Seiring tubuh Echa yang akhirnya bergerak, mereka yang awalnya sibuk berebut men.jilat darah ayam cemani di tubuh Echa, perlahan menjauh. Namun, tatapan mereka tak luput dari Echa. Tatapan mereka sungguh memantau setiap perubahan yang terjadi kepada Echa.
“Demi apa pun, putriku benar-benar hidup! Echa sungguh bangkit dan siap balas dendam!” batin ibu Unarti teramat bahagia atas kenyataan kini. Sang putri yang awalnya hanya bergerak, perlahan mencoba lebih.
Kedua tangan, kaki, bahkan tubuh Echa perlahan terangkat. Lebih tepatnya, tubuh Echa melayang ke udara secara perlahan. Sampai detik ini keadaan tubuh Echa masih loyo. Kedua tangan agak terangkat lebih tinggi dari kepala. Tak lama kemudian, setelah kedua kaki Echa tak lagi menyentuh meja dirinya sempat direbahkan, kedua mata Echa mengalami perubahan.
Kedua mata Echa yang awalnya kosong, jadi seolah terisi kehidupan. Sementara tubuh Echa juga menggeliat cukup lama, mirip efek ketika manusia tengah tersetrum. Rambut Echa yang awalnya hanya sepunggung juga menjadi lebih panjang nyaris semata kaki. Kedua mata Echa yang perlahan berubah warna menjadi merah juga bergerak, seolah mencari-cari.
“HAH!” teriak para makhluk tak kasat mata di sana kompak. Teriakan yang benar-benar menggema sekaligus menakutkan. Teriakan yang terdengar layaknya di sebuah ritual adat pada kebanyakan. Detik itu juga kepala Echa akhirnya perlahan menoleh.
Tak lama kemudian, tawa dari makhluk tak kasat mata mendadak pecah. Lagi-lagi mereka melakukan semuanya secara kompak. Tawa yang juga diikuti oleh Echa. Echa yang akhirnya berdiri tegap tapi masih melayang di udara, juga menyusul tertawa. Tawa menggema sangat nyaring, khas tawa dari para kuntilanak yang ada di sana.
“Hahahahaha ...!” Echa masih sibuk tertawa.
Di tengah kesunyian malam apalagi gubuk pak Asnawi jauh dari pemukiman, tawa Echa menjadi tawa yang paling jelas. Tawa yang juga terdengar paling menakutkan. Ibu Unarti yang awalnya bahagia tak karuan karena sang putri benar-benar kembali hidup, jadi bingung.
Dalam diamnya, ibu Unarti bertanya-tanya, kenapa putrinya menjadi mirip kuntilanak? Ibu Unarti mengakui, bahwa dari semua makhluk astral yang ada di sana, putrinya lah yang paling menakutkan. Echa terlihat sangat bengis sekaligus keji. Seolah Echa dikuasai kekuatan jahat yang sangat kuat. Terlebih jika ibu Unarti mendiskripsikan tatapan mata Echa. Tatapan mata Echa begitu dikuasai dendam. Kedua mata Echa yang besar dan berwarna merah, tetap melotot meski Echa tengah tertawa. Kenyataan tersebut pula yang membuat ibu Unarti jadi tak hentinya merinding.
Sekitar lima menit kemudian, tawa di sana berangsur reda. Termasuk tawa Echa yang mana Echa juga menjadikan ibu Unarti perhatian. Echa agak berjongkok dan makin menatap wajah ibu Unarti dengan saksama.
Di sebelah ibu Unarti, pak Asnawi yang memakai blangkon hitam, mengeluarkan sebuah keris dan awalnya terselip di balik pinggang kanannya. Yang membuat ibu Unarti terkejut, meski yang lain diam, Echa kembali tertawa melengking. Tawa yang lagi-lagi menggema dan makin membuat ibu Unarti panas dingin merinding.
“Dengarkan aku, wahai Echa yang lahir di malam Selasa Kliwon! Sekarang, wanita di sebelahku menjadi ibumu!” lantang pak Asnawi sambil menunjuk-nunjuk wajah Echa menggunakan keris di tangan kanannya.
Echa yang tak menunjukkan gelagat manusia, menyimak ucapan pak Asnawi. Ucapan pria yang masih sangat kental dengan logat Sunda, teramat membuat Echa tunduk.
“Dia, ibu Unarti, ibumu. Dialah yang telah membangkitkanmu! Jadi mulai sekarang, tugasmu mengabdi kepadanya. Lakukan lah semua perintahnya, selain kamu yang juga akan mendapatkan hakmu!” tegas pak Asnawi lagi.
Echa yang awalnya menyimak ucapan pak Asnawi dengan saksama, menjadi beralih mengawasi ibu Unarti. Seolah, ia tengah berusaha mengenali kemudian menghafal wujud ibu Unarti. Namun sekali lagi, di mata ibu Unarti, gelagat Echa yang tidak bisa diam, tidak mencerminkan bahwa Echa seorang manusia. Gelagat Echa mirip orang yang tengah dirasu.ki arwah jahat.
“Sekarang, ... pegang keris ini kemudian tancapkan di ubun-ubunnya, agar dia benar-benar tunduk kepadamu!” tegas pak Asnawi memberikan keris di tangan kanannya kepada ibu Unarti.
Alih-alih langsung sigap layaknya sederet persyaratan sekaligus titah yang sebelumnya selalu ibu Unarti lakukan. Apa yang pak Asnawi lakukan kini, langsung membuat ibu Unarti bengong menatap pak Asnawi. Ibu Unarti tak paham, kenapa keris yang panjangnya lebih dari sejengkalnya, malah diminta tancapkan di ubun-ubun Acha.
“Tidak apa-apa. Ini syarat terakhir yang harus kamu lakukan. Keris ini sama sekali tidak akan melukainya. Nantinya, keris ini akan menyatu dengan Echa. Keris ini akan menjadi sumber kekuatan sekaligus kehidupan Echa. Sementara alasan kenapa kamu yang harus melakukannya. Karena agar kamu bisa mengendalikan Echa sesukamu.” Pak Asnawi meyakinkan ibu Unarti. Apalagi dari gelagat khususnya tatapan ibu Unarti, ibu Unarti terlihat ragu bahkan takut.
“Tapi, Mbah. Nanti putri saya terluka—” Ibu Unarti tak bisa berkata-kata dan kembali mengawasi putrinya.
“Ingat, jika kamu tidak mengikuti semua arahanku. Yang ada dia akan menye.rangmu!” tegas pak Asnawi.
Apa yang pak Asnawi tegaskan barusan membuat ibu Unarti takut setengah mati. Ibu Unarti degdegan parah sekaligus gemetaran hebat. Tak semata karena ancam.an, bahwa Echa justru akan menye.rangnya andai ia tak segera menancapkan keris pemberian pak Asnawi di ubun-ubun Echa. Melainkan kenyataan ubun-ubun Echa yang akan ditan.capi keris, dan itu mewajibkan ibu Unarti yang melakukannya.
“Maju hei kau Unarti. Cepat lakukan karena kamu tidak punya waktu. Tengah malam akan segera habis digantikan dini hari. Echa harus segera diberi makan!” tegas pak Asnawi kali ini mengomel.
Ibu Unarti yang menatap pak Asnawi, mengangguk-angguk. Ibu Unarti memberanikan diri untuk maju mendekati Echa. Meski langkah yang ia hasilkan benar-benar pelan. Malahan, langkah yang ibu Unarti lakukan tidak menghasipkan perubahan berarti. Ibu Unarti layaknya hanya melangkah di tempat. Karena apa yang terjadi kini juga membuat dunia ibu Unarti seolah berhenti berputar.
Bersama ibu Unarti yang melangkah, pak Asnawi kembali melemparkan remuk.an kemeyan ke coet pembakaran yang sebenarnya masih penuh asap kemenyan yang sebelumnya dibakar. Mulut pak Asnawi komat-kamit. Mantra khas bahasa Sunda terlafal mengiringi jemarinya yang menari-nari di atas coet pembakaran. Jari yang dihiasi cincin batu akik itu makin sibuk menari seiring tubuhnya yang gemetaran parah layaknya menggigil.
“Lakukan, Unarti! Lakukan, cepat lakukan!” racau pak Asnawi teriak-teriak.
Angin mendadak berembus sangat kencang. Sesajen dan semua yang awalnya menghiasi meja persembahan sampai terbawa angin. Termasuk juga kain kafan yang sempat membungkus Echa. Para makhluk astral juga nyaris terbawa angin. Layaknya ibu Unarti yang susah payah menjalankan syarat terakhirnya. Padahal, Echa yang awalnya tak menapak, sudah jongkok di meja. Posisi Echa sungguh siap menerima keris di tangan kanan ibu Unarti.
“LAKUKAAAAAAAAANNNNNNNN!!” teriak pak Asnawi marah-marah karena tubuhnya juga nyaris terbawa angin. Keadaan di gubuknya jadi mirip terkena tornado. Angin di sana benar-benar tak masuk akal.
“Apa-apaan, ini? Kekuatan apa yang sebenarnya mencoba menghalangi ritual ini?!” batin pak Asnawi menatap bingung keadaan di sana.
Namun di tempat berbeda, di kediaman Rain, bersama kedua orang tua Rain, Hasna yang didampingi Rain, tengah mengaji bersama. Sesekali, tangan kanan Rain akan mengelus perut Hasna yang masih rata. Kebersamaan keempatnya yang terjalin di ruang ibadah benar-benar khusuk. Sangat berbeda dengan keadaan di gubuk pak Asnawi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Rosmiati Ros
baca sambil nahan napas
2024-08-31
0
🥰Siti Hindun
tegang😱
2024-02-18
0
⍣⃝ꉣ M𝒂𝒕𝒂 P𝒆𝒏𝒂_✒️
echa dikasi makan apa?, nasi uduk atau nasi padang?!..
2024-02-12
3