...Lavender? Bunga pertama yang aku berikan padamu. Kala kamu mengeluh, mimpi buruk itu mendatangimu....
...Mendekap tubuhmu penuh kasih. Ketenangan, itulah yang kita dapatkan setiap kali menghirup nya....
...Mungkin karena itu, aku ingin menutup mata, dibawah hamparannya. Tinggal dalam memori, kala kamu masih mencintaiku....
Laverna.
Bibirnya terkatup menatap ke arah Laverna. Lebih dari setahun? Wanita yang tengah membuatkan air hangat untuk dirinya.
Apa Laverna benar-benar akan pergi dalam waktu yang cukup lama?
"Ka...kamu akan kembali kan?" Entah kenapa Jeremy bertanya seperti ini. Mungkin karena persahabatan mereka, semenjak Laverna datang dari luar negeri. Jika difikirkan sekali lagi, Laverna memang lebih sering bicara dengannya daripada Jasmine.
Laverna tidak berbalik sama sekali, menatap ke arah air jernih yang direbusnya."Entahlah, jika menemukan pria yang aku cintai, mungkin aku akan mengikutinya berganti kewarganegaraan."
"Kenapa!? Ayahmu sudah tua! Dia memerlukanmu! Kamu tidak boleh egois! Bahkan Jasmine masih bergantung padamu!" Bentak Jeremy dengan mata memerah, rasa sesak aneh di dadanya yang tidak dimengerti olehnya terasa."Ji...jika sudah selesai berlibur, pulanglah." Ucapnya menurunkan nada bicaranya.
Laverna berusaha tersenyum. Dirinya mengetahui ayahnya sudah cukup tua, dan kakaknya sama sekali tidak dapat diandalkan untuk mengelola perusahaan. Tapi, tetap saja saat Tuhan memanggilnya di hadapan ayahnya yang tidak lagi muda, itu akan menjadi pukulan terbesar bagi ayahnya.
Laverna berbalik, tidak ada tangisan sama sekali. Wajahnya masih tersenyum, mungkin karena dirinya sudah ikhlas. Hanya saja tidak ingin membuat orang disekitarnya sedih."Aku memang egois. Jika aku tidak egois, bagaimana aku bisa menikahimu?"
Gadis itu tertawa kecil."Jeremy, saat remaja aku mulai sibuk. Hingga kehilangan semua masa-masa mendebarkan, memiliki teman atau melirik ketua OSIS tampan di sekolah. Sepanjang hidupku dihabiskan hanya untuk membuat ayahku bangga. Ayah yang membawaku ke setiap perjamuan dengan bangga memperkenalkan putrinya. Laverna, dia anak perempuanku, lihatlah betapa cerdasnya dia. Bahkan jika aku memiliki anak laki-laki, perusahaan akan tetap aku berikan pada anak perempuanku yang cerdas. Begitulah ayah membanggakanku dulu."
"Hal yang membuatku semakin sombong. Karena itu, aku belajar semakin keras, memegang cabang perusahaan di luar negeri saat usia 19 tahun. Menempuh pendidikan di saat yang sama. Musim semi untuk belajar, bahkan musim dingin, aku pernah menunggu beberapa jam di depan rumah klien agar menerima proposal yang aku buat. Karena itu---" Kalimat Laverna disela.
"Karena itu, apa kamu ingin membuang hasil kerja kerasmu!?" Tanya Jeremy tidak dapat menerima jika Laverna tidak kembali lagi nantinya.
Dengan ringannya wanita itu mengangguk."Jika aku pergi, semuanya akan dikelola dan menjadi milik kakak. Kak Jasmine yang paling aku sayangi."
Bagaikan sebuah pedang menancap di dadanya. Demi kebahagiaan Jasmine? Apa dia bodoh? Dia menikah dengan Jeremy karena memendam perasaannya. Dan sekarang, tidak akan kembali lagi. Apa yang ada dalam otaknya?
Tidak ada jawaban dari Jeremy lagi. Pemuda yang meneteskan air matanya kala Laverna tengah membawa air panas ke kamar mandi. Menangis? Mengapa dirinya menangis, air mata yang hanya boleh diteteskan untuk Brownies-nya. Cinta pertama yang bagaikan tujuan hidupnya. Sebuah obsesi yang membuatnya mengejar-ngejar Jasmine.
Tapi terkadang waktu membuat seseorang berubah. Dirinya tidak merasa nyaman dengan Jasmine, karena itu menarik tangannya, tidak memeluk atau menciumnya. Rasa yang berbeda dengan belasan tahun lalu. Tapi dari segi cerita, Jasmine menceritakan segalanya.
Mulai dari Cookies dan Brownies, bahkan bunga lavender yang diberikan olehnya dulu. Termasuk bagaimana Jasmine menyelamatkan nyawanya kala tenggelam.
"Brownies-ku... satu-satunya orang yang aku cintai adalah Jasmine." Gumamnya meyakinkan dirinya sendiri. Menatap ke arah punggung Laverna.
*
Kala malam semakin larut, istrinya telah tertidur. Saat itu juga Jeremy membaringkan tubuhnya. Menatap ke arah langit-langit kamar, tidak dapat tidur sama sekali.
Haruskah dirinya mempercayai kata-katanya Philip, janji pada Tuhan lebih berharga daripada janji pada manusia? Memang tidak masuk akal dirinya dapat tertipu oleh Laverna.
Apa ini kehendak Tuhan, karena itu menjadikan dirinya bodoh untuk tertipu? Berbagai pertanyaan ada dalam benaknya. Mengapa Tuhan begitu kejam pada Brownies-nya?
Dirinya ragu, benar-benar ragu. Tangannya gemetar, apa ini termasuk mengkhianati Jasmine-nya?
Tangannya terulur perlahan, membelai wajah Laverna yang terlihat pucat. Rasa sesak itu kembali ada, tuan muda yang pada akhirnya memeluknya, ikut tertidur bersamanya.
*
"Jeremy memelukku!?" Suara cempreng seseorang membuatnya membuka mata dalam keadaan setengah sadar. Menatap ke arah jam dinding menunjukkan pukul 5 pagi.
"Kenapa pagi-pagi begini sudah ribut!?" Ucap Jeremy, menarik selimut menutupi tubuhnya. Dirinya masih terlalu ngantuk untuk bangun.
"Karena kamu memelukku saat tidur! Jujur saja dalam otakmu kamu mencintaiku kan?" Tanya Laverna padanya, tersenyum penuh arti.
"Tidak tau! Sudah pasti karena aku mengira kamu adalah bantal guling!" Alasan Jeremy dari dalam selimut. Dirinya benar-benar malu dan penuh rasa bersalah. Bagaimana bisa memeluk Laverna?
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Batinnya.
"Begitu ya!?" Tanya Laverna bergerak cepat menyingkap selimut kemudian menggelitiki Jeremy.
"Hentikan! Aku tidak tahan geli! Es cincau! Hentikan!" Teriak Jeremy memperingatkannya. Tapi Laverna tidak berminat menghentikan tindakannya sama sekali.
Hingga, Jeremy mengumpulkan tenaganya, membalik tubuh Laverna hingga kini berada di bawah tubuhnya."Sudah aku bilang hentikan..." ucap Jeremy menatap mata Laverna.
Ada alasan tersendiri mengapa pria dapat lebih bernapsu di pagi hari. Pada pagi hari tingkat hormon testosteron mereka mencapai puncaknya.
Jantung Laverna berdegup cepat. Ini hal yang paling membahagiakan di sisa hidupnya. Dapat melihat Jeremy dari jarak sedekat ini.
Pemuda yang perlahan mencium bibirnya. Memasukkan lidahnya pada mulut Laverna.
Otak Jeremy terasa kosong, tidak ada apapun dalam otaknya kecuali menginginkan tubuh ini. Tubuh yang membuatnya nyaman, dalam aliran darah begitu cepat. Ini aneh, bagaimana pun caranya Jasmine mencoba menciumnya atau berbuat lebih dirinya akan menolak.
Tapi mengapa Jeremy tidak dapat menahan diri pada Laverna. Apa ini murni karena kondisi tubuh pria pada umumnya?
Wanita yang mengalungkan tangannya pada leher Jeremy. Ciuman turun ke area lehernya, benar-benar menyesap penuh kegelisahan. Bahkan napasnya dapat terdengar pelan.
"Ini indah..."
Hanya itulah yang ada dalam benak mereka. Pagi dingin penyebabnya, dua orang yang otaknya telah kelu. Hingga tangan Jeremy merayap menyingkap daster kebesaran yang dipakainya membelai pinggangnya pelan.
Inilah saat Laverna mulai cemas, mengembalikan kesadarannya. Perutnya sedikit membuncit akibat penyakitnya. Bagaimana jika Jeremy mengetahuinya dan membawanya ke dokter?
Namun, ini terlalu indah untuknya.
Hingga, membiarkan pemuda itu, menciumi lehernya.
Brak!
Pada akhirnya ranjang tua itu jebol juga. Bagaimana tidak? Mereka berbaring di sisi tempat tidur yang sama, dapat dikatakan bertindihan.
"Sudah aku bilang! Kekuatan ranjangnya sama dengan kekuatanmu di tempat tidur! Reot!" Laverna bangkit, menahan sakit di pinggangnya, melangkah pergi meninggalkan Jeremy yang tertegun, masih di ranjang yang jebol.
"A...aku tidak seburuk itu di ranjang!" Teriak Jeremy pada Laverna. Tapi sejenak dirinya terdiam, mengacak-acak rambutnya frustasi."Aku hampir khilaf! Untung saja ranjangnya jebol!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
sansan
kan.kan.kan... pasangan kocak emang mereka berdua ini
2024-08-22
0
Abimanyu Rara Mpuzz
🤣🤣🤣 gak kebayang
2024-08-02
0
May Tanty
astagaa ranjang nya belum apa² udah jebol🤣🤣🤣
2024-01-14
0