Bab 5 Pertemuan

BRUUKK!

Tubuh Radin ambruk, orang-orang mengerumuni mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Radin!" seorang pria mengangkat tubuh Radin dan dimasukkannya ke dalam mobil. Mobil itu segera menuju rumah sakit.

* Di dalam rumah sakit.

Sheva membuka matanya dan menoleh ke sekitar, tersadar dirinya sudah berada di salah satu ruangan rumah sakit. Sheva merasa heran mengapa tiba-tiba dia pingsan.

"Radin." Sapa seorang pria di depannya.

"Radin?" Sheva masih belum sadar bahwa dirinya masih berada di tubuh Radin.

"Kamu Radin kan? Apa kamu masih mengingatku? Aku Kafeel yang sering menemani Sheva ke rumah sakit ini untuk pengobatan kamu." Kata Kafeel.

"Maaf Bang Kafeel, aku lupa." Jawab Sheva.

"Sekarang kamu sudah ingat kan?" tanya Kafeel.

"Iya. Ngomong-ngomong Bang Kafeel kekasihnya Kak Sheva ya?" tanya Sheva.

"Bukan, kami hanya berteman." Jawab Kafeel.

JGEEERR!

Petir bergemuruh di dada Sheva, senyumnya memudar, Sheva menggigit bibir menahan amarah.

"Bang Kafeel sudah punya kekasih?" tanya Sheva.

"Hmmm, belum. Radin mau jadi kekasih Bang Kafeel?"

"Emang Bang Kafeel mau? Aku sering sakit lho Bang, setiap bulan diberi kehidupan oleh Kak Sheva. Tanpa Kak Sheva, aku mungkin tidak akan bertahan." Jawab Sheva.

"Apa kamu sayang dengan Kak Sheva?"

"Emang kenapa Kak?" Sheva balik bertanya.

"Sheva itu hanya anak haram. Begitu yang sering aku dengar dari ayahmu." Kafeel duduk di sebelah Sheva.

"Anak haram memangnya kenapa Bang?" hidung Sheva berkerut.

"Anak yang tidak tahu asal usulnya. Tidak pantas diberikan kasih sayang." Jawab Kafeel.

"Radin!" Dafa dan Ola masuk ke dalam kamar Radin dirawat.

Jiwa Sheva keluar dari tubuh Radin. Di dalam ruangan Sheva melihat Dafa, Ola yang sangat mengkhawatirkan keadaan Radin. Radin yang telah menjadi dirinya sendiri masih belum mengerti situasi, mengapa dia bisa berada di rumah sakit. Dan mengapa ada Kafeel bersamanya. Kafeel yang bermuka dua mencoba mendapatkan perhatian dari Dafa dan juga Ola. Kafeel mengatakan dia menemukan Radin di taman pinggir sungai dan dia juga yang membawanya ke rumah sakit. Dafa dan Ola sangat berterima kasih kepada Kafeel.

* Di tempat lain.

Elzin menarik tubuh Sheva ke dimensi lain. Sheva hanya diam. Sheva masih mengingat ucapan dari Kafeel bahwa dia hanyalah anak haram yang tidak pantas diberikan kasih sayang. Jadi selama ini Kafeel menganggap dirinya apa. Kafeel yang selama ini selalu setia mendengar keluh kesah hati Sheva. Apa semua itu hanya sandiwara? Dalam diam hati Sheva menjerit, menangis, nelangsa. Keputusannya untuk mengakhiri hidup tidak salah, tidak ada kebahagiaan, hanya derita dan air mata yang selalu bersamanya.

"Kamu harus membalas dendam. Balas semua rasa sakit hatimu kepada mereka. Kalau perlu dengan nyawa. Karena merekalah kamu bisa berada di sini. Kamu sudah mati. Buat mereka semua mati!" Elzin terus mengobarkan api kebencian kepada Sheva.

Tujuan Elzin adalah Sheva tidak akan pernah kembali ke tubuhnya dan Sheva akan mati bersamanya. Sheva sendiri mengira dirinya saat ini sudah mati, padahal saat ini jiwanya hanya tersesat dan Elzin mengurungnya di dalam istana kegelapan. Istana yang terbuat dari kegelapan hati manusia, bangunannya terdiri dari kebencian, kemarahan, dendam, amarah, kemurkaan dan akhirnya jiwa yang tersiksa menjadi santapan Elzin.

Satu bulan berlalu, Sheva terus hidup di dalam diri Radin. Sheva akhirnya berhasil membuat Kafeel dan Radin bersatu dalam ikatan asmara. Sheva juga berhasil memisahkan Kafeel dengan sahabat yang selama ini menikam dirinya dari belakang. Tanpa Sheva sadari ternyata Radin juga menyukai Kafeel.

Di saat senja menjelang, di kala jiwa Sheva keluar dari raga Radin, Radin diam-diam bertemu dengan Kafeel. Mereka semakin menjalin ikatan yang kuat. Radin yang belum pernah jatuh cinta sebelumnya, menyerahkan segala-galanya kepada Kafeel.

Radin awalnya masih belum mengerti tentang perubahan diri yang dialaminya. Radin seolah bermimpi di pagi hari dan bangun di malam harinya. Tapi Radin sangat menikmati hidupnya saat ini. Sejak Sheva memakai tubuhnya di pagi hari, tubuhnya penuh energi, bahkan selama sebulan ini Radin tidak melakukan transfusi darah, ini karena Sheva telah menyatu dalam dirinya. Dan Radin sama sekali tidak mengetahuinya.

* Di rumah sakit, kamar Sheva.

"Permisi Pak Arkan. Ada kabar gembira." Kata Dokter Selvi.

"Apa itu Dok?" tanya Arkan.

"Nyonya Sheva hamil. Tapi kami tidak bisa menjamin bayinya bisa selamat." Dokter dengan berat hati harus mengatakan ini.

"Maksudnya bagaimana Dok?" Arkan memucat.

"Nyonya Sheva harus sadar, agar bayinya sehat dan selamat. Kami akan terus berusaha supaya Nyonya Sheva sadar." Kata Dokter.

"Terima kasih Dok."

"Permisi." Dokter Selvi meninggalkan ruangan Sheva.

"Bos." Panggil Ahsan.

"Sheva hamil. Tapi anak kami...." Arkan lemas menjatuhkan dirinya di atas sofa.

"Bos, ini Tante Oky. Ada yang ingin beliau beritahukan kepada Bos." Ahsan membawa seseorang bersamanya.

Arkan berdiri dan mengulurkan tangannya, "Saya Arkan."

"Saya Oky Tantenya Ahsan." Tante Oky menjabat tangan Arkan.

"Begini Pak Arkan. Sebelumnya saya sudah mendengar cerita dari Ahsan. Menurut pandangan mata batin saya, jiwa Sheva tersesat dan dikurung oleh seseorang yang kuat di dunia kegelapan. Saat ini Sheva mengira dirinya sudah meninggal. Jika tidak dipanggil, Sheva tidak akan pernah kembali dan dia akan pergi untuk selama-lamanya."

Sontak Arkan dan juga Ahsan terkesiap.

"Bagaimana caranya Sheva bisa kembali Tan?" tanya Ahsan.

"Sheva masih bisa diselamatkan karena ada kehidupan di dalam rahimnya. Tugas Anda Pak Arkan, yakinkan Sheva untuk kembali. Dan hati-hati dengan jin yang ada di dunia kegelapan. Dia raja dari segala tipu daya. Hanya cinta Anda yang bisa mengeluarkan Sheva." Tante Oky memberikan semangat untuk Arkan.

Arkan menghampiri Sheva yang masih menutup matanya di atas tempat tidur lengkap dengan alat-alat medis. Arkan menunduk dan berbisik lembut kepada Sheva, "Sayang, tunggu aku."

"Baiklah saya siap," kata Arkan kepada tante Oky.

"Pak Arkan cukup duduk di samping Sheva, pegang tangan Sheva dan jangan dilepaskan." Tante Oky berkonsentrasi dan membacakan doa-doa.

Jiwa Arkan perlahan keluar dari tubuhnya. Arkan melihat kumpulan asap putih dan ada cahaya terang dibaliknya. Arkan masuk kedalamnya. Perlahan asap dan cahaya itu menghilang. Tempat yang gelap, benar-benar gelap. Arkan merasa tidak nyaman berada di sana. Bulu romanya berdiri, lehernya terasa dingin. Samar-samar terdengar rintihan, tangisan yang menyayat hati. Arkan terus berjalan sambil memikirkan Sheva. Sedikit cahaya redup remang-remang terlihat. Arkan melihat Sheva duduk diam, pandangannya kosong. Arkan menghampiri.

"Sheva, Sheva." Arkan dengan penuh kasih sayang memanggil Sheva.

Sheva menoleh ke sumber suara. Sheva terkesima melihat Arkan. Ternyata selain Elzin ada juga makhluk ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna di mata Sheva.

"Sheva, ini aku suamimu." Arkan mengulurkan tangannya.

"Suamiku? Kamu Suamiku?" Sheva tak percaya.

"Sheva, aku ke sini menjemputmu. Pulanglah bersamaku. Apa kamu tidak merindukanku?" Arkan meraih jemari Sheva.

"Bukannya Suamiku cacat." Sheva memperhatikan Arkan dari atas sampai ke bawah.

"Ini aku. Maafkan aku. Akan aku jelaskan semuanya. Ayo kita harus keluar dari tempat ini." Arkan menarik tangan Sheva.

"SHEVA, BERHENTI!"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Queen

Queen

hamil? tokcer 🤣

2024-02-15

1

Queen

Queen

waduh

2024-02-15

1

Queen

Queen

biaya mencari cinta

2024-02-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!