“Astaghfirullah ... innalilahi,” lirih Rain refleks ketika pandangannya tak sengaja melihat sosok Echa.
Rain tak tahu, jika kuntilanak yang nangkring, jongkok di pohon beringin depan rumah dirinya berada, merupakan Echa.
Echa masih dengan keadaannya yang menyeramkan, layaknya dirinya menakut-nakuti Binar. Lidah terjulur, mata merah menyala layaknya berkobar-kobar, juga rambut panjangnya yang awut-awutan. Tak kalah mencolok, lain dari kuntilanak yang lain, perut Echa dalam keadaan besar, layaknya wanita hamil besar pada kebanyakan.
Rain yang awalnya akan menelepon sang istri, jadi menundanya. Ia yang sempat kursi kayu yang ada di teras rumah dirinya tinggal, bergegas masuk. Anehnya, ketika Rain menoleh sekaligus memastikan keberadaan sang kuntilanak, sosok tersebut tetap mengawasinya dengan bengis. Mirip binat.ang bu.as yang siap mener.kam Rain.
“Innalilahi. Padahal sebelum sewa rumah ini, aku sudah izin. Warga dan tokoh masyarakat sini juga kasih dukungan penuh. Karena beberapa pemeran film horor yang kami buat, juga masih orang sini,” pikir Rain bergegas mengunci pintunya.
Beberapa kru yang menggelar kasur masing-masing di ruang Rain berada, tampak sibuk dengan ponsel masing-masing. Apalagi layaknya kasus syuting biasanya, ponsel mereka jadi agak susah dapat sinyal.
“Istriku WA katanya Hasna sakit,” seru Adam selaku kakak Rain.
Adam yang melangkah dari dapur, sampai tak jadi meminum air minum. di gelasnya. Adam terlalu fokus menunggu reaksi Rain.
Rain yang menanggapi ucapan Adam dengan serius, buru-buru menghampiri sang kakak. Kebetulan, jarak mereka hanya sekitar sepuluh meter. Adam bertahan di pintu menuju ruang dalam. Ruang keberadaan dapur, kamar Rain, Adam, dan para anggota syuting lainnya, termasuk itu artis utama.
“S—sakit apa katanya, Mas? Soalnya aku baru mau nelepon, dan Hasna cuma ngabarin siang tadi. Kalau katanya, dia dibawa pulang ke rumah mommy. Padahal kalau bisa jangan ke sana dulu, pikirku tuh. Kan takut, dampak teror tanah makam, sama kain mori dari pihak Echa, masih ada,” ucap Rain yang berbisik-bisik.
“Kurang paham, katanya mommy yang minta. Jadi, Binar yang awalnya mau jaga malam, enggak jadi. Apalagi Sunny badannya juga mendadak anget,” balas Adam.
“Ya sudah, daripada bingung, keluar bentar sana cari sinyal. Soalnya kalau di dalam, sinyalnya but.ut banget,” ucap Adam yang kemudian lanjut minum sambil memeriksa setiap pesan di ponselnya.
“Keluar bentar? Di depan ada kuti, Mas!” bisik Rain dan sukses membuat Adam menatapnya.
“Jangan bercanda kamu. Nanti yang lain pada takut, habislah kita gagal syuting!” ucap Adam, tapi dari sudut depan, mendadak ada yang tertawa. Tawa renyah seorang wanita layaknya kuntilanak!
Saking kagetnya, Adam refleks menjatuhkan gelas di tangannya.
“Astaghfirullah ...,” lirih Adam dan Rain nyaris bersamaan. Keduanya saling tatap, sementara mereka yang awalnya hanya terkejut sambil mengawasi si wanita bertubuh gempal di pojok sana, buru-buru kabur menyelamatkan diri.
Bagaimana tidak? Wanita bernama Sri dan kerap mereka panggil ibu Sri, dengan cekatan merangkak layaknya maca.n. Ibu Sri menjadikan Rain sebagai tujuan. Adam sempat berusaha menarik sang adik, tapi tenaga ibu Sri, benar-benar di luar nalar.
Ibu Si dengan mudah mener.kam Rain. Tubuh Rain terbant.ing, disusul wajah Rain yang dicaka.r. Kuku-kuku ibu Sri layaknya kuku-kuku tangan Echa setelah Echa dibangkitkan menjadi titisan kuntilanak.
Semua yang ada di sana dan awalnya kompak menyelamatkan diri, menjadi sibuk berdoa dengan suara keras. Meski kebanyakan dari mereka beragama islam, yang non islam juga berdoa sesuai keyakinan mereka.
“Astaghfirullah ... apa ini yang tadi di pohon beringin, ya? Heh, kamu ngapain nga.muk aku? Punya masalah hidup apa kamu hah?” kesal Rain masih bisa bersikap santai. Padahal yang lain saja, sudah ketakutan. Ditambah lagi, selain kuku-kuku tangan maupun kaki ibu Sri yang jadi panjang hitam, mata ibu Sri juga jadi menyala layaknya mata Echa.
“Kamu harus mati!” tegas ibu Sri, tapi itu dengan suara Echa. Suara yang jujur saja langsung Rain kenali sebagai Echa.
Belum sempat kembali memberi tanggapan, ibu Sri sudah mencek.ik Rain sekuat tenaga.
Dari belakang Adam, ada seorang pria tua yang melangkah penuh tanya. Itu merupakan pak Ojan.
Sambil membenarkan sarung yang menutupi tubuh bagian bawahnya, pak Ojan yang tak lain merupakan ayah Rain, bertanya, “Lagi pada bikin konten? Emang enggak punya cape ya kalian. Ya sudah enggak apa-apa, dilanjut saja. Kalian keren!”
Pak Ojan sungguh kembali masuk ke dalam begitu. Pak Ojan yang memang sudah biasa disuguhi pemandangan pembuatan konten terlalu yakin, yang sedang terjadi kali ini juga masih bagian dari pembuatan konten.
“Dad, Dad ini serius. Ibu Sri kera.sukan. Itu Rain wajahnya aja asli darah dica.kar!” ujar Adam sambil berusaha menarik ibu Sri dari Rain. “Woooii, bantu dong. Kalau kayak gini caranya, adikku bisa mati!” marah Adam tak lama setelah dirinya terban.ting setelah disingki.rkan paksa oleh ibu Sri. Tenaga ibu Sri sangat kuat, padahal biasanya, ibu Sri paling lemah lembut.
“Ini beneran bukan syuting? Oalah, aku kecol.ongan!” panik pak Ojan buru-buru melepas kol.or berikut dala.man warna pinknya.
Sambil membaca ayat kursi, pak Ojan sengaja menggunakan celana dal.am pinknya, untuk dibasuhkan ke wajah ibu Sri.
Entah mitos atau fakta, menggunakan celana dal.am untuk mengata.si kerasu.kan, masih sering pak Ojan praktikan. Hasilnya, sosok yang mera.suki ibu Sri segera mental. Sosok tersebut sungguh berwujud, dan Rain mengenalinya sebagai sosok yang sempat ia lihat di pohon beringin.
Hanya saja, tubuh Rain langsung terasa remuk lantaran kejatuha.n tubuh ibu Sri. “Innalilahi ... innalilahi ... ini tulangku remuk apa bagaimana,” lirih Rain benar-benar tak bisa bergerak. Tubuhnya saja ter.tindih habis oleh tubuh jumbo ibu Sri. Hanya tinggal wajah dan kepalanya saja yang masih aman.
Suasana yang sempat mencekam, makin mencekam dan berhias doa yang makin lantang. Penampakan Echa langsung menyita perhatian. Lagi, Echa yang telanjur ditanami ra.sa dendam oleh ibu Unarti, berusaha menyera.ng Rain lagi. Hanya saja, pak Ojan yang masih memegang celana da.lamnya menggunakan tangan kanan, juga tak tinggal diam.
“Ambil garam ... ambil garam!” teriak pak Ojan sambil berusaha memojokkan Echa ke dekat jendela.
Alih-alih menye.rang pak Ojan, Echa malah menerobos jendela. Padahal, Adam baru lari ke dapur dan bermaksud akan mengambil garam.
Yang membuat Rain bingung, kenapa sosok kuntilanak tadi, tampak begitu ingin menghabi.sinya?
“Tadi dia bilang, dia pengin bu.nuh aku. Ini aku salah apa, kok dia sampai terkesan dendam ke aku?” batin Rain berakhir merintih kesa.kitan karena sudah tidak kuat ditindih ibu Sri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Nur Bahagia
ceritanya bagus..cuma kadang penulisan/penyampaiannya kurang.. semoga kedepannya lebih baik lagi.. semangaattt Thor 🤩🔥
2024-06-28
1
YuniSetyowati 1999
Kok di bayanganku pak Ojan itu seperti babe Bolot yak?🤣🤣🤣🤣🤣
2024-04-06
1
🥰Siti Hindun
Owalah🤣🤣🤣🤣 pak Ojan ini emang bener² yah..
2024-02-19
0