Sebenarnya, Hasna tidak begitu setuju jika harus mendadak tinggal di rumah orang tua Rain. Terlebih sebelumnya, rumah orang tua Rain sempat dikirim guna-guna tanah makam dan kain mori. Hasna masih trauma jika ingat itu.
Masalahnya, Hasna yang sedang mengalami efek ngidam parah, juga tak mungkin tinggal di rumahnya sendirian. Karena jika Hasna nekat tinggal di rumah sendirian, yang ada Rain tidak bisa fokus bekerja karena terlalu mengkhawatirkan Hasna.
Kini, Hasna yang duduk di sebelah ibu Rere, masih terjebak macet. Bukan Jakarta namanya jika jalannya tidak macet. Kadang Hasna kesal sendiri jika sedang bepergian layaknya sekarang. Karena saat tinggal di kampung halaman yaitu Cilacap, Hasna masih bebas dari apa itu macet.
Di sebelah Hasna, ibu Rere tengah sibuk mengatur jadwal syuting maupun tawaran kerja pak Ojan. Karena status ibu Rere memang merupakan manager utama pak Ojan. Selain ibu Rere yang mengurus keuangan perusahaan rumah produksi mereka.
“Sayang, daddy Ojan dapat tawaran nyanyi lagu ramadhan, tapi Mommy tanya ke produsernya, yakin gitu mau bikin Daddy nyanyi. Takutnya habis itu, malah jadi sumber viru.s gangguan suara,” cerita ibu Rere masih sibuk mengetik pesan.
Hasna yang mendengar itu, jadi sibuk menahan tawa. “Tanya daddy coba Mom. Siapa tahu daddy mau,” ucapnya yang kemudian tak sengaja menoleh ke sebelah. Di sebelahnya ada mini bus yang hampir semua jendelanya sedikit dibuka.
Awalnya, Hasna masih tersenyum mengawasi suasana sekitar. Namun ketika tatapannya tak sengaja bertemu pada wajah pucat seorang wanita, Hasna jadi menerka serius.
“Bentar, wajahnya enggak asing. Mirip Echa yang mas Rain tolong. Tapi kan si Echa katanya sudah meninggal?” pikir Hasna.
Perempuan berwajah pucat dan Hasna yakini sebagai Echa, memang Echa. Echa yang sudah naik bus bersama sang mama, langsung bering.san tidak tenang menatap Hasna. Echa layaknya binatang bu.as yang sangat mengharapkan Hasna. Ibu Unarti yang menjaga Echa sampai kewalahan.
“Kamu lihat apa, sih?” tanya ibu Unarti yang kemudian melongok keluar.
Ibu Unarti memastikan apa yang sebenarnya tengah dilihat oleh Echa. Namun kebetulan, mobil yang membawa Hasna sudah lebih dulu pergi. Karena lampu merah memang sudah berganti warna hijau.
“Kamu kenapa?” tanya ibu Rere kepada Hasna yang ia pergoki jadi bengong kebingungan.
Hasna berangsur menatap mama mertuanya. Ingin cerita, tapi takut menambah beban ibu Rere. Hingga Hasna menggeleng dan memutuskan menutup kisah yang sempat ia pikirkan.
“Echa begini mirip pas dia dengar suara bayi ya. Apa jangan-jangan, tadi Echa lihat bayi atau malah wanita hamil?” pikir ibu Unarti memilih memeluk sang putri. Namun yang ada, Echa mendorongnya hingga ia terjatuh ke tempat duduk sebelah Echa. Echa tampak sangat marah bahkan kecewa.
“Mungkin hanya mirip. Lagipula, selain katanya sudah meninggal, Echa yang sudah memfitnah mas Rain kan enggak pakai hijab. Selain kabar yang menyebutkan, ... amit-amit jabang bayi, bahwa katanya, mata Echa jadi melotot terus sementara lidahnya terulur gitu!” batin Hasna yang jadi sibuk mengelus-elus perutnya menggunakan kedua tangan.
Namun kemudian, Hasna sengaja mengeluarkan sebuah tasbih. Hasna menggunakannya dan berakhir terkantuk-kantuk. Terhitung sejak hamil, kesehatan Hasna memang jadi agak terganggu. Termasuk Hasna yang jadi sangat gampang ngantuk sekaligus tidur tanpa kenal waktu.
“Ini anak sepertinya kacapaian. Kadang sehat banget, kadang langsung lemes parah,” batin ibu Rere sengaja merangkul Hasna. Ia menyandarkan kepala Hasna di bahunya. Namun diam-diam, ibu Rere juga jadi mengkhawatirkan sang suami. Sebab ketika para menantu hamil, pak Ojan juga akan merasakan efek mengidam.
Sekitar pukul setengah dua belas, ibu Unarti dan Echa, turun dari ojek yang keduanya sewa. Keduanya sengaja berhenti agak jauh dari kediaman orang tua Rain. Ibu Unarti berharap, Rain dan Hasna ada di rumah orang tua Rain, mengingat ibu Unarti belum tahu alamat rumah Rain.
Harap-harap cemas, ibu Unarti memperhatikan putrinya. “Pak Asnawi bilang, aku cukup mengantar Echa. Selebihnya, Echa akan bekerja sendiri mengikuti pikiran sekaligus kemauanku.”
“Echa ... balaskan dendammu. Kejar Rain dan Hasna. Hasna sedang hamil. Makanlah bayi Hasna agar mereka tahu rasa,” lirih ibu Unarti dan lagi-lagi, Echa yang diajak berbicara, tetap tidak bisa fokus kepadanya. Namun setelah ia lepaskan gandengan tangannya, Echa sudah langsung lari menuju keberadaan rumah orang tua Rain.
Ibu Unarti yang memantau dari kejauhan mendapati sang putri sudah langsung memanjat pagar bagian samping rumah orang tua Rain.
“Pak Asnawi benar-benar sakti. Semua yang dia katakan benar. Bahwa Echa akan melakukan apa yang aku inginkan. Echa akan melakukan semua yang ada di pikiranku, yaitu balas dendam kepada Rain dan Hasna,” batin ibu Unarti masih mengawasi dari kejauhan.
Di kamarnya, Hasna sedang tidur. Jendela sengaja ditutup semua termasuk ditutup menggunakan gorden tebal. Hasna tak membutuhkan angin dari luar karena Hasna sengaja memakai AC. Akan tetapi, ada yang menepuk-nepuk jendelanya dengan gerakan tak beraturan. Ketukan bertenaga dan sampai membuat Hasna yang awalnya lelap, terusik.
Kedua mata Hasna terbuka dan suara berisik di jendela jadi mirip gedoran karena emosi.
“Ada yang di balkon? Berisik banget?” batin Hasna berniat memastikan.
Meski berat, Hasna memaksa dirinya untuk bangun dan duduk. Hasna tak langsung beranjak. Ia menatap heran setiap gebrakan di jendela kamar Rain.
“Itu yang gedar-gedor enggak jelas, kok kayak enggak bisa diem banget ya? Inu kamar Mas Rain ada di lantai 2 loh. Tinggi.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
🥰Siti Hindun
iiihhh ngeri banget dah c Echa 😱😱
2024-02-18
0
Firli Putrawan
masya allah gmn s Hasna sendiri an
2024-02-15
0
IG : @Rositi92❣️❣️🏆🏆💪🤲
Bab selanjutnya sudah aku setorin ya ❤️❤️❤️
2024-02-07
0