Kesehatan ibu Unarti membuat wanita itu dibebaskan dari tuduhan untuk sementara. Karena jangankan bisa diajak komunikasi, tidak menerk.am saja, sudah untung.
Di siang menjelang sore, pak Handoyo memboyong sang istri yang penampilannya masih sangat mirip dengan kuntilanak. Pak Handoyo membawa ibu Unarti pulang ke rumah mereka. Beberapa warga dari tetangga maupun pihak keluarga, sudah menunggu kepulangan mereka. Namun ketika ibu Unarti keluar dari ambulance yang membawa, semuanya kompak istighfar.
Sebagian dari mereka bertahan karena terpaksa, tak enak kepada pak Handoyo. Namun kebanyakan lebih memilih buru-buru menghindar. Malahan, beberapa dari mereka sampai jatuh bangun dalam berlari saking takutnya. Sebab di mata mereka, penampilan ibu Unarti sangat menakutkan. Mirip penampilan hantu kuntilanak yang biasa mereka lihat di layar televisi.
Padahal, budaya tetangga di perkampungan atau setidaknya desa, masih sangat kuat. Alasan sebelumnya mereka sempat berkumpul juga untuk bantu-bantu sekaligus memberikan dukungan kepada pak Handoyo dan ibu Unarti. Masalahnya khusus untuk kasus ibu Unarti yang kali ini, mereka tidak bisa menoleransi.
Puncaknya ketika ibu Unarti tertawa. Tawa melengking khas kuntilanak dan tak berhenti-berhenti. Sementara kedua mata ibu Unarti memelotot menatap setiap warga di sana. Keadaan yang terus membuat warga merinding ketakutan
“Astagfirullahadzim ....” Warga jadi sibuk istighfar.
Mereka yang sudah ada di dalam rumah, mengintip dari jendela kaca. Kendati demikian, mereka tetap gemetaran.
“Itu kenapa kok bisa begitu?”
Keadaan ibu Unarti yang sangat berubah, menjadi ancam.an sekaligus ketakutan tersendiri. Warga jadi tidak bisa tenang dan terus ketakutan. Apalagi, kedua tangan ibu Unarti sampai diikat menggunakan tali tambang. Sekadar keluar rumah, warga jadi tidak berani.
“Kenapa istrimu jadi begini?” Pertanyaan tersebut terus terlempar dari pihak keluarga pak Handoyo maupun ibu Unarti. Namun hingga malam makin larut, mereka tetap tidak mendapatkan jawaban berarti.
Pak Handoyo tetap kebingungan, tidak bisa menjawab. Malahan selain terlihat sangat tertekan, pak Handoyo juga terlihat sangat setre.s.
Di tempat berbeda, di kamarnya, Rain dan Hasna masih meringkuk di tengah kasur. Mereka menghadap satu sama lain, tapi sibuk dengan ponsel masing-masing. Kendati demikian, keduanya justru tengah berkomunikasi melalui pesan WA.
Hasna Istriku ❤️ : Ingat, kita wajib bersikap, seolah kita tidak melihat mereka. Supaya mereka merasa enggak berguna, dan meninggalkan kita tanpa kita minta apalagi paksa.
Sayangku ❤️ : Aku marah banget. Kenapa dia terus menggangguku. Padahal sekarang, dunia kita sudah berbeda!
Membaca itu, Hasna menaruh ponselnya begitu saja. Hasna mendekap kepala suaminya menggunakan kedua tangan. “Aku enggak tahu sampai kapan ini akan berakhir. Namun aku percaya, selagi tidak mengganggu kita, yang di perutku enggak mungkin marah apalagi ... ngamuk,” lirihnya.
Rain yang diam masih tetap tidak bisa tenang. Wajah seriusnya menjadi awet karena ia memang sangat marah. Rain berharap Echa muncul karena ia ingin memberi wanita yang sudah beda alam darinya, pelajaran.
Padahal, sebenarnya Echa ada di atap persis kasur Rain dan Hasna berada Echa tak berani mendekati Hasna jika Hasna sedang bersama Rain.
Hasna terdiam merenung khas orang galau. “Namun harusnya aku aman asal aku menye.rang Hasna dengan bruta.l. Malahan, memang ini yang harus aku lakukan. Agar baik Hasna maupun Rain tahu, bahwa aku lebih pantas dengan Rain. Karena aku juga istri Rain!”
“Rain harus ikut aku. Rain harus meninggalkan Hasna. Hasna harus mati!”
Echa yang telanjur cemburu sekaligus baper, nekat menerobos atap keberadaannya.
Rain dan Hasna yang sama-sama kaget setengah mati, berusaha melindungi satu sana lain. Namun ketimbang Hasna, Rain jauh lebih sigap bangun meninggalkan tempat tidur. Bergegas ia membopong Hasna, membantunya berdiri dengan sangat hati-hati. Termasuk juga membersihkan tubuh Hasna dari reruntuhan langit-lagit kamar. Ditambah lagi, kini Hasna tak memakai hijab. Beberapa reruntuhan kecil, menghiasi kepala bahkan mata Hasna.
Setelah yakin tidak ada halangan berarti pada Hasna, Rain sengaja mengambil dua ikat lidi ladang dari meja di sebelahnya. Ada empat ikat lidi lanang di sana, dan sisanya langsung diambil Hasna.
“Apa lagi? Sebenarnya, mau kamu apa?” marah Rain kepada Echa yang jadi bengong menatapnya. Padahal, Rain sudah sangat marah. Gedeg, muak.
Jarak Hasna dan Rain hanya sekitar satu meter. Sementara jarak Rain ke Echa, sekitar dua meter.
“Kamu lupa aku siapa?” lirih Echa.
Sampai detik ini, bola mata Echa masih berwarna putih. Belum sampai berwarna merah layaknya dihiasi api berkobar-kobar.
“Pergi!” tegas Rain. “Pergi dan jangan pernah mengganggu kehidupan kami lagi!” lanjutnya.
“Kamu lupa kita siapa? Kamu lupa, pada semua yang sudah terjadi ke kita?” lanjut Echa berusaha meyakinkan Rain. Ia mengangkat tangan kanannya. Lebih tepatnya, ia sengaja memamerkan jari manis tangan kanannya yang masih dihiasi benang merah sekaligus potongan kain mori yang memang lebih mirip dengan tali pocong.
Menyaksikan itu, Hasna langsung ingat pada tali pengikat jodoh gaib yang sempat akan ia bakar. “Benar kata pakde Helios. Bahwa tali pengikat jodoh gaib itu memang kembali ke pembuat atau malah jodoh gaibnya!” batin Hasna yang segera menghampiri Rain.
Satu hal yang terus Hasna ingat. Bahwa hadirnya janin indigo dalam rahimnya, membuatnya tak perlu takut pada hantu mana pun.
Di lain sisi, Rain langsung ingat apa yang terjadi, hanya karena Echa menunjukkan tali pengikat jodohnya. Rain teringat ketika dirinya dinikahkan secara gaib. Rain yang dalam keadaaan setengah sadar, tubuh kuyup beraroma kembang tujuh rupa sekaligus anyir. Selain itu, aroma bu.suk juga turut menguasai kebersamaan. Paling tidak bisa Rain terima, ialah jari manis tangan kanannya yang diikat disandingkan dengan jari manis tangan kanan Echa. Acara tersebut disaksikan oleh para makhluk tak kasatmata dalam banyak rupa.
Akan tetapi, alih-alih luluh dan menerima Echa sebagai istrinya Rain justru sangat marah. Tubuh Rain sampai gemetaran. Napas jadi terdengar sangat ka.sar, diiringi kedua tangan Rain yang akhirnya bergerak cepat.
Rain mengh.anta.-han.tamkan lidi lanangnya ke Echa. Ia melakukannya dengan kemarahan menyala.
“Apa pun yang terjadi, aku beneran enggak terima! Apa yang kalian lakukan ibarat kejahatan. Dan aku bersumpah, apa yang kalian lakukan akan menjadi bumerang untuk kalian sendiri!” ucap Rain sampai teriak-teriak.
Berbeda jika kepada Hasna, kepada Rain, Echa tak kuasa melawan. Karena kepada Rain, Echa tak ubahnya karakter teran.iaya yang hanya diam sekaligus menangis pasrah. Echa melakukan itu untuk mendapatkan simpati dari Rain. Meski alih-alih simpati, yang Echa dapat malah kebencian sekaligus sik.saan tiada henti.
Hasna menahan kedua tangan Rain. Ia sampai mendekap Rain dari samping belakang sebelah kiri pinggang Rain. Hasna mencoba melakukan kontak mata dengan kedua mata Echa.
“Tatap mataku dan kamu akan mengetahui semua kebenarannya. Alasanmu ada, juga siapa yang harusnya bertanggung jawab!” tegas Hasna masih menatap tajam kedu mata Echa.
Echa yang awalnya masih tersedu-sedu, membiarkan tubuhnya berasap efek han.taman lidi lanang dari Rain. Tak sengaja melirik kedua mata Hasna. Namun karena ketidaksengajaan tersebut pula, Echa jadi melihat apa yang Hasna ketahui. Mengenai alasan Echa menjadi kuntilanak yang dikuasai dendam, hingga terlunta-lunta layaknya sekarang.
Echa yang awalnya enggan menatap kedua mata Hasna, jadi serius dalam melakukannya. Menatap kedua mata Hasna, membuat Echa layaknya tengah menyaksikan adegan film. Di sana, alasan Echa menjadi seperti sekarang, dijelaskan secara detail. Tentu penyebabnya tak lain adalah ibu Unarti. Ibu Unarti dan pak Asnawi. Dari acara pembangkitan Echa dan membuat Echa menjelma menjadi kuntilanak. Echa yang berada di bawah kendali ibu Unarti maupun pak Asnawi. Juga, pernikahan gaib ibu Unarti dan pak Asnawi yang membuat Echa sulit mati sebelum keduanya mati.
“Harusnya sekarang kamu tahu. Bahwa yang seharusnya mati itu ibu Unarti dan juga pak Asnawi! Mereka yang menyebabkan semua ini terjadi. Mereka yang sudah bikin kamu seperti ini!” marah Hasna yang kemudian malah dicek.ik oleh Echa.
Kedua bola mata Echa langsung memerah. Kobaran api kembali terpancar dari sana. Tentu Rain tidak tinggal diam. Rain memu.kuli Echa sekuat tenaga menggunakan keempat lidi ladangnya. Kedua ikat lidi lanang yang awalnya Hasna pegang, sengaja Rain ambil alih.
“Pergiiiiiii!” marah Rain mengusir Echa.
Tubuh Hasna sudah sampai terangkat. Hasna kembali tak berdaya.
Tak lama kemudian, cahaya putih menyilaukan mirip kunang-kunang kembali keluar dari perut Hasna. Baik Rain maupun Hasna bisa melihatnya. Cahaya yang meski baru menempel ke tangan Echa, sudah langsung bisa membaka.r tubuh Echa.
“Jangan pergi! Jika kamu merasa apa yang kamu lakukan benar, jangan pergi. Biarkan tubuhmu ter.b.akar oleh ego sekaligus kebo.dohanmu!” tegas Rain setelah ia mengamankan Hasna.
Echa kepanasan bersama tubuhnya yang terbakar. “T—tolong!” mohon Echa yang berlinang air mata, memohon belas kasih kepada Rain bahkan Hasna.
Rain yang masih menatap marah Echa, menggeleng tegas. Sungguh tak ada ampun untuk Echa. Terlebih setelah semua yang terjadi, dan kesempatan juga sudah berulang kali mereka berikan.
“Tenanglah di alamu. Fokuslah dengan kehidupan barumu! Semoga, Allah memberikan tempat terbaik untukmu!” tegas Rain lagi.
“Aku bahkan belum membuat perhitu.ngan ke dukun itu—” Echa makin tersedu-sedu.
“Kenapa baru sekarang kamu berpikir begitu? Dan kenapa juga, tadi kamu malah kembali meluk.ai istriku?” sengit Rain.
Hasna yang terengah-ngah tak berdaya, berangsur menatap Echa. Di tengah kenyataannya yang meringkuk di pangkuan Rain, ia berkata. “Aku izinkan kamu selamat dan membalaskan dendam kamu kepada dukun bahkan mama kamu. Namun selama momen itu belum tiba, tubuhmu akan dikunci oleh cahaya mirip kunang-kunang itu,” ucap Hasna. Baginya, itu jauh lebih adil untuk Echa. Selain, kesempatan tersebut pula yang bisa membuat ibu Unarti maupun pak Asnawi mendapatkan balasan setimpal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Nuryanti Yanti
jempol sekebooon thorrrr/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
2024-05-22
1
Firli Putrawan
masya allah dendam yg kesumat bikin semua jd pengikut setan nauzubillah
2024-02-29
0
🥰Siti Hindun
semoga keputusan Hasna tak berdampak buruk bagi keluarga kecil 'y..
2024-02-19
0