Tangis histeris terdengar dari belakang. Suara permintaan pertolongan juga mulai terdengar khas panik. Sementara di pos ronda, ibu Unarti tengah mengelap setiap darah di sekitar mulut, tangan, dan juga bagian tubuh Echa.
“Apa pun akan Mama lakukan, asal kamu balas dendam ke Rain dan Hasna, ya?” ucap ibu Unarti masih menangisi keadaan putrinya.
Ibu Unarti masih menjadikan jarit yang sempat ia gunakan menggendong Echa, untuk mengelap setiap darah di tubuh Echa. Akan tetapi, apa pun yang ibu Unarti katakan, Echa masih tampak sulit mencerna. Echa yang hanya diam, menatap bingung ibu Unarti.
“Sekarang kita pulang. Setelah itu, kita siap-siap ke rumah Rain!” lembut ibu Unarti masih senantiasa memperlakukan Echa penuh sayang.
Echa berangsur mengangguk pelan mengikuti apa yang ibu Unarti. Sampai detik ini, kedua matanya yang masih berwarna merah, tetap fokus menatap kedua mata ibu Unarti.
Echa mencoba mengingat wajah ibu Unarti dan kali ini tampak sangat lusuh khas orang lelah. Rambut yang awut-awutan milik ibu Unarti juga tak luput dari pengawasan kedua mata Echa. Kemudian, jemari tangannya yang tak lagi berkuku hitam panjang, berangsur menyentuh wajah ibu Unarti.
Ibu Unarti tersenyum bahagia atas kenyataan kini. Ia meraih hangat jemari tangan Echa yang tengah meraba wajahnya. Jemari tangan yang kembali berkuku normal milik Echa, tetap terasa sangat dingin. Keadaannya masih sama persis dengan keadaan Echa sebelum dibangkitkan.
“Mama, ... ini Mama!” lembut ibu Unarti mencoba menuntun Echa untuk lebih mengenalinya.
Akan tetapi, efek warga yang berbondong-bondong keluar dari rumah masing-masing, ibu Unarti memilih pergi. Ia kembali menggendong Echa.
“Astafirullah ....”
“Innalilahi ....”
“Bayimu dite.rkam apa, Nem?”
Keributan di belakang, masih bisa ibu Unarti dengar agak jelas. Meski kini, ibu Unarti makin jauh dari lokasi. Namun, satu yang membuat ibu Unarti waspada. Bahwa kini, Echa putrinya akan merasa panas jika mendengar lafal agama.
“Panas ...?” lirih ibu Unarti mencoba memahami bahasa tidak jelas dari putrinya.
Sadar sebentar lagi adzan subuh akan terdengar, ibu Unarti sengaja mempercepat langkahnya.
Setelah mengarungi perjalanan menggunakan ojek, kedatangan ibu Unarti, sukses membuat sang suami termasuk keluarga mereka yang ada di sana, sangat terkejut. Echa yang sebelumnya pak Handoyo ketahui sudah meninggal, kini hidup. Meski dari sepintas saja, tingkah Echa sangat berbeda.
“Echa benar-benar hidup. Sementara, ... perutnya pun masih ada,” batin pak Handoyo.
Di ruang tamu rumah semi gedong miliknya, pak Handoyo yang terlalu sulit menerima kenyataan, malah berakhir pingsan.
Beberapa saudara mereka yang memang terbangun dan awalnya tidur di lantai ruang tamu, buru-buru mengamankan pak Handoyo. Termasuk juga dengan Echa. Echa menatap bingung pak Handoyo yang juga tidak ia kenali.
***
Sekitar pukul delapan pagi, Rain yang kembali ke kamar dan siap pergi kerja, jadi mengkhawatirkan Hasna. Sebab di kamar mandi kamar mereka, Hasna sibuk muntah-muntah. Ini menjadi kali pertama Hasna mengalami morning sickness.
“Kamu salah makan?” ucap Rain sudah langsung mengambil minyak kayu putih dan membalurkannya di tengkuk sang istri yang awalnya tertutup hijab.
Hasna berangsur menggeleng. “Harusnya sih enggak, ... tapi tadi aku enggak sengaja nonton vidio viral di tik.tok.”
“Video apa? Untuk sementara, kamu jangan buka apli.kasi serba viral dulu,” ucap Rain.
“Video bayi, ... kepalanya sam.pai lepas setelah dite.rkam bina.tang bu.as! Itu kejadiannya masih bayi merah. Baru lahir satu mingguan. Itu kejadiannya dekat lokasi syuting Sayang loh!” rengek Hasna yang buru-buru memeluk Rain.
Hari ini menjadi jadwal Rain pergi mengurus syuting. Sebagai orang yang bekerja di balik layar, Rain yang memiliki rumah produksi dan mengurusnya dengan sang kakak, memang kerap menghabiskan waktunya di lokasi syuting. Kebetulan, Rain sedang mengurus proyek pembuatan film horor. Yang mana lebih kebetulannya lagi, lokasinya memang dekat dengan lokasi kabar viral yang membuat Hasna muntah parah.
“Astaghfirullah ... Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,” kaget ibu Rere ketika menyaksikan video yang membuat sang menantu lemas.
“Binatang bu.as apa yang sampai segitunya. Itu pasti bagian dari pesugihan. Lokasi di sana kan memang kanker!” ucap pak Ojan asal komentar, tapi ia juga buru-buru mengoreksi ucapannya, “Eh, angkel bukan paman, tapi serem maksudnya. Kalau kanker sih, kantong kering dan akhir-akhir ini, jadi pargoy pasukan warasku!”
“Bagian dari pesugihan? Ih, masuk akal juga sih Das,” lirih Hasna yang tiduran di sofa lantai bawah. Kemudian, ia meminta ikut kepada sang suami yang baru saja menyelimutinya.
“Enggak ... enggak. Kamu di rumah saja sama Mama, sama yang lain. Nanti Jian, mbak Binar, Sunny, juga ke sini. Kami hanya satu minggu kok. Kami aman. Apalagi papa kamu kan sudah kasih aku pengawal khusus.” Rain meyakinkan, mencoba menenangkan sang istri.
Begitu juga dengan ibu Rere, dan juga pak Ojan. Meski khusus pak Ojan, ucapannya masih sering kesleo dan membuat sang istri mendelik memberi komedian kawakan itu peringatan keras.
“Nanti juga sambil mulai cari ART ya, Ma. Biar kalian enggak kecapaian, dan Mama pun bisa fokus temenin Hasna. Si Hasna jangan boleh beres-beres. Latihan karate atau taekwondo dulu,” ucap Rain wanti-wanti kepada mamanya yang masih duduk di sebelah Hasna. Sementara Hasna yang masih meringkuk di sofa, justru jadi menangis.
“Siiitttt! Siiiiiiit! Maiwaifi!” bisik pak Ojan yang ada di belakang Rain.
Ibu Rere yang posisinya nyaris memangku kepala Hasna, berangsur menatap suaminya.
“Sini keluar dulu. Itu anak-anak, mau kikuk-kikuk dulu. Eh, kamu kayak enggak pernah muda!” tegur pak Ojan masih berbisik-bisik.
Ibu Rere langsung tersipu kemudian mengangguk sanggup. Namun, ia sengaja pamit kepada Hasna dan Rain sekalian mengantar pak Ojan hingga depan pintu. Karena kali ini, pak Ojan juga akan ikut syuting ke Rain mengingat pemeran utama dari film yang akan digarap, juga masih pak Ojan.
Ditinggal orang tuanya, Rain berangsur membingkai wajah Hasna. Ia nyaris menindih tubuh Hasna yang memang masih terbaring di sofa panjang.
“Ingat, doanya dikencengin. Shalatnya jangan sampai ditinggal. Soalnya pekerjaan Sayang kan sering diganggu hal-hal di luar nalar.” Kedua mata Hasna menatap saksama kedua mata Rain yang hanya terpaut sekitar setengah jengkal dari matanya.
“Terus, kalau ada apa-apa, kalau sayang mau nolong orang, wajib bawa pasukan. Pokoknya wajib bawa pasukan. Jangan hanya bersua, berempat, apalagi sendiri. Jangan sampai, kasus Sayang yang pas menolong Echa, kembali terulang!” lanjut Hasna yang masih sulit menghentikan air matanya.
Di tempat berbeda, ibu Unarti sudah memboyong Echa naik angkot. Ibu Unarti sudah sampai mendandani Echa. Ibu Unarti yang kini berhijab, juga sengaja membuat Echa berhijab. Agar rambut panjang awut-awutan milik Echa yang sulit disisir, tak membuat orang-orang curiga. Kini saja, wajah pucat Echa membuat setiap mata yang melihat, langsung menjadikannya pusat perhatian.
“Semuanya benar-benar sudah dimulai. Aku akan ke rumah Rain!” batin ibu Unarti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
🥰Siti Hindun
Semoga kedatangan bu Unarti dn Echa bisa di ketahui lebih dulu oleh Rain sekeluarga..
2024-02-18
0
Mas Bos
denger ayat alquran uda panas
gimana mau ngadepin hasna
ibu unarti halunya top markotop
/Joyful//Joyful//Joyful/
2024-02-14
0
Dahwi Khusnia
❤️❤️❤️
2024-02-06
0