Bab 18 Bayiku Diculik

"Yank, bagaimana kalau aku tidak bangun lagi?" lirih Sheva.

Belum lagi Arkan menjawab Sheva sudah didorong menggunakan brankar ke ruangan operasi. Lampu di depan ruangan operasi menyala menandakan operasi sedang berlangsung. Arkan, Bunda Nida, Ahsan menunggu dengan harap-harap cemas. Sheva akhirnya harus menjalani persalinan Caesar karena bayi Sheva terlilit tali pusar dan Sheva dalam kondisi lemah.

Masih terngiang-ngiang di telinga Arkan, kata-kata terakhir Sheva sebelum menuju ruangan operasi. Arkan dalam diam berdoa sepenuh hati untuk keselamatan Sheva dan anak mereka. Begitu juga Bunda Nida, tergambar kecemasan di wajahnya. Ahsan segera mengabari kedua orang tua Arkan bahwa Sheva melahirkan secara Caesar di Kota M.

Tiga puluh menit berlalu, beberapa perawat membawa seseorang di atas brankar tapi seluruh tubuh orang itu ditutupi kain putih. Ahsan bertanya kepada perawat apa yang terjadi, perawat itu mengatakan pasien meninggal setelah melahirkan. Perawat itu meninggalkan Ahsan.

Arkan dan Bunda Nida syok mendengar, mereka tidak percaya kalau Sheva pergi meninggalkan mereka. Arkan dan Bunda Nida menangis mereka berdua saling berpelukan. Tangisan mereka memecah keheningan. Orang-orang yang melihat mereka turut merasakan kesedihan dan tidak sedikit dari mereka mengucapkan belasungkawa.

"Bos, Bund. Ada apa?" Ahsan kebingungan melihat tingkah laku Bos dan mertuanya.

Arkan dan Bunda Nida terus meraung-raung melepaskan kesedihan mereka. Mereka masih belum bisa menerima kenyataan Sheva pergi meninggalkan mereka. Apa lagi Bunda Nida yang puluhan tahun berpisah dengan Sheva dan ini pertemuan pertama mereka.

"Bos, Bund, itu Nyonya Sheva." Tunjuk Ahsan.

Mereka berdua semakin histeris tidak terbendung lagi. Tiba-tiba sebuah brankar berhenti di samping mereka berdua. Arkan dan Bunda Nida tidak kuasa membuka mata mereka. Mereka masih belum bisa menerima kenyataan.

"Bund, suamiku." Lirih Sheva.

"Bund, apa Bunda mendengar suara Sheva?" Arkan berbisik kepada Bunda Nida.

"Iya, suaranya sangat dekat." Jawab Bunda Nida.

"Bund, Bos, Nyonya Sheva memanggil," kata Ahsan.

Bunda Nida dan Arkan melepaskan pelukan mereka dan melihat ke samping. Ternyata Sheva berada di atas brankar. Mata mereka membulat, kali ini tangisan mereka semakin kencang.

"Sheva syukur Nak, kamu selamat. Mana Cucu Bunda?" tanya Bunda Nida sambil terisak.

"Cucu ibu ada di ruang anak, seorang anak laki-laki yang tampan. Tapi sekarang masih dirawat dalam inkubator. Permisi kami ingin memindahkan Bu Sheva ke ruang perawatan." Perawat dan beberapa orang temannya mendorong Sheva menuju ruangan.

"Bund, ternyata Sheva masih hidup. Yang tadi siapa?" tunjuk Arkan.

"Maksud Bos yang mana?" Ahsan menyipitkan matanya.

"Yang baru saja meninggal!" jawab Arkan.

"Itu orang lain Bos. Di sebelah ruangan operasi. Jadi Bos dan Bunda tadi menangis bukan karena menangis bahagia? Tapi mengira She ... va ... telah ...?" tanya Ahsan.

"Iya." Jawab Arkan.

"Ha ... ha ... ha ...." Ahsan tertawa terpingkal-pingkal.

"Kualat kamu sama orang tua!" Bunda Nida berlalu dengan wajahnya yang merah karena malu.

"Lucu ya!" Arkan juga pergi meninggalkan Ahsan yang tergelak.

Sheva sudah berada di dalam ruangan. Sheva merasakan perih disayatan perutnya, Sheva tidak pernah menyangka sebegini sakitnya pasca operasi Caesar. Sheva merintih tidak ada senyuman yang terukir dari bibirnya yang terlihat kering. Sheva memanggil Bunda dan Arkan yang terlihat di depan pintu. Sheva mengangkat tinggi tangan kanannya dan melambaikannya.

"Yank, ada apa?" Arkan duduk di samping Sheva.

"Suamiku, tolong lihat anak kita." Pinta Sheva.

"Dia masih di dalam inkubator sayang," kata Arkan.

"Tolong lihat dia. Tolong." Pinta Sheva lagi.

"Tenang sayang, dia baik-baik saja." Arkan berusaha menenangkan.

"Arkan, pergilah Nak. Lihat anak kalian." Bunda Nida menyadari insting seorang ibu yang dirasakan Sheva.

Karena terus dipaksa Sheva, akhirnya Arkan dan Ahsan ke ruangan bayi. Ahsan bertanya kepada perawat dimana ruangan bayi. Perawat tersebut mengantarkan mereka.

Terjadi kericuhan di ruangan bayi. Salah satu perawat bilang bayi yang berada di dalam inkubator menghilang. Arkan bertanya bayi yang mana. Bayi yang baru saja dilahirkan prematur kata perawat itu. Bak disambar petir di siang bolong, betapa terkejutnya Arkan mendengar anaknya yang baru saja dilahirkan dan belum pernah dijumpainya diculik orang. Tubuh Arkan terjatuh ke lantai dingin ruangan bayi.

Ahsan segera mencari ruang keamanan rumah sakit untuk melihat rekaman CCTV di ruangan bayi. Ahsan meminta pihak keamanan untuk mencari orang yang menculik bayi Bosnya. Dalam rekaman CCTV terlihat seorang pria berpakaian perawat menggunakan masker masuk ke dalam ruangan bayi dan mengeluarkan bayi yang ada di dalam inkubator. Orang itu keluar dan berlari menuju parkiran rumah sakit. Dan orang itu dengan santainya kabur dengan mobilnya.

TULALIT! TULALIT!

"Hallo," Sapa Sheva kepada orang yang menelponnya.

"Serahkan uang 400 juta jika ingin anakmu selamat. Aku beri waktu 1 jam dari sekarang!"

TUT! TUT! TUT!

"Bund, Bund, Anakku diculik!" Sheva menangis histeris.

"Sayang, ada apa?" Bunda Nida memeluk Sheva.

"Anakku, Anakku diculik. AAAGGHHH!" Sheva memegang perutnya yang perih. Sheva berusaha menggerakkan badannya. Tidak peduli betapa perihnya, dia mencoba untuk bangun. Dipikirannya saat ini hanya ingin mencari bayinya.

Bunda Nida memencet bel yang ada di dinding kamar Sheva. Dokter dan perawat berdatangan, mereka mendengar teriakkan dan juga rintihan kesakitan dari dalam kamar Sheva.

Dokter mengambil tindakan memberikan obat bius untuk Sheva. Sheva tertidur, jahitan yang ada diperutnya terbuka. Dokter segera mengobati Sheva. Dokter sengaja melakukan pembiusan agar luka dijahitannya tidak terlalu parah karena Sheva tadi sempat mengamuk mencari bayinya yang hilang.

Arkan kembali ke kamar Sheva bersama kedua orang tuanya yang baru saja tiba. Setelah perkenalan singkatnya dengan mertua Sheva, Bunda Nida menceritakan Sheva mendapatkan telepon dari seseorang, setelah itu Sheva panik, histeris dan mengatakan bayinya diculik. Sheva mengamuk hampir saja jahitan diperutnya terkoyak. Untung Dokter segera mengambil tindakan.

Arkan juga menceritakan bahwa benar bayi mereka diculik seseorang. Dan Ahsan bersama petugas keamanan berusaha mencari penculik. Arkan memeriksa ponsel Sheva dan mencari nomor terakhir yang menghubungi Sheva. Ternyata nomornya di privasi. Arkan penasaran apa yang diinginkan penculik.

"Arkan, sabar Nak. Hidup memang tidak semulus yang kita bayangkan." Papa Adlan menepuk pundak Ahsan.

"Sheva Pa, kasian dia. Dia mencoba melahirkan secara normal saat itu Arkan di sampingnya. Arkan bisa merasakan betapa sakitnya melahirkan. Dan dia juga mempertaruhkan nyawanya di meja operasi demi anak kami Pa. Tapi sekarang anak yang dia lahirkan menghilang." Arkan tak sanggup lagi menahan derasnya air mata yang mengalir dari sudut matanya.

"Sabar Nak." Papa Adlan memeluk Arkan memberikan ruang untuk Arkan bersandar.

TULALIT! TULALIT!

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Queen

Queen

bisa ditebak pasti si mantan yg nyulik 🤔

2024-02-28

1

Queen

Queen

HP jadul 🤣

2024-02-28

1

Queen

Queen

nah lho?

2024-02-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!