...Berlari menembus malam, mencari jejakmu yang terhapus hujan....
...Hanya samar, memory indah. Menarikku dalam gelap, menyingkap kabut. Seakan tidak ingin ku tersesat....
...Hingga langkah ini terhenti menatap wajah pucat mu yang berkata."Ikhlaskan aku..."...
...Tubuh yang berbalik, meninggalkanku seorang diri. Jika Tuhan ada, tolong kembalikan dia untukku....
Jeremy.
Matanya menatap ke arah Jasmine, sebuah mimpi yang buruk. Tentang Brownies-nya yang akan pergi meninggalkannya.
Namun, entah kenapa kegelisahannya tidak menghilang sama sekali. Bukankah seharusnya kegelisahannya pudar?
Dirinya melangkah mendekat, kala Jasmine masih tertegun diam di tempatnya.
"Jeremy! Diam disana!" Perintah Jasmine.
"Kenapa? Apa kamu masih merasa ini kesalahanku? Aku bisa menjelaskan." Pemuda yang melangkah semakin mendekat. Pintu kamar Jasmine masih terbuka setengah. Menampakkan seorang pemuda berada di tempat tidurnya.
"Bagaimana ini?" Gumam Jasmine hendak menutup pintu.
Namun.
"Jeremy, aku ingin bicara denganmu." Suara Dimitri terdengar, membuat pemuda itu berbalik. Ayah mertuanya berdiri dengan ekspresi datar menatapnya.
"Baik." Itulah jawaban Jeremy, dirinya harus mempertanyakan dan menjelaskan ini pada Dimitri.
Bug!
Jasmine menghela napas, berhasil menutup pintu pelan tanpa membangunkan Gery atau membuat Jeremy melihat keberadaan seorang pria di kamar.
Mata Jasmine menatap ke arah ayahnya yang menuruni tangga diikuti oleh Jeremy. Ayahnya mengetahui jika dirinya membawa seorang pria pulang, lalu mengapa sang ayah menolong dirinya?
Tapi itu tidak penting. Jasmine menatap ke arah cermin yang ada di lorong lantai dua. Merapikan penampilannya, menutupi bekas keunguan menggunakan rambut panjangnya.
Dirinya menghela napas, turun langsung menuju lantai satu tidak ingin Jeremy curiga. Walaupun tidak kaya, paling tidak wajah Jeremy cukup baik untuk dipamerkan.
Setelah perceraian dengan Laverna, mungkin memang lebih baik, Jeremy kembali menjadi salah satu kekasihnya.
Melangkah menuruni tangga, dirinya menatap ada yang berbeda dari ayahnya. Biasanya sang ayah tidak begitu peduli, hanya tersenyum dan sekedar bicara dengan Jeremy, kala pemuda itu berkunjung. Tapi sekarang? Entahlah ada yang tidak biasa dengan ayahnya.
Duduk meminum sedikit kopi di hadapannya."Jadi untuk apa kamu datang ke tempat ini, putri kebanggaanku sudah kamu bawa pergi ke tempat mewah itu." Sarkas sang ayah, memendam kemarahannya.
"Aku dibohongi oleh Laverna. Anda tau sendiri aku memiliki hubungan dengan Jasmine." Ucap Jeremy pada pria di hadapannya.
Menghela napas berkali-kali, Dimitri berusaha menekan sedikit kemarahannya."Laverna, dia tidak pernah meminta apapun. Bekerja dengan baik tanpa imbalan. Karena itu saat dia mengatakan ingin menikah denganmu, aku segera setuju. Bahkan aku sudah menyiapkan anak cabang perusahaan untuk kamu kelola! Agar kamu tidak merasa rendah diri! Tapi kenapa kamu malah membawa putriku ke tempat kumuh itu!"
Brak!
Dimitri menggebrak meja tidak dapat menahan amarahnya. Bahkan apartemen milik Laverna dengan harga paling murah pun lebih baik daripada tempat tinggal putrinya saat ini.
"Aku ingin membuat Laverna menyerah. Sudah aku katakan yang aku cintai adalah Jasmine. Tapi anda malah bekerjasama dengan Laverna untuk---" Kalimat Jeremy disela.
"Aku juga ditipu! Jasmine mengatakan sudah memutuskan hubungan denganmu! Laverna mengatakan kalian sudah menjalin hubungan walaupun beberapa minggu! Yang mana harus aku percayai!?" Dimitri menghirup napas, kembali berusaha menetralkan emosinya.
"Ini memang salah kedua putriku. Tapi apa pantas Laverna hidup menderita, padahal dia menukar hak warisnya dengan---" Kalimat Dimitri terhenti, kala dengan cepat Jasmine menyela kata-katanya.
"Jeremy maaf tentang itu! Aku benar-benar berfikir ini untuk kebahagiaan Laverna." Ucap Jasmine mendekat, air matanya mengalir menghela napas berkali-kali.
"Ayah tidak peka! Jangan katakan kalau aku menukar Jeremy dengan perusahaan! Nanti jika Jeremy berfikiran buruk tentangku bagaimana? Salah satu pacar kesayangan anakmu ini akan menghilang." Batin Jasmine, merasa bersyukur dapat menghentikan kalimat ayahnya.
Dimitri terdiam sejenak, sedikit melirik ke arah Jasmine. Rasa kesal itu masih ada hingga sekarang."Kamu minta uang berapa? Ceraikan putriku! Dia anak kebanggaanku, generasi selanjutnya dari perusahaan yang aku bangun dengan susah payah!"
"90 hari, aku membuat perjanjian dengan Laverna untuk bercerai dalam kurun waktu 90 hari." Itulah jawaban dari Jeremy, memegang jemari tangan Jasmine yang duduk di sampingnya. Brownies kecilnya adalah pilihannya. Tidak akan mengingkari janji sehidup dan semati dengannya.
Dimitri tertawa, tatapan mata menghunus bagaikan pedang menatap ke arah Jeremy."Putri kebanggaanku harus mengemis cinta seperti ini. Bahkan hanya 90 hari yang ditukar dengan---" Dirinya menghela napas enggan bicara lagi.
Namun hanya beberapa kalimat yang diucapkan oleh Dimitri."Aku senang kamu hanya menikahi putriku selama 90 hari. Pastikan jangan pernah menyentuhnya di ranjang. Aku tidak sudi, Laverna-ku disentuh olehmu!"
"Aku tidak akan menyentuh Laverna. Yang aku cintai adalah Jasmine." Jawaban dari Jeremy benar-benar terlihat yakin dengan kata-katanya.
Kecewa? Tentu saja, Laverna tidak pernah meminta apapun, berbeda dengan Jasmine. Putri bungsunya yang selalu membanggakannya. Kini kala meminta satu hal harus berakhir begini?
"Jasmine! Ambil dia dari adikmu! Buat adikmu putus asa hingga pulang dan menangis dalam pelukan ayah." Itulah yang diucapkan pada putri sulungnya. Meninggalkan mereka berdua. Sang ayah yang mengepalkan tangannya, menghirup napas dalam-dalam.
Play girl? Dirinya mengetahui sifat buruk Jasmine. Namun, Jasmine tidak pernah serakah, menginginkan kedudukan adiknya. Tapi sekarang? Uang yang diberikan cuma-cuma pada Jasmine, hadiah dari Laverna tidak cukup untuk membuat sang kakak melepaskan seorang pria untuk adiknya. Hingga Laverna dengan bodohnya menukar semua miliknya hanya untuk sebagai seorang istri di atas kertas dari pria yang dicintainya.
Pria yang tidak pernah dapat mencintai Laverna.
"Tidak apa-apa..." Ujar sang ayah iba pada putri bungsunya. Tidak dapat menggunakan aset pribadi. Harus tinggal di pemukiman kumuh padat penduduk.
*
"Jeremy." Jasmine tertunduk, bagaikan tidak tahu harus bagaimana.
Namun, Jeremy menghela napas kasar berusaha tersenyum."Kamu melakukan ini karena terlalu menyayangi Laverna. Aku mengerti, tapi perasaan seseorang tidak dapat dipaksakan. Sudah aku katakan dari masa remaja, aku akan hanya mencintaimu."
Jasmine mengangguk, air matanya mengalir.
"Hoax! Semua pria sama saja! Kamu berjanji setia pada Laverna tapi malah setia padaku! Sebagian besar pria memang buaya!" Batin Jasmine dalam hatinya tertawa terpingkal-pingkal.
Mata Jasmine tidak dapat teralih dari wajah rupawan pemuda ini. Perlahan dirinya menelan ludah, mendekat sedikit demi sedikit, memonyongkan bibirnya.
Tapi, seperti biasanya. Ini reaksi cepat dari Jeremy.
"Maaf!" Pemuda itu menutup mulut Jasmine menggunakan tangannya.
Entah mengapa Jeremy refleks melakukannya. Pemuda itu juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri."Lain kali saja, jika masalah ini sudah usai. Aku berjanji akan membuat Laverna menyerah..." ucapnya.
Tau rasa sayur tanpa garam dan bumbu? Anyep, itulah istilahnya, sama seperti ekspresi wajah Jasmine saat ini."Setia tapi ciuman saja tidak mau. Dasar wajah malaikat, kelakuan biksu." Batinnya.
Jeremy menghela napas merasa bersalah. Brownies kecilnya, seseorang yang menyelamatkan hidupnya. Bagaimana dirinya dapat berciuman dengan Laverna tapi masih anti pada Jasmine? Apa dirinya sudah gila?
"Ini untukmu, gunakan dengan baik. Dan tunggu aku, hanya 90 hari. Kodenya tanggal kita pertama kali bertemu di yayasan sosial." Jeremy menyodorkan salah satu kartu ATM-nya. Mungkin cepat atau lambat Jasmine memang harus mengetahui segalanya tentangnya.
"Paling isinya cuma satu atau dua juta. Namanya juga si kere. Kenapa Laverna menyukai pria modelan begini..." Batin Jasmine tapi tetap mengangguk, di hadapan wajah rupawan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Putri Nunggal
istrinya aja di kasih 50rb itupun hasil maksa laah ini si jalang malah di kasih atm
2024-02-12
0
Putri Nunggal
kau ayah yang baik untuk putrimu, apa lagi kalau kamu tau bahwa putri kebanggaan mu sedang sekarat dan mengharapkan cinta masa kecilnya
2024-02-12
0
Putri Nunggal
apa ayahnya Jasmine tidak tau kalau dikamar anaknya ada lelaki yang sedang tidur setelah bersenang senang
2024-02-12
0