...Jika aku adalah bulan, maka kamu adalah bumi....
...Aku akan melindungimu menggunakan tubuhku. Selalu menemanimu. Jikapun kamu harus mati......
...Maka bulan ini akan mati bersamamu....
Jeremy.
Dirinya dengan sengaja menyemprotkan parfum murahan dengan bau mencolok. Gila! Benar-benar ingin muntah rasanya, bau dari parfum yang dengan sengaja dibelinya di pinggir jalan.
Memakai pakaian ala bartender di club' malam. Matanya melirik ke arah Laverna yang tengah memasang sprei tempat tidur kapuk. Dirinya sengaja, benar-benar sengaja, tidak ingin makhluk yang menghancurkan hidupnya bahagia.
"Aku akan pergi bekerja. Ingat! Tidak boleh tidur sebelum aku pulang!" Tegas Jeremy.
Laverna mengangguk."Aku akan mematuhi kontrak, jika kamu mencium keningku."
"Tidak!" Jeremy mengalihkan pandangannya.
Brak!
"Kalau begitu jangan harap bisa keluar!" Tegas Laverna menahan pintu dengan tubuhnya sendiri.
Benar-benar wanita sial! Dirinya harus berpura-pura menjadi playboy yang tidur dengan banyak wanita, agar Laverna menyerah dan membiarkannya bersama Jasmine.
Ingat alasan Jasmine membiarkan pernikahan dirinya dan Laverna? Bukan karena harta, tapi Jasmine terlalu menyayangi Laverna. Karena itu jika Laverna menyerah, Jasmine akan kembali mencintainya.
"Hanya mencium kening saja kan? Jujur saja, entah berapa wanita yang aku tiduri setiap malam. Termasuk malam ini, aku ada janji dengan dua wanita sekaligus..." Bisik Jeremy, membuat bibir Laverna yang tersenyum bergetar. Dirinya tidak boleh bersedih.
Ini adalah pilihannya, pilihan yang akan tetap berakhir terkubur dalam peti mati. Karena itu, walaupun sesaat dirinya ingin mendapatkan kasih dari Jeremy.
"Tetap saja! Kamu tidak boleh pergi, sebelum menciumku!" Ucap Laverna bersungguh-sungguh.
"Tidak takut terkena penyakit menular? Kutil? Kadas? Kurap? Ingat! Aku tidur dengan banyak wanita!" Pemuda itu berusaha menakut nakuti.
Tapi.
Dengan cepat Laverna berjinjit mencium bibirnya, hanya kecupan singkat membuat Jeremy membulatkan matanya. Sialnya ini ciuman pertamanya, tapi dirinya tidak boleh marah-marah dan mengaku demikian bukan.
"Mulutmu bau!" Itulah yang diucapkan Jeremy mengusir rasa canggung. Kemudian melangkah pergi dengan cepat.
Sedangkan Laverna membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ini bukan ciuman pertama untuknya. Mungkin Cookies tidak mengingatnya, namun Laverna memberikan napas buatan sebisanya kala Cookies-nya tenggelam tidak sadarkan diri.
Sebuah cerita masa remaja yang indah. Air matanya menetes, bukan karena sedih mengetahui suaminya akan tidur dengan wanita lain malam ini. Tapi sebuah tangisan kebahagiaan mengingat masa-masa itu, juga impiannya yang telah terpenuhi untuk menjadi istri Jeremy, Cookies-nya tersayang.
"Mungkin lebih baik seperti ini, hanya aku yang mencintaimu. Karena jika aku pergi nanti, tidak akan ada air mata yang mengalir. Benar begitu bukan Cookies?" Laverna memejamkan matanya sejenak mengingat rupa indah remaja buta itu. Sama seperti saat ini, wujud yang benar-benar indah baginya.
*
Sedangkan Jeremy, melangkah lambat bagaikan orang linglung, otaknya mencerna informasi. Betapa lembutnya bibir yang bersentuhan dengan bibirnya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Usia yang dewasa, 28 tahun. Tidak pernah memiliki pengalaman mempunyai kekasih. Entah kenapa untuk pertama kalinya hal kotor ada dalam otaknya. Bagaimana jika dirinya mencium bibir itu lebih dalam? Kulitnya benar-benar bersih untuk dijelajahi.
Dengan cepat Jeremy menggelengkan kepalanya. Tidak boleh mengkhianati Jasmine. Brownies-nya adalah tujuan hidupnya. Satu-satunya orang yang selalu membawakan kue kering untuknya. Menceriterakan apa saja yang aga di luar sana.
Segala hal indah, menariknya dari rasa sesak dan dalamnya kolam teratai. Brownies-nya, perasaan hangat, terkadang membuatnya menitikkan air matanya."Aku sudah berjanji menikahimu. Mendirikan rumah impian kita. Tapi aku sendiri yang melanggar janji itu."
Benar-benar buruk dirinya. Bagaimana dapat membayangkan melakukan hal buruk dengan Laverna? Walaupun hanya memikirkannya, dirinya telah menyakiti Brownies-nya. Jasmine, seharusnya sebagai satu-satunya wanita dalam fikirannya.
Kriet!
Sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti di hadapannya.
"Sudah kamu tangkap?" Tanya Jeremy, kala Philip menyodorkan saputangan padanya.
"Sudah! Dia tidak mau bicara, kemana data perusahaan dijual olehnya." Jawab Philip menghela napas berkali-kali.
"Gores wajahnya, seperti samurai x, lalu lepaskan, jangan lupa black list namanya dari semua perusahaan. Pastikan ajukan tuntutan ganti rugi. Satu lagi, peras tenaga tim perencana untuk membuat desain produk baru yang sudah bocor, dalam seminggu. Beri mereka bonus gaji dua kali lipat jika dapat membuat desain yang lebih bagus dari sebelumnya. Tapi jika lebih bruk, potong setengah gaji mereka." Ucap Jeremy kala Philip membukakan pintu mobil.
Bug!
Suara pintu mobil ditutup, Philip masih konsentrasi menyetir. Sedangkan Jeremy tengah menenangkan fikirannya sejenak.
"Kenapa? Apa kamu keluar terlalu cepat di malam pertama?" Tanya Philip.
"Keluar apanya! Aku tidak ingin berada dekat dengannya lagi." Jawaban aneh dari Jeremy.
"Apa kamu sembelit?" Tanya sang asisten ragu.
"Tidak." Jeremy kembali menjawab.
"Bisulmu pecah?" Tanya Philip membulatkan matanya.
"Bisulmu yang pecah!" Geram Jeremy menatap tajam.
"Kalau bukan lalu apa? Aku bukan saudara kembar yang bisa menebak jalan fikiranmu. Ingat! Ayahmu setia! Tidak mungkin berselingkuh dengan ibuku, jadi kita juga bukan saudara tiri." Kalimat demi kalimat yang melantur kemana-mana."Atau apa mungkin aku benar-benar anak haram ayahmu?"
Plak!
Satu pukulan mendarat di bahu Philip. Membuat sang asisten meringis.
"Aku mengkhianati Jasmine. Laverna tiba-tiba menciumku, dan aku tidak bisa berhenti memikirkan hal kotor tentang Laverna." Hanya itulah jawaban yang keluar dari bibir Jeremy. Merasa ada yang salah dengan jantung dan otaknya.
"Itu alami, kecuali kamu impoten." Philip menghela napas kasar."Kapan terakhir kamu mimpi basah?"
"11 tahun yang lalu, aku bermimpi tetap menjadi buta, tapi melakukannya dengan Brownies." Jelas Jeremy menceritakan hal yang paling memalukan.
"Berarti sudah 11 tahun imajinasi liarmu tentang wanita tertidur. Wajar saja sekali ciuman langsung ingin." Jelas Philip, sebagai pria jomblo berpengalaman.
"Aku mengkhianati Jasmine! Dengan memikirkan Laverna! Apa kamu tidak mengerti!?" Tanya Jeremy pada Philip.
"Yang mana lebih penting, mengkhianati janjimu di hadapan Tuhan, atau pada Jasmine?" Philip menghela napas melihat raut wajah tidak terima dari Jeremy."Begini, Jeremy kamu biasanya orang yang benar-benar teliti dan cerdas. Untuk pertama kalinya kamu dapat tertipu dengan mudah. Bukannya itu sebuah pertanda."
"Pertanda?" Jeremy mengernyitkan keningnya, menatap serius.
"Mungkin Tuhan memiliki rencana lain padamu. Membimbingmu pada jalan yang diinginkannya. Makanya saat ditipu Laverna, kamu hanya mengangguk seperti orang bodoh." Jelas Philip panjang lebar, tapi memang aneh kan? Jeremy yang tidak pernah tertipu dapat, terjebak dalam permainan Laverna yang... tidak begitu rapi.
"Aku hanya khilaf!" Tegas Jeremy.
"Khilaf dapat membuat ketagihan." Sindir Philip.
"Tau apa perjaka tua sepertimu!?" Pemuda itu menatap sinis pada Philip.
"Mangga, semakin tua semakin matang. Daripada kamu masih muda tapi masam!" Cecar sang asisten.
"Gajimu aku potong!"
"Aku mengundurkan diri, kemudian menyebarkan rahasia perusahaan ke perusahaan pesaing."
"Gila!"
"Sinting!"
Dua orang yang saling mengumpat dengan raut wajah datar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Abimanyu Rara Mpuzz
waah novel sebagus ini saya baru membacanya
2024-07-31
0
Putri Nunggal
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦bener bener kalian itu manusia langka
2024-02-12
0
Putri Nunggal
🤣🤣🤣🤣🤣🤣kelakuan kalian bagaikan saudara yang sudah lama terpisahkan bahasannya aneh dan nyeleneh
2024-02-12
0