Hasna yakin, dirinya sudah menaruh benang merah maupun kain mori yang mengikat jari manis tangan kanan Rain, di meja. Keduanya dan panjangnya tak seberapa, Hasna bungkus menggunakan tisu. Namun, kini di meja dirinya menaruh tidak ada. Padahal tidak ada angin, dan bentuk meja pun yang kanan kirinya memiliki pembatas layaknya benteng.
“Ke mana, ya? Itu harus aku bakar. Padahal hanya ditinggal sebentar buat seka si Sayang,” bingung Hasna.
Seseorang mengetuk pintu dari luar. Hasna yang awalnya masih jongkok mengawasi kolong ranjang rawat Rain, segera menoleh ke arah pintu. Tak lama kemudian, benang dan potongan kain mori yang Hasna cari dan terbungkus tisu, keluar dari balik kaki keranjang bagian depan. Percaya tidak percaya, tisu tersebut bisa melangkah. Bukan karena ada yang mengerahkan, tapi memang loncat-loncat layaknya langkah pocong.
“Assalamualaikum?” sapa sosok yang datang. Seorang pria baya yang ditemani wanita bercadar. Itu merupakan pak Helios dan ibu Chole, yang Hasna mintai bantuan.
Pak Helios itu seorang indigo yang bisa melihat masa lalu bahkan masa depan. Selain itu, pak Helios juga paham bagaimana caranya melawan hal-hal gaib—baca novel Teror Tak Kasatmata—Saling Cinta Setelah Menikah.
“Waalaikumsalam, Pakde ... Bude,” jawab Hasna tanpa bisa menyembunyikan kelegaannya. Sebab kedatangan pasangan paruh baya tersebut, membuatnya menaruh harapan besar.
Alih-alih menjawab, pak Helios justru mendadak mendekap dan agak mengangkat tubuh sang istri. Ibu Chole yang memang membalas sapaan Hasna, jadi kebingungan. Sebab suaminya seolah membuatnya sengaja menghindari sesuatu. Hany saja, ibu Chole tidak melihat apa-apa, apalagi hal yang dirasanya berbahaya.
“Ada benda-benda syiri.k yang sangat berbahaya loh. Tapi dia pergi,” sergah pak Helios yang mengabarkannya kepada Hasna maupun ibu Chole.
“Pakde lihatnya berwujud apa?” sergah Hasna langsung memastikan.
“Mirip pocong yang pegang benang merah pengikat jodoh keabadian!” balas pak Helios.
“H—hah? I—itu, yang aku cari bukan yah, Pakde? Soalnya aku lagi cari benang merah dan potongan kain mori lusuh yang awalnya mengikat jari manis tangan kanan mas Rain dan Echa,” ucap Hasna benar-benar kaget. “Tadi aku cari sini, tapi ngilang begitu saja.”
“Eh ....” Pak Helios buru-buru lari keluar. Ia meninggalkan kebersamaan begitu saja.
“Kan merinding lagi. Padahal enggak ada mas Aqwa,” lirih ibu Chole yang kemudian membawa dua kantong bawaannya ke meja sebelah ranjang rawat Rain.
“Mas Aqwa sehat, Bude?” sergah Hasna. Karena yang ia tahu, bocah indigo itu baru saja tenggelam. Sementara tenggelam merupakan pantangan bahkan bisa menjadi penyebab utama kematian Aqwa.
“Alhamdullilah, sudah bisa ditinggal, Na. Jadi, kami bisa ke sini buat urus kalian. Soalnya Bude rasa, niat mau menolong kalian, kok mendadak ada yang datang buat menghalangi. Tengah malam, tubuh mas Aqwa dilem.par ke kolam ikan belakang rumah. Itu beneran sangat tiba-tiba, padahal awalnya kami akan sama-sama ke Jakarta buat urus kalian,” ucap ibu Chole.
Wanita bercadar cokelat tua itu segera memeriksa keadaan Rain. Tangannya yang menggunakan sarung tangan khusus, mengelus kepala Rain.
“Aku mikirnya, ... ini masih ada kaitannya dengan pernikahan ga.ib antara ibu Unarti dan dukun itu. Jadi tuh, mas Rain pun tetap disesatkan. Karena hasil dari pernikahan ga.ib itu beneran dahsyat dan sangat fatal, De!” balas Hasna.
Ibu Chole mengangguk-angguk paham. “Kadang Bude bingung, itu mereka yang syi.rik begitu, otaknya memang di dengkul atau memang enggak punya otak! Emosi! Siapa yang salah, siapa yang terus merasa jadi korban. Pengin tek iiiih biar bisa mikir dikit!” ucapnya benar-benar geregetan.
Tak lama kemudian, pak Helios datang. Namun, pak Helios tak membawa apa pun. Padahal, pak Helios sampai berkeringat parah.
“Enggak ketemu. Beneran ngilang gitu saja. Curiganya, kalau enggak ke pemiliknya, tuh pocong pengikat jodoh, justru lari ke jodoh yang dipasangkan dengan Rain, dan itu Echa. Karena kalau Pakde lihat, Echa memang masih gentayangan. Dia yang dikuasai dendam, merasa bingung dan memang kehilangan jati diri,” ucap pak Helios.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,” lirih Hasna sambil menunduk sedih.
“Enggak apa-apa, tetap masih bisa diatasi. Meski kita harus tetap hati-hati,” sergah pak Helios yang sudah langsung bergegas menghampiri Rain.
“Tempelkan tangan kanan Rain ke perutmu, Na. Habis itu, kita sama-sama doa. Karena ketimbang orang lain bahkan kami, anak kalian jauh lebih ampuh menolong kalian,” ucap pak Helios.
Bersama doa bersama selaku proses penyembuhan untuk Rain, potongan kain mori dan benang merahnya, lari menghampiri Echa. Di sebuah pohon beringin yang ada di belakang rumah sakit, Echa ada di sana. Echa membiarkan benang merah dan potongan lain morinya, menyatu ke benang merah sekaligus potongan kain mori yang masih mengikat jari manis tangan kanannya.
Layaknya yang pak Helios yakini, Echa memang jadi kehilangan jati diri. Echa kebingungan menatap benang merah maupun potongan kain merahnya. Tak ada tanda-tanda jika keduanya sempat terpotong. Karena semuanya menyatu mulus tanpa celah.
Tak lama kemudian, ingatan Echa mendadak dihiasi adegan pernikahannya dan Rain. Pernikahan yang membuatnya terikat dengan Rain. Echa yakin, sosok pria yang ada di ingatannya, memang suaminya. Masalahnya, kenapa benang merah pengikat jodoh dan juga potongan kain morinya, hanya dimiliki sepihak olehnya?
Kedua bola mata Echa yang hampir semuanya berwarna merah, menatap ke sekitar. Tatapan tajam yang juga diliputi dendam.
“Suamiku, ... ke mana, suamiku?!” lirihnya yang seketika nyaris terbang. Namun, Echa tak sengaja melihat keadaan perutnya. Perutnya dalam keadaan buncit, dan ia pun pendarahan.
“Suamiku ... suamiku, anak kita dalam bahaya! Suamiku!” rengek Echa panik dan memang ketakutan.
Di ruang rawatnya, Rain akhirnya sadar. Namun, ketiga orang yang di sana termasuk Hasna, masih sibuk melafalkan doa-doa. Rain mengawasi sekitar dengan sangat saksama. Ia dapati, wajah sang istri, wajah pak Helios dan juga ibu Chole.
Tiba-tiba saja, Rain merasa mual luar biasa. Rain memaksa duduk dibantu oleh pak Helios maupun Hasna. Kendati demikian, Hasna tetap membuat tangan kanan Rain menempel ke perutnya. Akan tetapi, keadaan Rain tidak baik-baik saja. Tubuh Rain jadi kaku. Rain terlihat sangat tersiksa karena tak kunjung bisa memuntahkan apa yang membuatnya mual.
Setelah saraf maupun otot di wajahnya menegang parah, akhirnya Rain berhasil muntah.
“Muntahkan saja, muntahkan semuanya jangan ada sisa. Biar semua pengaruh hal syi.rik di tubuh kamu juga enggak tersisa!” sergah pak Helios sambil memijat-mijat tengkuk Rain.
Dara.h kental, beling, gumpalan rambut, dan juga kelabang berukuran besar, masih keluar dari mulut Rain.
Ibu Chole yang tidak tahan, sampai ikut muntah dan buru-buru masuk kamar mandi terdekat. Karena apa yang Rain muntahkan, aromanya memang sangat anyir.
“Astagfirullahadzim ... Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,” batin Hasna terus begitu sambil terus berusaha menguatkan suaminya.
“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Nuryanti Yanti
thorrr km hebat....tau soal perdukunan.../Good//Good/
2024-05-22
0
YuniSetyowati 1999
Cus kucari dan masukkan rak buku favorit 🤭
2024-04-06
0
lizah meon
ibu unarti mcm orang tidak beragama islam. ikut bisikan syaitan yg menyesatkan
2024-03-03
0