Para kuntilanak berterbangan, melesat mencoba menghadang Hasna. Mereka yang jumlahnya belasan, berwujud nyaris sama. Mereka berbeda dari Echa, lidah mereka tak sampai terjulur. Wajah mereka penuh luka seolah mengobarkan api. Selain itu, belatung juga terus berjatuhan dari wajah mereka.
Para kuntilanak sengaja tiba-tiba muncul di hadapan wajah Hasna. Mereka membuat jarak wajah mereka dengan wajah Hasna sangat dekat. Namun dari semuanya, tak ada satupun yang bisa menghentikan Hasna. Karena jangankan takut, peduli saja, Hasna tidak.
“Darah wanita itu wangi. Apakah wanita itu sedang hamil?” ucap salah satu kuntilanak.
Para kuntilanak yang gagal menahan Hasna, menjadi berkerumun. Mereka melepas kepergian Hasna sambil membahas keanehan dari Hasna. Hasna yang tak hanya tidak takut kepada mereka. Namun juga berbeda dari manusia kebanyakan.
“Darahnya tak hanya wangi, tapi juga panas. Dia dikuasai arwah baik, hingga se.tan seperti kita tidak bisa menghentikannya!”
“Lebih tepatnya, dia memang sedang hamil. Dia hamil calon indigo yang kuat, tapi sekarang, wanita itu juga sedang dikuasai arwah baik!”
Hasna dan semua keiistimewaan yang sedang dibahas para kuntilanak, memang membuat hantu berjenis kele.min perempuan itu memilih mundur. Mereka memilih mengawasi dari kejauhan. Membuktikan apa yang mereka temukan sekaligus rasakan dari seorang Hasna.
Hasna menerobos masuk pintu kediaman pak Asnawi. Kedua matanya langsung menatap marah pandangan Rain dan Echa yang sungguh sudah dinikahkan. Jari manis tangan kanan keduanya telah diikat. Selain sama-sama tidak sadarkan diri, tubuh keduanya juga dihiasi banyak kembang melati.
“Dalam agama kami. Dalam kehidupan Rain sebagai manusia. Apa yang kalian lakukan kepada Rain sudah sangat melanggar!” tegas Hasna masih dengan suara kakek-kakek.
“Sopo nandur bakal ngunduh. Atau, siapa yang menanam dia juga yang akan memanen. Jadi, siapa pun dia yang membuat pernikahan ini terjadi, dia juga yang harus menjalani bagaimanapun prosesnya tadi!” tegas Hasna masih dengan suara kakek-kakek.
Kemudian, Hasna melemparkan sesuatu di tangan kanannya ke arah ibu Unarti. Padahal, tangan kanan Hasna kosong. Namun sebuah tali tambang berwarna putih, langsung mengikat kedua tangan maupun tubuh ibu Unarti. Ikatan tersebut sangat kuat. Hingga ibu Unarti tak hanya sulit bergerak, tapi juga sulit bernapas.
“Wanita ini memang sangat cantik, tapi lihat apa yang dia perbuat!” batin pak Asnawi.
Maksud pak Asnawi maju, murni karena akan memberi Hasna pelajaran. Namun tiba-tiba, beberapa sosok berpakaian serba putih, keluar dari tubuh Hasna. Sosok-sosok yang tampak sangat bersahaja itu menatap marah pak Asnawi. Mereka yang awalnya hanya berjumlah empat, mendadak menjadi sangat banyak memenuhi gubuk pak Asnawi. Sementara cahaya-cahaya yang keluar dari tubuh mereka, membuat gubuk pak Asnawi mulai terbakar.
Mereka, sosok-sosok yang keluar dari tubuh Hasna dan jumlahnya jadi puluhan, merupakan para leluhur dari keluarga Rain. Para leluhur yang selama satu bulan terakhir menjaga Hasna maupun janinnya.
Kenyataan kini membuat ibu Unarti mendelik, menatap tak percaya bahkan takjub. “Aku pikir, di dunia ini ki Asnawi yang paling kuat. Namun ini, mereka benar-benar membuatku merinding! Padahal pernikahanku dan ki Asnawi, juga pernikahan Rain dan Echa, sengaja dibuat untuk melawa.n janin indigo milik Hasna yang memiliki banyak pelindung!” batin ibu Unarti.
Kakek bermata sipit dan bersorban yang mengetuai leluhur Rain, maju. Alih-alih menik.am pak Asnawi selaku alasan kedua matanya sibuk menatap, kedua kakek bermata sipit itu malah menahan kepala Echa.
Di luar sana, kentong dan perabot dapur kembali ditabuh. Para kuntilanak yang awalnya sedang berkumpul mengawasi ulah Hasna, menjadi keberisikan. Para kuntilanak menggunakan kedua tangannya untuk menutupi telinga mereka erat-erat. Namun karena mereka tidak tahan oleh suara ramai perabotan yang ditabuh maupun kentongan, mereka memutuskan untuk pergi dari sana.
Rasa takut yang berlebihan memang membuat warga, menabuh perabot mereka sangat keras. Selain peot bahkan perabotan sampai ada yang bolong, kentongan juga ada yang retak. Mereka yang menyadari itu, meringis pilu diantara ketakutan mengawal ibu Rere dan Binar.
Sementara di dalam gubuk pak Asnawi yang mulai dikepung api, kakek bermata sipit yang tak lain alm. buyut Rain, dengan segera menembus sekaligus merogoh ubun-ubun Echa. Buyut Rain tersebut berusaha menarik keris yang bersemayam di sana. Detik itu juga kedua mata Echa jadi terbuka dan memelotot!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
karfix gt radial
🤘🤘🤘🤘🤘🤣🤣🤣gak bisa kelingking aja/Joyful//Joyful/
2024-02-16
0
Rumini Parto Sentono
nyoblos dong.....
2024-02-15
0
Firli Putrawan
masya allah iih bnr bnr nyata y inalilahi
2024-02-15
0