"SHEVA!"
Arkan mengangkat tubuh Sheva membawanya masuk ke dalam rumah. Arkan melihat-lihat rumah Sheva mencari kamarnya. Arkan merebahkan Sheva di atas tempat tidur.
"Kak Lina, tolong!" teriak Arkan.
Kak Lina bersama anaknya masuk ke dalam rumah dan mencari Arkan.
"Kak di sini." Panggil Arkan.
Kak Lina memeriksa kondisi Sheva.
"Jangan khawatir, dia kelelahan. Mungkin saja beberapa minggu ini dia lembur bekerja. Biarkan dia beristirahat," kata Lina.
Arkan bermain dengan keponakannya sambil menunggu Sheva sadar. Sheva mendengar suara-suara di dalam kamarnya. Sheva membuka mata dan memperhatikan pria dan anak kecil di dalam kamarnya. Sheva bangun.
"Papa, dia sudah sadar." Tunjuk anak kecil itu.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Arkan tersenyum menatap Sheva.
"Papa? Apa dia anakmu? Apa selama ini kamu membohongiku? Jadi yang ku lihat di taman dekat Villa waktu itu mama dari anak ini! Apa dia istrimu!" Sheva emosi.
"Sayang tenang, kamu salah paham." Arkan menenangkan Sheva.
"Mami, mami!" Anak laki-laki itu berlari menangis keluar kamar Sheva.
"Mami? Apa dia juga ada di sini? Maksud kamu apa? Ingin memamerkan kemesraan kalian!" Sheva semakin emosi.
Lina dan anaknya masuk kembali ke dalam kamar Sheva. Anak kecil itu menangis dalam gendongan Kak Lina. Dia ketakutan melihat Sheva. Kak Lina menyadari Sheva salah paham.
"Sheva, kenalin namaku Lina. Kakak kandung Arkan. Dan ini anakku yang bernama Rafael. Dia memanggil Arkan dengan sebutan Papa Ar. Maaf kami baru bisa mengunjungi kalian. Sewaktu kami tiba di Villa kamu menghilang," kata Kak Lina.
HOEEKKK! HOEEKKK!
"Sheva bawa dia ke kamar mandi!" pinta Kak Lina.
Sheva berdiri menuntun Arkan ke kamar mandi yang memuntahkan semua isi perutnya. Arkan lemas, gantian sekarang dia yang berbaring di atas tempat tidur Sheva.
"Apa yang terjadi Kak?" tanya Sheva.
"Arkan mengalami ngidam selama 3 bulan terakhir ini." Jawab Kak Lina.
"Ngidam? Maksudnya Kak?" Sheva tidak mengerti.
"Arkan mengalami kehamilan simpatik atau sindrom couvade. Gejala-gejala sama kayak ibu hamil pada umumnya. Arkan mual, muntah, nyeri perut. Biasanya orang hamil juga mengalami gejala psikologi seperti marah, cemburu, cemas, stres dan perubahan mood." Jawab Kak Lina.
"Maaf Kak, jadi selama ini yang merasakan mual karena kehamilan saya itu Kak Arkan?" Sheva meminta penjelasan.
"Iya, Arkan selama 3 bulan tidak bekerja. Dia lemas di tempat tidur. Aku dan Mama yang selama ini mengurusnya." Kak Lina sambil mencek kondisi Arkan.
"Yank, kemana saja kamu selama ini? Apa kamu lupa kamu punya suami!" Arkan mulai kesal.
Akhirnya dengan penuh berderai air mata Sheva menceritakan betapa hancur, sakit hatinya melihat Arkan dan Elvira waktu itu. Sheva berusaha menghindar dan lari dari Arkan. Sheva juga marah di saat Arkan membentaknya pada saat itu. Sheva juga melihat Arkan bersama dengan wanita di taman dekat Villa saling berpelukan. Sheva semakin mantap dengan keputusannya untuk meninggalkan Arkan. Dan ikut dengan temannya ke kota ini. Di sini Sheva bekerja dan mengontrak rumah kecil untuk dirinya.
Kak Lina mengerti dengan kondisi psikologi Sheva yang lagi hamil. Kak Lina berani menjamin tidak terjadi apa-apa antara Arkan dan Elvira saat ini. Arkan juga tidak pernah selingkuh di belakang Sheva. Kak Lina berharap Sheva kembali bersama mereka. Karena tidak mungkin Arkan tinggal di sini sementara pekerjaannya jauh di kotanya. Arkan meminta maaf atas kesalahannya kepada Sheva. Arkan meminta Sheva agar kembali bersamanya. Arkan mengatakan betapa tersiksanya hati dan perasaannya ketika Sheva tidak ada disisinya. Sheva juga meminta maaf karena salah paham kepada Kak Lina dan Arkan. Sheva juga menyesal karena membuat masalah besar di dalam keluarganya.
Sebagai seorang Kakak, Kak Lina memberikan nasehat kepada mereka yang baru saja menjalani perkawinan. Belajarlah dari pengalaman, kalau ada masalah sebaiknya dibicarakan, saling jujur, terbuka dan saling percaya.
Keesokan harinya Sheva menemui Elzin di ruangannya. Sheva memberitahukan rencananya untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Sheva mengatakan suaminya datang untuk menjemputnya. Dan Sheva juga membawa surat keterangan dari Dokter bahwa saat ini kondisi kandungan Sheva lemah. Karena terlalu lelah dalam bekerja. Sheva tidak mau karena dirinya pekerjaan yang lain jadi terhambat.
Elzin mengerutkan kening dan bertanya apa saja yang dikerjakan Sheva di kantor dan pulang jam berapa. Sheva mengatakan pekerjaannya saat pertama kali masuk bekerja tidaklah banyak. Dia cuma disuruh fotocopy, membagikannya ke departemen lain, menyapu, membersihkan ruangan administrasi, menyiapkan minum dan kadang disuruh membelikan cemilan. Dan setelah satu bulan bekerja di sana, Sheva banyak melakukan pekerjaan yang diberikan Aqila sebagai atasannya di departemen administrasi. Sheva kadang pulang ke rumah jam 9 malam.
Dan Elzin juga bertanya apakah selama dia bekerja mendapatkan uang lembur. Sheva menjawab tidak. Karena Sheva merasa ini kewajibannya sebagai karyawan di kantor ini. Elzin mengangguk dan menyuruh Sheva kembali ke ruangannya. Elzin akan mempertimbangkan pengunduran diri Sheva.
Elzin memanggil kepala bagian HRD. Dan meminta semua data gaji karyawan bagian administrasi. Ternyata yang selama ini tercatat rajin dan suka lembur di kantor adalah Aqila. Sheva tidak pernah mendapatkan uang lembur. Elzin juga meminta rekaman CCTV di ruangan administrasi. Dan ternyata benar, selama tiga bulan terakhir terlihat Sheva beberapa kali lembur di kantor. Terlihat beberapa kali pula Sheva memegang perutnya. Elzin memerintahkan Kepala HRD memanggil Aqila. Dan menyuruh Aqila mengembalikan uang lembur yang bukan haknya ke bagian HRD.
Makan siang tiba, seperti biasa semua karyawan makan di kantin Perusahaan. Sheva sekarang tidak sendiri, semenjak kejadian dulu Sheva mempunyai banyak teman. Ketika mereka sedang asik menyantap makan siang, tiba-tiba saja Aqila datang menghampiri meja makan mereka. Aqila mengambil es jeruk yang ada di meja makan dan menyiramkannya ke kepala Sheva.
Semua orang terkejut, ada beberapa orang yang marah melihat tindakan Aqila.
"Aqila yang kamu lakukan!" tanya temannya Sheva.
"Dasar tukang ngadu! Kamu bilang apa ke Bos Elzin!" bentak Aqila.
"Ngadu apa? Aku tidak mengerti." Sheva menyeka air jeruk dari wajahnya.
"Gara-gara kamu aku dipecat!" teriak Aqila.
Sontak seisi kantin melongo.
"Kok bisa?" tanya yang lain.
"Maaf, aku tidak mengerti. Aku bukan tukang ngadu. Aku mengantar surat pengunduran diri ke ruangan Pak Elzin," kata Sheva.
"Bohong! Gara-gara kamu, aku harus mengembalikan bonus lembur 3 bulan kepada HRD. Dasar wanita murahan!" Aqila mendorong tubuh Sheva.
BRUUUK!
Sheva terjungkal ke belakang. Bagian pinggang dan kepalanya terbentur meja makan.
AAAGGHHH!
Dari bagian bawah Sheva mengalir darah segar. Sheva merasakan nyeri di perutnya.
BRUUUK!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Queen
😱😱😱
2024-02-24
1
Queen
dia kn amnesia 🤣
2024-02-24
1
Queen
duh bumil
2024-02-24
1