2 : Firasat yang Sudah Hasna Rasakan

Makin lama, rasa penasaran tukang ojek yang membawa ibu Unarti, makin membuncah. Ditambah lagi, gelagat ibu Unarti yang memang mencurigakan. Ibu Unarti yang kerap membenarkan gendongan kosong di punggungnya, benar-benar tak berbicara. Bahkan meski tukang ojek bernama pak Riswan itu melayangkan pertanyaan.

“Bu, kalau boleh tahu, apa yang ibu gendong? Kelihatannya berat banget?” tanya pak Riswan, dengan nada sangat hati-hati. Ia juga masih bersikap sangat sopan.

Detik itu juga, ibu Unarti yang mendapatkan pertanyaan langsung kebingungan. Namun, ibu Unarti langsung ingat pesan pak Asnawi.

“Saat perjalanan membawa putrimu ke sini, pastikan kamu tidak banyak bicara. Apalagi jika ada yang sampai menanyakan apa yang kamu gendong dan itu putrimu yang sudah kamu kafani!” Itulah pesan dari pak Asnawi yang juga menjadi alasan ibu Unarti memilih diam.

Akan tetapi, pak Riswan yang telanjur penasaran, sengaja mengarahkan kaca spion sebelah kanannya, ke belakang. Selain itu, pak Riswan juga sengaja melafalkan ta'awudz, tapi ulahnya itu malah membuatnya syok. Ia refleks mengerem motornya hingga ibu Unarti berikut yang digendong dan itu pocong, nyaris jatuh.

Di kaca spion motor, sosok Echa yang dibungkus kain kafan layaknya pocong, sungguh terlihat. Namun, ketika pak Riswan melihatnya secara langsung, Echa yang sudah ibu Unarti pocong, sama sekali tidak terlihat.

“Gimana sih, Pak? Kenapa Bapak asal berhenti?!” marah ibu Unarti pada pak Riswan yang menatapnya dengan tatapan syok.

Antara takut tapi juga tak habis pikir, itulah yang ibu Unarti tangkap dari sikap terbaru tukang ojeknya.

“Ini gimana ceritanya, kok malah jadi begini?” batin pak Riswan yang memang langsung kena mental.

Pak Riswan merasa serba salah. Ingin tidak melanjutkan perjalanan dan meninggalkan ibu Unarti, takut salah karena memang sama saja tidak sopan. Mau dilanjut pun, bagaimana? Selain, pak Riswan yang juga takut, alasan ibu Unarti berbuat layaknya sekarang, justru untuk maksi.at.

“Ya Allah, hamba benar-benar berlindung kepada Engkau! Hamba takut salah!” batin pak Riswan.

Kini, alasan pak Riswan makin kuyup, tak semata karena gerimis agak deras yang masih berlangsung. Melainkan keringat ketakutan karena ulah ibu Unarti.

Penuh drama, pak Riswan tetap melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang menang sangat berat. Bukan hanya beban yang ia angkut, tapi juga kenyataan sosok Echa yang terus terlihat di kaca spion sebelah kanan. Parahnya, yang pak Riswan lihat sungguh wajah Echa. Wajah yang kedua matanya tetap melotot, sementara lidahnya terjulur.

“Pantas dari tadi juga bau bang.ke. Mungkin efek apa yang ibunya gendong,” pikir pak Riswan sampai detik ini masih sibuk berdoa dalam hati.

Setelah perjalanan panjang dan hampir memakan waktu satu jam lamanya. Karena pak Riswan sengaja membawa motornya dengan kecepatan pelan, akhirnya ibu Unarti minta berhenti. Di sebuah desa terpencil, dan pak Riswan ketahui kerap dikunjungi oleh orang yang memiliki kebutuhan khusus. Kebutuhan khusus yang berkaitan dengan dukun sakti sekaligus hal-hal mistis.

“Enggak usah bayar, Bu. Enggak usah. Saya ikhlas!” ucap pak Riswan menolak pembayaran ibu Unarti dengan santun.

Ibu Unarti yang memang masih dalam keadaan kalut, berangsur mengangguk kaku sambil berterima kasih.

“Pantas, ternyata ... astaghfirullah. Ya Allah, ampun ya Allah. Pantas juga dari tadi aku disuruh jalan terus,” batin pak Riswan langsung makin ketakutan. Sebab setelah ibu Unarti meninggalkannya, ia jadi bisa melihat apa yang ibu Unarti gendong secara langsung. Ia sungguh tak harus memastikannya lewat kaca spion motornya lagi.

“Innalilahi ... innalilahi ....” Pak Riswan buru-buru pergi dari sana. Ia nekat menuntun sepedanya yang apesnya mendadak mogok.

Hujan gerimis agak deras masih menyertai malam ini. Ibu Unarti juga tetap menggendong tubuh Echa yang dipocong. Medan yang harus ibu Unarti tempuh tak sedikit pun menggoyahkan ibu Unarti. Bahkan meski di sepanjang perjalanan, ibu Unarti jadi bisa melihat makhluk tak kasatmata.

Makhluk-makhluk tak kasatmata yang ibu Unarti jumpai, beraneka ragam. Rupa mereka nyaris sulit dijelaskan. Bukan sekadar pocong, kuntilanak, tuyul, ganderowo, dan hantu pada kebanyakan yang orang awam kenal. Sebab wujud-wujud mereka sungguh baru ibu Unarti ketahui.

Ada yang hanya berwujud kepala. Ada yang berupa hanya tubuh tanpa kepala. Ada juga yang berukuran kerdil, atau malah berukuran sangat besar. Ada juga yang tidak memakai paka.ian. Ada yang diam dan hanya mengawasi Echa yang ibu Unarti gendong. Banyak juga yang cekikikan dan tawanya terdengar sangat menakutkan.

Di tempat berbeda, Hasna istri Rain tengah berada di dapur. Hasna tengah menyiapkan makan malam, tapi wanita cantik berhijab itu merasa ada yang janggal. Hasna yang tengah memotong wortel menjadi potongan layaknya korek api, merasa ada yang sibuk berlarian di sekitarnya. Semi memastikannya, Hasna sengaja menghentikan kesibukannya.

“Semuanya baik-baik saja,” pikir Hasna sambil mengawasi sekitar yang memang tidak ada siapa-siapa. Apalagi, di rumahnya memang hanya ada dirinya dan Rain.

Hasna terus meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja. Sesekali, ia juga berdoa karena apa yang terjadi memang membuatnya takut.

“Sayang, ... kamu sudah beres teleponnya belum? Teleponnya di sini saja dong. Aku takut!” rengek Hasna.

Sekitar sepuluh menit lalu, Rain memang pamit untuk menjawab telepon. Sang suami terpaksa meninggalkannya sendiri di dapur lantaran ponsel Rain kehabisan baterai.

“Sayang,” panggil Hasna lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

“Iya, bentar!” balas Rain terdengar tak kalah berseru. Selain suara lain, suara langkah kaki juga terdengar mendekat.

Semenjak Rain menolong Echa dan malah Echa fitnah. Hingga Rain nyaris mereg.ang nyawa karena dihaki.mi masa, sampai detik ini, kehidupan Rain memang belum baik-baik saja. Keadaan yang juga sampai berdampak kepada Hasna sebagai istri Rain. Sebab kasu.s fitnah, penghaki.man, dan semuanya yang masih gara-gara Echa, masih bergulir.

Terakhir, hampir semua pelaku yang terlibat sudah mendapat ganj.aran hukuman. Karena kebetulan, pelaku yang terlibat dan menjadikan Rain korban memang banyak—baca novel : Pembalasan Tuan Muda yang Dianggap Sampa.h.

“Maaf, tadi terbawa suasana obrolan sama mas Rendra,” ucap Rain yang akhirnya ada di hadapan Hasna.

“Ada apa?” Rain mengawasi sekitar karena tadi ia dengar, sang istri mengeluhkan takut.

“Enggak tahu, tapi kayak ada yang lari-lari,” balas Hasna sambil menahan ngeri.

Sempat tak bisa berkomentar, Rain meminta Hasna untuk duduk. “Biar aku yang masak. Kamu duduk saja sambil kasih arahan.”

Hasna tidak menolak dan memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Apalagi jika sedang sekalut sekarang, yang Hasna butuhkan hanyalah bertasbih.

“Tadi sidang terakhir. Pak Dartam hanya diganja.r hukuman lima tahun kurungan, serta den.da dari pihak korban. Karena pihak korban memang banyak dan kerugian pun enggak sedikit. Bisa jadi, hukuman kurungan akan bertambah jika pak Dartam enggak bisa bayar. Belum lagi kata mas Narendra yang mengawal kasu.s ini, keadaan pak Dartam makin lama makin memprihatinkan. Kesehatan maupun fisik—” Rain yang awalnya cerewet sambil memotong apa yang ada di talenan mengikuti apa yang sudah Hasna lakukan, refleks diam.

Bunyi jatuh ringan tapi banyak, menjadi alasan Rain diam. Di hadapannya, sang istri juga ia dapati diam. Sementara di lantai sekitar Hasna hingga sekitar Rain, biji tasbih dan Rain ketahui merupakan tasbih milik Hasna, sudah tersebar.

“Sayang, ... tasbih pemberian mas Aqwa putus! Aku takut ini bertanda bu.ruk!” lirih Hasna jadi kembali kalut. Kedua matanya bahkan berembun, selain ia yang buru-buru berdiri kemudian menghampiri Rain dan memeluknya erat.

“Ya Allah, masa iya ibu Unarti dan suaminya beneran nekat main gun.a-gun.a lagi?!” batin Rain benar-benar merasa tak habis pikir. Rain merasa sangat marah, dan ia meluapkannya dengan balas memeluk Hasna. Rain yakin, sang istri sudah ketakutan. Apalagi semenjak hamil dan tahu ibu Unarti tak segan main gun.a-gun.a, Hasna makin gampang parno.

***

Novel Rain dan Hasna :

Terpopuler

Comments

🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍

🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍

serem" juga nih keknya,apalagi aku baca pas maljum 🙈tapi masih penasaran kisah selanjutnya😅

2024-06-20

1

DIANA Mariana

DIANA Mariana

letak x dmn ya Rak Favorit itu🤔

2024-05-14

0

YuniSetyowati 1999

YuniSetyowati 1999

Masukin rak favorit dulu aja baca kemudian 🤭

2024-04-05

0

lihat semua
Episodes
1 1. Dendam yang Tak Berkesudahan
2 2 : Firasat yang Sudah Hasna Rasakan
3 3 : Ritual Pembangkitan
4 4 : Kekuatan Yang Menghalangi Ritual
5 5 : Titisan Kuntilanak
6 6 : Semuanya Sudah Dimulai
7 7 : Echa yang Sudah Langsung Mengincar Hasna
8 8 : Teror yang Benar-Benar Dimulai!
9 9 : Pelindung Hasna
10 10 : Kamu Harus Mati!
11 11 : Tersesat
12 12 : Sengaja Dises.atkan
13 13 : Jebakan Gaib
14 14 : Pertolongan Dari Para Leluhur
15 15 : Gara-Gara Keris
16 16 : Rukiyah
17 17 : Tali Pengikat Jodoh Gaib
18 18 : Kuntilanak Bunting
19 19 : Echa yang Berusaha Membun.uh Hasna
20 20 : Kesempatan Membalaskan Dendam
21 21 : Warga yang Jadi Resah
22 22 : Ibu Unarti yang Mulai Berulah
23 23 : Korban yang Mulai Berjatuhan
24 24 : Akibat Menjalani Perjanjian Gaib
25 25 : Bayaran yang Harus Diberikan
26 26 : Kedatangan Echa
27 27 : Ingin Balas Dendam
28 28 : Beraksi
29 29 : Kedatangan Hasna Dan Bertemu Ibu Unarti
30 30 : Kemarahan Ibu Unarti Kepada Rain
31 31 : Kemunculan Echa Dan Ulah Baru Pak Asnawi
32 32 : Mencabut Keris Dari Ubun-Ubun Ibu Unarti
33 33 : Kematian Ibu Unarti
34 34 : Jenazah yang Ditolak Bumi
35 35 : Bocah Berwajah Pak Asnawi
36 36 : Jebakan Balik
37 37 : Menuju Final Dendam
38 38 : Melawan Sang Dukun
39 39 : Berharap Keajaiban
40 40 : Ternyata Hamparan Pemakaman
41 41 : Nama Untuk Anak Echa
42 Akhir Kisah
43 Novel : Menikahi Wanita Taruhan
44 Novel Rain Dan Hasna (Sudah Tamat)
45 Promo Novel : Anak Kuntilanak Dan Teror Di Hutan Tua
46 Novel Anak-Anak : Tumbal Pengantin Kebaya Merah
Episodes

Updated 46 Episodes

1
1. Dendam yang Tak Berkesudahan
2
2 : Firasat yang Sudah Hasna Rasakan
3
3 : Ritual Pembangkitan
4
4 : Kekuatan Yang Menghalangi Ritual
5
5 : Titisan Kuntilanak
6
6 : Semuanya Sudah Dimulai
7
7 : Echa yang Sudah Langsung Mengincar Hasna
8
8 : Teror yang Benar-Benar Dimulai!
9
9 : Pelindung Hasna
10
10 : Kamu Harus Mati!
11
11 : Tersesat
12
12 : Sengaja Dises.atkan
13
13 : Jebakan Gaib
14
14 : Pertolongan Dari Para Leluhur
15
15 : Gara-Gara Keris
16
16 : Rukiyah
17
17 : Tali Pengikat Jodoh Gaib
18
18 : Kuntilanak Bunting
19
19 : Echa yang Berusaha Membun.uh Hasna
20
20 : Kesempatan Membalaskan Dendam
21
21 : Warga yang Jadi Resah
22
22 : Ibu Unarti yang Mulai Berulah
23
23 : Korban yang Mulai Berjatuhan
24
24 : Akibat Menjalani Perjanjian Gaib
25
25 : Bayaran yang Harus Diberikan
26
26 : Kedatangan Echa
27
27 : Ingin Balas Dendam
28
28 : Beraksi
29
29 : Kedatangan Hasna Dan Bertemu Ibu Unarti
30
30 : Kemarahan Ibu Unarti Kepada Rain
31
31 : Kemunculan Echa Dan Ulah Baru Pak Asnawi
32
32 : Mencabut Keris Dari Ubun-Ubun Ibu Unarti
33
33 : Kematian Ibu Unarti
34
34 : Jenazah yang Ditolak Bumi
35
35 : Bocah Berwajah Pak Asnawi
36
36 : Jebakan Balik
37
37 : Menuju Final Dendam
38
38 : Melawan Sang Dukun
39
39 : Berharap Keajaiban
40
40 : Ternyata Hamparan Pemakaman
41
41 : Nama Untuk Anak Echa
42
Akhir Kisah
43
Novel : Menikahi Wanita Taruhan
44
Novel Rain Dan Hasna (Sudah Tamat)
45
Promo Novel : Anak Kuntilanak Dan Teror Di Hutan Tua
46
Novel Anak-Anak : Tumbal Pengantin Kebaya Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!