...Cinta? Seperti cahaya bulan. Berlari mencarinya, berharap mendapatkannya....
...Betapa hangat cahayanya, tapi kala ku hampir menggapainya. Aku menyadari, hanya sendiri di tengah hutan berkabut....
...Wajah cantikmu telah lenyap, tawamu tidak terlihat lagi, gadis yang tidak pernah menyerah terhadapku, tertelan kabut....
...Menghilang entah kemana. Hingga aku menyadari, bukan bulan yang mencintaiku. Hanya dialah yang mencintaiku....
...Hujan menghapus jejakmu. Bolehkah aku menyusul mu dalam keabadian?...
Jeremy.
Komat-kamit mulut Laverna mengomel meminta tambahan uang karena gas habis hari ini. Ini sudah biasa untuknya, Jeremy hanya dapat menghela napas memberinya 50 ribu lagi.
Membuat Laverna menderita adalah tujuannya. Tapi mengapa dirinya malah senang dengan situasi seperti ini, senang dengan omelannya yang begitu ramai. Perlahan Jeremy menggeleng, dirinya tidak boleh mengkhianati Brownies-nya.
Namun, bibirnya yang terus mengomel membuatnya gemas bagaimana menonton kartun Donal duck.
"50 ribu tidak cukup untuk hidup. Entah bagaimana jika nanti Jasmine menikah denganmu! Bagaimana kamu dapat membelikan susu untuk keponakanku! Kamu harus menjadi orang bertanggung jawab! Setidaknya cari pekerjaan lain selain pedagang es cendol!" Ucap Laverna menunjuk sendok ke arahnya.
"Aku bartender. Penghasilanku lebih besar dari dugaanmu. Pada Jasmine aku tidak akan pelit. Tapi padamu aku harus pelit." Kalimat yang diucapkan Jeremy apa adanya, ingin membuat tensi wanita ini naik.
"Tidak punya modal membeli ranjang yang lebih kuat saja, ingin menikahi kakakku. Dengar! Kamu harus belajar mengelola usaha, saat bersama Jasmine nanti aku tidak ingin dia hidup susah. Atau kamu ditinggalkan oleh Jasmine karena miskin." Sebuah nasehat dari Laverna mengetahui tentang pacar serta tunangan kakaknya. Uang? Pastinya Jeremy akan kalah jauh dibandingkan dengan mereka. Mungkin hanya wajahnya saja yang membuat Jasmine mengaku sebagai Brownies-nya.
Bibir Laverna tersenyum, segalanya akan sesuai rencananya. Salah satu restauran miliknya akan diberikan pada Jeremy nantinya. Untuk bekal, agar Jasmine tidak meninggalkannya suatu saat nanti.
"Jasmine tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi." Ucap Jeremy menikmati makanannya.
"Kenapa? Siapa yang akan bertahan dengan tukang es cendol miskin sepertimu?" Lagi-lagi Laverna mengumpat. Tengah mencuci piring serta peralatan masaknya.
Jeremy terdiam sesaat, wajahnya tersenyum."Dia akan bertahan. Karena Brownies-ku berjanji untuk menikah denganku. Sehidup semati nantinya, tidak ada yang dapat memisahkan kami."
Kalimat demi kalimat yang membuat Laverna terdiam. Sebuah janji? Mereka memang berjanji demikian, seorang remaja buta dan putri pengusaha.
"Kamu tumbuh besar dengan Jasmine. Pasti mengetahui bagaimana hubungan kami. Walaupun tidak ada kontak fisik, hanya berpegangan tangan atau meniup dandelion bersama. Tapi dia orang yang paling mengasihiku." Ucap Jeremy tersenyum dipaksakan. Apa dirinya mengkhianati Brownies-nya? Hal yang terjadi tadi pagi merupakan pengkhianatan yang dilakukannya. Rasa bersalah itu benar-benar ada pada cinta pertamanya.
Mengingat bagaimana mereka tertawa bersama. Bau rumput dan bunga lavender yang selalu dibawa olehnya. Jeremy remaja yang berbaring di atas rumput, sedangkan Laverna memangku kepalanya, menceritakan tentang dunia ini.
Bagaimana cerahnya langit, bagaimana indahnya bunga lavender yang dibawa olehnya. Satu-satunya malaikat dalam kegelapan hidupnya.
"Karena itu kamu mencintainya sampai sekarang?" Tanya Laverna tanpa menoleh.
"Iya, bisa dikatakan Brownies-ku saat remaja benar-benar berbeda dengan saat ini. Tapi saat matamu buta maka indera yang lain akan lebih peka. Bahkan hatimu menjadi lebih peka, karena itu aku dapat tau betapa dia yang dulu mencintaiku." Kalimat dari Jeremy tersenyum merindukan masa remajanya.
Tidak menyadari Laverna menitikkan air matanya. Wanita yang tidak berani berbalik sama sekali. Tidak akan pernah berusaha meyakinkan Jeremy lagi, jika dirinya adalah Brownies.
Ini akan menjadi sebuah cinta pertama yang menyakitkan. Bukan sebuah cinta pertama yang indah. Karena itu lebih baik, selama-lamanya Jeremy tetap salah paham.
"Jadi! Sebagai calon adik ipar yang baik seharusnya kamu jangan berbuat kurang ajar." Ucap Jeremy, masih makan dengan mulut penuh.
Laverna mengatur napas dan suaranya agar tidak terdengar bagaikan orang menangis."Baik! Aku janji tidak akan pernah menggodamu setelah 90 hari kontrak pernikahan kita."
Jeremy yang geram berusaha tersenyum."Aku juga pria. Bagaimana jika aku memakan mu tidak sengaja, lalu kamu hamil!"
"Tidak akan terjadi! Karena kamu hanya bernapsu pada Brownies-mu. Kecuali jika kamu kelepasan seperti tadi pagi, maka rasa setia itu akan pudar." Jawaban tepat sasaran dari Laverna, menancap di hatinya.
Jika saja ranjangnya tidak reot mungkin dirinya sudah menyesal seumur hidupnya.
"Aku akan mengganti ranjangnya. Kali ini tempat tidurnya ada dua." Geram Jeremy meminum air.
"Lalu lemarinya? Kamar kita sempit. Kamu mau taruh lemarinya di lubang hidungmu?" Lagi-lagi mulut gadis itu begitu lancar membuat tensinya naik.
Tapi dirinya harus bersabar. Setelah 90 hari maka semuanya usai. Jeremy akan bercerai dengan Laverna kemudian melamar Jasmine secara resmi. Mengadakan pesta pernikahan yang besar, pastinya Laverna tidak akan diundang olehnya.
Dirinya dan Jasmine akan tinggal di rumah impian mereka. Rumah yang benar-benar indah, seperti mimpi mereka saat remaja.
Pohon mangga, anggur, bahkan taman mawar ditanamnya satu persatu sendiri. Segalanya seperti cerita mereka tentang rumah impian. Ayunan, taman bermain pribadi yang lengkap untuk anak-anak mereka nantinya.
Segalanya adalah rencananya. Karena manusia hanya dapat berencana. Tuhan-lah yang menentukan apa yang akan terjadi.
Apa rumah itu akan terisi seperti impiannya? Tidak ada yang tau, bagaimana rumah mewah itu akan berakhir nantinya.
"Jeremy, emmm..." Laverna terlihat berfikir sejenak.
"Apa?" Tanya Jeremy kesal.
"Uang sampah, uang keamanan, uang listrik, tagihan air, satu lagi sandal jepitku putus." Laverna menadahkan tangannya.
"Aku tidak punya uang!" Jawab Jeremy sengaja.
"Punya! Nanti malam kamu tidak perlu tidur dengan Tante-tante cukup tidur denganku. Nanti aku berikan 50 juta. Nah, kamu pegang 49 juta, beri aku satu juta untuk membayar tagihan. Bagaimana? Kamu masih untung bukan?" Tawaran dari Laverna.
Pag!
Pada akhirnya 10 lembar kertas bergambar tokoh proklamator itu dipukulkan pada dahinya.
"Ini! Dasar wanita matre." Komat-kamit mulut Jeremy kembali mengomel.
"Tidak matre, tidak bisa hidup." Laverna mengedipkan sebelah matanya, menghitung uang yang diberikan suaminya. Kemudian bertanya."Kata rekan bisnisku, biasanya suami setelah memberikan jatah uang, harus mendapatkan imbalan jatah ranjang dari istrinya."
"Aku ikhlas! Tidak perlu jatah ranjang!" Jawab Jeremy cepat.
*
Sementara di tempat lain.
Philip tengah memakan sarapannya, sedikit tersedak. Wanita cantik bagaikan dewi tersebut tengah berenang di kolam renang hotel dengan Satya.
Dirinya memang menginap, karena semalaman harus menjamu seorang klien di hotel ini. Tidak ingin pulang dalam kondisi mabuk, karena ibunya sudah pasti akan bersiap membawa sapu untuk menghajarnya.
Tapi, hal yang tidak diduga terlihat kala sarapan di area restauran hotel.
"Jambu (Janji Busuk)." Untuk pertama kalinya Philip bersyukur dirinya belum pernah jatuh cinta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Bzaa
nyesel pasti kamu nanti Jeremy
2024-06-26
0
Ide'R
Jasmine ketahuan Philip
2024-01-14
0
yesi yuniar
wah... kamu harus cerita pada jeremy tentang jasmine plus kasih buktinya
2024-01-14
0