Echa yang menjadi makin bengis, lompat dan menjadikan ibu Unarti sebagai tujuan. Kedua tangan Echa yang kuku-kukunya memanjang berwarna hitam, siap mence.kik leher ibu Unarti.
Pak Asnawi makin sibuk memarahi ibu Unarti. Masih untuk hal yang sama, yaitu menancapkan keris di tangan kanan ibu Unarti, ke ubun-ubun Echa.
Fatal! Echa berhasil mence.kik leher ibu Unarti. Tubuh ibh Unarti bahkan Echa bawa terbang.
“Cepat tancapkan, jika tidak, dia akan membu.nuhmu!” teriak pas Asnawi yang sampai berakhir batuk-batuk.
Bingung dan ketakutan menjadi kedua rasa yang terus ibu Unarti rasakan. Di hadapannya, dengan wajah yang begitu dekat, ibu Unarti merasa jika yang sedang ia hadapi merupakan Echa putrinya. Namun tiba-tiba saja, sekelebat kejadian menghiasi ingatannya. Kejadian Rain yang justru bahagia bersama Hasna. Rain dan Hasna yang menemuinya. Pertemuan di depan rumah megah milik Rain.
Sebenarnya kala itu, Rain maupun Hasna, menyikapi ibu Unarti dengan sangat santun. Hanya saja, hati ibu Unarti telanjur dikuasai dengki. Dengki yang membuatnya meminta bantuan pak Asnawi. Hingga mereka bekerja sama dengan jin dan lelembut untuk membangkitkan Echa.
Teringat kebahagiaan Rain dan Hasna yang justru berbanding terbalik dengan keadaan Echa, ibu Unarti seolah mendapatkan kekuatan bahkan nyawa tambahan. Ibu Unarti kembali membulatkan tekadnya. “Iya, aku harus melanjutkannya. Selangkah lagi, dan Echa bisa menuntut balas kepada Rain apalagi ... Hasna!” tegasnya. Tak peduli, meski karena ceki.kan Echa, lehernya terasa sangat sulit. Selain jadi kesulitan dalam berbicara, ia yang menang masih dice.kik Echa memang mulai sesak napas.
Di tengah kenyataan pak Asnawi yang menjerit memarahi ibu Unarti, ibu Untari juga berteriak. Ibu Unarti melakukannya sambil menancapkan keris yang akhirnya ia pegang menggunakan kedua tangan, sekuat tenaga.
Tak ada darah dari apa yang ibu Unarti lakukan. Keris yang ibu Unarti tancapkan langsung masuk sekaligus tenggelam ke dalam ubub-ubun Echa.
Echa yang awalnya sangat bengis sekaligus menakutkan, berakhir lunglai. Echa terjatuh seiring kedua matanya yang terpejam damai. Hingga Ibu Unarti yang awalnya Echa cekik dan membuat mereka sama-sama terbang, juga ikut terban.ting.
Ibu Unarti yang jadi ngos-ngosan parah, masih dihantui ketakutan atas keadaan Echa. Namun detik itu juga ibu Unarti mendapati, para makluk tak kasat mata di sana, beranjak pergi. Benar-benar tak ada yang tersisa lagi.
“Sekarang, kamu boleh membawa pulang anakmu. Apa pun tujuanmu, cukup katakan kepada anakmu. Pastikan juga, kamu tidak telat memberinya makan.” Pak Asnawi kembali memberi ibu Unarti arahan.
“Iya, Mbah!” ucap ibu Unarti yang langsung berangsur duduk. Ia merengkuh dan memangku kepala Echa. Wajah Echa memang masih sangat pucat. Aroma bu.suk juga masih terci.um. Namun berbeda dari sebelumnya, kini kedua mata Echa terpejam damai. Begitu juga dengan lidahnya yang tak lagi terjulur.
“Semakin banyak bayi yang anakmu makan, semakin panjang juga usianya!” tegas pak Asnawi dan langsung membuat ibu Unarti tersedak ludahnya sendiri.
“Mohon maaf, Mbah. Tadi, Mbak bilang apa? B—bayi ...? Pa maksud Mbah dengan putri saya yang makan bayi ...?” Ibu Unarti jadi tak bisa berkata-kata. Ia gagal paham. Apalagi keputusannya membangkitkan Echa, membuat hidupnya layaknya menaiki roller coaster.
Tak lama kemudian, ibu Unarti tertatih meninggalkan gubuk pak Asnawi. Layaknya kedatangannya, ibu Unarti juga kembali menggendong Echa. Ibu Unarti melakukannya menggunakan jarit yang sebelumnya ia pakai juga.
Diiringi suara jangkrik, kodok, burung hantu, bahkan burung gagak yang menghiasi dini hari kini, ibu Unarti membiarkan kedua kakinya melewati jalanan setapak berlumpur. Berbeda dengan kedatangannya yang penuh tekad sekaligus semangat, di kepulangannya kali ini, ibu Unarti justru jadi lemas. Ibu Unarti jadi mirip orang linglung sekaligus sakit.
“Sekarang, putrimu sudah menjadi titisan kuntilanak. Darah wanita hamil apalagi bayi segar, akan menjadi makanan favoritnya. Makanan yang bisa membuatnya panjang umur.”
Teringat ucapan pak Asnawi yang barusan menghiasi ingatannya, ibu Unarti makin lemas.
Terbesit dalam hati ibu Unarti yang justru jadi menyesali keadaan. “Kenapa Echa malah jadi titisan kuntilanak? Kenapa Echa tidak kembali jadi manusia? Dengan kata lain, sekarang Echa merupakan kuntilanak!” sesalnya jadi tersedu-sedu.
Perjalanan yang jauh dari mudah dan harus ibu Unarti, ada sekitar 2 KM. Sepanjang perjalanan tersebut, ibu Unarti merasa sangat nelangsa, sedih, bahkan menyesal. Semua rasa yang berpadu menjadi satu dan lagi-lagi melahirkan dendam.
“Semua ini gara-gara Rain dan Hasna! Pers.etan dengan ucapan mereka. Karena andai mereka benar-benar sudah memaafkan Echa, keadaannya pasti tidak begini!” sedih ibu Unarti.
Beres melewati hamparan sawah, ibu Unarti akhirnya memasuki desa kecil. Desa kecil yang belum begitu terjamah kemajuan teknologi. Karena semacam listrik, belum semua rumah memakainya.
Awalnya, ibu Unarti yakin Echa yang ia gendong masih tidur. Namun tak lama setelah tangis bayi terdengar, Echa langsung heboh. Echa sibuk berusaha turun bahkan tak segan loncat dari gendongan ibu Unarti.
“Cha—” Ibu Unarti berusaha menghentikan Echa. Berderai air mata ia mengejar Echa yang bisa terbang. Echa menuju rumah selaku sumber bayi.
“Echaaa!” batin ibu Unarti meronta-ronta. Namun ia yakin, Echa akan memakan bayi yang dihampiri.
Kini, Echa sudah tiarap dan memang mendarat di genteng rumah tangis bayi berasal. Gaya Echa sangat beri.ngas, tampak tidak sabar untuk segera mendapatkan targetnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
sokorrr
2024-07-25
0
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
nyesel kan bi gak nurutin kata suaminya
aiiish malah gak kapok main dukun setelah Echa dihamili dukun nya sendiri
2024-04-21
0
YuniSetyowati 1999
Astaghfirullah,demi dendam yg tak berkesudahan Bu Unarti terperosok ke jurang kegelapan penuh dosa yg lebih dalam.
2024-04-06
0