Makin lama, rasa penasaran tukang ojek yang membawa ibu Unarti, makin membuncah. Ditambah lagi, gelagat ibu Unarti yang memang mencurigakan. Ibu Unarti yang kerap membenarkan gendongan kosong di punggungnya, benar-benar tak berbicara. Bahkan meski tukang ojek bernama pak Riswan itu melayangkan pertanyaan.
“Bu, kalau boleh tahu, apa yang ibu gendong? Kelihatannya berat banget?” tanya pak Riswan, dengan nada sangat hati-hati. Ia juga masih bersikap sangat sopan.
Detik itu juga, ibu Unarti yang mendapatkan pertanyaan langsung kebingungan. Namun, ibu Unarti langsung ingat pesan pak Asnawi.
“Saat perjalanan membawa putrimu ke sini, pastikan kamu tidak banyak bicara. Apalagi jika ada yang sampai menanyakan apa yang kamu gendong dan itu putrimu yang sudah kamu kafani!” Itulah pesan dari pak Asnawi yang juga menjadi alasan ibu Unarti memilih diam.
Akan tetapi, pak Riswan yang telanjur penasaran, sengaja mengarahkan kaca spion sebelah kanannya, ke belakang. Selain itu, pak Riswan juga sengaja melafalkan ta'awudz, tapi ulahnya itu malah membuatnya syok. Ia refleks mengerem motornya hingga ibu Unarti berikut yang digendong dan itu pocong, nyaris jatuh.
Di kaca spion motor, sosok Echa yang dibungkus kain kafan layaknya pocong, sungguh terlihat. Namun, ketika pak Riswan melihatnya secara langsung, Echa yang sudah ibu Unarti pocong, sama sekali tidak terlihat.
“Gimana sih, Pak? Kenapa Bapak asal berhenti?!” marah ibu Unarti pada pak Riswan yang menatapnya dengan tatapan syok.
Antara takut tapi juga tak habis pikir, itulah yang ibu Unarti tangkap dari sikap terbaru tukang ojeknya.
“Ini gimana ceritanya, kok malah jadi begini?” batin pak Riswan yang memang langsung kena mental.
Pak Riswan merasa serba salah. Ingin tidak melanjutkan perjalanan dan meninggalkan ibu Unarti, takut salah karena memang sama saja tidak sopan. Mau dilanjut pun, bagaimana? Selain, pak Riswan yang juga takut, alasan ibu Unarti berbuat layaknya sekarang, justru untuk maksi.at.
“Ya Allah, hamba benar-benar berlindung kepada Engkau! Hamba takut salah!” batin pak Riswan.
Kini, alasan pak Riswan makin kuyup, tak semata karena gerimis agak deras yang masih berlangsung. Melainkan keringat ketakutan karena ulah ibu Unarti.
Penuh drama, pak Riswan tetap melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang menang sangat berat. Bukan hanya beban yang ia angkut, tapi juga kenyataan sosok Echa yang terus terlihat di kaca spion sebelah kanan. Parahnya, yang pak Riswan lihat sungguh wajah Echa. Wajah yang kedua matanya tetap melotot, sementara lidahnya terjulur.
“Pantas dari tadi juga bau bang.ke. Mungkin efek apa yang ibunya gendong,” pikir pak Riswan sampai detik ini masih sibuk berdoa dalam hati.
Setelah perjalanan panjang dan hampir memakan waktu satu jam lamanya. Karena pak Riswan sengaja membawa motornya dengan kecepatan pelan, akhirnya ibu Unarti minta berhenti. Di sebuah desa terpencil, dan pak Riswan ketahui kerap dikunjungi oleh orang yang memiliki kebutuhan khusus. Kebutuhan khusus yang berkaitan dengan dukun sakti sekaligus hal-hal mistis.
“Enggak usah bayar, Bu. Enggak usah. Saya ikhlas!” ucap pak Riswan menolak pembayaran ibu Unarti dengan santun.
Ibu Unarti yang memang masih dalam keadaan kalut, berangsur mengangguk kaku sambil berterima kasih.
“Pantas, ternyata ... astaghfirullah. Ya Allah, ampun ya Allah. Pantas juga dari tadi aku disuruh jalan terus,” batin pak Riswan langsung makin ketakutan. Sebab setelah ibu Unarti meninggalkannya, ia jadi bisa melihat apa yang ibu Unarti gendong secara langsung. Ia sungguh tak harus memastikannya lewat kaca spion motornya lagi.
“Innalilahi ... innalilahi ....” Pak Riswan buru-buru pergi dari sana. Ia nekat menuntun sepedanya yang apesnya mendadak mogok.
Hujan gerimis agak deras masih menyertai malam ini. Ibu Unarti juga tetap menggendong tubuh Echa yang dipocong. Medan yang harus ibu Unarti tempuh tak sedikit pun menggoyahkan ibu Unarti. Bahkan meski di sepanjang perjalanan, ibu Unarti jadi bisa melihat makhluk tak kasatmata.
Makhluk-makhluk tak kasatmata yang ibu Unarti jumpai, beraneka ragam. Rupa mereka nyaris sulit dijelaskan. Bukan sekadar pocong, kuntilanak, tuyul, ganderowo, dan hantu pada kebanyakan yang orang awam kenal. Sebab wujud-wujud mereka sungguh baru ibu Unarti ketahui.
Ada yang hanya berwujud kepala. Ada yang berupa hanya tubuh tanpa kepala. Ada juga yang berukuran kerdil, atau malah berukuran sangat besar. Ada juga yang tidak memakai paka.ian. Ada yang diam dan hanya mengawasi Echa yang ibu Unarti gendong. Banyak juga yang cekikikan dan tawanya terdengar sangat menakutkan.
Di tempat berbeda, Hasna istri Rain tengah berada di dapur. Hasna tengah menyiapkan makan malam, tapi wanita cantik berhijab itu merasa ada yang janggal. Hasna yang tengah memotong wortel menjadi potongan layaknya korek api, merasa ada yang sibuk berlarian di sekitarnya. Semi memastikannya, Hasna sengaja menghentikan kesibukannya.
“Semuanya baik-baik saja,” pikir Hasna sambil mengawasi sekitar yang memang tidak ada siapa-siapa. Apalagi, di rumahnya memang hanya ada dirinya dan Rain.
Hasna terus meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja. Sesekali, ia juga berdoa karena apa yang terjadi memang membuatnya takut.
“Sayang, ... kamu sudah beres teleponnya belum? Teleponnya di sini saja dong. Aku takut!” rengek Hasna.
Sekitar sepuluh menit lalu, Rain memang pamit untuk menjawab telepon. Sang suami terpaksa meninggalkannya sendiri di dapur lantaran ponsel Rain kehabisan baterai.
“Sayang,” panggil Hasna lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.
“Iya, bentar!” balas Rain terdengar tak kalah berseru. Selain suara lain, suara langkah kaki juga terdengar mendekat.
Semenjak Rain menolong Echa dan malah Echa fitnah. Hingga Rain nyaris mereg.ang nyawa karena dihaki.mi masa, sampai detik ini, kehidupan Rain memang belum baik-baik saja. Keadaan yang juga sampai berdampak kepada Hasna sebagai istri Rain. Sebab kasu.s fitnah, penghaki.man, dan semuanya yang masih gara-gara Echa, masih bergulir.
Terakhir, hampir semua pelaku yang terlibat sudah mendapat ganj.aran hukuman. Karena kebetulan, pelaku yang terlibat dan menjadikan Rain korban memang banyak—baca novel : Pembalasan Tuan Muda yang Dianggap Sampa.h.
“Maaf, tadi terbawa suasana obrolan sama mas Rendra,” ucap Rain yang akhirnya ada di hadapan Hasna.
“Ada apa?” Rain mengawasi sekitar karena tadi ia dengar, sang istri mengeluhkan takut.
“Enggak tahu, tapi kayak ada yang lari-lari,” balas Hasna sambil menahan ngeri.
Sempat tak bisa berkomentar, Rain meminta Hasna untuk duduk. “Biar aku yang masak. Kamu duduk saja sambil kasih arahan.”
Hasna tidak menolak dan memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Apalagi jika sedang sekalut sekarang, yang Hasna butuhkan hanyalah bertasbih.
“Tadi sidang terakhir. Pak Dartam hanya diganja.r hukuman lima tahun kurungan, serta den.da dari pihak korban. Karena pihak korban memang banyak dan kerugian pun enggak sedikit. Bisa jadi, hukuman kurungan akan bertambah jika pak Dartam enggak bisa bayar. Belum lagi kata mas Narendra yang mengawal kasu.s ini, keadaan pak Dartam makin lama makin memprihatinkan. Kesehatan maupun fisik—” Rain yang awalnya cerewet sambil memotong apa yang ada di talenan mengikuti apa yang sudah Hasna lakukan, refleks diam.
Bunyi jatuh ringan tapi banyak, menjadi alasan Rain diam. Di hadapannya, sang istri juga ia dapati diam. Sementara di lantai sekitar Hasna hingga sekitar Rain, biji tasbih dan Rain ketahui merupakan tasbih milik Hasna, sudah tersebar.
“Sayang, ... tasbih pemberian mas Aqwa putus! Aku takut ini bertanda bu.ruk!” lirih Hasna jadi kembali kalut. Kedua matanya bahkan berembun, selain ia yang buru-buru berdiri kemudian menghampiri Rain dan memeluknya erat.
“Ya Allah, masa iya ibu Unarti dan suaminya beneran nekat main gun.a-gun.a lagi?!” batin Rain benar-benar merasa tak habis pikir. Rain merasa sangat marah, dan ia meluapkannya dengan balas memeluk Hasna. Rain yakin, sang istri sudah ketakutan. Apalagi semenjak hamil dan tahu ibu Unarti tak segan main gun.a-gun.a, Hasna makin gampang parno.
***
Novel Rain dan Hasna :
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍
serem" juga nih keknya,apalagi aku baca pas maljum 🙈tapi masih penasaran kisah selanjutnya😅
2024-06-20
1
DIANA Mariana
letak x dmn ya Rak Favorit itu🤔
2024-05-14
0
YuniSetyowati 1999
Masukin rak favorit dulu aja baca kemudian 🤭
2024-04-05
0