Di atas rooftop rumah sakit Dafa melihat Nida bersama seorang pria. Pria itu orang yang dilihat Dafa di dalam foto yang dikirim seseorang kepadanya. Dafa menyadari Nida dan dia sangat akrab. Apakah mereka sekarang hidup bersama? Apakah itu suaminya Nida?
Nida merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Nida menoleh ke arah Dafa. Nida melemparkan senyuman termanisnya. Dafa masih merasakan debaran di jantungnya sama seperti dulu ketika mereka bersama. Dafa juga menatap ke arah pria itu.
"Papi." Dari arah belakang Dafa, seorang anak berlari ke arah pria itu dan ada seorang wanita datang bersamanya.
"Halo Aunty." Anak itu mencium pipi Nida.
"Halo sayang, sekarang sudah besar. Maaf Aunty sibuk belum bisa jenguk Vira. Dan terima kasih kalian sudah bisa meluangkan waktu untuk Sheva," kata Nida.
"Tentu saja kami ada waktu Mba, Sheva keponakan kami dan anak Sheva adalah cucu kami." Jawab Wanita yang bersama anak itu.
Nida menyapa Dafa.
"Permisi Tuan Dafa, kenalkan ini Bang Ryan sepupu saya beserta Istrinya. Mereka jauh-jauh datang kemari untuk menemui Sheva beserta keluarganya. Oh iya kenalkan ini Ayahnya Sheva." Nida mengenalkan mereka.
Setelah acara perkenalan, Ryan, Istri dan anaknya sedikit menjauh meninggalkan Nida. Mereka memberi waktu agar Nida dan Dafa bisa bicara berdua.
"Siapa dia? Aku baru pertama kali melihatnya." Dafa memulai pembicaraan.
"Bang Ryan sepupuku. Bang Ryan lama tinggal di luar negeri. Terakhir kali bertemu sebelum kita bercerai. Itu pun pas Bang Ryan ada perjalanan bisnis. Waktu itu kami bertemu di lobby hotel tempat ku menginap. Namanya juga saudara yang lama tidak bertemu, kami menghabiskan malam dengan banyak cerita. Karena besok hari Bang Ryan sudah harus kembali ke luar negeri."
JGEERR!
Bak tersambar gledek Dafa bergeming. Ada sesuatu yang menusuk di dalam ulu hatinya. Dafa terasa tercekik. Dafa terlalu bodoh, hanya karena sebuah foto dia mengorbankan kebahagiaannya. Dia menyiksa Putri kandungnya sendiri. Padahal Sheva tidak tahu apa-apa. Sungguh Dafa merasa dia adalah ayah yang durhaka. Dafa menyesali perbuatannya, mengapa waktu itu tidak bertanya kebenaran foto itu dan tidak memberikan waktu untuk Nida membela dirinya. Bodoh, dungu, tolol, goblok, Dafa mengumpat dalam hati.
"Tuan Dafa, Anda tidak apa-apa?" Nida melihat wajah Dafa memucat.
"Ti ... dak apa-apa. Maaf aku permisi." Dengan langkah lunglai Dafa masuk ke dalam lift.
Dafa berniat ingin masuk ke ruangan Radin, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Ola bicara dengan seseorang memakai seragam perawat. Diam-diam Dafa mencuri dengar pembicaraan mereka. Ternyata orang yang memakai seragam perawat itu memberikan informasi Dafa ingin mencek kecocokan darahnya dengan Radin. Ola meminta palsukan hasil tes DNA, pastikan DNA Dafa dan Radin cocok. Ola berani membayar lebih kepada perawat itu.
Dafa akhirnya mengetahui kelicikan Ola. Jadi selama bertahun-tahun Dafa cuman dimanfaatkan oleh Ola untuk pengobatan Radin. Dibalik kebaikannya tersimpan hati yang busuk. Mengapa dulu Dafa tidak mendengarkan Fadi. Fadi pernah meminta Dafa untuk jangan terlalu percaya dengan Ola Mamanya. Fadi, Dafa teringat Fadi. Dafa berjalan menjauh dari Ola. Dafa menelpon Fadi untuk segera bertemu. Fadi bilang dia menunggu di kantin rumah sakit.
Di kantin rumah sakit Fadi menceritakan soal perselingkuhan Ola dengan Edo. Papa Fadi marah, kecewa, sakit hati dan menceraikan Ola. Setelah mengetahui Ola hamil, Edo menghilang bak ditelan bumi.
Ola semakin tertekan tidak mungkin baginya membesarkan seorang anak laki-laki dan calon bayi yang ada di dalam kandungannya. Ola pernah mendengar cerita Edo, majikannya sangat sayang terhadap keluarganya. Ola penasaran dengan majikan Edo, Ola mengamati setiap gerak gerik keluarga mereka.
Dan secara kebetulan Ola dimintai tolong menggantikan temannya menjadi pelayan di pesta pernikahan yang diadakan di hotel luar kota. Di sana Ola melihat istri majikan Edo bersama dengan seorang pria. Ola mengambil foto mereka. Keesokan harinya Ola mencetak foto dan mengirimkannya ke rumah Dafa. Dan terjadilah percekcokan hebat antara Dafa dan Nida yang berakhir dengan perceraian.
Fadi juga menceritakan perjuangannya bertahun-tahun mencari keberadaan Nida. Fadi tidak terima Dafa memperlakukan Sheva anak kandungnya dengan kejam. Fadi selalu menjaga Sheva dari kejauhan. Fadi yang menjadi saksi hidup bagaimana Sheva bekerja membantu tantenya berjualan demi kelangsungan hidup mereka. Fadi terkadang diam-diam membantu mempromosikan jualan tante Sheva agar orang-orang membelinya. Hanya itu yang Fadi bisa. Karena Fadi juga seorang anak yang belum bekerja pada masa itu.
Dari Fadi lah Ahsan mengenal Sheva. Fadi akhirnya kuliah di luar kota. Fadi meminta tolong Ahsan untuk menjaga Sheva untuknya. Karena bagi Fadi, kehidupan pahit Sheva adalah kesalahan Mamanya. Fadi sangat berhutang budi kepada Sheva dan Fadi akan membalasnya. Fadi juga menceritakan betapa rapuhnya Sheva ketika baru saja dijual ayahnya kepada orang asing, Tantenya meninggal dunia. Dan pada hari itu Sheva mencoba bunuh diri loncat dari tebing.
Dafa tidak dapat lagi menahan air matanya. Dafa sungguh sangat mengutuk dirinya sendiri. Dafa tega menyiksa anak kandungnya demi anak haram orang lain. Dafa tidak dapat membayangkan betapa hancurnya hati dan perasaan Sheva. Demi membayar hutang Dafa rela mengumpankan Sheva ke seorang lintah darat mata keranjang. Dan selama ini Dafa selalu bilang Sheva adalah anak haram. Padahal selama ini dia rela menghabiskan hartanya demi anak haram orang lain. Dafa meminta nomor ponsel Sheva dan juga Nida kepada Fadi.
Dafa menyiapkan hatinya untuk menelpon Nida. Nida menerima telepon Dafa dengan lapang hati. Nida akhirnya menemui Dafa kembali di rooftop rumah sakit. Di sana Dafa berlutut meminta maaf kepada Nida. Dafa menunjukkan foto-foto yang dia simpan di dalam ponselnya. Foto Nida dan Ryan di sebuah hotel. Nida kaget bukan main, jadi gara-gara kesalahpahaman Dafa menceraikannya.
Nida tidak habis pikir, ternyata tingkat cemburu Dafa lebih besar dari pada kepercayaan terhadap dirinya. Dafa sangat mudah diprovokasi. Tapi semua sudah berlalu, Nida sudah melupakan dan memaafkan Dafa.
Di hadapan Nida, Dafa menelpon Sheva. Ada perasaan takut jika Sheva menolak panggilan teleponnya.
"Halo, a ... pakah ini Ayah?" terdengar suara Sheva.
"Hiks ...." Dafa tidak sanggup berucap, karena terlalu banyak dosa yang telah dia perbuat.
"Ayah, Sheva baru saja melahirkan Cucu Ayah. Dia sangat tampan mirip dengan Papanya. Tapi sekarang dia masih terbaring lemah dalam inkubator. Karena Sheva melahirkan sebelum waktunya. Sheva perlu Ayah di sini. Sheva hanya ingin pelukan Ayah. Sheva sa ... yang Ayah. Hiks ...." Sheva juga tidak dapat menahan air matanya yang jatuh.
"Ma ... af. A ... yah minta maaf." Dafa terisak dalam lirih.
"Mas, apa yang kamu lakukan. Mas Dafa!" teriak Nida.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Queen
penasaran 😱
2024-03-01
1
Queen
😭😭😭😭
2024-03-01
1
Queen
gak ada gunanya penyesalan
2024-03-01
1