Aku Menyayanginya

...Hamparan bunga lavender yang indah. Banyak kenangan yang terkubur di dalamnya....

...Tidak ada duka seperti kala menatap krisan. Karena itu, aku ingin terkubur di bawahnya....

...Ingin tertidur di tempat yang nyaman, untuk meninggalkan cintaku....

Laverna.

Beberapa butir obat diminum, muntah darah yang kembali dialami olehnya. Mungkin karena hari ini dirinya terlalu lelah. Menunggu kedatangan Jeremy, menatap ke arah jam dinding.

Kanker hati? Seharusnya dirinya lebih banyak beristirahat, walaupun hanya dapat memperpanjang sedikit hidupnya saja. Menerima imbalan, berarti harus memberi.

Dirinya telah menerima ciuman, jadi cukup mudah baginya untuk menunggu suaminya pulang. Disaat-saat seperti ini Laverna mengetahui, betapa berharganya setiap detik waktu yang berlalu.

Selama hidupnya, dirinya hanya terus belajar untuk membanggakan sang ayah. Tidak memiliki waktu untuk bermain atau bersenang-senang seperti remaja lainnya. Melewati masa SMU, dengan percepatan. Hingga dapat kuliah lebih awal.

Sampai mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri pun, dirinya harus belajar mengelola cabang perusahaan ayahnya yang terdapat di sana.

Tidak ada saat untuk menjalin kasih, berkenalan hanya untuk menjalin relasi bisnis. Karena itu dari dulu mengingat Cookies, merupakan satu-satunya penghiburan baginya.

Tapi, kala dirinya kembali dari luar negeri. Keadaan berubah, Cookies-nya datang, manggil Jasmine dengan nama Brownies. Satu-satunya biskuit kesayangannya direbut sang kakak.

Pada awalnya dirinya berusaha untuk tegar. Hanya ibu dan kakak tirinya merupakan keluarganya, selain sang ayah. Menyimpan semua lukanya dalam sibuknya pekerjaan.

Menemui Cookies-nya di bar, kala merindukan rupa itu. Perasaan cinta yang tersimpan hingga akhir. Tidak perlu mendapatkan balasan, melihatnya dan Jasmine saja tersenyum sudah cukup.

Namun.

Kala dokter mengatakan usianya tidak lagi panjang. Dirinya menjadi gila, terlalu kehilangan kewarasan hingga menjadi egois. Ingin memiliki Jeremy, walaupun hanya sebentar.

Dirinya mencuci pakaian, mencuci menggunakan tangan. Mengambil aktivitas agar tidak terlalu lelah nanti.

Matanya menatap jam yang menunjukkan pukul 4 pagi. Jeremy belum juga datang, apa mungkin dia bertemu dengan dua orang wanita itu seperti kata-katanya. Mengapa Cookies-nya menjadi seperti ini?

Menghapus air matanya yang sempat keluar, dirinya tersenyum."Jika tidak mencintaiku, maka dia tidak akan menyadari saat aku menghilang nanti. Mungkin lebih baik begini." Gumam Laverna.

Suara pintu dibuka terdengar. Kala dirinya membukakan pintu Jeremy berada di sana, bau alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya.

"Minggir! Lama sekali buka pintunya." Bentak Jeremy padanya.

Laverna mengernyitkan keningnya, wajahnya berusaha tersenyum."Kamu minum alkohol berlebihan sampai mabuk begini!" Bentaknya tidak kalah galak, menarik telinga sang pemuda.

"Es cincau! Hentikan! Sakit!" Jeremy menepisnya, tapi dengan cepat Laverna menarik rambut Jeremy.

"Sakit! Hentikan! Atau aku akan memukulmu!" Ancam Jeremy.

"Ayo pukul!" Laverna menantang."Memang kamu berani!?"

"Tidak..." Ucap Jeremy jujur, sekali saja menampar Laverna saat hari pernikahan mereka dirinya kefikiran sampai sekarang.

"Dasar! Berjualan jadi tukang es cendol saja sampai mabuk! Kamu tau terlalu banyak alkohol dan kurang istirahat dapat membuat organ hatimu mengalami gangguan! Kamu mau mati muda!?" Laverna malah semakin kejam, kembali menarik telinga pria ini.

"Apa pedulimu! Kamu sudah menghancurkan hidupku!" Teriak Jeremy padanya menepis tangan Laverna. Kemudian kembali berbaring tidur dalam posisi tengkurap.

Tidak ada jawaban dari Laverna, mulutnya terkatup. Hanya 90 hari saja, dirinya akan merusak hidup Jeremy demi keegoisannya. Selebihnya? Dirinya akan tersenyum melihat kebahagiaan Jeremy dari sisi-Nya.

Wanita yang membaringkan tubuhnya di samping Jeremy. Sarapan sudah disiapkan olehnya, walaupun baru pukul empat pagi. Dirinya berbaring memejamkan matanya sejenak.

"Jangan lupa jam 5 kamu harus sudah bangun! Jadi istri harus rajin!" Omelan dari mulut Jeremy. Ingin membuat wanita itu menyerah.

"Iya! Iya! Kamu laki-laki atau wanita!? Mulutmu mengomel terus seperti wanita! Jadi tukang es cendol saja sombong!" Laverna yang berbaring di sampingnya ikut-ikutan mengomel.

"Aku bukan tukang es cendol! Aku bartender!" Tegas Jeremy.

"Sama-sama meracik minuman kan? Apa bedanya..." Kata-kata dari mulut Laverna membuat Jeremy tidak dapat membalas omelannya.

Namun, hanya beberapa saat, suasana benar-benar hening. Dirinya menatap ke arah Laverna yang tertidur nyenyak. Apa ini hanya perasaannya saja? Atau memang wajah Laverna terlihat lebih pucat.

Dirinya memperhatikan setiap sudut wajah itu. Rambut yang digerai, tidak diikat ke belakang seperti biasanya, kacamata besar tidak terlihat lagi. Walaupun pucat, dirinya menatap heran."Cantik..." gumamnya.

Sejenak menggelengkan kepalanya, Jeremy hanya setia pada Brownies-nya. Walaupun kini Laverna memang terlihat lebih cantik dari Jasmine yang tertutup riasan.

Pemuda itu menatap ke arah langit-langit kamar. Semalam dirinya tidur di kantor pukul 11 malam usai rapat. Setelah itu segera pulang kala menyadari, waktu telah menunjukkan pukul setengah empat pagi.

Sengaja? Laverna tidak akan tahan dalam beberapa hari dan berkata akan berpisah dengannya. Tentang alkohol? Dirinya sengaja membuat tipuan ini, berkumur dan menumpahkan, seolah-olah mabuk berat.

Sedikit hati nuraninya tergerak. Wajahnya pucat, apa Laverna sakit? Bagaimana jika sakit? Mungkin besok lebih baik, memberi sedikit keringanan.

*

Kala Jeremy membuka mata, waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi. Matanya melirik ke arah sisi tempat tidur yang kosong. Kemana Laverna pergi? Apa sudah berangkat bekerja.

Menu sarapan sederhana sudah berada di atas meja. Ditambah dengan catatan.

'Aku berangkat bekerja lebih awal. Aku mencintaimu.'

'Istrimu, terkasih.'

"Dia mengerjakan semuanya?" Ucap Jeremy, entah kenapa senyuman kecil menyungging di bibirnya tanpa disadarinya.

Merenggangkan otot-ototnya, bersiap untuk segera pergi bekerja ke tempat yang sebenarnya.

Bartender? Semua itu hanya tipuan menyenangkan. Dirinya selalu dibawakan milik tea racikan Brownies-nya kala remaja. Karena itu dirinya berpura-pura menjadi bartender, sebuah kenangan yang indah. Walaupun yang dibuatkan Jeremy adalah alkohol, mengingat Jasmine menyukai alkohol.

Pemuda itu segera membersihkan dirinya. Baju santai, sudah terlipat di atas meja, mungkin telah dipersiapkan oleh Laverna.

Tidak tahu sampai kapan adik dari wanita yang dicintainya itu keras kepala. Jeremy terdiam sejenak mencoba menghubungi kekasihnya tapi, nomornya tetap diblokir. Ini semua karena Laverna, Jasmine yang begitu mencintainya, kini menghindarinya.

*

Jarum infus tertancap di pergelangan tangannya. Seorang kenalannya yang berprofesi sebagai dokter, menghela napas kasar. Menatap Laverna bisa-bisa masih mengangkat panggilan dari kantor.

"Iya, maaf saya terlambat. Saya akan datang sekarang." Ucap Laverna menutup sambungan teleponnya.

"Kamu pergi ke kantor dalam keadaan seperti ini? Kamu mau mati!?" Tanya Windy (sang dokter) geram.

"Tidak! Tapi klien kali ini, aku yang terlanjur mengambilnya. Jasmine mengatakan dia tidak dapat datang." Jawab Laverna pada Windy.

"Mereka tidak tahu! Bahkan suamimu juga tidak tahu! Seenaknya saja menyuruh seseorang yang sekarat bergadang! Sekarang Jasmine melarikan diri dari tanggung jawab!" Windy menghela napas berkali-kali memijit pelipisnya sendiri.

"Dia baru belajar, setelah aku pergi dia akan membantu ayah mengurus perusahaan. Jadi dia bersedia bergabung saja, sudah merupakan pertanda yang baik bukan?" Kalimat penuh senyuman dari Laverna. Wanita yang memoles sedikit wajahnya agar tidak terlihat pucat.

"Apa ada kabar? Apa ada donor yang sesuai?" Tanya Laverna dengan bibir bergetar.

Windy menggeleng."Belum ada, tapi masih ada waktu. Jangan menyerah."

Laverna hanya mengangguk, melangkah pergi. Usai seorang perawat melepaskan selang infusnya.

Sedangkan Windy hanya menatap ke arah punggung sahabatnya. Air matanya mengalir, cukup sulit untuk mencari donor yang memenuhi syarat.

Harus memiliki golongan darah yang sama, melakukan beberapa tes. Karena bukan kerabat atau kenalan, jadi mungkin untuk mencari donor hidup kemungkinan sudah tercoret.

Hanya mungkin pasien mati otak, yang sebelumnya telah menandatangani surat pernyataan untuk mendonorkan organnya. Hanya itulah harapan Laverna. Sebuah harapan setipis tali jaring laba-laba. Mengingat waktu gadis itu mungkin tidak lama lagi.

Lalu apa yang sebenarnya tengah dilakukan Jasmine? Wanita yang tersenyum, berlibur di spa dengan salah satu kekasihnya. Dirinya cukup lelah harus duduk sejam di kantor. Itu bukan gayanya.

"Syukurlah ibu berhasil membujuk Laverna untuk tetap bekerja. Walaupun, hak warisnya untukku." Jasmine tersenyum dengan nyamannya pijatan di tempat ini.

"Saudara tirimu lumayan baik ya?" Ucap sang pria yang juga tengah menerima pijatan di sampingnya.

"Baik, dia memang adik terbaik. Tapi sayangnya terlalu sempurna. Hingga ayah hanya membanggakannya saja. Aku membencinya yang munafik." Itulah kalimat dari Jasmine, memejamkan matanya, tertidur kala treatment dilakukan. Menyayangi adiknya? Tentu saja.

Tapi, mengapa sang adik harus mendapatkan semua pujian. Mungkin sebuah penyesalan hanya akan menantinya kala senyuman Laverna tidak terlihat lagi dimatanya.

Terpopuler

Comments

Sukma Sae

Sukma Sae

piye iki...kok gak kenek di bukak....bab e jare di alihkan...

2024-01-10

0

May Tanty

May Tanty

Dari awal membaca cerita novel ini sampai di bab ini pun pasti air mata ku keluar sendiri🥹

2024-01-10

1

who am I

who am I

verna...verna.... 😭

2024-01-09

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!