"Apa sekarang kamu merasakan kebahagiaan?"
Langkah Sheva terhenti perlahan Sheva membalikkan badannya.
"Kamu siapa?" Sheva mengagumi sosok yang ada di depannya.
Seorang pria berbadan tinggi, berdada bidang, sorot mata yang tajam, berhidung mancung, menurut Sheva ini adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna.
"Halo, siapakah namamu?" pria itu mengulurkan tangannya ke arah Sheva.
Dengan ragu Sheva mengulurkan tangannya, "Sheva."
Pria itu mengecup punggung tangan Sheva dan berkata, "Panggil aku Elzin."
"Hmmm Elzin tempat apakah ini?" tanya Sheva pipinya berubah menjadi merah muda.
"Tempat yang akan membuatmu merasakan kebahagiaan." Jawab Elzin dengan lembut.
"Bahagia? Apa itu bahagia?" wajah Sheva berubah duka. Selama ini bahagia sungguh jauh dari hidupnya.
"Bahagia adalah di saat kamu bisa membalas sakit hatimu kepada orang yang kamu cintai." Jawab Elzin.
Elzin menjentikkan jarinya, di balik hembusan asap putih nampak lah bayangan kekasih Sheva yang bercinta dengan sahabatnya. Sheva melihat kebahagiaan terpancar dari wajah mereka berdua. Sheva membuang pandangan, hatinya tidak sanggup melihat adegan demi adegan panas mereka yang mengoyak perasaan dan menancapkan luka teramat dalam. Kemudian Elzin kembali menjentikkan jarinya. Dari balik asap putih nampak bayangan keluarga Sheva yang sedang berbahagia. Ayahnya bersama dengan ibu tiri dan saudara tirinya. Hati Sheva kembali bergetir, masa lalu yang pahit terasa lagi.
"Cukup. Jangan diteruskan!" Sheva menutup matanya.
"Kamu bisa bahagia, aku akan membantumu mewujudkannya." Elzin meraih jemari Sheva.
Dalam sekejap Elzin membawa Sheva ke dunia nyata. Mereka sekarang berada di dalam kamar Radin. Radin seperti biasa terbaring lemah di atas tempat tidur king size yang letaknya di bagian tengah kamarnya. Di sisi kiri dan kanan tempat tidurnya ada tambahan meja dengan lampu, sementara di atasnya terdapat lampu gantung yang cantik.
Kamar tidurnya juga dilengkapi dengan sofa bed hingga karpet yang cukup mewah. Di sisi kiri terdapat jendela kaca yang berukuran lebar, sehingga cahaya matahari leluasa masuk ke dalam. Radin seperti seorang Putri di sebuah kerajaan. Papanya sungguh melimpahkan kasih sayang kepadanya.
Sungguh berbeda dengan kamar Sheva di rumah om dan tantenya. Kamar yang berukuran kecil dan Sheva hanya tidur di atas katil berkasur kapuk tipis, yang setiap pagi membuat tubuhnya terasa remuk dan sakit.
"Kamu bisa memiliki ini semua. Masuklah ke dalam raganya. Radin saat ini tertidur, kamu bisa meminjam tubuhnya. Manfaatkan waktumu sebisa mungkin. Ingat waktumu hanya sampai senja menjelang." Elzin mendorong jiwa Sheva untuk masuk ke dalam raga Radin.
Sheva perlahan membuka mata, mengerjap. Sheva bangun dan duduk di atas kasur yang empuk. Sheva berkeliling menjelajahi kamar mewah Radin. Sheva masuk ke dalam ruangan yang berada di depan tempat tidur Radin. Ternyata tempat baju, tas dan segala macam aksesoris Radin. Sheva mencobanya satu persatu. Sungguh beruntung Radin memiliki kemewahan yang tidak pernah Sheva rasakan.
KRUK! KRUK!
Sheva memegang perutnya yang keroncongan. Sheva keluar dari kamar Radin. Sheva melihat ruang tamu yang besar dimana ada ayahnya sedang duduk bersama tante Ola.
"Radin sayang, kamu sudah bangun Nak." Dafa berdiri memeluk Radin.
Perasaan Sheva saat ini campuran antara kesedihan yang bahagia. Pelukan dan kasih sayang yang tidak pernah dirasakan, tapi ini pelukan untuk Radin bukan untuk dirinya.
"Sarapan dulu sayang." Ola membawa Radin ke ruang makan.
Makanan yang berlimpah tersaji rapi di atas meja makan. Sheva menyantap semua hidangan dengan lahap. Ola dan Dafa, mata mereka melebar melihat Radin bernafsu sekali memasukkan makanan ke mulutnya seolah Radin berhari-hari tidak makan.
"Apa makanannya enak?" tanya Ola.
"Iya." Sheva terus memakan makanannya.
"Sayang, setelah sarapan kita ke rumah sakit." Kata Dafa.
Sheva mengangguk, entah mengapa Sheva merasa perutnya meronta-ronta minta diisi. Akhirnya perut Sheva penuh, Sheva bersandar di kursi makan. Kemudian Sheva berdiri di depan cermin yang berada di ruang makan. Dia menatap dirinya yang sekarang berada di dalam tubuh Radin. Radin sungguh beruntung hidupmu, Sheva membatin.
Tibalah Ola, Dafa dan Sheva di rumah sakit. Dokter menyatakan saat ini kondisi Radin dalam keadaan baik. Dafa bersyukur setidaknya Dafa tidak lagi memerlukan Sheva karena Dafa sudah menjualnya kepada orang cacat. Sheva yang mendengar kalimat itu yang langsung keluar dari mulut Dafa terasa sesak. Muncul pikiran untuk membalas dendam kepadanya. Tapi bagaimana, balas dendam seperti apa? Sheva meminta ijin menghirup udara segar kepada orang tuanya. Sheva keluar dari ruangan Dokter.
- Di dalam ruang perawatan VVIP.
Arkan masih setia menunggu Sheva yang masih enggan membuka matanya. Selama seminggu ini Arkan membawa pekerjaannya ke rumah sakit. Semua pekerjaan diserahkan kepada Ahsan Assisten dan juga Sekretaris pribadinya.
Ponsel Arkan berbunyi, memberi tanda keberadaan Sheva. Arkan melirik ke arah Sheva, ada yang aneh ini adalah tanda GPS yang dia pasang di kalung yang dia berikan di malam panas mereka. Arkan mendekati Sheva, Arkan baru menyadari kalung Sheva menghilang. Apakah kalung itu tenggelam di dalam lautan? Arkan yang penasaran mengikuti arah dari ponselnya. Tanda itu mengarah ke ruangan nefrologi. Arkan mengintip dari luar, Arkan melihat mertuanya Dafa sedang berbicara dengan seorang Dokter spesialis penyakit dalam. Kemudian tanda itu kembali bergerak, Arkan kembali mengikuti arah yang ditunjuk ponselnya. Arkan menuju parkiran rumah sakit dan tanda itu menjauh.
"Ada apa ini? Apa ada orang yang memakai kalung Sheva? Apa mungkin kalung itu tenggelam dan ada orang yang menemukannya? Sheva." Arkan ingat akan Sheva, dengan sedikit berlari Arkan kembali ke kamar Sheva.
"Sheva, Sheva. Aku pernah memberikan sebuah kalung kepadamu. Dengan kalung itu aku mengikatmu, aku ingin terus menjagamu. Aku juga membuktikan ketulusanku dengan menikahimu. Maaf, maafkan aku yang memberikan pernikahan kilat pada waktu itu. Karena waktu yang sangat mendesak, aku harus segera menjauhkanmu dari orang yang bernama 'ayah' bagimu. Sebenarnya setelah hari itu aku sudah merencanakan pernikahan mewah untuk kita di luar kota. Tapi tidak pernah ada yang bisa menebak skenario Sang Pencipta. Ternyata kita harus melewati beberapa rintangan. Mungkin Sang Pencipta ingin melihat sejauh mana kesungguhanku untuk mendapatkan dirimu." Arkan menggenggam erat jemari kanan Sheva.
"Sheva, mungkin aku tidak sempurna. Tapi aku akan berusaha menjadi Suami yang baik untukmu. Aku akan memberikan waktu untukmu mengenalku lebih jauh. Sheva sadarlah. Di sini Suamimu menunggu." Arkan berbisik lembut sembari mengecup lembut bibir dan kening Sheva.
DEG! DEG!
Sheva yang masih di dalam tubuh Radin merasakan jantungnya berdebar kencang. Sheva baru saja merasakan hangat di bibir dan dikeningnya.
"Perasaan apa ini?" Sheva memegang dadanya dan matanya berkeliling mencari sesuatu yang dia sendiri pun tidak tahu.
Di tepi sungai Sheva berdiri. Sheva kembali mengingat kejadian di saat dia terjatuh dan masuk ke dalam dinginnya air. Sekilas wajah seorang nampak diingatan. Sheva memegang kepalanya yang sakit.
BRUUKK!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments