Pak Handoyo yang akhirnya menjebol jendela kaca kamar keberadaannya, merasa dilema. Sang istri entah pergi ke mana? Fatalnya, sampai membawa jasad Echa.
Sebenarnya, pak Handoyo bisa meminta tolong kepada keluarga bahkan tetangga. Agar apa yang tengah ia hadapi, bisa lebih cepat mendapat solusi. Masalahnya, apa yang ibu Unarti lakukan, terbilang tidak wajar. Ibu Unarti berdalih akan membangkitkan Echa ke dukun sakti. Dukun sakti yang alamatnya saja, tidak pak Handoyo ketahui. Sementara kini, pak Handoyo sudah tertinggal jauh.
“Ya Allah, bagaimana ini?” pasrah pak Handoyo sambil mengawasi sekitar.
Selain hujan agak deras masih mengguyur, suasana juga sudah makin larut. Pak Handoyo yang berdiri di depan jendela sampai terterpa air hujan. Karenanya, setelah kembali menutupkan jendelanya, pak Handoyo nekat jalan kaki. Niatnya, pak Handoyo akan mengabarkan apa yang ibu Unarti lakukan, ke saudaranya.
“Perse.tan dengan malu. Daripada terjadi kesalahan fatal!” pikir pak Handoyo sambil terus berjalan kaki.
Di tengah kesunyian malam karena memang sudah tidak ada aktivitas masyarakat di luar rumah. Pak Handoyo yang awalnya melangkah biasa, beranjak berlari.
Akan tetapi, hingga keesokan harinya, pak Handoyo tetap tidak bisa menemukan sang istri. Menghubungi nomor telepon sang istri juga sudah berulang kali pak Handoyo lakukan. Namun, hasilnya sia-sia. Nomor ponsel ibu Unarti, tetap tidak aktif.
“Bilangnya, malam Selasa kliwon bakalan ada ritual pembangkitan. Sebenarnya, aku juga kurang paham. Tapi aku juga enggak kenal, itu dukun yang mana. Soalnya sejauh ini, yang aku kenal cuma pak Dhartam. Itu saja ternyata dukun bodong!” ucap pak Handoyo di hadapan keluarganya.
Di depan rumah pak Handoyo, mereka yang jumlahnya ada sepuluh orang dengan pak Handoyo, nyaris kehabisan akal.
“Kita tunggu saja. Malam ini malam Selasa kliwon. Masa iya, ada orang mati yang bisa dibangkitkan? Andaipun sampai kembali bangkit, biasanya justru karena dimasuki se.tan dan sebangsanya!” ucap pak Saryo selaku kakak pak Handoyo. Kemudian, ia juga menyalahkan pak Handoyo. Kenapa di era yang sudah serba canggih layaknya kini, pak Handoyo masih saja percaya kepada dukun dan hal syi.rik lainnya?
“Sumpah, Aa ... aku cuma ngikutin mamanya Echa. Kalau enggak dikawal ya takutnya kenapa-napa. Buktinya saja, ternyata Echa sampai dihami.li pak Dhartam. Itu yang baru ketahuan. Enggak tahu yang ke Unarti. Sudah enggak kurang-kurang aku arahin Unarti!” yakin pak Handoyo yang memang sudah lelah bahkan pasrah pada kebiasaan sang istri yang apa-apa serba lewat dukun.
Makin lama, hujan yang masih berlangsung dan itu dari kemarin, justru makin deras. Langit hari ini sudah benar-benar kelabu. Terlebih seharian ini tak sedikit pun matahari terlihat. Jika keadaan sudah seperti itu, biasanya hujan akan berlangsung makin awet. Belum lagi, gemuruh guntur dilengkapi kilat juga makin menyeramkan.
Di tempat berbeda, Hasna baru membuka pintu. Rain sang suami baru pulang. Layaknya di rumah orang tua Echa, di Jakarta selaku tempat tinggal Rain dan Hasna juga tengah diguyur hujan.
“Sayang pulang cepat?” tanya Hasna yang langsung dilarang keluar dari rumah oleh Rain.
Sebab hujan deras disertai angin kencang lengkap dengan guntur, membuat teras depan rumah licin.
“Kalau aku enggak pulang awal, aku malah terancam enggak pulang. Soalnya jalanan mulai banjir,” ucap Rain yang mendadak diam lantaran payung yang tengah ia pakai, terbawa angin.
“Udah sayang, biarin saja jangan diambil. Hujannya ngeri. Kita masuk saja. Aku siapin teh hangat, ya?” seru Hasna dari dalam lantaran Rain ia dapati akan mengambil payungnya yang terkapar ke tengah halaman.
Rain berangsur menatap Hasna. “Tapi kamu istirahat aja sih. Duduk di sofa, biar aku yang siapin semuanya. Soalnya yang di perut manja banget!” ucap Rain dan langsung membuat Hasna tertawa pasrah.
“Ya sudah, aku tunggu di sofa ya. Oh iya, ... tadi Mommy kamu ngabarin katanya malam ini mau nginep di rumah kita,” ucap Hasna.
Meninggalkan kebahagiaan pengantin baru Rain dan Hasna, kesibukan tampak mewarnai rumah pak Asnawi. Di gubuk yang tak memiliki tetangga tersebut, pak Asnawi sibuk mengurus tubuh Echa.
Tubuh Echa dibaringkan di atas meja yang dialasi kain mori bekas membungkus Echa. Sementara ibu Unarti tengah sibuk membantu menyiapkan sesajen di sebelahnya. Ayam cemani juga ibu Unarti keluarkan dari kurungan seperti arahan pak Asnawi. Kedua kaki ayam tersebut sudah dalam keadaan diikat menggunakan tali.
“Taruh ayam itu di kolong meja Echa berada!” ucap pak Asnawi.
“Baik, Mbah!” sanggup ibu Unarti yang sampai detik ini masih memakai pakaian kemarin.
Pak Asnawi menatap miris keadaan jenazah Echa. Dalam hatinya ia berdalih, hanya orang jahat bahkan jahanam yang akan meninggal trag.is seperti Echa. Kedua mata Echa melotot, lidah terjulur. Selain bau sangat busu.k yang terus dikeluarkan dari tubuh Echa. Akan tetapi dalam hatinya pak Asnawi juga berdalih, orang bahkan jasad-jasad seperti Echa juga yang disukai jin dan para makhluk halus.
Diam-diam, ibu Unarti juga merasa, hari ini waktu berputar sangat cepat. Tiba-tiba saja sudah malam dan pak Asnawi berdalih, sebentar lagi akan dilakukan ritual pembangkitan Echa.
Dari pintu belakang gubuk pak Asnawi tinggal, ibu Unarti melongok suasana luar. Hujan benar-benar reda dan bulan pun bergerak!ayaknya bulan purnama. Namun sekitar sepuluh menit yang lalu, pak Asnawi menancapkan keris di tanah depan pintu. Detik setelah itu pula hujan langsung berangsur reda. Hingga ibu Unarti makin yakin, pak Asnawi patut dipercaya.
Coet tanah liat yang sudah dipenuhi bekas pembakaran kemenyan, pak Asnawi raih. Satu genggam kemenyan pria itu ambil dari sederet sesajen yang tadi ibu Unarti siapkan. Kemudian, kemenyan benar-benar pak Asnawi bakar. Menandakan bahwa ritual pembangkitan benar-benar dimulai.
“Ingat, Unarti. Apa pun yang terjadi, kamu tidak boleh bicara apalagi sampai berteriak!” ucap pak Asnawi wanti-wanti.
Ibu Unarti berangsur mengangguk. Anggukan ragu yang makin lama makin cepat.
Beberapa saat kemudian, semuanya terjadi dengan sangat cepat. Segala sesajen, segala rupa kembang yang menjadi bagiannya. Semuanya pak Asnawi lemparkan ke tubuh Echa. Mulut pak Asnawi komat-kamit melafalkan mantra.
Selama itu juga ibu Unarti menyadari. Bahwa angin yang mendadak berembus kencang, mengiringi kedatangan para makhluk tak kasatmata dalam segala rupa.
Makhluk-makhluk tak kasatmata sungguh berdatangan mengerumuni Echa. Mata mereka mengawasi Echa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Terakhir, para kuntilanak datang dan jumlahnya sangat banyak. Gubuk keberadaan mereka dan memang tidak begitu luas, sampai penuh oleh mereka-mereka yang berdatangan.
Sebenarnya ibu Unarti takut, bahkan sangat takut. Ibu Unarti bahkan mulai sesak napas, berkeringat parah di tengah jantungnya yang berdetak sangat kencang. Apalagi, ibu Unarti yang berdiri tak jauh dari punggung pak Asnawi, menjadi bagian dari kerumunan. Hanya saja, ibu Unarti memegang kuat wanti-wanti pak Asnawi. Ibu Unarti susah payah menahan ego, membulatkan tekad, demi keberhasilan rencananya. Tak peduli, meski keadaan kini sudah membuatnya panas dingin tak karuan. Ibu Unarti sampai kebelet pipis parah, tapi juga sengaja wanita itu tahan.
Terakhir, pak Asnawi menyembeli.h ayam cemani tepat di atas wajah Echa. Da.rah yang mengalir dari leher ayam, pak Asnawi guyurkan ke tubuh Echa dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Setelah yakin tetesan da.rah tak sebanyak tadi, pak Asnawi membuang ayam cemani-nya begitu saja. “Makan!” ucap pak Asnawi.
Detik itu juga semua makhluk tak kasatmata yang memenuhi di sana, berebut Echa. Mereka menj.ilati darah ayam cemani yang menempel di tubuh Echa. Ibu Unarti benar-benar lemas hanya karena menyaksikan itu. Ibu Unarti nyaris bersuara bahkan berteriak histeris. Namun, bergeraknya tubuh Echa membuat ibu Unarti berubah pikiran.
Iya, tubuh Echa benar-benar mulai bergerak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍
deg degan juga bayangin dr cerita nya, segala bentuk makhluk jahat ada depan mata bu unarti😅
2024-06-20
1
🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍
astagfirullah ternyata jasad echa akan jadi mainan para jin jahat ya
2024-06-20
0
🥰Siti Hindun
Astaghfirullah😣
2024-02-18
0