19 : Echa yang Berusaha Membun.uh Hasna

Baru membuka mata, pandangan Hasna sudah dipenuhi wajah Echa. Echa memberikan tampang wajah yang sangat menyeramkan. Kedua mata Echa berwarna merah dan seolah mengobarkan api. Akan tetapi yang membuat Hasna tidak tahan, ialah belatu.ng kecil dan tak hentinya berjatuhan dari wajah Echa. Karena wajah Echa yang sebelumnya hanya pucat gelap, kini dipenuhi koreng berwarna merah menyala.

Aroma anyir juga turut Hasna ci.um dari wajah Echa. Hingga yang ada, Hasna juga merasa mual luar biasa. Ditambah lagi, efek hamil memang membuat Hasna makin sen.sitif terhadap aroma.

Dari cara Echa menatap Hasna, kuntilanak bunting itu terlihat sangat dendam kepada Hasna. Belat.ung-bela.tung dari wajah Echa mengenai bahkan tinggal di wajah Hasna, seolah sengaja menegaskan dendam sang pemilik. Hasna refleks menahan napas karena memang merasa geli bahkan ji.jik. Akan tetapi, Hasna sengaja bersikap biasa. Hasna sengaja membuat Echa tak curiga, bahwa sebenarnya, ia bisa melihat Echa.

Hanya saja tak lama kemudian, kedua tangan Echa berangsur mencek.ik leher Hasna. Kuku-kuku jemari tangan Echa berangsur memanjang, hingga leher Hasna sepenuhnya dalam cek.ikkannya.

Hasna refleks bersuara layaknya orang yang dice.kik pada umumnya. Hasna langsung kesulitan bernapas. Darah Hasna menjadi terasa panas akibat pasokan oksigen yang makin menipis. Namun sebisa mungkin, Hasna tetap berusaha menghindari kontak mata dari Echa.

“Kamu harus mati! Kamu harus mati agar kamu tidak mengganggu suamiku lagi!” ucap Echa dan Hasna bisa mendengarnya.

Seperti yang Hasna yakini, Echa memang masih sangat dendam kepadanya. Yang membuat Hasna heran, kenapa Echa beranggapan bahwa Hasna mengganggu suami Echa? Hingga Echa berharap Hasna mati agar tidak mengganggu suami Echa lagi?

“Apakah ini masih berkaitan dengan pernik.ahan gaib yang kemarin-kemarin dilakukan ibu Unarti kepada Echa dan mas Rain?” pikir Hasna masih susah payah berusaha menyingkirkan kedua tangan Echa dari lehernya, menggunakan kedua tangan.

“Astagfirullahadzim ... astagfirullahadzim ... subhanallah ... subhanallah ....” Susah payah Hasna mengucapkannya.

Bersama dengan apa yang Hasna ucapkan, Echa mulai kepanasan. Karenanya, Echa sengaja menggunakan tangan kanannya untuk mena.mpar bibir Hasna agar Hasna berhenti berdoa.

“Tutup mulutmu! Tubuhku panas di setiap kamu berdoa begitu!” kesal Echa.

“Astagfirullahadzim ...,” ucap Hasna yang lagi-lagi refleks.

Hasna merasa tak habis pikir, kenapa Echa tetap membuat masalah, meski Echa sudah mati? Kenapa Echa tetap jahat, menyusahkan orang lain, bahkan meski kini Echa bukan lagi manusia?

“A'udzu billahi minas-syaitanir-rajimi. Bismillahirrahmanirrahim! Qul a'uzu birabbin naas. Malikin naas. Ilaahin naas ....” Makin Hasna sibuk berucap, makin kepanasan pula Echa yang masih mencek.iknya.

“Tutup mulutmu!” kesal Echa kembali mencek.ik leher Hasna sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya.

Echa sadari, tubuhnya yang mengeluarkan asap. Seolah, itu memang efek terbakar akibat doa-doa yang Hasna lakukan.

Angin kencang mendadak berembus dan mengacaukan suasana di sana. Bukan hanya gorden saja yang bergerak-gerak mengikuti arah embusan angin. Karena meja dan perabotan yang ada di sana juga gemetaran hebat.

Suasana di sana mirip terkena gempa berkekuatan kencang, yang juga dibarengi dengan angin kencang. Tak lama kemudian, kabut hitam berdatangan dari segala arah bahkan itu atas dan bawah. Kabut hitam tersebut mengepung keadaan di sana. Kaca jendela tunggal dekat lemari sepatu, sampai lolos dan berakhir pecah.

Ternyata kabut hitam tadi mengiringi kedatangan makhluk tak kasatmata. Mereka yang datang rombongan dan dari jenis sekaligus rupa berbeda, langsung mendekati Hasna. Mata mereka termasuk mereka yang memiliki banyak mata di wajahnya, menatap penasaran wajah Hasna. Karen di mata mereka, tubuh apalagi perut Hasna dalam keadaan bersinar. Tubuh Hasa berbeda dari kebanyakan manusia normal.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un apa lagi ini? Ya Allah ... ya Allah tolong, ya Allah. Hamba susah napas. Astaghfirullah ...!” Hati kecil Hasna terus memohon perlindungan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Sederet doa juga turut ia panjatkan, meski kini, Hasna hanya bisa melakukannya di dalam hati.

tak lama kemudian, tiba-tiba saja dari perut Hasna muncul cahaya putih sebesar kunang-kunang. Cahaya tersebut terbang kemudian menuju pintu. Tak lama setelah menempel ke pintu kamar, pintu kamar tersebut berangsur terbuka dengan terb.anting. Suasana yang awalnya sepi menjadi dihiasi suara Rain.

“Sayang, kamu baik-baik saja? Kamu jatuh? Yang ...?” seru Rain lagi seiring langkah cepat yang terdengar mendekat.

Tak disangka, suara Rain sudah langsung membuat Echa ketakutan. Suara Rain mengalahkan sederet doa yang sedari tadi Echa panjatkan. Echa buru-buru melepaskan cek.ikkannya. Hanya saja, Hasna telanjur pingsan bersamaan dengan para leluhur yang keluar dari tubuh Hasna.

Para leluhur mendekati, menggiring makhluk-makhluk tak kasatmata di kamar Hasna dan jumlahnya memang puluhan. Para leluhur yang bercahaya putih, membuat para makhluk tak kasatmata dengan berbagai rupa, menyingkir.

“Biarkan kami meminum dar.ahnya. Da.rahnya sangat wangi!” ucap beberapa dari mereka.

Akan tetapi, Kakek Buyut Rain yang sudah berada di garda terdepan para leluhur berkata, “Berani kalian meminum bahkan sekadar menyentuhnya, Kalian langsung ma.ti!”

Sempat menyepelekan apa yang kakek buyut Rain katakan, para makhluk tak kasatmata malah tertawa. Tawa yang tentu saja sengaja mereka lakukan untuk mengeje.k Kakek Buyut Rain.

Di tengah tawa yang pecah, cahaya mirip kunang-kunang yang sempat membuat pintu terban.ting, datang. Cahaya tersebut mengelilingi para makhluk tak kasatmata, memenjarakan mereka dengan kobaran api. Detik itu juga para makhluk tak Kasatmata ketakutan. Semuanya kompak menghilang meninggalkan asap hitam sebagai kenang-kenangan.

“S—sayang!” sergah Rain yang akhirnya datang.

Sempat berhenti berlari tepat di depan pintu, Rain segera menghampiri sang istri. Akan tetapi, Rain tidak menyadari ada cahaya terang sebesar kunang-kunang, masuk ke dalam perut Hasna. Para leluhur tak lagi masuk ke tubuh Hasna. Mereka kompak menghilang dengan senyuman damai.

“Kenapa berantakan begini? Sebenarnya apa yang terjadi?” sergah Rain sambil menepuk-nepuk pelan pipi sang istri.

“Mama akan selalu baik-baik saja, Pa. Aku janji, aku akan menjaga Mama. Karena adanya aku memang agar Mama maupun Papa, baik-baik saja. Akulah pelindung kalian dari dendam sang kuntilanak itu!” ucap suara bocah laki-laki dan Rain bisa mendengarnya.

“Suara tadi?” Lirih Rain yakin, tadi memang ada suara. Suara yang ia yakini bersumber dari perut sang istri.

Saking penasarannya, Rain sengaja menempelkan sebelah telinganya ke perut Hasna. Rain melakukannya dengan sangat hati-hati. Namun, kali ini Rain tak lagi mendengar suara. Dari perut Hasna yang memang sudah dihiasi gunungan mungil, sama sekali tidak dihiasi tanda-tanda suara. Malahan, Rain mendengar rintih sakit suara Hasna. Benar saja, Hasna sadar.

Kedua kelopak mata Hasna bergerak-gerak. Sementara bibir Hasna jadi sibuk meringis khas menahan sakit

Rain langsung mengambil segelas air minum. Namun kemudian, ia menaruhnya lagi di meja karena sadar, Hasna tak mungkin minum menggunakan gelas, dalam keadaan masih tiduran. Karenanya, Rain sengaja membantu Hasna duduk lebih dulu.

“Kamar sangat berantakan, ... berarti yang aku alami tadi bukan mimpi,” batin Hasna seiring ia yang minum dengan sangat hati-hati. Selain itu, ia juga merasa sakit luar biasa di bagian lehernya. Di sana seolah ada efek memar bahkan terbakar.

“Leherku, ... ini tadi yang dice.kik Echa, kan?” batin Hasna lagi sambil meraba lehernya menggunakan tangan kiri.

Rain yang sebenarnya merasa keadaan di kamarnya, sudah di luar nalar, sengaja memastikan keadaan leher Hasna. Betapa terkejutnya Rain karena di leher Hasna ada bekas ce.kikan. Bekas ceki.kkan tersebut berwarna ungu gelap. Tengkuk Hasna sampai berda.rah meski memang tidak banyak. Luka di tengkuk Hasna khas luka teka.nan kuku tajam.

“Apakah ini masih karena si kuntilanak bunting itu?” pikir Rain benar-benar emosi.

Terpopuler

Comments

🥰Siti Hindun

🥰Siti Hindun

Ish dasar demit🙄.. Waktu jdi manusia aja kamu jahat'y g ketulungan Cha, apa lagi sekarang..

2024-02-19

0

IG : @Rositi92❣️❣️🏆🏆💪🤲

IG : @Rositi92❣️❣️🏆🏆💪🤲

Bab selanjutnya sudah aku setorin ya. Masuk angin bikin aku enggak berdaya 😂😂😂

2024-02-17

0

Ifah Al Azzam Jr.

Ifah Al Azzam Jr.

gemes aq sama hasna dan rain knp gak ngomong langsung nc msh maen rahasia² aja...

2024-02-17

0

lihat semua
Episodes
1 1. Dendam yang Tak Berkesudahan
2 2 : Firasat yang Sudah Hasna Rasakan
3 3 : Ritual Pembangkitan
4 4 : Kekuatan Yang Menghalangi Ritual
5 5 : Titisan Kuntilanak
6 6 : Semuanya Sudah Dimulai
7 7 : Echa yang Sudah Langsung Mengincar Hasna
8 8 : Teror yang Benar-Benar Dimulai!
9 9 : Pelindung Hasna
10 10 : Kamu Harus Mati!
11 11 : Tersesat
12 12 : Sengaja Dises.atkan
13 13 : Jebakan Gaib
14 14 : Pertolongan Dari Para Leluhur
15 15 : Gara-Gara Keris
16 16 : Rukiyah
17 17 : Tali Pengikat Jodoh Gaib
18 18 : Kuntilanak Bunting
19 19 : Echa yang Berusaha Membun.uh Hasna
20 20 : Kesempatan Membalaskan Dendam
21 21 : Warga yang Jadi Resah
22 22 : Ibu Unarti yang Mulai Berulah
23 23 : Korban yang Mulai Berjatuhan
24 24 : Akibat Menjalani Perjanjian Gaib
25 25 : Bayaran yang Harus Diberikan
26 26 : Kedatangan Echa
27 27 : Ingin Balas Dendam
28 28 : Beraksi
29 29 : Kedatangan Hasna Dan Bertemu Ibu Unarti
30 30 : Kemarahan Ibu Unarti Kepada Rain
31 31 : Kemunculan Echa Dan Ulah Baru Pak Asnawi
32 32 : Mencabut Keris Dari Ubun-Ubun Ibu Unarti
33 33 : Kematian Ibu Unarti
34 34 : Jenazah yang Ditolak Bumi
35 35 : Bocah Berwajah Pak Asnawi
36 36 : Jebakan Balik
37 37 : Menuju Final Dendam
38 38 : Melawan Sang Dukun
39 39 : Berharap Keajaiban
40 40 : Ternyata Hamparan Pemakaman
41 41 : Nama Untuk Anak Echa
42 Akhir Kisah
43 Novel : Menikahi Wanita Taruhan
44 Novel Rain Dan Hasna (Sudah Tamat)
45 Promo Novel : Anak Kuntilanak Dan Teror Di Hutan Tua
46 Novel Anak-Anak : Tumbal Pengantin Kebaya Merah
Episodes

Updated 46 Episodes

1
1. Dendam yang Tak Berkesudahan
2
2 : Firasat yang Sudah Hasna Rasakan
3
3 : Ritual Pembangkitan
4
4 : Kekuatan Yang Menghalangi Ritual
5
5 : Titisan Kuntilanak
6
6 : Semuanya Sudah Dimulai
7
7 : Echa yang Sudah Langsung Mengincar Hasna
8
8 : Teror yang Benar-Benar Dimulai!
9
9 : Pelindung Hasna
10
10 : Kamu Harus Mati!
11
11 : Tersesat
12
12 : Sengaja Dises.atkan
13
13 : Jebakan Gaib
14
14 : Pertolongan Dari Para Leluhur
15
15 : Gara-Gara Keris
16
16 : Rukiyah
17
17 : Tali Pengikat Jodoh Gaib
18
18 : Kuntilanak Bunting
19
19 : Echa yang Berusaha Membun.uh Hasna
20
20 : Kesempatan Membalaskan Dendam
21
21 : Warga yang Jadi Resah
22
22 : Ibu Unarti yang Mulai Berulah
23
23 : Korban yang Mulai Berjatuhan
24
24 : Akibat Menjalani Perjanjian Gaib
25
25 : Bayaran yang Harus Diberikan
26
26 : Kedatangan Echa
27
27 : Ingin Balas Dendam
28
28 : Beraksi
29
29 : Kedatangan Hasna Dan Bertemu Ibu Unarti
30
30 : Kemarahan Ibu Unarti Kepada Rain
31
31 : Kemunculan Echa Dan Ulah Baru Pak Asnawi
32
32 : Mencabut Keris Dari Ubun-Ubun Ibu Unarti
33
33 : Kematian Ibu Unarti
34
34 : Jenazah yang Ditolak Bumi
35
35 : Bocah Berwajah Pak Asnawi
36
36 : Jebakan Balik
37
37 : Menuju Final Dendam
38
38 : Melawan Sang Dukun
39
39 : Berharap Keajaiban
40
40 : Ternyata Hamparan Pemakaman
41
41 : Nama Untuk Anak Echa
42
Akhir Kisah
43
Novel : Menikahi Wanita Taruhan
44
Novel Rain Dan Hasna (Sudah Tamat)
45
Promo Novel : Anak Kuntilanak Dan Teror Di Hutan Tua
46
Novel Anak-Anak : Tumbal Pengantin Kebaya Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!