Setelah selesai mandi, Luna memutuskan untuk berganti pakaian. Namun ketika dia membuka lemari pakaian yang ada di kamar itu, dia hanya menemukan 5 pakaian saja.
"Hah!!! Rumahnya sih oke lah bagus menurutku. Walau disini tidak ada barang elektroniknya. Tapi apakah gadis ini tidak memiliki selera? Tunggu bukan itu..."
Kepala Luna berdengung seakan dia mengingat sesuatu,
"Ini, Apa ini!" Gumamnya setelah dia melihat gambaran di dalam kepalanya.
"Huh, sepertinya ini kenangan dari orang yang memiliki tubuh ini sebelumnya? Aku juga tidak tahu detailnya, tapi sepertinya para pelayan di kediaman ini tidak ada yang menghormatinya."
Di dalam gambar kenangan ini, dia melihat kalau para pelayan sering mencuri pakaian Luna padahal pakaian tersebut adalah pemberian ayahnya.
Mereka hanya menyisakan kelima pakaian ini untuk Luna dan agar tidak di ketahui oleh ayahnya.
"Para pelayannya ya, tapi yang lebih anehnya lagi. Para pelayan tidak akan dengan mudah melakukan hal seperti ini, pasti ada sesuatu yang melindungi mereka di saat seperti ini," Dia mulai memikirkan sesuatu yang berbeda.
Di kepalanya sekarang ini, dia hanya memiliki beberapa pertanyaan.
Mengapa para pelayan itu berani mencuri?
Kenapa sampai sekarang mereka masih belum ketahuan?
"Ternyata firasatku memang benar, kalau laki laki tadi itu adalah dalang di balik semua ini. Ada kemungkinan dia mengetahui hal ini, tapi dia tidak melakukan apapun soal ini."
Luna berpendapat kalau kakaknya telah menutupi kejadian pencurian ini, dia bahkan memiliki firasat kalau laki laki tadi itu juga mendukung para pelayan itu
"Tapi, kenapa pemilik tubuh ini sebelumnya hanya diam saja? Aku tidak terlalu mengerti tentang apa yang di pikirkan, tapi ketika melihatnya di siksa oleh para pelayan," mengelengkan kepalanya.
Dia memang bisa memikirkan apa yang di pikirkan oleh gadis ini sebelumnya, tapi ketika dia melihat lebih dalam kearah wajah gadis itu.
Dia terpaku melihat senyum manis dari bibir gadis tersebut walaupun sedang dipukuli oleh mereka.
"Cantiknya"
Apakah dia bidadari?
Itulah yang ada di pikirannya saat ini, dia benar benar terpaku atas kecantikan gadis ini.
Dia lalu tersenyum dan memutuskan apa yang harus dia lakukan mulai kedepannya, dia ingin mencari solusi untuk membantu tubuh gadis ini untuk kembali mendapatkan kehormatannya.
L
"Mata di bayar mata ya, Tidak. Moto itu masih terbilang lemah. Aku harus membuat prinsip yang lebih tegas dari mata di bayar mata,"
Luna akhirnya mengambil salah satu pakaian di lemari tersebut dan memakainya sambil berpikir.
"Jika mereka hendak mengusik tubuh ini lagi kedepannya, aku akan membuat mereka membayar lebih dari pada perlakuan yang akan mereka lakukan kepadaku." Gumamnya sembari mengepalkan telapak tangannya yang mungil.
"Membunuhnya saja tidak akan cukup untuk membayar, aku akan menghancurkan semuanya mau itu fisik, atau mentalnya, pokoknya aku akan menghancurkan seluruhnya, Umu umu" Dia lalu melakukan gerakan meninju kedepan.
Dirinya yang merasa iba kepada pemilik tubuh ini sebelumnya, kini membuat prinsip baru di kehidupan yang baru.
Dia lalu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan bersiap untuk mewujudkannya di esok hari.
"Jika kau ingin mengambil tubuh ini kembali. Kau juga harus membayarnya 2 kali lipat loh, Luna El Laxion."
Dia berbicara dengan bayangannya sendiri di dalam kaca full body yang ada di samping lemari.
Setelah menutup kembali lemarinya, Luna ingin segera memulai apa yang dia ingin lakukan selanjutnya.
"Sekarang! Mari kita melakukan Eksperimen kecil untuk menguji coba para cacing, tidak. Para tentakel ini."
Luna duduk di salah satu kursi dan dia memegang salah satu tentakel hitam yang menggantung di punggungnya.
"Hm, rasanya seperti memegang sebuah daging mentah. Tapi ini tidak mengeluarkan darah atau lendir apapun."
Dia meremas gumpalan daging itu dan mencubitnya,
"Tidak bereaksi sama sekali," Gumamnya.
Setelah itu Luna melihat sekeliling, dan menemukan sebuah guci usang di pojokan kamar.
Luna mengerahkan tentakelnya untuk menghancurkan guci itu, tak lama berselang tentakelnya bergerak dan menghancurkan guci tersebut.
Braaaak...
"Keras! Apa ini, mengapa dia berubah menjadi sangat keras?" Gumamnya heran setelah merasakan daging itu mengeras.
Tak lama kemudian daging itu melembutkan dirinya lagi seperti semula, dia mengusap usap daging itu dan melihat ukurannya yang sangat panjang dan tebal.
Luna miliki pemikiran untuk mengadu tinjunya dengan tentakel itu, setelah berpikir lama dia membuat gambaran di kepalanya seakan tentakel itu mengeras dan langsung meninjunya.
Aww, aduh duh. Ini sangat menyakitkan," rintihnya setelah memukul daging tersebut.
Salah satu tentakel berbeda mulai bergerak dan menyentuh lengan Luna yang merasakan sakit, kemudian daging itu secara ajaib menghilangkan rasa sakit di tangannya.
"Ohh, penyembuh kah! Keren! Hm, jika saja kamar ini memiliki serangga seperti kecoak atau tikus. Aku mungkin bisa bereksperimen kepada mereka, tapi tempat ini terlihat sangat bersih. Mana mungkin hama seperti mereka akan muncul begitu saja," Gumamnya dan memandang area sekitar kamarnya.
Luna lalu menatap kearah guci yang sudah dia hancurkan barusan.
"Hm, jika guci pecah itu dilihat oleh seseorang. Mereka pasti menyalahkan aku karena telah merusaknya, apa yang harus aku lakukan ya. Membuangnya? Atau memperbaikinya?. Tidak, guci ini sih seharusnya dibuang-"
Tak lama setelah Luna memikirkan apa yang harus dia lakukan kepada guci tersebut, tentakel yang memiliki kemampuan penyembuh itu bergerak kearah guci dan menyentuh guci itu.
Perlahan lahan Guci tersebut menyatu kembali seperti sedia kala, seolah benda itu tidak pernah dihancurkan.
Luna terkejut melihatnya, karna ini baru pertama kali dia melihat hal semacam itu.
"Keren keren! Apakah ini berkat dari kemampuan tentakelnya? Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi mungkin memang benar" gumamnya dengan nada bahagia.
Luna menarik kembali tentakel itu dan mengelusnya, tentakel tersebut mengeliat kecil merespon dengan bahagia.
"Ini mungkin kemampuan yang luar biasa. Aku bisa membeli barang yang rusak dengan harga murah, memperbaikinya, dan menjual dengan harga di atasnya."
Luna membayangkan hal itu dengan menutup matanya untuk melihat gambaran di masa depan namun,
Di dalam pandangannya yang gelap, ia bisa melihat empat nama dengan tulisan berwarna putih.
Luna sedikit terkejut dan membuka matanya kembali, tulisan itu menghilang dari pandangannya.
"Nama?"
Luna menutup matanya lagi, dan kembali muncul daftar nama di dalam bayangannya itu.
"Apakah ini adalah nama dari tentakel milikku? "
Sebelah kanan :
Purity _
Humility _
Mercy _
Perseverance _
Courage _
Kindness _
Wisdom _
Sebelah kiri :
Lust _
Gluttony _
Greed_
Sloth _
Wrath_
Envy _
pride _
"Uwa... Ini adalah nama dari kebajikan dan Dosa didalam ajaran agama tertentu?"
Luna membaca seluruh keterangan dari keempat belas nama itu, dia akhirnya mengerti tentang kekuatan dari setiap Tentakelnya dan akhirnya memahami.
Setelah selesai Luna merasa kantuk yang sangat berat, dia berdiri dan berjalan kearah kasurnya untuk tidur.
Setelah terbaring, mengunci pintu kamarnya dengan menggunakan tentakelnya dan kini dia mematikan lampu di dalam kamarnya.
"Heee, sangat praktis. Para kaum rebahan pasti menginginkan tentakel ini untuk kebahagiaannya sendiri."
Setelah bergumam seperti itu, dia menarik selimutnya dan mulai tertidur pulas.
...****************...
Pagi tiba dan Luna membuka matanya secara perlahan dan terbangun dari tempat tidurnya.
"Hoa... Sudah pagi ya?."
Melihat sekeliling dan tidak menemukan pandangannya masih mirip seperti saat sebelum dia tidur.
"Rupanya semalam itu bukan mimpi ya," Gumamnya dan kemudian dia membuka gorden jendela kamarnya.
Pemandangan di depan matanya adalah taman bunga yang di hiasi oleh sinar matahari yang cerah di pagi hari.
Luna beranjak mandi dan mengenakan pakaian yang ada di lemarinya, dia keluar kamar dan hendak berjalan jalan di taman bunga yang dia lihat.
Ketika dia melewati seorang pelayan yang sedang membersihkan kaca, pelayan itu menghalangi langkah Luna dan menyodorkan kain lap dan ember berisi air kepada Luna.
"Apa ini?" Luna bertanya kepada pelayan perempuan itu dan sedikit menyipitkan matanya.
"Karna kau telah melewati tempat ini, seluruh koridor yang telah aku bersihkan menjadi kotor lagi. Karena itu kau harus membayarnya dengan membersihkannya lagi," balas pelayan itu dengan nada sedikit mencela Luna.
"Jika aku membersihkan tempat ini? Apa yang akan kau lakukan, hah?."
Luna mulai menaikan suaranya kepada pelayan itu, karena si pelayan memulai untuk memancing emosinya.
Jika Luna di masa lalu dengan tubuh laki laki, dia tidak akan bisa memukul perempuan. Tapi sekarang sedikit berbeda ceritanya, selain sesama perempuan, dia juga bisa memukul laki laki.
"Sungguh aku kadang kadang sangat iri dengan wanita, karna bisa bebas memukul siapapun."
"Aku akan mengawasi mu, karna itu cepat patuh lah atau aku akan menyebarkan romor tentangmu yang anak cacat, aib bagi keluarga Count Laxion. Sungguh memalukan."
"Masa bodo tentang hal itu dan juga. Jika kau tidak bekerja, maka kau akan memakan gaji buta. Apakah kau mengerti perihal gaji buta?! Atau kau memang orang yang sangat bodoh yang tidak mengetahui hal semacam itu."
"Anak cacat sepertimu...!!!"
Pelayan itu hendak menampar pipi Luna, namun sebelum itu, Luna menendang perut pelayan tersebut hingga dia merasa kesakitan. Tidak hanya itu, tentakel miliknya juga tengah bersiap untuk menghabisi pelayan itu.
"tahan..."
Luna memerintahkan tentakelnya untuk tidak membuat kekacauan yang lebih parah dengan membunuh pelayan itu di hadapan pelayan lainnya.
"Diam lah dan bekerjalah dengan giat. Jika kau selalu bekerja seperti ini, derajat mu yang sebagai babu itu tidak akan pernah meningkat, kau tahu itu?"
"Apa kau bilang! Kau ingin mati ya..."
"Kalau aku bilang aku ingin mati, maka apa yang akan kau lakukan, hah?!"
Luna memelototi pelayan itu dengan tatapan tajam dan sedikit mengintimidasi pelayan itu.
"Huh Luna Luna, kau seharusnya mengabaikan saja dia. Jangan peduli apa kata orang, yang terpenting adalah apa yang ingin kau lakukan," Pikir Luna yang hendak berjalan untuk menjauh namun.
Pelayan itu, mulai mendekat kearah Luna dan ingin memukulnya dengan sekuat tenaga. Di kepalan tangan pelayan itu terlihat seperti mengeluarkan cahaya redup, tanda dari kekuatan ilahi di aktifkan di sana.
Luna sendiri belum mengetahui tentang kekuatan ilahi itu dan hanya menghindarinya dengan gerakan sederhana.
"Lambat."
Luna menghindari pukulan itu dan balik memukul tepat di bagian leher pelayan tersebut.
Bughhh....
Uhuueek....
Pelayan itu mulai terjatuh karna titik vitalnya terkena oleh tinju Luna. Belum lagi kepalan tinju yang di hindari oleh Luna, membentur tentakel yang sekeras baja.
Dia memuntahkan darah dari mulutnya dan lengannya sedikit bengkak, tapi itu semua sudah bukan lagi urusan Luna.
"Mereka sepertinya memang sudah terbiasa memperlakukan Luna seperti ini. Mungkin jika aku bisa bertemu dengan Luna yang asli pemilik tubuh ini, aku akan sedikit menegurnya, tapi ya sudah lah."
Luna lalu pergi menuju halaman untuk melatih tubuhnya yang sedikit lemah ini.
"Bergantung kepada Tentakel memanglah lebih mudah, tapi jika tidak di barengi dengan kekuatan fiksi dan teknik bela diri murni. Itu semua akan percuma." Gumam Luna sembari pergi dan mengabaikan rintihan pelayan tersebut.
Setelah meninggalkan pelayan yang menyebalkan itu, Luna kini telah sampai di taman. Dia ingin sejenak menikmati pemandangan taman bunga tersebut, tapi dia mengurungkannya karna satu hal.
"Banyak tatapan tidak mengenakan di sekitar sini, mungkin aku akan pergi keluar deh."
Luna berjalan ketempat latihan para Knight untuk melatih tubuhnya.
"Tubuh ini juga terlihat sangat lemah, jika aku tidak membiasakan diri secepatnya. Aku mungkin akan menyesal di masa depan."
Setelah sampai di tempat latihan para prajurit, Luna berjalan ke tempat penyimpanan senjata dan mengambil pedang kayu. Para Knight dan tentara melihat sosok Luna dengan tatapan heran.
-mengapa nona muda ada disini?
-bukankah nona muda sering berada di kamarnya?
-dia itu sering membantu para pelayan, dia memang nona yang baik hati.
Gumaman para Knight dan tentara terdengar oleh Luna.
"Aku bisa mendengar kalian loh, tapi aku juga terkejut. Selain Knight yang waktu itu di tusuk oleh tentakelku. Para Knight di sini terlihat sangat peduli dengan denganku."
Luna lalu mengambil pedang kayu dan bersiap kelapangan, dia menghunuskan pedang kedepan beberapa kali. Karena sebelumnya. Luna yang masih di tubuh laki laki, dia pernah di latih seni bela diri kendo, linggar, dan semua persenjataan jarak dekat dan jauh. Jadi dia sudah mulai terbiasa dengan alat alat itu.
"Oya oya... Nona muda, sepertinya ini pertama kali anda berada di tempat pelatihan..."
Setelah Luna selesai pemanasan dan hendak berteduh sebentar, dia di sapa oleh salah satu Knight dengan tubuh yang terlihat kurus dan langsing.
Knight itu mengajak Luna berbicara dengan nada ramah, namun entah mengapa Luna langsung mengerti niat dari Knight tersebut.
"Dia tidak baik."
"Ah... Aku-, saya hanya ingin berlatih dengan menggunakan pedang. Apakah saya menggangu para Knight lainnya?"
Luna mengubah gaya bicaranya, menjadi lebih halus. Ia ingin memberikan kesan baik, pada seluruh tentara yang ada di tempat ini.
"Hm, sebenarnya anda bebas untuk menggunakan tempat ini. Saya hanya tidak ingin anda terluka seperti beberapa hari kemarin."
"Ah... Terima kasih atas perhatiannya, kapten. Kalau begitu saya akan pamit terlebih dahulu."
Luna ingin segera menjauh dari orang ini, dia merasa akan sangat buruk jika terus berurusan dengan Knight ini.
"Tunggu nona muda. Jika anda sedang berlatih, bagaimana jika kita latih tanding terlebih sebentar. Saya ingin sekali melihat kemampuan berpedang anda. Saya berjanji setelah duel ini, saya akan mengajarkan anda cara bertarung ala Knight."
"Ah tidak... Sebenarnya itu tidak-."
Luna ingin menolak tawaran Knight itu, tapi dia memikirkan sesuatu tentang apa yang dia akan lakukan selanjutnya.
"Baik lah kalau begitu."
"Nona muda sangatlah pemberani. Kalau begitu, aku akan mengunakan pedang kayu. Nona muda silakan gunakan pedang asli."
"Eh, apakah tidak apa apa?."
"Hahaha, apakah nona mengkhawatirkan saya?"
"Tidak, hanya saja..."
"Nona tidak perlu mengkhawatirkan saya dan mari kita mulai."
"Dia sepertinya berniat mempermalukanku dengan mengalahkanku dalam sekali serangan. Itu juga bisa di pastikan kalau dia ingin membalaskan dendam rekannya yang kemarin mati kah, atau mungkin dia mempunyai alasan lain. Sejak memiliki tubuh wanita ini, mengapa aku selalu tidak percaya diri ketika orang lain melihatku ya."
Setelah berpikir seperti itu, Luna mengambil jarak 5 meter dari Knight itu. Ia mulai bersiap untuk beradu pedang dengan lawannya.
"Kamu yang di sana! Saya ingin kamu menjadi wasit."
Luna menunjuk salah satu Knight yang terlihat sedang menganggur, Luna juga berpikir apakan dia giat latihan atau tidak.
Knight itu maju dengan sedikit gugup dan berjalan ke tengah tengah di antara Luna dan kapten Knight.
"Baik lah, Nona muda. Kalau begitu."
Keduanya terlihat sangat bersiap, tapi tetap saja, Luna bisa melihat kapten itu tersenyum kepadanya dengan cara yang aneh.
"Ready... Fight..."
Keduanya maju dengan pedang masing masing. Pedang asli dan pedang kayu memiliki beratnya yang sangat berbeda.
Karena Luna memahaminya dari ingatan lamanya ketika dia belajar kendo, dia jadi mengerti tentang hal itu dan segera meniru gaya dari guru nya di Dojo tempat dia berlatih.
Sebelum Luna menebas pedang milik kapten itu, Luna sedikit menyenggol pedang kayu milik si kapten.
Karena kecepatan serangan yang di lancarkan oleh kapten itu lumayan tinggi, Luna memperhitungkan arah dari tebasannya dan sedikit mengubah arah lintasan pedang kayu itu.
Setelah memastikan pedang itu terangkat ke atas dan menebas udara, Luna segera menebas perutnya dengan bagian datar di bilah perang tersebut.
Bugh...
Aaarrggghhh...
Kapten itu memuntahkan udara dan jatuh setelah perutnya di pukul oleh pedang di tangan Luna.
"Pe-pemenangnya Nona muda Luna..."
Para Knight yang menonton terkejut oleh gerakan Luna yang sangat sederhana namun tepat sasaran dan berhasil mengalahkan kapten knight yang bisa di bilang top sepuluh terkuat di deretan Knight keluarga Laxion.
"Huh, tidak buruk. pak Kapten, saya izin untuk under diri.
"Tunggu!"
"Apa lagi kapten, anda sudah kalah."
"Apa katamu, itu adalah permulaan. Duel resmi adalah 3 pertandingan mutlak. Bukan begitu, nona muda."
Apa yang dia katakan?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
𝚁𝚊𝚢𝚊♡
boleh tuhh jadi pengenn
2024-09-07
3
Rinaa
beliau ini tahu aturan
2024-07-05
2
RATU REINKARNASI
🗿
2024-04-25
2