saat Dafa dalam kekalutan, Dafa melampiaskan kekesalannya dengan minum-minum di sebuah bar. Dan di sini lah awal perjumpaannya dengan Ola. Dafa merasa nyaman dan merasa cocok dengan Ola. Duda ketemu Janda dan akhirnya mereka menikah.

Dafa menatap Radin yang belum sadarkan diri setelah disuntik obat-obatan oleh Dokter. Jika benar Radin bukan anak kandungnya, betapa bodohnya dirinya bisa dibohongi, dimanfaatkan dan dibutakan oleh Ola. Sheva anak kandung yang tidak pernah dia akui dan bahkan ingin dia korbankan untuk kehidupan Radin. Dafa saat ini tubuhnya berada di rumah sakit tapi hatinya mengembara melalang buana. Ola tidak berani membuka mulutnya. Ola takut Dafa akan meledakkan amarahnya dan melakukan sesuatu di luar nalarnya.

Dafa merasa sesak seruangan dengan Ola. Dafa dalam diam berdiri melangkahkan kaki keluar dari kamar Radin dirawat. Dafa masuk ke dalam lift dan menuju rooftop rumah sakit. Dafa ingin menghirup udara segar dan menghisap beberapa puntung rokok.

Pintu lift terbuka, Dafa melangkahkan kaki keluar dari lift. Tiba-tiba darahnya mendesir melihat pemandangan di depan matanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Queen

Queen

tuh kan si mantan

2024-02-29

1

Queen

Queen

syukur lh

2024-02-29

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!