Dendam Sang Kuntilanak (Akibat Perjanjian Gaib)
Langit kehidupan makin gelap, sementara jalan yang harus ditempuh berupa jalan setapak. Beberapa burung gagak berterbangan di atas sana. Yang mana sepanjang perjalanan, ibu Unarti juga diserbu banyak nyamuk. Wanita paruh baya itu jadi sibuk garuk-garuk. Kendati demikian, tak sedikit pun ibu Unarti goyah apalagi takut. Tekad wanita berusia empat puluh dua tahun itu sungguh sudah bulat. Yaitu mendatangi seorang dukun sakti. Dukun sakti yang konon bisa membangkitkan orang yang sudah mati.
Hamparan semak-semak akhirnya ibu Unarti jumpai setelah dirinya melewati hamparan sawah baru tanam. Jika keadaannya sudah seperti itu, harusnya rumah dukun sakti yang akan ibu Unarti datangi, sudah dekat.
Meski pak Asnawi selaku dukun sakti yang akan ibu Unarti datangi memang terbukti bisa membangkitkan orang mati, nyaris semuanya tidak menyarankan ibu Unarti meminta bantuannya. Sebab andai orang mati itu bisa kembali hidup, pasti ada saja keanehan atau malah sederet teror tak kasatmata yang akan ditimbulkan.
“Kamu yakin dengan keputusanmu?” ucap pak Asnawi, ketika akhirnya, ibu Unarti yang tubuhnya kuyup, gemetaran duduk di hadapannya.
Ibu Unarti sudah sampai tujuan. Pak Asnawi yang akan ia minta bantuan juga sudah langsung menangani.
“Saya sangat yakin, Mbah! Apa pun risiko maupun syaratnya, akan saya usahakan!” ucap ibu Unarti.
Kegelapan di rumah gubuk keberadaan ibu Unarti menjadi saksi kerja sama antara ibu Unarti dan pak Asnawi. Sederet syarat pak Asnawi sebutkan. Kini, pria baya berjenggot lebat warna putih itu menari-narikan jemari kedua tangannya di atas coet tanah liat penuh kemenyan maupun dupa yang dibakar. Asap dari pembakarannya dan memang banyak sekaligus menyengat, sampai membuat ibu Unarti batuk-batuk.
Alasan ibu Unarti meminta bantuan pak Asnawi murni karena sakit hati sekaligus dendam. Sebab Echa sang putri meninggal secara tra.gis bahkan dalam keadaan hamil.
Ibu Unarti berniat membuat Echa balas dendam kepada Rain yang justru menikah sekaligus bahagia dengan wanita lain. Wanita itu bernama Hasna, dan baru ibu Unarti ketahui sedang berbadan dua, hasil buah cintanya dengan Rain.
Padahal, alasan Rain ada dalam hidup Echa, murni karena Rain ingin menolong Echa yang saat itu nyaris diperko.sa. Malahan karena keputusan Rain menolong Echa, Rain nyaris meregang nya.wa sekaligus berurusan dengan hukum. Sementara mengenai kehamilan Echa yang terjadi di luar pernikahan, murni dilakukan oleh dukun yang selama ini ibu Unarti sekeluarga minta bantuan. Dukun yang melakukannya pun sudah ditangani secara hukum.
Setelah ibu Unarti menunggu lama penuh keseriusan sekaligus ketegangan, pak Asnawi justru pergi ke ruangan di balik gorden merah. Sebuah kain kafan kot.or bahkan bau, pria itu bawa dari sana. “Pakaikan kain kafan ini ke putrimu. Namun pastikan, putrimu yang sudah mati jangan sampai dimandikan apalagi dikuburkan dengan semestinya.”
“Memakaikan kain kafan itu ke putrimu juga akan membuat orang-orang tidak bisa melihatnya. Itu juga yang akan mempermudah kamu membawa putrimu ke sini.”
“Malam Selasa kliwon besok, kita akan membangkitkan putrimu. Jadi, malam ini juga kamu harus membawa tubuh putrimu ke sini.”
Sepanjang menyimak penjelasan pak Asnawi, ibu Unarti jadi kerap mengangguk paham. Anggukan paham yang juga menjadi bagian dari kesanggupan ibu Unarti sendiri.
Berbekal apa yang sudah ia dapatkan dari pak Asnawi, ibu Unarti pulang. Perjalanan setapak penuh lumpur dan sampai membuatnya tak memakai alas kaki, kembali ibu Unarti lalui. Gerimis mengiringi sepanjang perjalanannya. Sampai di jalan umum, ibu Unarti mencari-cari ojek. Namun, gerimis yang makin besar membuat tukang ojek tak ada di pangkalan. Barulah setelah agak lama menunggu di pangkalan ojek biasa, ibu Unarti mendapatkan apa yang ia cari.
Setelah menggunakan jasa ojek hampir satu jam lamanya, akhirnya ibu Unarti sampai di rumahnya. Rumah semi permanen miliknya masih dalam keadaan sepi sekaligus gelap. Namun lagi-lagi, kenyataan tersebut tak mengurungkan niatnya.
“Putri kita sudah mati, Bu. Dari kemarin subuh. Jadi tolong, ... tolong berhenti. Jangan bikin ulah yang hanya memberatkan dosa-dosanya lagi,” ucap pak Handoyo sambil menunduk berat.
Ucapan sang suami barusan juga tidak menggoyahkan niat ibu Unarti. Apa pun cara sekaligus langkah yang telah ibu Unarti ambil, bukan batu penghalang lagi karena ibu Unarti bahkan sudah tidak peduli pada apa itu dosa.
Tanpa memedulikan sang suami, ibu Unarti sengaja mengunci pintu depan maupun pintu belakang rumahnya. Semua jendela termasuk gorden juga buru-buru ibu Unarti tutup. Ibu Unarti akan segera membungkus tubuh Echa menggunakan kain mori pemberian pak Asnawi.
Dengan keadaannya yang masih setengah basah, ibu Unarti mengakhiri kesibukannya. Ia melangkah cepat masuk ke dalam kamar Echa. Kamar yang sengaja dibiarkan gelap, dan aromanya makin tidak sedap. Terdengar nguingan suara lalat. Lalat hijau berukuran besar terbilang banyak, memang sibuk berterbangan di sana. Kenyataan tersebut terjadi karena tubuh Echa yang sepertinya mulai membus.uk.
“Pokoknya, bagaimanapun caranya. Ibu akan membuat Echa kembali hidup. Echa harus tetap hidup. Karena Echa harus membalaskan dendamnya kepada Rain dan istrinya!” tegas ibu Unarti kepada sang suami.
Ibu Unarti menaruh tas bahunya di pinggir amben Echa terkapar. Pak Handoyo yang mendengar itu menjadi tersedu-sedu.
“Ibu sudah tahu, ada dukun sakti yang bisa membangkitkan orang mati. Ayo kita bawa Echa ke sana, malam ini juga. Apalagi sampai detik ini, belum ada yang tahu bahwa Echa sudah tidak ada.” Berderai air mata, ibu Unarti mengatakannya sambil meraih tubuh Echa.
Seperti keadaan terakhir Echa sebelum berakhir stroke, lidah Echa masih terjulur. Sementara kedua mata Echa juga masih melotot. Keadaan yang tetap tidak berubah, bahkan meski ibu Unarti sudah membungkusnya menggunakan kain kafan pemberian pak Asnawi.
“Ayo kita bawa tubuh Echa ke rumah dukun itu, Pak!” sergah ibu Unarti.
“Bu, ... istighfar! Ini bahkan kamu bungkus tubuh Echa pakai apa?” balas pak Handoyo.
“Perset.an dengan istighfar bahkan Allah, Pak. Sejak apa yang terjadi kepada Echa, aku jadi tidak percaya jika Allah memang ada!” sinis ibu Unarti yang langsung mengusir sang suami. Sebab pria itu terus berusaha menghentikan niatnya.
Namun karena takut sang suami berulah, ibu Unarti sengaja menye.kap sang suami di kamar.
“Bu, buka pintunya, Bu!” teriak pak Handoyo sambil menggedor pintu kamar dirinya dikurung.
Tanpa peduli pada suaminya lagi, ibu Unarti sengaja menggendong tubuh Echa. Tubuh yang harusnya terasa berat itu, sama sekali tidak membuat ibu Unarti terbebani. Termasuk juga ketika ibu Unarti menggunakan jasa ojek. Tukang ojenknya sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang ibu Unarti gendong. Seolah tukang ojenknya memang tidak melihat Echa seperti apa yang pak Asnawi katakan.
Asal tubuh Echa dibungkus menggunakan kain kafan pemberian pak Asnawi, perjalanan ibu Unarti dalam membawa Echa, akan terasa mudah. Dan kini, ibu Unarti tengah membuktikannya.
“Heran, yang aku bonceng hanya satu orang. Tapi kok rasanya berat banget?” batin tukang ojek yang sedang membonceng ibu Unarti. Ia memang kewalahan dan kerap melirik ibu Unarti melalui kaca spion. Namun sekali lagi, tidak ada tanda-tanda ada orang lain di belakang ibu Unarti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
g bau ya bang ojek?? 😁😁
2024-07-25
0
Sri Widjiastuti
ibu nya gila...
2024-07-25
0
🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍
ibu unarti udh dikuasai setan ini
2024-06-20
0