Hasna melangkah sambil memegangi pangkal perutnya menggunakan tangan kiri. Hasna merasa agak mual, dan kembali kurang enak badan. Kendati demikian, Hasna tetap hendak berusaha memastikan. Raket nyamuk sengaja Hasna bawa menggunakan tangan kanan, untuk jaga-jaga. Takut yang sampai detik ini masih heboh justru kucing li.ar nan galak yang tak segan menye.rang sekaligus meluk.ai Hasna.
“Mmm ....” Belum apa-apa, aroma wewangian di gorden kamar Rain dan akan Hasna buka, malah membuat rasa muat Hasna makin parah.
Hasna tak jadi membuka jendelanya dan justru masuk kamar mandi di belakangnya.
“Duh, kenapa gordennya bau parfum mirip minyak nyom-nyom? Pantas, dari tadi kayak bau apa?” batin Hasna yang akhirnya sibuk muntah.
Hasna sengaja membiarkan air kran wastafel dalam keadaan menyala terus. Namun, suara layaknya langkah cepat di atap sana, masih bisa Hasna kenali sekaligus dengar dengan jelas. Suara yang bagi Hasna mirip dengan suara yang menggedor-gedor jendela.
“Suara langkahnya berat loh. Kalau memang kucing, bahkan kambing sekalipun, enggak seberat itu. Itu mirip suara langkah dari manusia,” pikir Hasna yang sengaja mematikan air kerannya. Kedua tangannya masih berpegangan pada keran wastafel.
Hati kecil Hasna meminta, agar Hasna memastikan segera. “Mencurigakan, dan harusnya memang manusia. Namun siapa, sekaligus mau apa? Bentar, ... gerakan dia mirip bina.tang bu.as, cepat tak beraturan. Masa iya, dia manusia dan tingkahnya mirip bin.atang bu.as?!” Dari cocok logi yang Hasna lakukan, itulah hasilnya.
Manusia bertingkah layaknya bina.tang bua.s. Hasna yakin itu, meski sebenarnya tidak masuk akal. Apalagi di zaman serba canggih layaknya sekarang. Namun setelah merenung lagi, Hasna jadi ingat berita vira.l pagi ini. Berita vira.l mengenai bayi yang jadi korban bin.atang bu.as. Berita yang juga membuat Hasna tidak mau ditinggal Rain bekerja. Karena kalau bisa, Hasna ingin ikut.
“Jangan-jangan, itu dia. Makhluk yang sudah menye.rang bayi tak berdosa!” Memikirkan itu, Hasna makin emosional.
Hasna yang memang tipikal pemberani, sengaja mengerahkan seluruh tenaganya untuk melangkah menuju pintu balkon kamar. “Enggak bisa dibiarkan. Yang begini harus diurus bahkan dibas.mi tuntas!” tegas Hasna yang jadi menggunakan kedua tangannya untuk memegang raket nyamuk.
Pintu balkon sengaja Hasna buka dengan hati-hati. Hasna melakukannya agar tidak mengundang kecurigaan dari makhluk yang akan Hasna tangani. Namun secepat kilat seolah ada yang loncat dari atas. Sosok itu berwajah pucat dengan kedua mata berwarna merah menyala. Sosok yang bagi Hasna sangat menyer.amkan sekaligus sukses membuat wanita itu nyaris jantungan.
Saking takutnya, Hasna refleks menjerit. Namun bersamaan dengan itu, kedua tangannya juga mengh.antam wajah menyeramkan tersebut menggunakan raket. Hasna melakukannya sekuat tenaga.
Sosok berwajah seram tadi terlempar mengikuti hanta.man Hasna, tapi Hasna juga berakhir pingsan.
***
Sudah malam, tapi Hasna masih tak kunjung bangun. Sore menjelang petang, ibu Rere menemukan Hasna dalam keadaan pingsan di balkon.
“Pingsan hanya pingsan, tapi sampai terluka, Ma?” tanya Binar yang kebetulan baru datang karena memang baru dihubungi juga oleh ibu Rere.
Ibu Rere yang masih gelisah karena terlalu khawatir, berangsur menggeleng. “Setelah Mana pastikan, enggak apa-apa. Enggak ada luka fatal apalagi sampai pendarahan.”
Binar yang menatap serius keadaan Hasna menggunakan kacamatanya, berangsur menatap situasi sekitar. “Mama bilang, Hasna ditemukan pingsan di depan pintu, tapi sambil pegang raket elektrik nyamuk. Yang aku tahu, sejauh ini Hasna sangat pemberani. Hasna bahkan jago bela diri. Sementara raket begini enggak hanya berguna buat usir nyamuk, tapi juga bisa dimanfaatkan buat mu.kul lawan yang lebih tangkas dari nyamuk,” pikir Binar.
Binar memastikan detak jantung kemudian denyut nadi. Namun sebelumnya, Binar yang seorang dokter juga mengukur suhu tubuh Hasna. Termometer di ketek kanan Hasna sudah bunyi. Ibu Rere yang masih terjaga di sana, segera mengambilnya.
“Berapa Ma, suhu tubuh Hasna?” lembut Binar yang masih bisa merasakan kehidupan janin di perut Hasna menggunakan stetoskop.
“Tiga puluh sembilan, Sayang. Aduh, ini demam tinggi. Padahal tadi baru tiga puluh tujuh.” Ibu Rere benar-benar khawatir. Apalagi, belum genap satu hari Hasna ditinggal keluar kota untuk bekerja oleh Rain.
“Aku bantu lewat infus karena darah Hasna juga rendah banget. Lihat, wajahnya sampai pucat,” ucap Binar yang mulai khawatir kepada Hasna. Sebab Hasna juga mulai mengigau.
Sebenarnya, Hasna sedang bermimpi. Hasna melihat awal mula ibu Unarti menemui pak Asnawi. Awalnya Hasna melihat itu dari kejauhan. Namun setelah ibu Unarti sampai menggendong poco.ng berwajah Echa ke gubuk pak Asnawi, Hasna diajak menyaksikan dari jarak yang lebih dekat.
Hasna melihat proses pembangkitan Hasna. Di gubuk pak Asnawi yang dipenuhi sesaji sekaligus makhluk astral. Kenyataan itu juga yang membuat Hasna ketakutan bahkan mengigau.
“Hasna ... Hasna sayang ... Hasna, jangan begini sayang!” Ibu Rere tersedu-sedu tak karuan. Ibu Rere ketakutan.
“Ma, coba bantu doa-doa. Pakai air minum. Soalnya kamar ini jadi agak dingin padahal AC mati,” ucap Binar yang bergegas menuang air minum ke gelas.
Setelah memberikan segelas air minumnya kepada ibu Rere, Binar buru-buru pamit untuk wudhu di kamar mandi sebelah. Binar sadari, nuansa dingin makin sulit ia terima ketika ia baru saja memasuki kamar mandi.
Binar menatap saksama keadaan kamar mandi khususnya langit-langit kamar mandi di sana. Yang paling mengganggu Binar selain suasana di sana yang begitu dingin, tak lain keadaan lampu kamar mandi yang berkedip mati-hidup.
Akan tetapi, Binar tidak sedikit pun merasa takut. Malahan, keadaan kini justru membuat Binar marah. Binar merasa tertantang dan memutuskan mempercepat segala sesuatunya. Terlebih di luar sana, lafal doa dari ibu Rere jadi makin cepat sekaligus keras, khas orang yang terlalu ketakutan.
Baru akan menyalakan keran untuk wudu, Binar mendengar suara tetesan dari sudut belakangnya. Lagi-lagi Binar menepisnya melalui doa. Meski baru juga ia berhasil menyalakan keran, air yang keluar justru darah.
“Astaghfirullah ....” Binar benar-benar kaget sekaligus geli. Karena air keran yang mengalir bukan hanya berupa darah, tapi juga sampai disertai banyak kelabang. Sementara ketika Binar menengadah ke atas selaku sumber tetesan dan awalnya Binar abaikan, Binar langsung lupa bernapas.
Sosok kuntilanak yang jongkok di kusen pintu menuju ruang pemandian, menjadi sumber alasan suara menetes. Sementara yang menetes berupa dara.h. Dar.ah beraroma sangat anyi.r sekaligus bu.suk yang keluarnya dari pangkal sela.ngkangan sosok kuntilanak. Seolah, kuntilanak itu mengalami pendarahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Rosmiati Ros
seram banget ya, nih author bikin cerita pintar banget
2024-09-01
0
🥰Siti Hindun
semoga Hasna baik² saja..
2024-02-18
0
⍣⃝ꉣ M𝒂𝒕𝒂 P𝒆𝒏𝒂_✒️
gimana ya reaksi kuntilanak klo kena sengatan raket nyamuk?!..
2024-02-16
2