DOR!
Sheva menunduk berjongkok menutup kedua telinganya. Arkan menarik tangan Sheva berlari masuk ke dalam kamar. Arkan mengintip dari jendela. Ternyata Elvira yang melakukan serangan.
"Sayang, ternyata Elvira pelakunya. Apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus mengirimnya ke kantor polisi?" tanya Arkan.
Sheva duduk di atas sofa dan menangis sesenggukan. Sheva tidak berani menatap Arkan. Arkan baru sadar, tadi dia membentak Sheva. Mungkin saat ini Sheva terguncang dan takut. Arkan mengambil ponselnya.
"Ahsan tolong kirim Elvira ke kantor polisi, dia mencoba melakukan pembunuhan." Arkan menutup telponnya.
Arkan berdiri di depan jendela dan mengintip, Elvira dibawa paksa keluar dari Villa. Terlihat Elvira masih berusaha berontak. Arkan duduk di samping Sheva.
"Maaf, aku membuatmu takut ya. Aku marah karena kamu tidak percaya sama aku. Elvira hanyalah bagian dari masa lalu. Maaf, sekali lagi aku minta maaf." Arkan keluar dari kamar sengaja membiarkan Sheva sendiri.
Sheva terus meneteskan air mata, entah karena bawaan bayi dalam perutnya ataukah hatinya saat ini sakit karena dibentak suaminya atau mungkin Sheva saat ini cemburu melihat Elvira mencium Arkan tepat di depan matanya. Sheva lelah, akhirnya Sheva tertidur di atas sofa kamarnya.
Sementara itu Arkan meminta supaya penjagaan di Villanya diperketat. Arkan tidak mau orang asing masuk seenaknya ke dalam Villanya. Ahsan kembali ke Villa untuk memberitahukan Elvira sudah dibawa ke kantor polisi. Ahsan berada di Villa sebelah untuk mengawasi Arkan dan siap jika diperlukan.
"Bos, hati-hati Elvira menyuruh orang untuk mengawasi Sheva. Elvira sakit hati." Lapor Ahsan.
"Salah dia sendiri. Selama ini aku selalu mengalah, aku juga punya harga diri." Sahut Arkan.
Di dalam kamarnya, Sheva masih tertidur di atas sofa. Sheva mendengar suara seseorang bergumam, lama-lama suara itu semakin jelas terdengar. Sheva mencium bau anyir, darah. Sheva perlahan membuka mata.
"AAAAAAAA!" teriakan Sheva terdengar Arkan, Ahsan dan para pengawal mereka. Mereka segera menuju kamar Sheva.
Betapa terkejutnya mereka, di dalam kamar Sheva ada sosok kepala manusia dengan isi tubuh yang menempel tanpa kulit terbang melayang-layang. Terlihat jelas organ dalam paru-paru, usus, jantung dan hatinya bergelantungan. Tubuh Sheva membeku, pergerakannya terasa dikunci. Sosok itu menatap tajam ke arah perut Sheva.
"Sayang, awas!" Arkan mengangkat tubuh Sheva keluar dari kamar.
Salah seorang pengawal Arkan mencari sesuatu, tidak berapa lama dia masuk kembali ke dalam kamar yang ada sosok kepala terbang. Dia memukul kepala itu dengan sapu lidi.
"Dasar manusia jadi-jadian, kuyang, kamu ingin mati!" Pengawal terus memukul, kuyang tersebut berhasil melarikan diri.
"Apa itu kuyang?" tanya Ahsan.
"Manusia jadi-jadian yang menggunakan ilmu hitam untuk pesugihan, kecantikan, keabadian. Biasanya mengincar darah bayi." Jawab Pengawal.
"Bahaya, bagaimana dengan Nyonya?" Ahsan panik.
"Kebetulan tadi saya lihat ada tali ijuk. Saya akan memasangnya di dalam kamar dan juga ruangan lain. Biar kuyang tidak dapat masuk." Pengawal itu dan temannya dengan secepat kilat memasangi tali ijuk di setiap ruangan.
"Bos, kami minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami tidak menyangka di Villa ini akan ada kuyang," kata pengawal.
"Iya ini bukan kesalahan kalian. Terima kasih." Jawab Arkan.
Para pengawal dan Ahsan keluar meninggalkan Arkan dan Sheva yang duduk di ruang tamu. Arkan memeluk Sheva yang dari tadi diam di sampingnya.
"Yank, maafin aku. Aku akan menjagamu." Arkan mengecup kening Sheva.
Sheva masih diam, Arkan melihat keanehan dari diri Sheva. Sheva tersenyum matanya menyorot tajam ke arah Arkan. Sheva kemudian tertawa, lama kelamaan tawanya semakin keras dan melengking. Ahsan dan para pengawal kembali masuk ke dalam Villa. Arkan menjauh dari Sheva, karena merasa tidak nyaman. Orang yang merasuk Sheva seolah-olah ingin menerkamnya.
"Bos apa yang terjadi?" Ahsan melihat Sheva bukan dirinya lagi, sorot mata yang menyeramkan.
"Kayaknya Nyonya kesurupan, tubuhnya ketempelan makhluk," kata Pengawal.
"Yank, sadar." Arkan menatap ke arah Sheva.
Sheva tertawa sejadi-jadinya.
"Kamu tahu, istrimu ini sangat rapuh, hatinya setipis kaca dan selembut tisu. Sekarang hatinya terkoyak dan hancur berkeping-keping. Dia sakit hati karena kamu berciuman dengan wanita lain tepat di depan matanya. Belum lagi dia dikejutkan dengan perbuatan ayahnya. Biar aku yang akan membawanya. Di sini dia tidak akan bahagia karena wanita itu tidak akan membiarkan istrimu tenang. Dia ingin membuat istrimu selalu berada dalam kegelisahan, ketakutan dan dia tidak akan membiarkan anakmu lahir ke dunia. Aku akan membawa isterimu." Orang yang merasuki Sheva tiba-tiba menghilang membawa tubuh Sheva.
"Sheva, Sheva. Semua tolong cari Sheva!" Arkan, Ahsan dan para pengawal mencari keberadaan Sheva.
Seluruh Villa mereka periksa, mereka berpencar mencari Sheva. Sheva menghilang di dalam kegelapan malam.
- Di tempat lain, di alam yang berbeda.
Jiwa Sheva terpisah dari raganya. Jiwa Sheva dikurung makhluk yang merasuki Sheva. Di saat makhluk itu akan memakai raga Sheva, seseorang datang menghampirinya. Orang itu menarik paksa makhluk itu keluar dari tubuh Sheva.
"Sialan, siapa kamu yang berani mengusik ku!" makhluk itu melotot.
"Apa kamu tidak mengenaliku? Aku penguasa dunia kegelapan. Lepaskan dia! Dia milikku!" kata Elzin.
"Penguasa kegelapan? Aku tidak pernah tahu. Jangan kamu usik kesenangan ku!" makhluk itu menyerang Elzin.
Perkelahian terjadi di antara mereka. Dengan mudah makhluk yang berbentuk setengah monyet bergigi taring keluar dari kedua sudut mulutnya itu terkapar, lemah tak berkutik. Tubuhnya dimusnahkan Elzin. Elzin segera membebaskan jiwa Sheva yang terpenjara dan memasukkannya ke dalam raganya.
"Sheva, Sheva, bangun." Elzin menepuk pundak Sheva.
"Sheva membuka matanya perlahan. Orang yang ditatapnya tersenyum.
"Si--- siapa kamu?" Sheva terlihat ketakutan.
"Jangan takut, aku temanmu. Orang yang selalu bersamamu. Aku akan menolongmu keluar dari sini." Elzin mengulurkan tangannya ke arah Sheva.
"Genggam tanganku, aku akan mengeluarkanmu dari sini."
Dengan ragu Sheva menggenggam tangan Elzin. Dalam sekejap Sheva dan Elzin sudah berada di sebuah tempat yang indah.
"Dimana aku? Mengapa aku bisa berada di sini?" tanya Sheva.
"Untuk sementara kamu akan tinggal di sini. Apa kamu ingin kembali ke Villa Suamimu?" tanya Elzin.
Sheva mengingat kejadian di Villa ketika tanpa sengaja Elvira memaksa mencium Arkan suaminya. Sheva tahu ini semua perbuatan Elvira, tapi Sheva merasa sangat cemburu. Sheva masih belum bisa menerima.
"Bagaimana? Apa kamu ingin kembali ke Villa Suamimu?" tanya Elzin lagi.
"Untuk sementara aku ingin tinggal sendiri. Maaf kamu sebenarnya siapa?" Sheva merasa tidak asing dengan orang yang ada di depannya, tapi Sheva tidak mengingatnya.
"Aku Elzin, kekasihmu. Tapi kamu lebih memilih dia." Elzin menunjukkan wajah palsunya, berpura-pura putus asa dan kecewa.
"Kekasihku?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Queen
bohong
2024-02-20
1
Queen
😱😱😱😱😱😱😱😱
2024-02-20
1
Queen
sensitif kali bumil
2024-02-20
1