Sekitar dini hari menjelang subuh, setelah perjalanan panjang penuh perjuangan, akhirnya ibu Unarti sampai di gubuk pak Asnawi tinggal. Alih-alih diberi solusi atas keadaan Echa yang lolos melarikan diri, ibu Unarti justru mendapat tawaran membagongkan dari sang dukun sakti.
“Menikah dengan Mbah?” ucap ibu Unarti bingung dan memang syok.
Untuk sejenak, ibu Unarti sampai tak bisa berpikir. Sebab pak Asnawi yang mengetahui status ibu Unarti masih memiliki suami, justru mewajibkannya menikah dengan pria tua itu. Alasannya, agar kesaktian Echa makin meningkat tak bisa ditandingi lawan. Apalagi setelah diselidiki, konon ada kekuatan yang melindungi Rain sekeluarga. Alasan itu juga yang membuat Echa tak bisa melindungi Hasna dengan semestinya.
“Masalahnya, saya kan masih bersuami, Mbah. Andaipun saya harus bercerai dari suami saya, ya tetap ada masa tunggu. Ada masa iddah,” ucap ibu Unarti yang duduk sila di hadapan pak Asnawi. Mereka hanya dipisahkan oleh meja agak panjang dan terbilang pendek, penuh sesajen. Sesajen biasa pak Asnawi menyalurkan kesaktiannya.
“Namun kamu mau, kan, menikah dengan saya? Ini demi Echa. Agar para jin dan lelembut terkuat, bisa membantu sekaligus melindungi Echa!” tegas pak Asnawi penuh keseriusan.
Jika demi Echa dan kesuksesan misi balas dendamnya, ibu Unarti mau-mau saja. Terbukti, dengan begitu enteng ibu Unarti berkata, “Mau, Mbah. Saya mau jika itu demi Echa!”
Detik itu juga pak Asnawi tersenyum puas. Apalagi meski tampilan ibu Unarti tergolong lusuh, pada kenyataannya, wanita di hadapannya memang memiliki wajah cantik. Ditambah lagi, sebagai laki-laki biasa yang terbiasa menyendiri di tengah hutan nan jauh dari kehidupan normal, pak Asnawi juga haus sent.uhan wanita.
***
Pernikahan ibu Unarti dan pak Asnawi yang disaksikan oleh jin sekaligus para lelembut, sungguh terjadi. Hasna yang masih belum sadarkan diri, menyaksikannya. Pernikahan yang jauh dari norma apalagi agama itu membuat jin, lelembut dan demit lain turut berpesta. Malahan karena adeg.an suami ist.ri yang nyaris ibu Unarti maupun pak Asnawi lakukan, Hasna yang tak mau menyaksikannya, memaksa bangun.
Hasna terbangun dalam keadaan berkeringat parah. Rambut Hasna sampai basah, termasuk juga daster tipis nan lembut yang Hasna pakai. Hasna menyadari, dirinya tidak memakai pakaian yang terakhir kali dipakai. Dengan kata lain, seseorang bahkan lebih telah mengganti pakaiannya.
Namun ternyata, Binar dan ibu Rere tengah menangisi Hasna. Di dalam kamarnya, Hasna tidak hanya sendiri. Karena kedua wanita tersebut tengah memegang buku yasin. Keduanya membaca yasin sambil berlinang air mata.
“Hasna ... Rain sedang di perjalanan pulang karena dua hari ini, kamu tidur enggak bangun-bangun. Bahkan kadang tubuhmu terbang!” refleks ibu Rere langsung memeluk sang menantu.
Binar yang awalnya duduk di sofa sebelah meja nakas, segera mengambil satu air mineral dilengkapi dengan sedotan. Ketimbang ibu Rere, Binar memang jauh lebih tegar. Malahan, Binar bisa langsung menyudahi tangisnya ketika akhirnya Hasna sadar.
“Rasanya capek banget, Mbak,” ucap Hasna tak lama setelah ia meminum sedikit dibantu Binar.
“Minum yang banyak. Karena kamu bahkan habis banyak infus. Kamu dehidrasi,” sergah Binar yang sadar, Hasna masih kebingungan. “Hasna seperti mati suri, tapi dia enggak mati. Ini mirip gun.a-gun.a, atau memang bawaan bayinya? Kabarnya, calon anak Hasna indigo mirip mas Aqwa. Sayangnya, ini mas Aqwa sekeluarga termasuk om Helios lagi pulang kampung. Kan ribet jadinya,” batin Binar.
Setelah keadaan membaik, Hasna menceritakan semuanya. Inu mengenai kejadian yang ia lihat dan dirasanya mirip mimpi.
“Mirip mimpi, tapi rasanya nyata banget!” ucap Hasna.
Tak lama kemudian, seorang ART datang membawa nampan berisi makanan untuk Hasna.
“Percaya enggak percaya, aku juga kelaparan. Aku merasa seperti tersesat ke alas atau hutan, dan lokasinya dekat Mas Rain syuting,” ucap Hasna yang kemudian meminta maaf kepada ibu Rere. “Maaf ya Ma, aku ngerepotin. Tapi aku beneran laper.”
“Enggak apa-apa. Ayo makan yang banyak!” ucap ibu Rere sangat semangat menyuapi Hasna.
Kemudian, Hasna membahas Echa. Namun Binar izin menerima telepon dari pak Helios yang tak lain kakeknya Aqwa. Kakek dari bocah indigo yang juga memiliki kemampuan untuk melihat sekaligus melaw.an makhluk-makhluk tak kasatmata.
“Tolong banget ya Om. Tolong banget ke sini. Soalnya meski menurut Om, Hasna enggak mungkin terluka karena janin Hasna akan selalu melindungi, Hasna. Di lokasi syuting, Rain juga digangguin kuntilanak hamil!” jelas Binar di balkon kamar Rain yang ditempati Hasna.
Langit siang menjelang sore, mulai gelap. Karena beberapa awan hitam mulai berdatangan. Ditambah lagi, akhir-akhir ini jika sore hingga malam bahkan subuh, Jakarta makin sering diguyur hujan.
Binar tengah berunding dengan pak Helios melalui sambungan telepon. Sementara di dalam kamar, Hasna yang awalnya fokus mengunyah sambil cerita ke ibu mertuanya, mendadak terdiam lemas.
Di benak Hasna, ada adegan Rain yang muter-muter menggunakan motor. Rain layaknya orang tersesat pada kebanyakan. Namun, Rain memasuki jalan perkampungan yang ibu Unarti lewati ketika mengunjungi kediaman pak Asnawi.
“M—Mas Rain ...?” lirih Hasna benar-benar khawatir.
Di tempat yang Hasna lihat, Rain sungguh tersesat. Rain mengemudikan motornya dengan pelan sambil mengawasi sekitar.
“Ini aku sudah melewati jalan ini, lebih dari tujuh kali. Dari siang tadi, sampai sore mendung mau hujan gini. Ya Allah, apa lagi? Istri hamba sedang sakit ya Allah.” Anehnya, Rain tak melihat seorang pun ada di sana. Padahal, beberapa warga sampai menatap heran sekaligus menganggap Rain aneh.
Karena pada kenyataannya, meski di mata Rain di sana tidak ada tanda-tanda kehidupan lain selain dirinya. Sebenarnya di sana ada banyak warga. Mereka yang kebanyakan masih berbicara dengan logat sunda, jadi khawatir ke Rain.
“Tuh orang kelihatan kebingungan loh. Mirip orang tersesat, tapi seperti enggak lihat kita.” sekelompok ibu-ibu yang tengah memomong anak sambil menyuapi anak masing-masing, masih menjadikan Rain sebagai pusat perhatian.
Tak lama kemudian, adzan maghrib akhirnya terdengar. Hanya saja, Rain tetap tidak mendengar siapa-siapa. Rain memutuskan untuk berhenti mengendarai motor trailnya. Rain bahkan turun kemudian mengamati suasana di sana dengan saksama.
“Astaghfirullah ... astaghfirullah ...,” lirih Rain terus begitu sambil menutupi kedua matanya menggunakan kedua tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
dasar dukun cabul
ini lagi Bu unarti mau mau aja disuruh nikah sama tuh dukun🤦🏻♀️
2024-04-22
0
🥰Siti Hindun
semoga Rain bisa segera keluar dari situasi ini..
2024-02-19
0
Firli Putrawan
adeh jd pengen pipis bgt baca cerita ini
2024-02-15
0