Sebagai orang yang berkecimpung di dunia medis, Binar tahu bahwa sosok di atas sana tengah mengalami pendar.ahan. “Kamu meninggal dalam keadaan hamil? Namun, apa maksudmu ada di sini? Ini bukan tempatmu!” tegas Binar marah, meski ia berucap dengan suara lirih.
Binar bermaksud pergi dari sana. Binar ingat, bahwa tadi dirinya membawa lidi lanang. Lidi yang biasa dipakai untuk mengusir hal-hal sekaligus gangguan layaknya sekarang. Biasanya lidi lanang, diberikan kepada orang hamil maupun yang baru melahirkan. Karenanya, Binar sengaja membawanya untuk Hasna.
Hanya saja, tubuh Binar mendadak tidak bisa bergerak. Jangankan berlari, sekadar membuka mulut untuk bersuara saja, Binar yang sudah balik badan membelakangi Echa, tak bisa melakukannya. Justru, Echa yang dengan gesit turun lari dengan cara merangkak layaknya bin.atang bu.as. Binar yang menyaksikan itu langsung bergidik ngeri.
“Astaghfirullah ... astaghfirullah!” seru ibu Rere ketakutan.
Binar masih bisa mendengar semua itu, tapi sekali lagi, Binar tak kuasa melakukan apa-apa.
Di sekitar tempat tidur, Echa yang tampilannya layaknya bina.tang buas. Kuntilanak versi hamil sekaligus pendar.ahan layaknya orang keguguran. Mata merah menyala, lidah terjulur, rambut awut-awutan, wajah pucat gelap, dan melangkahnya merangkak tapi sangat cepat.
Echa yang awalnya melakukan segala sesuatunya dengan cepat, refleks berhenti hanya karena doa-doa yang ibu Rere lakukan. Ibu Rere melemparkan tasbihnya. Kemudian buru-buru lari mengambil lidi lanang dan posisinya ada di depan kaki Hasna.
“Maju! Jangan takut pada apa pun. Ser.ang semua yang berusaha menghalang-halangi kamu dalam meluka.i sekaligus balas dendam kepada Hasna dan Rain!” Suara ibu Unarti, terus menggema di pikiran Echa.
Hingga karena suara itu juga, Echa tak segan menye.rang ibu Rere. Namun dengan refleks ibu Rere menghindar sambil menghan.tam Echa menggunakan lidi lanang.
Tubuh Echa layaknya tersetrum, detik itu juga. Namun dengan cepat Echa bangkit. Echa loncat dan hendak mener.kam Hasna. Akan tetapi, hal di luar nalar terjadi. Tubuh Hasna yang mendadak bercahaya, juga sampai melesat terbang menghindar. Padahal, Hasna masih dalam keadaan tidur.
“Apa lagi, ini?” lemas ibu Rere yang memang belum tahu, bahwa janin dalam perut Hasna, merupakan calon anak indigo. Janin Hasna dilindungi oleh para leluhur pak Ojan—baca novel : Pembalasan Tuan Muda yang Dianggap Sampa.h.
Lagi, Echa yang telanjur dikuasai dendam, berusaha meraih tubuh Hasna. Di atas tempat tidur sekitar tiga meter dari tempat tidur, tubuh Hasna masih di sana berselimut cahaya. Kendati demikian, Echa tetap nekat loncat. Echa bahkan meraih kaki Hasna. Namun kemudian, tubuh Echa layaknya tersetrum. Tubuh Echa kembali jatuh dan lebih parah dari efek sabet.an lidi lanang yang ibu Rere lakukan.
Ibu Rere yang awalnya nyaris pingsan, jadi tidak jadi. Ibu Rere menjadi sangat bersemangat untuk menghan.tam tubuh Echa menggunakan lidi lanang. Kali ini, ibu Rere menggunakan kedua tangannya untuk mengendalikan lidi lanangnya.
Bersama lemahnya Echa, Binar juga jadi bisa bergerak. Binar segera memastikan keluar kamar mandi. Namun di tempat berbeda, di sebuah al.fa yang sudah tutup, ibu Unarti kesakitan.
Ibu Unarti guling-guling, dan seolah merasakan apa yang Echa lakukan.
“Ini aku kenapa?” pikir ibu Unarti di tengah rasa sakitnya. “Atau jangan-jangan, ... Echa?” pikirnya sudah langsung yakin.
“Chaaa, pergi Cha. Pergi jika kamu memang teran.cam!” jerit ibu Unarti dalam hatinya. Jeritan yang juga sudah langsung sampai ke pikiran Echa.
Echa yang awalnya kesakitan, segera merangkak cepat. Echa menembus jendela dengan sangat mudah. Karena saat malam hari hingga subuh, Echa memang sepenuhnya menjelma menjadi kuntilanak.
Tak butuh waktu lama akhirnya Echa sampai di keberadaan ibu Unarti. Ibu Unarti memang sengaja menunggu di sana. Karena ibu Unarti tak mungkin melakukannya di kompleks perumahan orang tua Rain. Yang ada selain bisa berurusan dengan satpam kompleks, ibu Unarti juga bisa berurusan dengan polisi. Mengingat warga di perumahan orang tua Rain tinggal, semuanya merupakan orang kaya.
Alih-alih menolong sang mama, atau setidaknya diam, Echa malah membab.i buta menga.uk ibu Unarta.
“Cha ... Chaa ... ini Mama! Berhenti atau kalai tidak, pergi!” teriak ibu Unarti. Kebetulan, di sekitar sana memang sepi. Hingga apa yang terjadi padanya maupun Echa, tak sampai menjadi pusat perhatian secara langsung.
Wajah, leher, dan juga bagian tubuh Unarti yang lain, mengalami luka caka.r parah. Darah segar merembas, sementara Echa berakhir minggat meninggalkan ibu Unarti.
“Echa ... Cha ... kamu mau ke mana, Cha?” panik ibu Unarti. Ia buru-buru memasang hijabnya dengan benar. Tak mau keadaannya yang terluka akibat caka.ran tajam kuku-kuku Echa, menjadi pusat perhatian.
“Kenapa Echa jadi seperti tadi? Kenapa Echa sampai menyera.ngku? Dan sekarang, Echa ke mana?” batin ibu Unarti masih sibuk mencari Echa. Ia menelusuri jalan yang masih ramai pengendara. Beberapa orang juga menjadikan ibu Unarti sebagai perhatian. Sebab bekas cak.ar di wajah ibu Unarti memang sangat mencolok.
“Echa hilang, aku harus mengabarkan ini ke mbah Asnawi!” lirih ibu Unarti benar-benar kalut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
YuniSetyowati 1999
Baca novel beginian bisa mendekatkan kita pada Gusti Allah 🤭 karena sambil baca sambil sesekali istighfar dan berdzikir menyebut AsmaNYA.
God job Thor 👍 Karna novelmu bisa mendekatkan seorang hamba pd Tuhannya 🤭
2024-04-06
2
🥰Siti Hindun
Nah kan, apa ga ngeri tuh bu? okelah niat ibu itu untuk balas dendam terhadap Rain dn Hasna, tapi apa yg terjadi? ibu jg turut terluka kan akibat ulah Echa🙄🙄
2024-02-19
0
Eka suci
jadi pengasuh Kunti repot sendiri
2024-02-16
0