"APA!"
"Iya, itu dia!"
Bisik-bisik kegaduhan terdengar, para tamu undangan menatap sinis ke arah Sheva. Sheva merasa tidak nyaman. Arkan merangkul Sheva seraya membisikkan sesuatu yang membuat Sheva tenang.
"Hmmm, permisi semua tamu undangan yang kami hormati. Maaf telah merusak pesta kalian. Seperti yang kalian lihat, di sini ada kesalahpahaman." Ahsan masuk ke dalam pesta dengan membawa layar berwarna putih.
Ahsan memutar rekaman CCTV di sebuah restoran dimana terlihat Sheva makan malam bersama seorang pria yang hanya kelihatan punggungnya. Dari rekaman itu yang sangat nampak terlihat hanya Sheva. Setelah pria itu meninggalkan Sheva, Sheva terlihat memegang kepalanya. Di dalam lift terlihat Sheva kehilangan keseimbangan sampai sedikit merangkak keluar dari lift. Dan Sheva masuk ke dalam sebuah kamar. Kemudian rekaman CCTV berikutnya menunjukkan pria yang bersama Sheva tertunduk mendapat omelan dan cacian dari seseorang di depan sebuah kamar yang lain hotel yang sama. Ahsan kemudian mematikan rekaman.
"Jadi para tamu sekalian. Seperti yang kalian lihat, Nyonya Sheva dijebak seseorang pada malam itu. Pria yang bersama Nyonya Sheva sebelumnya berniat menjual Nyonya Sheva kepada seorang hidung belang, buaya darat, mata keranjang. Untung pada malam itu Nyonya Sheva salah masuk kamar dan Nyonya Sheva terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi jangan langsung percaya dengan apa yang kita lihat, sebelumnya cek dan cari tahu kebenarannya. Dan Anda Nona Elvira, Anda sudah mencemarkan nama baik Nyonya Sheva dan juga memfitnahnya."
"Mantan yang dendam, mantan yang cemburu, berulah di pesta perkawinan. Dasar bermuka tebal." Ejek salah satu tamu undangan kepada Elvira.
"Lepas, aku bisa sendiri!" Elvira menghempaskan tangan pengawal Arkan. Elvira meninggalkan pesta mewah di ballroom hotel tanpa peduli dengan ocehan dan tatapan para tamu undangan yang seakan mengintimidasi.
"Suamiku, aku ingin penjelasan." Bisik Sheva.
"Pasti. Aku akan menceritakan semuanya." Balas Arkan sambil berbisik.
Tamu undangan satu persatu meninggalkan pesta. Setelah berganti pakaian, mempelai pengantin pergi berbulan madu. Arkan tadinya ingin berbulan madu ke luar negeri, tapi Dokter Selvi yang menangani Sheva menyarankan untuk berbulan madu di luar kota saja, karena Sheva masih belum sehat sepenuhnya.
Akhirnya Arkan mengajak Sheva ke Villa pribadi milik Arkan. Mereka terbang menggunakan pesawat pribadi Arkan. Wajah Sheva menegang, keringat dingin bercucuran. Sheva berpegangan erat pada lengan suaminya.
"Hei kamu kenapa sayang?" Arkan merangkul pundak Sheva.
"Kak, aku pertama kali naik pesawat." Bisik Sheva.
Tangan kiri Arkan meraih jemari Sheva, "Nggak usah takut, berdoalah." Arkan menenangkan.
Pesawat mulai takeoff, Sheva memejamkan matanya. Tangannya menggenggam kuat suaminya tak lupa dia berdoa dalam hati semoga perjalanan mereka selamat dan sampai ke tujuan. Arkan terkekeh melihat wajah tegang istrinya. Ketika pesawat sudah berhasil mengangkasa, Arkan membuka safety belt.
"Sayang, bukalah matamu." Bisik Arkan.
Sheva perlahan membuka mata, jantungnya serasa melompat tatkala Arkan mendekatkan wajahnya dan memiringkan kepalanya. Dengan cepat Arkan mengecup bibir Sheva dan menariknya dalam semakin dalam. Mata Sheva membulat, Sheva belum siap menerima serangan tiba-tiba dari Arkan. Arkan melepaskan ciumannya sekedar memberi ruang untuk Sheva mencuri nafas. Arkan kembali menyesap lembut bibir mungil aroma cherry milik Sheva. Sheva yang masih belum berpengalaman hanya bisa diam. Arkan menggigit bibir Sheva, Sheva membuka sedikit bibirnya. Arkan menelusupkan lidahnya ke dalam bibir manis Sheva. Arkan menghentikan ciuman lembut tapi panas itu.
"Sayang, nanti kita lanjutkan." Dengan nafas yang tersengal-sengal Arkan mengusap lembut bibir Sheva.
Sheva hanya mengangguk dan mengatur irama nafasnya yang menderu. Arkan tersenyum manis menatap Sheva yang tersipu.
"Sayang lihatlah pemandangan dari sini." Arkan menunjuk ke arah kanan Sheva.
Dari kaca jendela Sheva terkagum melihat awan putih yang melayang ringan persis seperti gulali. Hmmm memikirkan gulali membuat Sheva menelan saliva.
"Kenapa Yank?" tanya Arkan.
"Hmmm, kepengen makan permen kapas." Jawab Sheva merona.
"Sebentar." Arkan berdiri dari tempat duduknya. Tidak berapa lama Arkan kembali.
"Apa ini yang kamu mau?" Arkan memberikan permen kapas berwarna pink.
"Iya." Sheva tanpa rasa malu melahap permen kapas yang diberikan Arkan.
"Maaf Kak, permennya habis." Sheva merasa bersalah.
Arkan kembali mendekatkan wajahnya kearah Sheva. Dan dengan lembut menyesap mulut Sheva. Arkan melepaskan ciumannya.
"Hmmm manis, sepertimu." Arkan mengusap bibir Sheva dengan ibu jarinya.
"Kak, apa masih lama sampainya?" tanya Sheva.
"Sebentar lagi. Ada apa Yank?" Arkan mulai mengkhawatirkan Sheva.
"Lama-lama di sini jantungku bisa meledak Kak." Jawab Sheva.
"Ha ... ha ... ha.... Iya sayang, sudah kamu istirahat dulu. Aku tidak akan menggangu." Arkan menyenderkan tubuhnya di tempat duduk sembari menutup mata.
Sheva tersenyum menatap suaminya, pria yang memiliki bibir tipis, hidung mancung, alis tebal, bulu mata lentik, rahang tegas, berkulit putih, tinggi, berotot. Dan yang membingungkan Sheva, Arkan memilih dirinya. Banyak pertanyaan yang terlintas di kepalanya saat ini.
"Sayang, apa masih belum puas menatapnya? Ini semua milikmu." Arkan menunjuk diri dari kepala hingga kakinya.
"Ihh." Sheva menutup wajah dengan kedua telapak tangannya karena malu.
"Sebentar lagi kita mendarat." Arkan merangkul Sheva dan mengecup keningnya.
Tibalah mereka di sebuah pulau yang indah. Pulau itu terdapat beberapa Villa dan salah satunya milik Arkan. Sheva takjub dengan pemandangan di Villa yang mengarah ke pantai, pekarangan dengan kolam ikan dan tanaman gantung yang asri. Mereka naik ke lantai dua kamar mereka. Sheva berdiri di balkon kamar dan menikmati keindahan pantai sampai puas. Di samping balkon mereka ada sebuah tangga kecil yang menghubungkan ke kolam renang, terbayangkan berenang dengan latar belakang birunya pantai.
Arkan meletakkan koper mereka dan dia segera membersihkan diri di kamar mandi.
"Sayang, ayo mandi dulu. Ada kejutan untukmu." Arkan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggang.
Waw pemandangan yang sangat menyejukkan, roti sobeknya, otot yang kekar, rambutnya yang basah, dia suamiku, Sheva membatin. Entah kenapa Sheva jadi bernafsu menatap Arkan. Sheva bergegas ke kamar mandi, takut ketahuan Arkan.
Hampir 30 menit Sheva masih di dalam kamar mandi. Sheva masih merasa gugup, ini pertama kalinya dia berduaan di kamar dengan suaminya. Dan Sheva masih merasa canggung.
TOK! TOK!
"Yank, kamu ngapain di dalam?" Arkan di depan pintu kamar mandi.
Akhirnya Sheva membuka pintu kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Arkan tersenyum dan menarik tangan Sheva keluar dari kamar mandi. Arkan menghirup aroma wangi dari tubuh Sheva. Arkan mendudukkan Sheva di tepi tempat tidur. Arkan mengusap lembut pipi Sheva yang memerah, Arkan mengecup lembut kening Sheva, hidung, leher Sheva. Sheva menggeliat geli. Arkan kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Sheva.
DEG!
DEG!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Queen
😱😱😱😱
2024-02-18
1
Queen
😘😘😘
2024-02-18
1
Queen
ngidam 😁
2024-02-18
1