18 : Kuntilanak Bunting

“Yang ...?” ucap Rain tak kuasa melanjutkannya lantaran ia ragu bahkan khawatir.

Di sebelah Rain, Hasna yang juga sedang gosok gigi, berangsur menoleh. Hingga berbeda dari sebelumnya, kali ini Hasna menatap wajah suaminya secara langsung.

“Sudah ngomong saja, dilanjut. Enggak usah ada yang ditutupin,” ucap Hasna yang kemudian melanjutkan gosok giginya sambil terus menatap Rain.

Rain yang belum melanjutkan gosok giginya, berkata, “Aku merasa linglung. Kayak, ... apa ya, ngomongnya. Pokoknya rasanya enggak jelas banget. Ibarat hape, kondisiku jadi sering ngeblank.”

Tangan kiri Hasna yang tak memegang gagang sikat gigi, berangsur meraba lengan kanan Rain. “Kan memang masih proses Sayang. Yang penting, shalat lima waktunya jangan sampai ditinggalkan. Sekalian, mulai sekarang ayo kita puasa sunnah juga. Bismillahirrahmanirrahim, semoga dihindarkan dari perbuatan syi.rik,” lembut Hasna yang kemudian membereskan agenda gosok giginya.

“Astagfirullahadzim,” ucap Rain ketakutan tapi masih dengan suara lirih. Ia menoleh ke belakang, keberadaan pintu kamar mandi di mana sosok kuntilanak, ia lihat di pantulan kaca. Namun, di depan pintu tersebut tidak ada siapa-siapa, apalagi sosok kuntilanak yang ia lihat.

“Sayang, kamu kenapa?” tanya Hasna lembut sesaat setelah ia beres kumur.

Rain buru-buru menggeleng. “Enggak, ... lagi belajar lebih agamis saja. Kan bentar lagi jadi papa!” manisnya sambil merangkul tengkuk Hasna menggunakan tangan kirinya.

Demi mengalihkan perhatian Hasna, Rain juga sengaja mengabsen wajah Hasna menggunakan bibirnya. Padahal, bibir Rain masih penuh busa gosok gigi. Padahal sesekali, Rain akan agak melirik cermin wastafel di hadapan mereka. Iya, sosok kuntilanak berperut bunting, benar-benar masih ada. Sosok berbola mata nyaris putih semua itu masih mengawasi kebersamaan Rain dan Hasna.

“S—sayang, kumur dulu ih. Jor.ok banget anaknya pak Paojan!” rengek Hasna yang juga masih sibuk tertawa geli. Ia masih berusaha menghindari sang suami yang sudah telanjur mendekap erat pinggangnya.

“Ya ampun Sayang, mbajug ... saru, kamu bawa-bawa bapakku. Huh, dasar anaknya Syam!” balas Syan.

Alih-alih marah atau malah membalas Rain, Hasna justru tertawa. Kemudian, yang Hasna lakukan ialah membantu Rain berkumur.

“Alhamdullilah, ... meski aku yakin, bahaya masih mengintai. Setidaknya ini lebih baik dari kemarin,” batin Hasna.

Dua hari lalu, Rain memang sampai mu.ntah darah tak karuan. Namun semenjak hari itu, setelah sempat dinik.ahkan dengan Echa secara gaib, Rain jadi agak linglung. Rain kerap melamun dan kerap melupakan beberapa hal yang sudah menjadi kebiasaan mereka.

Berbeda dengan Rain yang hanya bisa melihat Echa dari pantulan cermin wastafel di hadapan mereka. Hasna justru melihatnya secara langsung. Akan tetapi, Hasna sengaja menghindari kontak mata secara langsung dengan Echa.

“Kuntilanak bunting ini, ... benarkah dia Echa?” pikir Hasna yang kemudian ingat. Bahwa ketimbang orang lain bahkan Aqwa yang nota bene indigo dan sangat ditakuti makhluk tak kasatmata, calon anak mereka jauh lebih bisa melindungi mereka.

“Yang, ayo ke kamar. Ngaji dulu buat baby sebelum tidur,” ucap Hasna yang kemudian berkata, “Pamali, soalnya kamar mandi biasanya dihuni banyak jin.”

“Banyak jin kan kalau kamar mandi kita enggak bersih. Kamar mandi di rumah kita kan bersih-bersih. Apa jangan-jangan, yang kamu maksud jin ini justru aku? Duh, nackal kamu ya!” heboh Rain yang kemudian membopong Hasna.

Hasna yang sudah terbiasa menghadapi penampakan tak kasat mata, nyaman-nyaman saja. Hasna malah tertawa bebas dan menganggap bahwa Echa tidak ada.

Baru Echa sadari, tubuhnya jadi panas. Sementara ia justru melu.kai dirinya sendiri. Kuku-kukunya yang sudah memanjang sekaligus berwarna hitam lah yang menyebabkannya. Karena harusnya, Echa meluk.ai Hasna. Hasna yang Echa yakini juga sedang hamil karena sangat membuatnya tera.ngsang untuk men.yantap janin di perut Hasna. Hanya saja, adanya Rain bersama Hasna, menjadi alasan Echa tak berani mendekat bahkan sekadar menampakkan diri.

“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan, sementara pria itu juga suamiku!” batin Echa benar-benar marah.

Sempat akan mendekat, Echa mendadak urung. Tak semata karena Rain membaringkan Hasna di tempat tidur. Namun juga kenyataan Rain yang sudah melantunkan surat Maryam. Rain melakukannya sambil mengelus perut Hasna penuh sayang. Tangan kanan mengelus perut Hasna, sementara kedua matanya menatap kedua mata Hasna penuh cinta.

Diam-diam, Hasna yang bisa melihat Echa, mengawasi Echa melalui lirikan. “Kenapa di kelihatan sesedih itu?” pikirnya. “Dia sedih karena iri bahkan cemburu?”

Selain memang iri dan cemburu, pada kenyataannya, lantunan ayat suci yang Rain lakukan juga membuat Echa kepanasan. Echa merasa sangat tersi.ksa dan memutuskan untuk pergi dari sana.

“Dia sudah pergi. Aneh. Masa iya, hantu bahkan se.tan, tapi masih baperan?” batin Hasna lagi.

Terpopuler

Comments

Firli Putrawan

Firli Putrawan

🤣🤣lah kl ngeliat ky gt udah pingsan x y kuat kuat kunti nya baper 🤣🤣

2024-02-17

1

Marsiyah Minardi

Marsiyah Minardi

Ngakak aku lho Thor, baca kata " mbajug "
Ngapake kui lho
Aku juga wong Jawa

2024-02-16

0

👏vanzhoel🖤²²¹º

👏vanzhoel🖤²²¹º

baper lah dek hasna, kan secara ghaib.. mas rain misua nya juga, walau ga sah menurut agama n dunia pernovelan🤭

2024-02-16

1

lihat semua
Episodes
1 1. Dendam yang Tak Berkesudahan
2 2 : Firasat yang Sudah Hasna Rasakan
3 3 : Ritual Pembangkitan
4 4 : Kekuatan Yang Menghalangi Ritual
5 5 : Titisan Kuntilanak
6 6 : Semuanya Sudah Dimulai
7 7 : Echa yang Sudah Langsung Mengincar Hasna
8 8 : Teror yang Benar-Benar Dimulai!
9 9 : Pelindung Hasna
10 10 : Kamu Harus Mati!
11 11 : Tersesat
12 12 : Sengaja Dises.atkan
13 13 : Jebakan Gaib
14 14 : Pertolongan Dari Para Leluhur
15 15 : Gara-Gara Keris
16 16 : Rukiyah
17 17 : Tali Pengikat Jodoh Gaib
18 18 : Kuntilanak Bunting
19 19 : Echa yang Berusaha Membun.uh Hasna
20 20 : Kesempatan Membalaskan Dendam
21 21 : Warga yang Jadi Resah
22 22 : Ibu Unarti yang Mulai Berulah
23 23 : Korban yang Mulai Berjatuhan
24 24 : Akibat Menjalani Perjanjian Gaib
25 25 : Bayaran yang Harus Diberikan
26 26 : Kedatangan Echa
27 27 : Ingin Balas Dendam
28 28 : Beraksi
29 29 : Kedatangan Hasna Dan Bertemu Ibu Unarti
30 30 : Kemarahan Ibu Unarti Kepada Rain
31 31 : Kemunculan Echa Dan Ulah Baru Pak Asnawi
32 32 : Mencabut Keris Dari Ubun-Ubun Ibu Unarti
33 33 : Kematian Ibu Unarti
34 34 : Jenazah yang Ditolak Bumi
35 35 : Bocah Berwajah Pak Asnawi
36 36 : Jebakan Balik
37 37 : Menuju Final Dendam
38 38 : Melawan Sang Dukun
39 39 : Berharap Keajaiban
40 40 : Ternyata Hamparan Pemakaman
41 41 : Nama Untuk Anak Echa
42 Akhir Kisah
43 Novel : Menikahi Wanita Taruhan
44 Novel Rain Dan Hasna (Sudah Tamat)
45 Promo Novel : Anak Kuntilanak Dan Teror Di Hutan Tua
46 Novel Anak-Anak : Tumbal Pengantin Kebaya Merah
Episodes

Updated 46 Episodes

1
1. Dendam yang Tak Berkesudahan
2
2 : Firasat yang Sudah Hasna Rasakan
3
3 : Ritual Pembangkitan
4
4 : Kekuatan Yang Menghalangi Ritual
5
5 : Titisan Kuntilanak
6
6 : Semuanya Sudah Dimulai
7
7 : Echa yang Sudah Langsung Mengincar Hasna
8
8 : Teror yang Benar-Benar Dimulai!
9
9 : Pelindung Hasna
10
10 : Kamu Harus Mati!
11
11 : Tersesat
12
12 : Sengaja Dises.atkan
13
13 : Jebakan Gaib
14
14 : Pertolongan Dari Para Leluhur
15
15 : Gara-Gara Keris
16
16 : Rukiyah
17
17 : Tali Pengikat Jodoh Gaib
18
18 : Kuntilanak Bunting
19
19 : Echa yang Berusaha Membun.uh Hasna
20
20 : Kesempatan Membalaskan Dendam
21
21 : Warga yang Jadi Resah
22
22 : Ibu Unarti yang Mulai Berulah
23
23 : Korban yang Mulai Berjatuhan
24
24 : Akibat Menjalani Perjanjian Gaib
25
25 : Bayaran yang Harus Diberikan
26
26 : Kedatangan Echa
27
27 : Ingin Balas Dendam
28
28 : Beraksi
29
29 : Kedatangan Hasna Dan Bertemu Ibu Unarti
30
30 : Kemarahan Ibu Unarti Kepada Rain
31
31 : Kemunculan Echa Dan Ulah Baru Pak Asnawi
32
32 : Mencabut Keris Dari Ubun-Ubun Ibu Unarti
33
33 : Kematian Ibu Unarti
34
34 : Jenazah yang Ditolak Bumi
35
35 : Bocah Berwajah Pak Asnawi
36
36 : Jebakan Balik
37
37 : Menuju Final Dendam
38
38 : Melawan Sang Dukun
39
39 : Berharap Keajaiban
40
40 : Ternyata Hamparan Pemakaman
41
41 : Nama Untuk Anak Echa
42
Akhir Kisah
43
Novel : Menikahi Wanita Taruhan
44
Novel Rain Dan Hasna (Sudah Tamat)
45
Promo Novel : Anak Kuntilanak Dan Teror Di Hutan Tua
46
Novel Anak-Anak : Tumbal Pengantin Kebaya Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!