...Kala sang kabut tipis menyelimuti malam, sayap kecilku terbang. Mencari jalan menemukan sinar bulan....
...Sinar yang begitu indah, aku kejar sekuat tenaga. Tapi kala kunang-kunang kecil ini menemukannya....
...Bulan telah mencintai bintang....
Laverna.
Anak tiri? Itulah Laverna. Ayahnya Dimitri, memiliki seorang istri bernama Kemala. Seorang istri yang kesulitan memiliki keturunan. Karena itu Dimitri menikah lagi, dengan pelayan mereka bernama Lita.
Lita yang merupakan istri kedua namun terlebih dahulu melahirkan Jasmine. Sedangkan Kemala pada akhirnya memiliki seorang anak dengan jalan bayi tabung, bernama Laverna.
Karena itu walaupun dirinya adalah anak dari istri pertama, namun usianya lebih muda beberapa bulan. Entah jalan apa yang ditunjukkan Tuhan, hingga memberikan ibunya cobaan, melahirkan anak setelah suaminya memiliki istri kedua.
Kemala pada akhirnya meninggal akibat kecelakaan kala Laverna berusia 5 tahun. Dibesarkan oleh Lita, karena itu walaupun sulit, dirinya akan terus menghormati Jasmine sebagai kakaknya.
Tidak ada perlakuan kasar dari ibu tiri seperti dalam sinetron. Hanya saja dirinya begitu paham jika Lita lebih menyayangi dan memanjakan Jasmine. Walaupun begitu, dirinya tetap mendapatkan kasih sayang bukan?
*
Satu hari sebelum pernikahan diadakan.
Semuanya telah didesain olehnya, ruangan yang benar-benar terdapat dekorasi terbaik. Sumpah pernikahan dengan tema yang benar-benar romantis kala matahari terbenam di hotel pinggir tebing tepi laut.
Gaun pengantin? Dirinya akan memakai dua kali, kala pernikahan dan pemakamannya beberapa bulan lagi. Ingin mati sebagai kunang-kunang cantik.
Segalanya dipersiapkan olehnya. Kamar pengantin? Tentu saja, harus yang terbaik pula. Disanalah dirinya akan memberikan kesuciannya pada pria yang dicintainya.
"Kami sudah menyiapkan kamar terbaik." Ucap seorang staf hotel, membuka pintu kamar yang telah mereka persiapkan untuk acara esok hari.
"Aku hanya ingin memeriksa apa ranjangnya benar-benar kuat." Laverna naik ke atas ranjang kemudian melompat-lompat memastikan ranjang tidak akan roboh di malam pertamanya. Seberapapun kuat goncangan dari pasangan yang melakukan malam pertama, ranjang ini harus tahan banting.
"Tamu adalah raja." Batin staf hotel berusaha keras untuk tersenyum, melihat wanita aneh ini.
"Ganti ranjangnya! Aku ingin yang ada tirai nya saja!" Tegas Laverna bersungguh-sungguh, turun dari tempat tidur.
Dirinya mengamati segalanya, kemudian menghela napas kasar."Ruangan ini dipenuhi dengan aroma melati! Ganti dengan aroma lavender!"
"I...iya." Ucap sang staf mencatat.
"Sofa! Aku ingin yang lebih luas! Siapa tau kami akan melakukannya di sofa." Laverna sedikit berfikir melirik ke arah sofa. Pemikiran gila dari wanita yang telah jomblo selama 27 tahun. Dalam hal ini tidak pernah punya pacar.
"Untuk wine aku sediakan sendiri. Dengan kwalitas terbaik. Suamiku seorang bartender, jadi dia tau mana minuman murahan, mana yang berkelas. Satu lagi, air tidak boleh ada masalah. Jika ada masalah aku akan pastikan tidak akan ada tamu VIP lagi di hotel ini." Tegas sang wanita karier kaya yang memiliki banyak koneksi.
Wajahnya tersenyum bangga, senyuman yang berusaha tertahan tetap menyungging. Masa hidupnya tinggal sebentar lagi. Jadi dirinya akan melakukan segala hal yang ada dalam imajinasinya.
"Tukang es cendol! Aku akan menikahimu!" Teriak gadis itu bersiap melakukan perawatan lengkap. Termasuk memangkas jerawat dan memakai softlens yang merepotkan. Dirinya sudah bertekad ingin mati untuk menjadi kunang-kunang yang cantik. Setelah kawin dengan pria yang dicintainya, tentunya.
*
Sementara itu di tempat lain. Jeremy bersin beberapa kali, merasakan firasat buruk. Tapi tetap saja, besok dirinya sudah akan menikah. Bahkan dengan semangat Laverna memintanya mengisi blangko kosong, tandatangan, serta kartu keluarga dan identitasnya.
Segalanya diurus oleh Laverna, dirinya akan segera menikahi Jasmine. Pemuda itu mulai berkeliling, tapi tidak ada yang sesuai. Hingga matanya tertuju pada sebuah cincin dengan permata berwarna kuning.
"Yang ini berapa harganya?" Tanya Jeremy pada penjaga toko.
"Maaf, bisa kami rekomendasikan yang lain? Ini Fancy yellow diamond, harga per karatnya 725 juta jadi---" Kalimat sang penjaga toko perhiasan disela.
"Aku tanya berapa harganya?" Tanya Jeremy lagi.
"5.578.000.000 sepasang." Jawab sang penjaga toko perhiasan yakin pemuda ini akan mundur, hanya dengan mendengar harganya.
"Segitu? Padahal aku ingin ini menjadi warisan untuk anak kami nanti." Jeremy menghela napas kasar, kemudian mengeluarkan lima black card dari dompetnya."Bisa pesankan pink diamond? Aku ingin sudah ada disini malam ini."
"Crazy rich!" Teriak sang penjaga toko pingsan. Sementara Jeremy memincingkan matanya, tidak mengerti dengan orang ini.
"Mungkin karena aku terlalu tampan!" Dirinya terkekeh melihat ke arah cermin yang ada di dekat sana.
*
Pernikahan yang diadakan pada sore hari kala sinar matahari akan tenggelam. Hanya pihak keluarga dari mempelai wanita yang datang, entah kenapa.
Kala surya hampir tenggelam perlahan. Dirinya berdiri mematung di samping sang pendeta, menghela napas kasar menatap mempelai wanita. Gaun yang indah, wajah tertutup kain putih tipis.
Dimitri, mengantarkan putrinya menuju tempat sumpah pernikahan akan diadakan. Konsep yang unik, bagaikan budaya luar negeri. Hotel dengan tebing pinggir laut menjadi pilihan mereka.
Kala itulah seorang pendeta, menanyakan janji mereka pada Tuhan. Jeremy menatap wajah mempelai wanita yang tertunduk. Mungkin Jasmine terlalu malu. Sumpah demi apapun Jeremy tidak fokus sama sekali. Hingga tidak sadar sang pendeta menyebutkan nama Laverna Dimitri.
"Saudara Jeremy Collins, bersediakah engkau menerima Laverna Dimitri sebagai istrimu, menemaninya dalam sakit maupun sehat, dalam susah maupun senang, hingga maut memisahkan kalian?"
"Bersedia."
Itulah jawaban Jeremy tidak menyadari nama mempelai wanita yang berubah.
Hingga, pertanyaan beralih pada Laverna.
"Saudara Laverna Dimitri bersediakah engkau menerima Jeremy Collins sebagai pasanganmu, menemaninya dalam sakit maupun sehat, dalam susah maupun senang, hingga maut memisahkan kalian?"
"Tu... tunggu dulu! Tuan pendeta, namanya salah---" Kala Jeremy menyadari segalanya, satu kata keramat telah keluar dari mulut Laverna.
"Aku bersedia!" Ucap Laverna, membuat Jeremy menyadari yang ada di balik kain putih tipis hampir tembus pandang ini, bukan Jasmine.
Dengan cepat tangannya membuka penutup kepala mempelai wanita. Berharap dugaannya salah.
Srak!
Dunia bagaikan runtuh, ternyata seseorang yang baru saja dinikahinya adalah Laverna. Namun, Laverna malahan tersenyum picik.
"Apa yang kamu!" Kata-kata Jeremy terhenti, tangan wanita itu bergerak cepat memakaikan cincin pernikahan di jari manis Jeremy dan jari manisnya sendiri.
"Kita menikah." Kalimat dari Laverna, mengusap pipi Jeremy.
Namun.
Plak!
Satu tamparan yang cukup kencang dilayangkannya di hadapan umum. Raut wajah bahagia berubah."Kamu menjebakku?"
"Karena aku mencintaimu." Ucap Laverna tersenyum, tanpa ada air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Walaupun pipinya memerah terasa kebas akibat tamparan.
"Mencintaiku!? Yang aku cintai Jasmine! Dia akan kecewa jika mengetahui adiknya tersayang adalah pengkhianat." Cecar Jeremy, membuat semua orang mulai menghujat Laverna.
"Iya, aku penghianat. Tapi itu setara jika untuk menjadi istrimu." Ucap Laverna memegang tangan Jeremy putus asa.
Namun, jemari tangannya ditepis kasar."Menjadi istriku? Jadi kamu melakukan hal ini untuk menjadi istriku!? Kalau begitu akan aku pastikan kamu akan mati tenggelam dalam rasa sakit, memohon padaku untuk bercerai!" Teriak pemuda itu membuka paksa cincin pernikahan yang dipakainya dan Laverna. Kemudian membuangnya ke dalam kolam renang, yang memang terdapat di lokasi taman hotel tepi tebing pinggir laut itu.
Laverna menceburkan dirinya ke kolam, berenang menggunakan gaun pengantinnya yang berat hanya untuk menemukan sepasang cincin pernikahan yang dipilihkan Jeremy untuk pernikahan mereka.
Dirinya tidak peduli orang-orang menyebutnya wanita murahan yang merebut kekasih kakaknya. Hanya berenang dengan cepat kemudian, memeluk sepasang cincin pernikahan itu dalam senyuman bercampur air mata kala telah ditemukan olehnya.
Matanya menatap punggung Jeremy yang telah melangkah pergi. Tidak peduli dengannya sama sekali.
"Tolong, buat aku bahagia walaupun hanya 90 hari saja..." batinnya yang mulai merasakan sakit, wajahnya benar-benar pucat di balik riasan tipis. Namun bibirnya tersenyum, lebih tepatnya berusaha tersenyum. Inilah awal kebahagiaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Ibu Pipin
syediiih... smga endingnya bahagia, makin penasaran
2025-01-03
0
Abimanyu Rara Mpuzz
lha mpon nyesek diawal
2024-07-11
1
💖 sweet love 🌺
baru awal udah mewek 🥺
2024-05-31
0