...Waktu? Jika waktu bergerak lebih cepat, maka aku ingin menghentikan kepergianmu....
...Tapi... jika waktu bergerak lambat, aku ingin memelukmu lebih lama....
...Mengantarkanmu ke dalam selimut hangat. Tertawa saling mendekap setiap pagi, di istana yang aku bangun....
...Namun, hanya tangis dan seikat lavender dapat aku berikan. Jika berakhir begini, ijinkan ku. Untuk mengikutimu dalam keabadian....
Jeremy.
Dirinya datang tepat pukul 12 siang. Melangkah memasuki lobby perusahaan melalui jalur belakang. Mengapa? Ada banyak isu tentang pemimpin perusahaan ini.
Hanya petinggi perusahaan yang pernah bertemu dengan presiden direktur. Beberapa gosip tentang kecelakaan belasan tahun silam tersebar.
Kala itu terjadi ledakan di salah satu pabrik. Jenazah seorang anak hanya berupa kerangka ditemukan, hingga tuan muda (Jeremy) sempat dinyatakan meninggal.
Tapi beberapa bulan kemudian, seseorang menghubungi pihak keluarga. Mengatakan dirinya tuan muda yang dianggap meninggal. Kala itulah kerahasiaan tentang kembalinya Jeremy dijaga. Kedua orang tua yang tidak ingin kehilangan putra mereka lagi.
Ada beberapa gosip tentang pemuda yang berstatus sebagai presiden direktur perusahaan cabang tersebut.
"Aku dengar-dengar Presdir wajahnya rusak akibat kebakaran."
"Tidak! Ini kata sepupu dari teman kakak iparku, yang tinggal di luar kota. Dia pernah bekerja sebagai pelayan, katanya Presdir tidak normal, dia psikopat karena trauma mengalami kecelakaan besar."
Itulah suara bisikan yang terdengar kala dirinya memasuki perusahaan melalui jalur belakang. Pandangan kedua karyawati yang bergosip itu teralih pada pemuda yang baru saja masuk.
Pemuda rupawan, terlihat ceria dengan senyuman yang ramah. Dengan cepat kedua karyawati yang mengidap penyakit jomblo akut itu mendekat.
"Kamu dari departemen mana?" Tanya karyawati berambut pendek.
"Aku? Dari bagian marketing." Jawab Jeremy, melihat ke arah jam tangannya. Sembari menunggu pintu lift terbuka.
"Boleh kenalan?" Karyawati berambut panjang menyela.
"Namamu Sandria kan? Ini jam makan siang, lebih baik nikmati makanan kalian. Aku khawatir dengan kesehatan kalian." Jeremy tersenyum ramah kemudian memasuki pintu lift yang telah terbuka.
"Ganteng gila!" Ucap gadis berambut panjang, memegang dada kirinya. Tidak ingin jantungnya jatuh ke lantai, kemudian berlari menyusul Jeremy.
"Aku tidak tau orang dari departemen marketing ada yang genteng begitu! Walaupun ada cincin di jari manisnya, aku ingin berteriak. Ku tunggu duda mu!" Teriak karyawati berambut pendek histeris.
*
Sementara fikiran Jeremy sejatinya tidak tenang. Ingin segera bertemu dengan Laverna entah kenapa. Namun, nanti malam mereka juga akan bertemu walaupun hanya sebentar bukan? Melonggarkan dasinya sendiri.
Hampir dua tahun, dirinya menjalin hubungan dengan Jasmine. Selama itu juga berteman dengan Laverna. Tapi siapa sangka, Laverna mengkhianati dirinya dan Jasmine.
Sampai sekarang Jasmine benar-benar sulit dihubungi olehnya. Menghela napas kasar, dirinya harus fokus bekerja.
Menghubungi partner bisnis menjadi pilihannya untuk menghilangkan penat. Memakai earphone, tidak lama panggilnya diangkat.
"Halo, ini siapa Gery sedang mandi." Suara seorang wanita terdengar. Suara yang bagaikan dikenali olehnya. Apa cuma mirip? Ini bagaikan suara Jasmine.
"Maaf! Katakan Jimy menghubunginya." Itulah yang diucapkan oleh Jeremy, menghela napas berkali-kali, ada banyak orang yang memiliki suara sama. Lagipula Brownies-nya, tidak mungkin bersama pria lain. Sebuah janji akan bersama hingga tua nanti, bahkan hingga kehidupan yang akan datang, janji mereka kala remaja.
"Iya! Lalin kali jangan menghubungi Gery jika tidak begitu perlu! Mengganggu saat berkencan saja, dasar karyawan tidak tahu situasi." Ucap seorang wanita dari seberang sana mematikan panggilannya.
Jeremy mengernyitkan dahinya, benar-benar tidak mungkin ini Jasmine. Brownies-nya tidak pernah merendahkan orang lain. Bahkan kala dirinya dalam kondisi buta, berstatus sebagai anak terlantar, Brownies masih mengulurkan tangannya.
"Adaya wanita tidak beradab seperti ini? Gery pasti gila menjadikannya pacar. Berbeda dengan Jasmine yang memang luar dalamnya baik."Komat-kamit mulut Jeremy mengomel.
Pemuda yang melangkah memasuki ruangan, dengan dua orang sekretaris menunduk memberi hormat padanya.
Kala pintu dibuka, saat itulah Philip terlihat, merapikan beberapa dokumen. Menatap sinis ke arahnya."Sudah puas melakukan KDRT?" tanyanya.
"KDRT?" Jeremy mengernyitkan keningnya, kemudian mulai duduk di kursi putarnya.
"Benar! KDRT! Memang apa lagi? Membiarkan istrimu tidak tidur semalaman. Tadi aku melihatnya berbicara dengan seorang klien di restauran Flora. Dia hampir jatuh pingsan, untungnya ada seorang pengusaha muda yang menangkapnya persis seperti di drama TV." Philip menghela napas berkali-kali mengingat adegan tersebut.
"Dia, ditangkap? Itu artinya disentuh!?" Tanya Jeremy tersenyum, mengeluarkan aura suram.
"Dia bukan istri yang baik." Philip menipiskan bibir menahan tawanya.
"Benar! Dia istri yang buruk! Aku harus menegurnya agar tidak menjalin hubungan dengan pria lain!" Tekad Jeremy terkena hasutan.
"Benar! Dasar pengkhianat! Dia seperti tokoh utama, karakter novel online yang pernah aku baca." Ucap Philip sedikit berpikir.
"Bagaimana ceritanya?" Tanya Jeremy penasaran.
"Suaminya brengsek! Masih berselingkuh dan memikirkan mantan. Bahkan melakukan KDRT, ending novelnya mengharukan. Suaminya bangkrut, sementara istrinya hidup bahagia dengan suami barunya, yang kaya 8 turunan 7 tanjakan. Persis seperti adegan Laverna yang hampir pingsan! Itulah pertemuan pertama cikal bakal sang istri teraniaya dengan suami barunya." Ucap Philip sedikit melirik ke arah Jeremy.
"Siapa yang menangkap Laverna ketika akan jatuh?" Tanya Jeremy dengan aura terlihat suram.
"Kamu cemburu?" Philip balik bertanya sembari tertawa.
"Ti... tidak!" Jawab Jeremy cepat, merasa ada yang salah dengan dirinya. Tidak menyadari dua tahun menjalin hubungan dengan Jasmine, dirinya lebih sering menghabiskan waktu bicara bersama Laverna. Walaupun hanya pembicaraan santai di club'malam.
"Begini, seharusnya kamu tidak boleh menghalangi hubungan Laverna dengan pria lain. Coba fikirkan secara logika, jika Laverna bisa melupakanmu, maka Jasmine secara otomatis akan kembali padamu." Jawaban masuk akal dari Philip.
Tapi bagaikan sensasi sesak memakan ubi manis. Ada hal dalam dirinya yang tidak dapat menerima, jika Laverna bersama dengan pria lain.
Membayangkan Laverna menikahi pria lain, membayangkan malam pertama Laverna dengan pria tersebut. Berkas penting yang berada di atas meja dicengkeram olehnya.
"A...aku tidak cemburu! Tidak mungkin cemburu pada Laverna. Janjiku pada Brownies-ku akan tetap aku pegang." Kalimat demi kalimat yang membuat Philip semakin menahan senyumnya.
Dari awal, melihat profilnya saja, Philip sudah tidak menyukai Jasmine. Bukan karena apa? Tujuan Jasmine hanya memamerkan wajah Jeremy di pertemuan sosial.
*
Sementara itu, ada istilahnya cinta karena cinta. Wanita cantik dari keluarga kelas menengah keatas? Siapa yang tidak akan tertarik padanya.
"Jadi kamu mengambil cuti penuh hari ini?" Tanya Gery tengah memangku Jasmine di area kolam renang hotel, setelah datang dari area spa, melakukan treatment lengkap.
Jasmine mengangguk."Iya, demi kesayanganku apa yang tidak."
"Begitu?" Gery tersenyum mengecup bibir kekasihnya, berkali-kali.
Tidak menyadari seseorang menatapnya dari jauh, mengambil beberapa foto dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Abimanyu Rara Mpuzz
ibunya Jeremy
2024-08-02
0
Putri Nunggal
siapa yang diam diam ngambil gambar Jasmine yang sedang kencan apa mungkin emaknya jimi
2024-02-12
0
Putri Nunggal
harusnya kalian sudah tau gimana kelakuan Jasmine diluar sana yang dengan mudah nya berganti pasangan dan bukan hanya 1lelaki dalam waktu yang sama
2024-02-12
0