Semuanya sudah diamankan. Dari Rain, pak Asnawi, dan juga ibu Unarti. Mereka ada di rumah sakit yang ditunjuk pihak kepolisian. Karena apa yang menimpa Rain, memang sengaja pihak Rain laporkan kepada polisi.
Pak Asnawi dan ibu Unarti langsung dijadikan tersangka. Meski khusus untuk ibu Unarti, masih berusaha diperjuangkan oleh pak Handoyo sang suami.
“Anak kita di mana, Bu? Echa putri kita, di mana?” tanya pak Handoyo merasa frustrasi.
Mata pak Handoyo sudah sembab. Rambut di kepalanya juga acak-acakan. Pria bertubuh jangkung tersebut juga kerap mondar-mandir di sekitar ranjang rawat ibu Unarti. Hanya saja, ibu Unarti tetap saja diam.
Sejak malam ibu Unarti ditemukan, hingga kini sudah jam makan siang, tak ada perubahan berarti dari ibu Unarti. Tatapan ibu Unarti tetap kosong. Bibirnya yang kering dan sangat pucat seolah terkunci. Ibu Unarti jelas masih hidup, tapi jiwanya seolah mati.
Pak Handoyo memutuskan untuk menemui pak Asnawi yang ada di ruang rawat sebelah.
“Wanita itu siapa dan kenapa?” tanya polisi masih berusaha mengumpulkan informasi mengenai keadaan ibu Unarti. Kenapa ibu Unarti sudah diajak komunikasi.
“Saya tidak tahu,” jawab pak Asnawi. Jawaban yang selalu sama di setiap pertanyaan yang pria itu dapatkan.
“Lah si mbah ini jawabannya seba enggak tahu. Jelas-jelas, wanita itu ada bersama si Mbah. Warga yang menemukan juga membenarkan. Saat kejadian, Mbah sedang praktik perdukuna.n, kan?” ucap polisi lagi.
Dari balik pintu ruang rawat pak Asnawi yang sedikit dibuka, pak Handoyo mengintip. Pak Handoyo menyimak keterangan yang pak Asnawi berikan. Namun, balasan pria tua itu tetap tidak membuatnya menemukan titik terang.
“Pak,” ucap seorang wanita dan tidak lain Hasna.
Sapaan Hasna barusan membuat pak Handoyo terusik. Pak Handoyo yang nyaris menerobos masuk ruangan pak Asnawi, berangsur memastikan, membuatnya mendapati Hasna.
“Bukannya bermaksud kurang sopan bahkan kurang aj.ar. Namun sepertinya, mbah Asnawi sudah menyes.atkan istri Bapak. Coba, biarkan istri Bapak dirukiyah. Takutnya memang masih ada sisa hal-hal syiri.k yang sudah mbah Asnawi tanamkan!” ucap Hasna.
“Suami saya saja berusaha dinikahkan dengan demi.t. Ngeri,” ucap Hasna melanjutkan. Meski sampai kini, pak Handoyo masih diam.
Diamnya pak Handoyo tak semata karena pria kurus itu merenungi sekaligus mempertimbangkan ucapan Hasna. Namun, pak Handoyo telanjur tertampar pada kenyataan. Sebab istrinya pernah bersikukuh untuk membangkitkan Echa yang sudah meninggal. Mau tak mau, otak pak Handoyo tidak bisa untuk tidak memikirkannya. Apalagi pak Handoyo sudah membuktikan sendiri, Echa yang awalnya mati, sempat dibawa pulang ke rumah mereka oleh ibu Unarti.
Karena ibu Unarti masih dalam pengawasan polisi, mereka yang akan merukiyah, sengaja dibawa ke ruang rawat ibu Unarti. Pihak kepolisian meminta izin secara khusus kepada rumah sakit.
Dua orang polisi masih jaga-jaga di depan pintu ruang rawat ibu Unarti ditangani. Ibu Rere dan Binar juga sengaja datang untuk menyaksikan rangkaian rukiyah. Binar dan ibu Rere bermaksud mencari informasi mengenai apa yang sudah terjadi pada Rain, hingga berakhir di kediaman pak Asnawi.
Serangkaian doa mulai digelar oleh tujuh pria yang datang. Belum apa-apa, kedua mata ibu Unarti jadi jelalatan. Ibu Unarti tampak sangat tertantang sekaligus marah. Kedua bola matanya menjadi berwarna putih sempurna. Kemudiaan ia tertawa. Tawa lepas nyaris tak berjeda layaknya kuntilanak. Tawa lepas yang juga menggema dan akan makin keras, di setiap doa rukiyah terus dilanjutkan.
Binar dan ibu Rere saling menguatkan. Kedua tangan mereka saling menggenggam. Harap-harap cemas mereka menjadi bagian di sana.
“Hahahaha .... hahahahaha!” tawa ibu Unarti yang mendadak melesat ke atas. Punggungnya menempel di langit-langit ruang rawat kebersamaan mereka. Sementara kedua kakinya bertumpu pada kusen jendela.
“Astagfirullahadzim,” ucap semuanya kompak. Semuanya termasuk ibu Rere, Binar, dan juga pak Handoyo, refleks menengadah hanya untuk menatap ibu Unarti.
“Tubuh ini saya kunci. Hanya dia yang sudah dijadikan sekutu untuk saya yang bisa membebaskannya!” ucap ibu Unarti dengan suara wanita muda, dan dilanjut dengan tawa sangat nyaring.
“Kalian tidak usah ikut campur. Ini hukuman untuknya yang sudah berani melangkah sangat jauh!” ucap ibu Unarti lagi masih dengan suara wanita muda.
“Kalau boleh tahu, melangkah sangat jauh yang ibu Unarti lakukan, itu yang seperti apa?” tanya pak kyai yang memang memimpin jalannya rukiyah di sana.
Di tengah penampilannya yang begitu bering.as sekaligus bengis, ibu Unarti berangsur menatap sang kyai. Namun sebelum ibu Unarti berucap menjawab pertanyaan sang kyai, lagi-lagi ia tertawa. Tawa nyaring, menggema, dan selalu membuat semuanya merinding.
“Dia sudah menjadi istri durhaka. Ibu gil.a, bahkan ... golongan syirik!” ucap ibu Unarti.
Suara tadi tetap masih bukan suara ibu Unarti. Pak Handoyo maupun ibu Rere yang memang paham suara ibu Unarti, jadi sibuk merinding. Ibu Unarti jelas tengah dikuasai arwah jaha.t.
“Hey kau Handoyo, istrimu sudah berulang kali berse.tubuh dengan dukun itu. Yakin, kamu masih mau dan bisa memaafkan apalagi menanggung dosanya?” lanjut ibu Unarti yang lagi-lagi ngakak.
Bukan hanya rahasia hubungan ibu Unarti dan pak Asnawi saja yang dibongkar di acara rukiyah tersebut. Karena nasib Echa, Rain dan juga Hasna, juga.
Selanjutnya, semua perhatian menjadi tertuju kepada pak Handoyo. Masihkah pak Handoyo mau mempertahankan ibu Unarti? Karena selain telah mengkhianati pak Handoyo dan itu sampai zina beberapa kali, ibu Unarti juga telah menyesa.tkan Echa? Tak kalah berat, dosa syiri.k yang sudah ibu Unarti lakoni.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
🥰Siti Hindun
pasti dilema tuh jadi pak Handoyo😔
2024-02-19
0
Firli Putrawan
itu jd petunjuk dr bu unarti
2024-02-16
0
Nanik Arifin
wuaah, tnyata banyak yg takut kalo bacanya malam. kalo menurutku lebih bikin deg" an yg cerita aqwa & Ki awet
2024-02-16
0