20 : Kesempatan Membalaskan Dendam

Kesehatan ibu Unarti membuat wanita itu dibebaskan dari tuduhan untuk sementara. Karena jangankan bisa diajak komunikasi, tidak menerk.am saja, sudah untung.

Di siang menjelang sore, pak Handoyo memboyong sang istri yang penampilannya masih sangat mirip dengan kuntilanak. Pak Handoyo membawa ibu Unarti pulang ke rumah mereka. Beberapa warga dari tetangga maupun pihak keluarga, sudah menunggu kepulangan mereka. Namun ketika ibu Unarti keluar dari ambulance yang membawa, semuanya kompak istighfar.

Sebagian dari mereka bertahan karena terpaksa, tak enak kepada pak Handoyo. Namun kebanyakan lebih memilih buru-buru menghindar. Malahan, beberapa dari mereka sampai jatuh bangun dalam berlari saking takutnya. Sebab di mata mereka, penampilan ibu Unarti sangat menakutkan. Mirip penampilan hantu kuntilanak yang biasa mereka lihat di layar televisi.

Padahal, budaya tetangga di perkampungan atau setidaknya desa, masih sangat kuat. Alasan sebelumnya mereka sempat berkumpul juga untuk bantu-bantu sekaligus memberikan dukungan kepada pak Handoyo dan ibu Unarti. Masalahnya khusus untuk kasus ibu Unarti yang kali ini, mereka tidak bisa menoleransi.

Puncaknya ketika ibu Unarti tertawa. Tawa melengking khas kuntilanak dan tak berhenti-berhenti. Sementara kedua mata ibu Unarti memelotot menatap setiap warga di sana. Keadaan yang terus membuat warga merinding ketakutan

“Astagfirullahadzim ....” Warga jadi sibuk istighfar.

Mereka yang sudah ada di dalam rumah, mengintip dari jendela kaca. Kendati demikian, mereka tetap gemetaran.

“Itu kenapa kok bisa begitu?”

Keadaan ibu Unarti yang sangat berubah, menjadi ancam.an sekaligus ketakutan tersendiri. Warga jadi tidak bisa tenang dan terus ketakutan. Apalagi, kedua tangan ibu Unarti sampai diikat menggunakan tali tambang. Sekadar keluar rumah, warga jadi tidak berani.

“Kenapa istrimu jadi begini?” Pertanyaan tersebut terus terlempar dari pihak keluarga pak Handoyo maupun ibu Unarti. Namun hingga malam makin larut, mereka tetap tidak mendapatkan jawaban berarti.

Pak Handoyo tetap kebingungan, tidak bisa menjawab. Malahan selain terlihat sangat tertekan, pak Handoyo juga terlihat sangat setre.s.

Di tempat berbeda, di kamarnya, Rain dan Hasna masih meringkuk di tengah kasur. Mereka menghadap satu sama lain, tapi sibuk dengan ponsel masing-masing. Kendati demikian, keduanya justru tengah berkomunikasi melalui pesan WA.

Hasna Istriku ❤️ : Ingat, kita wajib bersikap, seolah kita tidak melihat mereka. Supaya mereka merasa enggak berguna, dan meninggalkan kita tanpa kita minta apalagi paksa.

Sayangku ❤️ : Aku marah banget. Kenapa dia terus menggangguku. Padahal sekarang, dunia kita sudah berbeda!

Membaca itu, Hasna menaruh ponselnya begitu saja. Hasna mendekap kepala suaminya menggunakan kedua tangan. “Aku enggak tahu sampai kapan ini akan berakhir. Namun aku percaya, selagi tidak mengganggu kita, yang di perutku enggak mungkin marah apalagi ... ngamuk,” lirihnya.

Rain yang diam masih tetap tidak bisa tenang. Wajah seriusnya menjadi awet karena ia memang sangat marah. Rain berharap Echa muncul karena ia ingin memberi wanita yang sudah beda alam darinya, pelajaran.

Padahal, sebenarnya Echa ada di atap persis kasur Rain dan Hasna berada Echa tak berani mendekati Hasna jika Hasna sedang bersama Rain.

Hasna terdiam merenung khas orang galau. “Namun harusnya aku aman asal aku menye.rang Hasna dengan bruta.l. Malahan, memang ini yang harus aku lakukan. Agar baik Hasna maupun Rain tahu, bahwa aku lebih pantas dengan Rain. Karena aku juga istri Rain!”

“Rain harus ikut aku. Rain harus meninggalkan Hasna. Hasna harus mati!”

Echa yang telanjur cemburu sekaligus baper, nekat menerobos atap keberadaannya.

Rain dan Hasna yang sama-sama kaget setengah mati, berusaha melindungi satu sana lain. Namun ketimbang Hasna, Rain jauh lebih sigap bangun meninggalkan tempat tidur. Bergegas ia membopong Hasna, membantunya berdiri dengan sangat hati-hati. Termasuk juga membersihkan tubuh Hasna dari reruntuhan langit-lagit kamar. Ditambah lagi, kini Hasna tak memakai hijab. Beberapa reruntuhan kecil, menghiasi kepala bahkan mata Hasna.

Setelah yakin tidak ada halangan berarti pada Hasna, Rain sengaja mengambil dua ikat lidi ladang dari meja di sebelahnya. Ada empat ikat lidi lanang di sana, dan sisanya langsung diambil Hasna.

“Apa lagi? Sebenarnya, mau kamu apa?” marah Rain kepada Echa yang jadi bengong menatapnya. Padahal, Rain sudah sangat marah. Gedeg, muak.

Jarak Hasna dan Rain hanya sekitar satu meter. Sementara jarak Rain ke Echa, sekitar dua meter.

“Kamu lupa aku siapa?” lirih Echa.

Sampai detik ini, bola mata Echa masih berwarna putih. Belum sampai berwarna merah layaknya dihiasi api berkobar-kobar.

“Pergi!” tegas Rain. “Pergi dan jangan pernah mengganggu kehidupan kami lagi!” lanjutnya.

“Kamu lupa kita siapa? Kamu lupa, pada semua yang sudah terjadi ke kita?” lanjut Echa berusaha meyakinkan Rain. Ia mengangkat tangan kanannya. Lebih tepatnya, ia sengaja memamerkan jari manis tangan kanannya yang masih dihiasi benang merah sekaligus potongan kain mori yang memang lebih mirip dengan tali pocong.

Menyaksikan itu, Hasna langsung ingat pada tali pengikat jodoh gaib yang sempat akan ia bakar. “Benar kata pakde Helios. Bahwa tali pengikat jodoh gaib itu memang kembali ke pembuat atau malah jodoh gaibnya!” batin Hasna yang segera menghampiri Rain.

Satu hal yang terus Hasna ingat. Bahwa hadirnya janin indigo dalam rahimnya, membuatnya tak perlu takut pada hantu mana pun.

Di lain sisi, Rain langsung ingat apa yang terjadi, hanya karena Echa menunjukkan tali pengikat jodohnya. Rain teringat ketika dirinya dinikahkan secara gaib. Rain yang dalam keadaaan setengah sadar, tubuh kuyup beraroma kembang tujuh rupa sekaligus anyir. Selain itu, aroma bu.suk juga turut menguasai kebersamaan. Paling tidak bisa Rain terima, ialah jari manis tangan kanannya yang diikat disandingkan dengan jari manis tangan kanan Echa. Acara tersebut disaksikan oleh para makhluk tak kasatmata dalam banyak rupa.

Akan tetapi, alih-alih luluh dan menerima Echa sebagai istrinya Rain justru sangat marah. Tubuh Rain sampai gemetaran. Napas jadi terdengar sangat ka.sar, diiringi kedua tangan Rain yang akhirnya bergerak cepat.

Rain mengh.anta.-han.tamkan lidi lanangnya ke Echa. Ia melakukannya dengan kemarahan menyala.

“Apa pun yang terjadi, aku beneran enggak terima! Apa yang kalian lakukan ibarat kejahatan. Dan aku bersumpah, apa yang kalian lakukan akan menjadi bumerang untuk kalian sendiri!” ucap Rain sampai teriak-teriak.

Berbeda jika kepada Hasna, kepada Rain, Echa tak kuasa melawan. Karena kepada Rain, Echa tak ubahnya karakter teran.iaya yang hanya diam sekaligus menangis pasrah. Echa melakukan itu untuk mendapatkan simpati dari Rain. Meski alih-alih simpati, yang Echa dapat malah kebencian sekaligus sik.saan tiada henti.

Hasna menahan kedua tangan Rain. Ia sampai mendekap Rain dari samping belakang sebelah kiri pinggang Rain. Hasna mencoba melakukan kontak mata dengan kedua mata Echa.

“Tatap mataku dan kamu akan mengetahui semua kebenarannya. Alasanmu ada, juga siapa yang harusnya bertanggung jawab!” tegas Hasna masih menatap tajam kedu mata Echa.

Echa yang awalnya masih tersedu-sedu, membiarkan tubuhnya berasap efek han.taman lidi lanang dari Rain. Tak sengaja melirik kedua mata Hasna. Namun karena ketidaksengajaan tersebut pula, Echa jadi melihat apa yang Hasna ketahui. Mengenai alasan Echa menjadi kuntilanak yang dikuasai dendam, hingga terlunta-lunta layaknya sekarang.

Echa yang awalnya enggan menatap kedua mata Hasna, jadi serius dalam melakukannya. Menatap kedua mata Hasna, membuat Echa layaknya tengah menyaksikan adegan film. Di sana, alasan Echa menjadi seperti sekarang, dijelaskan secara detail. Tentu penyebabnya tak lain adalah ibu Unarti. Ibu Unarti dan pak Asnawi. Dari acara pembangkitan Echa dan membuat Echa menjelma menjadi kuntilanak. Echa yang berada di bawah kendali ibu Unarti maupun pak Asnawi. Juga, pernikahan gaib ibu Unarti dan pak Asnawi yang membuat Echa sulit mati sebelum keduanya mati.

“Harusnya sekarang kamu tahu. Bahwa yang seharusnya mati itu ibu Unarti dan juga pak Asnawi! Mereka yang menyebabkan semua ini terjadi. Mereka yang sudah bikin kamu seperti ini!” marah Hasna yang kemudian malah dicek.ik oleh Echa.

Kedua bola mata Echa langsung memerah. Kobaran api kembali terpancar dari sana. Tentu Rain tidak tinggal diam. Rain memu.kuli Echa sekuat tenaga menggunakan keempat lidi ladangnya. Kedua ikat lidi lanang yang awalnya Hasna pegang, sengaja Rain ambil alih.

“Pergiiiiiii!” marah Rain mengusir Echa.

Tubuh Hasna sudah sampai terangkat. Hasna kembali tak berdaya.

Tak lama kemudian, cahaya putih menyilaukan mirip kunang-kunang kembali keluar dari perut Hasna. Baik Rain maupun Hasna bisa melihatnya. Cahaya yang meski baru menempel ke tangan Echa, sudah langsung bisa membaka.r tubuh Echa.

“Jangan pergi! Jika kamu merasa apa yang kamu lakukan benar, jangan pergi. Biarkan tubuhmu ter.b.akar oleh ego sekaligus kebo.dohanmu!” tegas Rain setelah ia mengamankan Hasna.

Echa kepanasan bersama tubuhnya yang terbakar. “T—tolong!” mohon Echa yang berlinang air mata, memohon belas kasih kepada Rain bahkan Hasna.

Rain yang masih menatap marah Echa, menggeleng tegas. Sungguh tak ada ampun untuk Echa. Terlebih setelah semua yang terjadi, dan kesempatan juga sudah berulang kali mereka berikan.

“Tenanglah di alamu. Fokuslah dengan kehidupan barumu! Semoga, Allah memberikan tempat terbaik untukmu!” tegas Rain lagi.

“Aku bahkan belum membuat perhitu.ngan ke dukun itu—” Echa makin tersedu-sedu.

“Kenapa baru sekarang kamu berpikir begitu? Dan kenapa juga, tadi kamu malah kembali meluk.ai istriku?” sengit Rain.

Hasna yang terengah-ngah tak berdaya, berangsur menatap Echa. Di tengah kenyataannya yang meringkuk di pangkuan Rain, ia berkata. “Aku izinkan kamu selamat dan membalaskan dendam kamu kepada dukun bahkan mama kamu. Namun selama momen itu belum tiba, tubuhmu akan dikunci oleh cahaya mirip kunang-kunang itu,” ucap Hasna. Baginya, itu jauh lebih adil untuk Echa. Selain, kesempatan tersebut pula yang bisa membuat ibu Unarti maupun pak Asnawi mendapatkan balasan setimpal.

Terpopuler

Comments

Nuryanti Yanti

Nuryanti Yanti

jempol sekebooon thorrrr/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/

2024-05-22

1

Firli Putrawan

Firli Putrawan

masya allah dendam yg kesumat bikin semua jd pengikut setan nauzubillah

2024-02-29

0

🥰Siti Hindun

🥰Siti Hindun

semoga keputusan Hasna tak berdampak buruk bagi keluarga kecil 'y..

2024-02-19

0

lihat semua
Episodes
1 1. Dendam yang Tak Berkesudahan
2 2 : Firasat yang Sudah Hasna Rasakan
3 3 : Ritual Pembangkitan
4 4 : Kekuatan Yang Menghalangi Ritual
5 5 : Titisan Kuntilanak
6 6 : Semuanya Sudah Dimulai
7 7 : Echa yang Sudah Langsung Mengincar Hasna
8 8 : Teror yang Benar-Benar Dimulai!
9 9 : Pelindung Hasna
10 10 : Kamu Harus Mati!
11 11 : Tersesat
12 12 : Sengaja Dises.atkan
13 13 : Jebakan Gaib
14 14 : Pertolongan Dari Para Leluhur
15 15 : Gara-Gara Keris
16 16 : Rukiyah
17 17 : Tali Pengikat Jodoh Gaib
18 18 : Kuntilanak Bunting
19 19 : Echa yang Berusaha Membun.uh Hasna
20 20 : Kesempatan Membalaskan Dendam
21 21 : Warga yang Jadi Resah
22 22 : Ibu Unarti yang Mulai Berulah
23 23 : Korban yang Mulai Berjatuhan
24 24 : Akibat Menjalani Perjanjian Gaib
25 25 : Bayaran yang Harus Diberikan
26 26 : Kedatangan Echa
27 27 : Ingin Balas Dendam
28 28 : Beraksi
29 29 : Kedatangan Hasna Dan Bertemu Ibu Unarti
30 30 : Kemarahan Ibu Unarti Kepada Rain
31 31 : Kemunculan Echa Dan Ulah Baru Pak Asnawi
32 32 : Mencabut Keris Dari Ubun-Ubun Ibu Unarti
33 33 : Kematian Ibu Unarti
34 34 : Jenazah yang Ditolak Bumi
35 35 : Bocah Berwajah Pak Asnawi
36 36 : Jebakan Balik
37 37 : Menuju Final Dendam
38 38 : Melawan Sang Dukun
39 39 : Berharap Keajaiban
40 40 : Ternyata Hamparan Pemakaman
41 41 : Nama Untuk Anak Echa
42 Akhir Kisah
43 Novel : Menikahi Wanita Taruhan
44 Novel Rain Dan Hasna (Sudah Tamat)
45 Promo Novel : Anak Kuntilanak Dan Teror Di Hutan Tua
46 Novel Anak-Anak : Tumbal Pengantin Kebaya Merah
Episodes

Updated 46 Episodes

1
1. Dendam yang Tak Berkesudahan
2
2 : Firasat yang Sudah Hasna Rasakan
3
3 : Ritual Pembangkitan
4
4 : Kekuatan Yang Menghalangi Ritual
5
5 : Titisan Kuntilanak
6
6 : Semuanya Sudah Dimulai
7
7 : Echa yang Sudah Langsung Mengincar Hasna
8
8 : Teror yang Benar-Benar Dimulai!
9
9 : Pelindung Hasna
10
10 : Kamu Harus Mati!
11
11 : Tersesat
12
12 : Sengaja Dises.atkan
13
13 : Jebakan Gaib
14
14 : Pertolongan Dari Para Leluhur
15
15 : Gara-Gara Keris
16
16 : Rukiyah
17
17 : Tali Pengikat Jodoh Gaib
18
18 : Kuntilanak Bunting
19
19 : Echa yang Berusaha Membun.uh Hasna
20
20 : Kesempatan Membalaskan Dendam
21
21 : Warga yang Jadi Resah
22
22 : Ibu Unarti yang Mulai Berulah
23
23 : Korban yang Mulai Berjatuhan
24
24 : Akibat Menjalani Perjanjian Gaib
25
25 : Bayaran yang Harus Diberikan
26
26 : Kedatangan Echa
27
27 : Ingin Balas Dendam
28
28 : Beraksi
29
29 : Kedatangan Hasna Dan Bertemu Ibu Unarti
30
30 : Kemarahan Ibu Unarti Kepada Rain
31
31 : Kemunculan Echa Dan Ulah Baru Pak Asnawi
32
32 : Mencabut Keris Dari Ubun-Ubun Ibu Unarti
33
33 : Kematian Ibu Unarti
34
34 : Jenazah yang Ditolak Bumi
35
35 : Bocah Berwajah Pak Asnawi
36
36 : Jebakan Balik
37
37 : Menuju Final Dendam
38
38 : Melawan Sang Dukun
39
39 : Berharap Keajaiban
40
40 : Ternyata Hamparan Pemakaman
41
41 : Nama Untuk Anak Echa
42
Akhir Kisah
43
Novel : Menikahi Wanita Taruhan
44
Novel Rain Dan Hasna (Sudah Tamat)
45
Promo Novel : Anak Kuntilanak Dan Teror Di Hutan Tua
46
Novel Anak-Anak : Tumbal Pengantin Kebaya Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!