Topeng

...Mencari pohon tertinggi untuk melihat bulan, mengusir kabut hanya untuk merasakan terpaan sinarnya....

...Namun, bulan tidak mencintaiku, hingga menyembunyikan tubuhnya di balik awan. Membiarkan tubuh kecilku terjatuh ke tanah akibat terpaan hujan....

...Bulan? Seburuk Itukah kunang-kunang kecil ini di matamu......

Laverna.

Kesal? Tentu saja, siapa yang tidak kesal jika pasangan hidupnya digantikan oleh orang lain. Terlebih seorang pengkhianat.

Dirinya berusaha menghubungi Jasmine guna meminta maaf serta meminta penjelasan. Dalam taksi yang melaju meninggalkan hotel tempat acara pernikahan dilaksanakan.

*

Di tempat lain, Jasmine mengernyitkan keningnya menatap ke arah layar handphonenya. Dirinya tengah berbelanja di area mall, bersama dengan tunangannya yang memang jarang ada di dalam negeri. Akibat profesinya sebagai pilot salah satu maskapai penerbangan.

"Sayang, aku ke toilet dulu ya?" Ucap Jasmine mengecup pipi tunangannya.

"Iya, sudah sana!" Satya (tunangan Jasmine) mengecup keningnya.

Dengan cepat Jasmine melangkah menuju area toilet wanita. Kenapa Jeremy harus menghubunginya di saat seperti ini?

"Dasar! Jika bukan karena tampan, aku juga tidak tertarik pada pria kere!" Komat-kamit Jasmine mengomel memasuki bilik toilet.

Dirinya mengatur suaranya, bagaikan akan mengikuti kompetisi menyanyi. Barulah mengangkat telepon dengan suara serak-serak basah.

"Jeremy?" Ucap Jasmine bagaikan tengah menangis.

"Kamu dimana!? Kenapa Laverna menggantikan mu!?" Bentak Jeremy dari seberang sana.

"Ka... karena ayah menyayanginya. Kamu taukan aku hanya anak dari istri kedua. Aku harus mengalah dalam segala hal untuk kebahagiaannya." Gumam Yasmine, mengernyitkan keningnya, membuat ekspresi masa bodoh tapi masih berpura-pura menangis.

"Kamu mengorbankan hubungan kita!" Teriak Jeremy emosional.

"A...aku tau, tapi Laverna yang paling berharga untukku. Cintailah dia..." Kata-kata terakhir dari Jasmine yang sejatinya sudah malas berurusan dengan Jeremy. Mematikan panggilan sepihak kemudian memblokir nomornya.

"Aku menerimanya hanya karena wajahnya. Tapi memang cukup sulit lepas dari manusia posesif. Dasar bartender miskin." Itulah yang diucapkan Jasmine memasukkan handphonenya ke dalam tas.

Beberapa tahun lalu Laverna melanjutkan pendidikannya di luar negeri, sembari mengontrol perusahaan ayah mereka di negara lain. Saat itulah seorang pemuda rupawan bernama Jeremy mendatangi rumah mereka, mencari keberadaan brownies kecilnya, teman masa remaja yang dipanggil brownies kala Jeremy mengalami kebutaan dan tinggal di yayasan sosial.

Wajah tampan yang dapat dipamerkan, dirinya mengingat remaja buta ini yang dulu sering bermain dengan Laverna. Dirinya tau bagaimana hubungan mereka dulu, termasuk nama panggilan brownies dan cookies. Jadi Jasmine yang tinggal jauh dari tunangannya sama itu dengan percaya diri mengatakan dialah brownies kecil yang dicari Jeremy. Dan Jeremy adalah cookies-nya.

Iya! Pemuda itu manis, bahkan rela melakukan apapun untuknya. Tapi tidak punya banyak uang, bahkan hanya makan di restauran cepat saji setiap berkencan. Pacaran menjaga batasan, tidak boleh berciuman, pegangan tangan boleh. Apa orang ini adalah pendeta atau biksu?

Kerena itu, diantara tiga pacarnya dan satu tunangannya, kala Laverna menginginkan Jeremy dengan menukar hak warisnya, tentu saja Jasmine langsung setuju.

"Kere!" Satu kata umpatan yang melambangkan Jeremy di mata Jasmine. Menatap ke arah handphonenya. Citra gadis baik yang berkorban untuk adik harus tetap ada.

Dirinya kehilangan Jeremy tapi masih memiliki dua kekasih lain dan satu tunangan yang akan menikahinya.

Melangkah meninggalkan bilik toilet, kemudian merapikan riasannya. Dirinya cantik, tentu saja lebih cantik daripada Laverna yang hanya pintar di perusahaan.

Jujur saja, dirinya dulu menyayangi Laverna, yang selalu mengalah padanya. Tapi juga muak dengan ayah mereka yang menyebut Laverna sebagai anak kebanggaannya.

Anggap saja ini belas kasihnya karena memberikan Jeremy pada Laverna. Beberapa pesan masuk ke handphonenya dari sang ayah. Mungkin ayahnya sudah mengetahui tentang surat perjanjian, dimana Laverna menyerahkan seluruh hak warisnya nanti pada Yasmine.

Jasmine tersenyum, masa bodoh. Toh ini pilihan gila adiknya. Tidak mengerti mengapa sang adik begitu tergila-gila pada seorang pria hingga rela menukar segalanya.

*

Brak!

Sang ayah menggebrak meja kesal, jas yang digunakannya untuk menjadi pendamping pengantin wanita masih melekat di tubuhnya. Mata Dimitri menatap tajam ke arah Laverna dan Lita.

Sementara Lita menggenggam erat jemari tangan putri tirinya."Laverna pasti memiliki alasan melakukan ini. A...aku akan menghubungi Jasmine, agar pembatalan dapat dilakukan."

"Tidak perlu!" Laverna yang masih memakai gaun pengantin basah tersenyum."Ini kemauanku, bukan Jasmine."

"Kenapa!? Jasmine tidak memiliki bakat dalam berbisnis. Karena itu ayah sudah menyiapkan beberapa saham dan aset bergerak untuknya. Tapi, kamu! Anak kebanggaan ayah, yang akan mewarisi perusahaan! Kenapa melimpahkan segalanya pada Jasmine!?" Bentak sang ayah benar-benar tidak habis fikir, kala mengetahui yang ingin dinikahi Laverna adalah kekasih Jasmine yang bahkan ditukarkan dengan... hak waris perusahaan.

"A...aku lelah..." Laverna menitikkan air matanya menatap ke arah sang ayah."Memiliki gelar doctorate di usia muda, belajar mengelola perusahaan. Terkadang aku hanya tidur tiga jam untuk belajar. A...aku ingin hidup seperti kunang-kunang yang terbang bebas."

Kalimat yang tidak dimengerti oleh sang ayah, menghela napas kasar."Laverna, jika jadwal kerjamu terlalu padat, ayah dapat menguranginya. Jangan mundur untuk hak waris perusahaan."

Laverna mengangkat dagunya, menatap ke arah ayahnya kemudian tersenyum."Ayah hanya kurang beradaptasi. Tanpa kehadiranku perusahaan masih dapat berjalan. Jasmine juga, jangan hanya memanggilku anak kebanggaan. Kakak juga adalah anak kebanggaan ayah."

"Tapi kamu sudah berusaha keras! Relasi yang kamu bangun dari usia 18 tahun. Kuliah sembari bergabung di perusahaan, kamu anak kebanggaan ayah! Laverna, jangan menjadi bodoh hanya karena seorang pria." Pinta Dimitri pada putrinya. Salah satu pilar terbesar di perusahaan miliknya, anak kebanggaannya yang selalu memiliki ide cemerlang. Seorang anak yang selalu dibanggakan pada setiap perjamuan.

Namun, mengapa sekarang putrinya menjadi sebodoh ini? Menukar segalanya hanya untuk seorang pria.

"Ha...hasil kerja kerasku 9 tahun ini masih ada. Aku membeli beberapa ruko dan memiliki restauran dengan tiga cabang. I...itu sudah cukup untuk menunjang hidupku. Aku dapat mandiri...ayah... Mulai saat ini tolong beri perhatian pada kakak." Kalimat demi kalimat yang membuat Lita memeluk putri tirinya.

Dirinya menghela napas kasar, tidak mengetahui bagaimana ini dapat terjadi. Jasmine memang lebih cantik, putri kebanggaannya. Sedangkan Laverna adik yang mendukung Jasmine. Selamanya, putri kandungnya adalah segalanya. Itulah gunanya Laverna yang dibesarkannya dengan baik.

"Laverna, walaupun tidak memiliki hak waris di perusahaan. Tapi setidaknya kamu mau kan tetap bekerja di perusahaan untuk ibu dan ayah?" Pinta Lita lirih. Laverna mengangguk dalam dekapan ibu tirinya.

Seorang ibu yang tidak dapat menahan rasa bahagianya. Bagaimana anak tirinya yang cerdas dapat menjadi sebodoh ini? Hanya karena seorang pria menukar segalanya.

Sementara Laverna masih tersenyum, memejamkan matanya dalam pelukan ibu tirinya. Senyuman yang menyimpan jutaan luka."Aku tau, rasa kasihmu selama ini palsu. Tapi karena kepalsuan itu, aku dapat merasakan dekapan hangat seorang ibu. Ibu, maaf walaupun tidak memiliki hubungan darah. Aku tidak sempat berbakti terlalu lama padamu." Batinnya.

*

Sementara di tempat lain.

"Sial! Sial! Sial!" Teriak Jeremy murka dalam kapal feri yang telah dibelinya. Kapal feri mewah untuk bulan madu.

Bahkan, jujur saja kemarin sore usai membeli cincin, dirinya sudah melompat-lompat di atas kasur, untuk memastikan kekuatan kasur saat malam pertamanya nanti.

Wine kwalitas tinggi, ditambah kamar mandi yang tidak memiliki masalah dengan airnya. Wangi lavender di kamar ini benar-benar sesuai seleranya.

"Dasar Laverna brengsek!" Umpatnya, menyembunyikan wajahnya di atas bantal. Tapi sejenak menatap ke arah tangannya sendiri. Apa dirinya keterlaluan dengan menampar Laverna?

Tidak! Demi keadilan! Laverna sudah menghancurkan hidupnya.

"Dasar! Wanita gila!"

Terpopuler

Comments

Putri Nunggal

Putri Nunggal

aah masih menerka neraka sebenarnya ada apa dengan laverna? kenapa dia hanya berambisi menjadi kunang - kunang yang bisa terbang bebas

2024-02-11

0

Putri Nunggal

Putri Nunggal

semoga aja kau Jasmine tidak mendapatkan salah satupun diantara mereka yang berujung ditinggalkan

2024-02-11

0

Putri Nunggal

Putri Nunggal

waah ternyata itu pernikahan bisnis

2024-02-11

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!