...Cahaya kecilmu mengaburkan pandanganku. Indahnya dirimu bagaikan tidak terlihat....
...Dalam kabut kucoba mengejarmu. Namun, kala tangan ini meraih, itu bukan dirimu....
...Jejakmu terhapus hujan. Hanya meninggalkan sebuah memori, yang membuatku tidak ingin hidup lagi....
Jeremy.
"Maaf..." Ucap Jeremy di seberang sana.
Philip menghela napas kasar."Aku tidak dapat membayangkan jika aku benar-benar diatas."
"Sudah aku bilang maaf." Geram Jeremy masih berbaring di atas sofa tua yang memiliki banyak goresan.
"Aku menghubungimu karena nyonya besar terus mendesak untuk bertemu menantunya." Philip memijit pelipisnya sendiri, kini dirinya berada dalam ruangan Jeremy. Seorang wanita paruh baya berada disana. Penampilan klasik dan berkelas, terlihat anggun bagaikan ibu-ibu drama Korea pagi yang melemparkan uang dan menyiram wajah calon menantu miskinnya.
"Katakan saja aku batal menikah." Alasan cepat darinya.
"Batal menikah apanya? Ibumu bahkan tau semuanya yang terjadi. Di...dia sedang membaca profil Laverna di ruanganmu!" Kata-kata yang membuat Jeremy spontan terbangun. Memijit pelipisnya sendiri, mencari ijin untuk menikahi Jasmine saja susahnya setengah mati.
Tapi ini sudah pasti ibunya akan membenci Laverna. Itu bagus bukan? Semakin sengsara hidup Laverna, semakin baik. Tidak sabar rasanya menyaksikan adegan pertengkaran Laverna dengan Valery, ibunya.
"Baik, katakan lain kali aku akan mengatur pertemuan mereka." Ucap Jeremy menutup panggilan dengan cepat.
"Tapi... tapi... Tuan!" Tidak ada jawaban panggilan sudah diputuskan sepihak oleh Jeremy.
Mata Philip melirik ke arah wanita yang sangarnya bak ratu mafia itu. Wanita yang meminum secangkir teh hijau sembari membaca profil Laverna dengan tenang. Senyuman menyungging di wajahnya.
"A...apa nyonya perlu---" Kalimat Philip yang ketakutan dengan singa betina disela.
"Tidak, aku tidak ingin cemilan lagi. Pada akhirnya semua doaku pada Tuhan terkabul. Jeremy memiliki pasangan yang pantas untuknya. Putraku yang berharga..." Ucap wanita itu penuh rasa syukur. Tapi tetap terlihat menakutkan.
"Tu...tuan dijebak untuk menikah dengannya." Philip berusaha tersenyum.
"Aku tau, karena itu jangan biarkan Jeremy mengajukan perceraian. Kecuali wanita itu menyerah terhadap putraku, dan mengajukan perceraian terlebih dahulu." Itulah yang diucapkan sang nyonya besar.
"Kenapa!?" Tanya Philip tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita ini.
"Jasmine cinta pertamanya? Orang yang menyelamatkan hidupnya? Siapa yang peduli?Jika wanita itu tidak memiliki persiapan sama sekali untuk menjadi nyonya Akara. Kamu sudah melihat profilnya yang menyedihkan? Anak pengusaha kelas menengah tapi hanya lulusan SMU. Tidak memiliki motivasi apapun. Bahkan tidak bekerja, tidak memiliki kemampuan meniti karier. Nenek sihir sepertinya...aku tidak percaya dia yang bersedia merawat putraku." Ucap Valery, penuh rasa kesal.
Bagaimana tidak? Sebagai seorang ibu dirinya pernah mengikuti Jasmine. Tidak ada yang menarik dalam hidupnya, bahkan melakukan sosial eksperimen ala Youtuber untuk menemukan setitik saja kelebihan. Setidaknya Jasmine memiliki hati yang murni, itulah yang ada dalam otaknya saat itu.
Namun, segalanya berakhir dengan kekecewaan. Youtuber yang disewanya untuk menguji Jasmine, menemukan fakta wanita ini brengsek, dengan mudah berkenalan dan menghubungi pria lain. Tidak memiliki empati pada orang lain.
"Jadi apa kelebihan Jasmine?" tanya Valery.
"Dia cantik..." Itulah jawaban jujur dari Philip.
Valery tertawa."Cantik? Dokter bedah jaman sekarang bahkan dapat merubah wajah Mak Erot menjadi Cleopatra. Keputusanku sudah bulat! Seperti bentuk tahu yang digoreng hangat-hangat dipinggir jalan. Walaupun aku tidak tahu sifatnya, setidaknya Laverna lulusan doctorate, berpengalaman menegang proyek-proyek besar. Dia dapat menjadi aset yang berharga bagi perusahaan kita."
"Ta...tapi..." Philip tertunduk.
"Tapi apa?" Tanya Valery.
"Jika ingin bertemu, sebaiknya anda berpura-pura menjadi orang dari kalangan menengah kebawah. Ka... karena selama ini tuan muda berpura-pura hanya menjadi seorang bartender." Jelas Philip.
"Dasar tukang es cendol!" Umpat Valery tertuju pada putranya.
*
Gas sudah terpasang, begitu juga sekarung beras, dirinya mulai memasak. Sedangkan Jeremy? Pemuda itu hanya berbaring di sofa, mengirimkan pesan entah pada siapa.
Tidak ada sakit hati atau apapun. Laverna tersenyum karena ini merupakan keputusannya. Menikahi Jeremy sebagai harapan terakhirnya yang terkabul.
Hanya sayuran dan bola daging, dirinya sudah terbiasa hidup mandiri kala menempuh pendidikan di luar negeri serta mengelola perusahaan ayahnya.
Bukan perusahaan besar, hanya sebuah perusahaan kelas menengah. Dirinya mulai meletakkan hidangan di atas meja.
"Es cendol! Ayo makan!" Panggil Laverna membuat pemuda itu bangkit, sembari mengomel.
"Cuma ini!? Aku bisa membuat yang lebih baik daripada cuma ini." Lagi-lagi mulut itu berkata pedas.
"Iya! Iya! Aku tahu, kamu pernah membuatkan chopped steak untuk Jasmine kan?" Laverna tersenyum padanya kemudian menghela napas kasar."Aku berharap sekali saja, dapat mencicipi masakan yang kamu buat." Harapannya, entah akan terkabul atau tidak.
"Tidak akan! Masakan yang aku buat hanya untuk ibuku dan Brownies-ku, kamu penghianat tidak berhak mencicipinya." Jawab Jeremy, menyuapi mulutnya dengan nasi dan sayuran.
"Aku sudah bilang, mulai sekarang aku adalah Brownies-mu." Laverna tertawa kecil.
"Apa kamu memiliki bukti?" Tanya Jeremy.
"Tidak, tapi Cookies tidak akan pernah meninggalkan Brownies-nya." Jawaban dari Laverna membuat Jeremy terdiam sesaat. Janji yang diucapkannya kala remaja.
Namun, sekali lagi, Laverna baru datang dari luar negeri dua tahun ini. Kala dirinya telah berstatus sebagai kekasih Jasmine. Jasmine juga menjelaskan jika Laverna ada di yayasan amal bersama mereka.
Tapi...tapi...itu janji yang diucapkan Jeremy kala Brownies menyelamatkan nyawanya, saat tenggelam di kolam ikan. Apa Laverna juga ada disana, menyaksikan Jasmine menyelamatkan nyawanya?
Masa bodoh! Itulah yang ada otak pemuda itu. Kembali makan menikmati makanan yang anehnya.
"Lumayan enak..." batinnya, makan dengan lahap.
"Dasar! Orang miskin kelaparan! Makannya pelan-pelan!" Ucap Laverna tersenyum menatap ke arah Jeremy.
Benar-benar manis sama seperti Cookies-nya saat remaja. Cookies, begitu rupawan, namun tidak dapat melihat. Ditarik dan dibimbing oleh Brownies, membawanya bermain memakan cemilan yang dibawanya bersama.
Terkadang Laverna berfikir, atau bahkan bersyukur. Jeremy tidak mempercayai kata-katanya. Karena semakin dekat sebuah hubungan, maka semakin menyakitkan untuk kehilangannya.
Jeremy? Dia tidak akan menyadari bahkan kala Laverna lenyap dari dunia ini. Sayap kunang-kunang kecil yang hanya terbang menjelajahi hutan sekitar 2-3 minggu. Hanya untuk menemukan pasangannya, hanya untuk kawin. Sebelum mati dalam pelukan hutan.
Seberapapun buruk perlakuan Jeremy, dirinya tetap bahagia. Sebuah kebahagiaan yang begitu mahal.
"Malam ini aku tidak tidur di rumah. Aku harus bekerja di club' malam. Kamu tidak boleh tidur, kecuali aku sudah pulang." Tegas Jeremy menunjuk-nunjuk menggunakan sendok.
"Mengerti, tapi aku harap kamu mempersiapkan diri dan mau untuk tidur denganku walaupun hanya sekali." Laverna mengedipkan sebelah matanya.
"A...aku tidak mungkin mau! Pengkhianat!" Tegas Jeremy.
"Kamu akan mau, sekali saja..." Pintanya, ingin menjadi istri sungguhan, walaupun hanya 90 hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Abimanyu Rara Mpuzz
kok sama panggilannya yah
2024-07-31
0
💖 sweet love 🌺
😂😂😂😂 malah ngakak
2024-05-31
0
rahma manulang
wkwkw..es cendol
2024-04-05
0