“Yang ...?” ucap Rain tak kuasa melanjutkannya lantaran ia ragu bahkan khawatir.
Di sebelah Rain, Hasna yang juga sedang gosok gigi, berangsur menoleh. Hingga berbeda dari sebelumnya, kali ini Hasna menatap wajah suaminya secara langsung.
“Sudah ngomong saja, dilanjut. Enggak usah ada yang ditutupin,” ucap Hasna yang kemudian melanjutkan gosok giginya sambil terus menatap Rain.
Rain yang belum melanjutkan gosok giginya, berkata, “Aku merasa linglung. Kayak, ... apa ya, ngomongnya. Pokoknya rasanya enggak jelas banget. Ibarat hape, kondisiku jadi sering ngeblank.”
Tangan kiri Hasna yang tak memegang gagang sikat gigi, berangsur meraba lengan kanan Rain. “Kan memang masih proses Sayang. Yang penting, shalat lima waktunya jangan sampai ditinggalkan. Sekalian, mulai sekarang ayo kita puasa sunnah juga. Bismillahirrahmanirrahim, semoga dihindarkan dari perbuatan syi.rik,” lembut Hasna yang kemudian membereskan agenda gosok giginya.
“Astagfirullahadzim,” ucap Rain ketakutan tapi masih dengan suara lirih. Ia menoleh ke belakang, keberadaan pintu kamar mandi di mana sosok kuntilanak, ia lihat di pantulan kaca. Namun, di depan pintu tersebut tidak ada siapa-siapa, apalagi sosok kuntilanak yang ia lihat.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Hasna lembut sesaat setelah ia beres kumur.
Rain buru-buru menggeleng. “Enggak, ... lagi belajar lebih agamis saja. Kan bentar lagi jadi papa!” manisnya sambil merangkul tengkuk Hasna menggunakan tangan kirinya.
Demi mengalihkan perhatian Hasna, Rain juga sengaja mengabsen wajah Hasna menggunakan bibirnya. Padahal, bibir Rain masih penuh busa gosok gigi. Padahal sesekali, Rain akan agak melirik cermin wastafel di hadapan mereka. Iya, sosok kuntilanak berperut bunting, benar-benar masih ada. Sosok berbola mata nyaris putih semua itu masih mengawasi kebersamaan Rain dan Hasna.
“S—sayang, kumur dulu ih. Jor.ok banget anaknya pak Paojan!” rengek Hasna yang juga masih sibuk tertawa geli. Ia masih berusaha menghindari sang suami yang sudah telanjur mendekap erat pinggangnya.
“Ya ampun Sayang, mbajug ... saru, kamu bawa-bawa bapakku. Huh, dasar anaknya Syam!” balas Syan.
Alih-alih marah atau malah membalas Rain, Hasna justru tertawa. Kemudian, yang Hasna lakukan ialah membantu Rain berkumur.
“Alhamdullilah, ... meski aku yakin, bahaya masih mengintai. Setidaknya ini lebih baik dari kemarin,” batin Hasna.
Dua hari lalu, Rain memang sampai mu.ntah darah tak karuan. Namun semenjak hari itu, setelah sempat dinik.ahkan dengan Echa secara gaib, Rain jadi agak linglung. Rain kerap melamun dan kerap melupakan beberapa hal yang sudah menjadi kebiasaan mereka.
Berbeda dengan Rain yang hanya bisa melihat Echa dari pantulan cermin wastafel di hadapan mereka. Hasna justru melihatnya secara langsung. Akan tetapi, Hasna sengaja menghindari kontak mata secara langsung dengan Echa.
“Kuntilanak bunting ini, ... benarkah dia Echa?” pikir Hasna yang kemudian ingat. Bahwa ketimbang orang lain bahkan Aqwa yang nota bene indigo dan sangat ditakuti makhluk tak kasatmata, calon anak mereka jauh lebih bisa melindungi mereka.
“Yang, ayo ke kamar. Ngaji dulu buat baby sebelum tidur,” ucap Hasna yang kemudian berkata, “Pamali, soalnya kamar mandi biasanya dihuni banyak jin.”
“Banyak jin kan kalau kamar mandi kita enggak bersih. Kamar mandi di rumah kita kan bersih-bersih. Apa jangan-jangan, yang kamu maksud jin ini justru aku? Duh, nackal kamu ya!” heboh Rain yang kemudian membopong Hasna.
Hasna yang sudah terbiasa menghadapi penampakan tak kasat mata, nyaman-nyaman saja. Hasna malah tertawa bebas dan menganggap bahwa Echa tidak ada.
Baru Echa sadari, tubuhnya jadi panas. Sementara ia justru melu.kai dirinya sendiri. Kuku-kukunya yang sudah memanjang sekaligus berwarna hitam lah yang menyebabkannya. Karena harusnya, Echa meluk.ai Hasna. Hasna yang Echa yakini juga sedang hamil karena sangat membuatnya tera.ngsang untuk men.yantap janin di perut Hasna. Hanya saja, adanya Rain bersama Hasna, menjadi alasan Echa tak berani mendekat bahkan sekadar menampakkan diri.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan, sementara pria itu juga suamiku!” batin Echa benar-benar marah.
Sempat akan mendekat, Echa mendadak urung. Tak semata karena Rain membaringkan Hasna di tempat tidur. Namun juga kenyataan Rain yang sudah melantunkan surat Maryam. Rain melakukannya sambil mengelus perut Hasna penuh sayang. Tangan kanan mengelus perut Hasna, sementara kedua matanya menatap kedua mata Hasna penuh cinta.
Diam-diam, Hasna yang bisa melihat Echa, mengawasi Echa melalui lirikan. “Kenapa di kelihatan sesedih itu?” pikirnya. “Dia sedih karena iri bahkan cemburu?”
Selain memang iri dan cemburu, pada kenyataannya, lantunan ayat suci yang Rain lakukan juga membuat Echa kepanasan. Echa merasa sangat tersi.ksa dan memutuskan untuk pergi dari sana.
“Dia sudah pergi. Aneh. Masa iya, hantu bahkan se.tan, tapi masih baperan?” batin Hasna lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Firli Putrawan
🤣🤣lah kl ngeliat ky gt udah pingsan x y kuat kuat kunti nya baper 🤣🤣
2024-02-17
1
Marsiyah Minardi
Ngakak aku lho Thor, baca kata " mbajug "
Ngapake kui lho
Aku juga wong Jawa
2024-02-16
0
👏vanzhoel🖤²²¹º
baper lah dek hasna, kan secara ghaib.. mas rain misua nya juga, walau ga sah menurut agama n dunia pernovelan🤭
2024-02-16
1