Cahaya berwarna merah yang begitu menyilaukan, mengiringi keluarnya Keris yang ditarik oleh buyut Rain.
Buyut Rain mengambil keris di ubun-ubun Echa. Tubuh Echa mulai bergerak-gerak layaknya mereka yang mengalami ayan. Tanpa pikir panjang, buyut Rain sengaja menggunakan kedua tangannya untuk memegang keris. Menggunakan keris tersebut, ia memotong benang merah maupun potongan kain mori yang mengikat jari manis tangan kanan Rain dan Echa.
Hanya dengan menempelkan keris ke benang merah sekaligus kain mori, keduanya putus dengan agak terbakar.
“Bede.bah! Set.an kurang ajar!” kesal pak Asnawi buru-buru menuju meja biasa dirinya melakukan ritual doa.
Echa mendadak bering.as. Echa yang masih bertingkah layaknya binata.ang buas, berangsur merangkak di atas meja. Seolah mencoba mengenali sekitar, pandangannya langsung tertuju kepada pak Asnawi. Detik berikutnya, tanpa pikir panjang, Echa loncat tak ubahnya Citah yang tengah mengincar mangsanya.
Pak Asnawi berakhir diti.kam oleh Echa. Pak Asnawi meraung kesakitan sekaligus meminta Echa untuk berhenti. Kedua tangan Echa yang kembali dihiasi kuku panjang hitam, tak hentinya mencab.ik pak Asnawi. Bersamaan dengan itu, Echa juga tak hentinya meraung layaknya tengah meluapkan dendamnya.
Ibu Unarti menatap ngeri kenyataan kini. Namun, ketimbang merasa ngeri pada apa yang menimpa sang suami. Ibu Unarti jauh lebih merasa ngeri pada keris di tangan buyut Rain yang dilempar ke arahnya.
Ibu Unarti yang masih bisa berjalan bahkan lari, buru-buru menghindar. Akan tetapi, keris tadi seolah tidak akan pernah meninggalkannya. Karena ke manapun ibu Unarti pergi, keris itu juga selalu mengikuti.
Setelah lari ke sana kemari, ibu Unarti berakhir di belakang buyut Rain. Ia terjatuh dalam keadaan meringkuk. Sementara tubuh dan kedua tangan ibu masih terikat kencang. Bersama waktu yang seolah berputar lebih cepat, kedua mata ibu Unarti menatap ngeri keris yang masih dikuasai cahaya merah layaknya kobaran api. Keris tersebut berhenti tepat di hadapan sekaligus atasnya. Meski ia menggeleng dan hati pun terus memohon pertolongan, pada akhirnya keris tersebut tetap menembus ubun-ubun ibu Unarti.
Detik selanjutnya, ibu Unarti langsung diam, tak ada sedikit pun suara yang keluar dari bibir ibu Unarti. Sekadar rintih kesakitan juga tidak ada, meski kedua matanya melotot nyaris keluar dari rongga mata. Rambut ibu Unarti yang awalnya disanggul juga perlahan tergerai memanjang sekaligus kusut. Tak kalah mencolok, ialah warna kulitnya yang jadi menghitam pucat. Penampilan ibu Unarti tak beda dari penampilan kuntilanak pada kebanyakan.
Di luar gubuk, ibu Rere dan Binar, mendadak heboh bersama warga. Mereka mempermasalahkan kenyataan gubuk pak Asnawi yang terbakar. Berbeda dari sebelumnya, kali ini warga bisa melihat gubuk pak Asnawi.
“Hasna ada di sana, Bi. Hasna ... Hasna bahkan Rain ada di sana!” tangis ibu Rere ketika langkahnya ditahan oleh Binar.
“Biar aku yang masuk, Ma. Keadaan Mama yang panik beneran enggak mendukung. Tenangkan diri Mama. Cukup bantu doa saja!” tegas Binar yang kemudian berkata, “Aku dan warga akan mengurus semuanya!”
Seperti yang Binar katakan, di tengah kegelapan malam yang disinari kobaran api dari gubuk pak Asnawi. Di alas yang dari keadaannya terlihat sangat angker dan selalu membuat pengunjungnya merinding. Binar menerobos masuk.
Alih-alih menghilang apalagi minggat layaknya Echa, para leluhur Rain kembali masuk ke tubuh Hasna. Tubuh Hasna yang awalnya meringkuk lemas tak jauh dari ibu Unarti, perlahan sadar.
Warga maupun Binar menemukan semuanya dalam formasi nyaris lengkap. Binar sengaja memapah Hasna. Sementara warga ada yang memboyong Rain, pak Asnawi, maupun ibu Unarti.
Sampai detik ini, Rain masih belum sadarkan diri. Sementara pak Asnawi dalam keadaan terluka parah. Tubuh pak Asnawi penuh ca.karan. Dan khusus untuk ibu Unarti, wanita tua itu tetap saja diam. Diboyong pun, ibu Unarti nyaris tak memberikan ekspresi berarti.
“Berat banget!” keluh dua pria yang memapah ibu Unarti. Mereka kewalahan dan sampai minta gantian.
“Yang laki-laki saja ringan, masa yang ibu-ibu begitu, berat!” ucap bapak-bapak yang membopong Rain. Ia melakukannya dengan seorang temannya dan tidak mengalami kendala berarti.
“Kalau enggak percaya, ya sini gantian. Biar kalian merasakan sendiri betapa beratnya tubuh ibu ini!” sebal pria yang memapah ibu Unarti.
Saking beratnya tubuh ibu Unarti, kedua pria yang memapah ibu Unarti, memutuskan untuk berhenti. Padahal, gubuk pak Asnawi yang ada di belakang mereka sudah sepenuhnya terbakar. Yang berada tepat di belakang mereka sampai roboh menimpa kepala ibu Unarti. Hingga rambut panjang nan kusut milik ibu Unarti, terbakar sebagian.
Menyaksikan apa yang menimpa ibu Unarti dan kedua pria yang menolong. Keempat pria yang menggotong pak Asnawi, refleks melempar tubuh pak Asnawi. Keempatnya berbondong-bondong membantu kedua rekannya. Seperti kedua rekannya, mereka juga kewalahan memboyong tubuh ibu Unarti. Alasannya masih sama, yaitu tubuh ibu Unarti yang sangat berat. Mereka seperti sedang berusaha memboyong beton besi berukuran sangat besar.
“Sayang!” sergah Hasna yang sudah kembali dengan suaranya.
Hasna yang masih terlihat lemas, berusaha menyadarkan Rain. Ibu Rere dan Binar refleks saling tatap. Kedua wanita yang sedari awal menjadi saksi perjalananan Hasna, belum sepenuhnya baik-baik saja. Keduanya masih dibebani tanda tanya sekaligus ketakutan. Apalagi yang mereka lawan bukanlah manusia atau malah mons.ter. Melainkan makhluk halus yang tentu saja tak semestinya menjadi lawa.n mereka.
Rain yang dipangku ibu Rere tetap sulit sadar. Kedua mata Rain tetap terpejam. Akan tetapi, perhatian Hasna lebih tercuri kepada keadaan ibu Unarti. Ibu Unarti yang penampilannya jadi seram, malah menjelma menjadi beban para warga di sana.
“Coba saya teleponkan suaminya buat urus ya, Bapak dan Mas sekalian!” ucap Hasna agak berseru lantaran keadaan di sana terbilang riuh. Suara bapak-bapak maupun pemuda yang tengah bergotongroyong memboyong tubuh ibu Unarti lah, penyebabnya.
“Oh, ternyata si Neng kenal ibu-ibu ini?” tanya salah satu dari mereka.
Malam yang gelap. Api yang berkobar-kobar. Gagak hitam yang mendadak berterbangan menguasai langit. Menjadi saksi kebersamaan mencekam kali ini. Rain tetap belum tak sadarkan diri. Termasuk juga pak Asnawi yang akhirnya pingsan. Sementara ibu Unarti, meski kedua matanya terbuka dan tatapannya kosong, ia tetap tidak bisa diajak komunikasi.
Awalnya mereka akan dibagi menjadi dua rombongan. Namun rombongan yang membawa ibu Unarti merasa keberatan jika mereka ditinggal. Jadilah sebagai seorang dokter dan paham dunia medis, Binar sampai memastikan keadaan pak Asnawi.
“Ma, coba dibantu doa. Doa seorang mama kan paling ampuh buat segala kelancaran bahkan kesembuhan anak-anaknya. Begitu juga doa seorang istri juga selalu jadi paling ampuh untuk segala kebaikan sekaligus rezeki suaminya, Na,” ucap Binar dan langsung dijalani oleh Hasna maupun ibu Rere.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
ERNY TRY SANTY
akhirnya Rain terbebas jg dr ilmu sihirnya pak Asnawi..Bu unarti bs jd emaknya kuntilanak ini 😁..brasa aq ada di cerita ini ,jd ikut deg" an takut Rain ga bs terselamatkan dr pengaruhnya sihir😰
2024-02-15
1
IG : @Rositi92❣️❣️🏆🏆💪🤲
Bab selanjutnya belum acc ❤️
2024-02-15
0
Rendi Subagja
alahamdulillah rain selamat, itu emak echa jd kunkun yaa mbak
2024-02-15
0