Selingkuh (Selingan Keluarga Utuh)

...Cookies? Manismu bagaikan cookies. Senyumanmu serupa pelangi sore....

...Setiamu seperti kereta, hanya mengikuti rel. Kereta yang ingin ku kejar, hanya untuk berkata, betapa aku mencintaimu....

...Angin sore membelai rambutku, menatap kepergianmu yang hanya melihat rel....

...Berusaha tersenyum, dalam tangisan melambaikan tangan perpisahan. Semoga kamu bahagia....

Laverna.

"Terimakasih, untuk kerjasamanya." Ucap Laverna pada seorang pemuda yang mungkin seusia dengannya.

"Sama-sama, maaf menyusahkan mu. Aku sudah menunggu 2 jam tapi seseorang yang bernama Jasmine belum datang juga. Entah bagaimana jadinya kalau kamu tidak ada. Mungkin jika bukan kamu yang menangani, aku akan menghentikan kerjasama dengan perusahaan ini." Sang pemuda menghela napas kemudian tersenyum.

"Aku akan mengajari kakakku. Tolong maklumi dia, dan jangan hentikan kerjasama dengan perusahaan kami. Setiap proyek yang kita tangani bersama akan sukses bukan? Jasmine tidak kalah hebatnya denganku. Kali ini sebagai permintaan maaf, masalah desain awal aku yang akan mengatur." Kalimat dari Laverna, membuat pemuda itu tersenyum.

"Deal! Tetaplah bekerja di perusahaan, walaupun sudah menikah. Kasihan ayahmu sudah terlalu tua. Aku permisi dulu, harus menemani ibuku berobat." Ucap sang pemuda, mulai bangkit dari tempat duduknya.

"Ibumu sakit apa?" Tanya Laverna padanya.

"Kanker otak, kamu taukan ibu bekerja di masa mudanya sebagai apa? Ibuku melakukan dua pekerjaan sekaligus, hanya agar aku dapat bersekolah. Karena itu, ini kesalahanku..." Ucap sang pemuda berusaha tersenyum, namun air mata itu tertahan di pelupuk matanya.

"Sampaikan salam ku pada bibi..." Hanya itulah yang diucapkan Laverna. Hingga sang pemuda pada akhirnya meninggalkannya di restauran seorang diri.

Mungkin karena inilah Laverna tidak pernah mengatakan tentang penyakitnya, bahkan berniat mati diam-diam.

Menghela napas kasar, fotonya dengan seorang pria berambut pirang dan mata biru masih ada. Kenalannya kala kuliah di luar negeri. Seorang pria pecinta sesama jenis.

Foto-foto yang masih tersimpan di laptopnya. Segala rencananya sudah matang. Mulai dari memesan barang dari berbagai negara secara online untuk selanjutnya di kirim ke Jepang. Agar nantinya dikirimkan setiap tahun secara bertahap.

Foto, surat, serta hadiah. Menyakinkan dirinya masih hidup dan berkeliling dunia bersama kekasih barunya setelah perceraian dengan Jeremy.

Menghirup napas, sore ini dirinya akan bertemu lagi dengan Cookies-nya.

*

Seperti biasanya pula, Jeremy turun dari mobil milik Philip. Bertindak seolah baru datang dari melakukan perselingkuhan.

"Apa benar-benar terlihat seperti ini?" Tanya Jeremy mengamati lehernya dari kaca spion mobil. Tanda keunguan, yang biasa tercipta dari rasa luar biasa kala hendak mengeluarkan mayonaise, dalam proses menanam jagung.

"Iya! Itu akan terlihat jelas. Aku sendiri yang melukisnya menggunakan makeup sekertarismu. Dasar suami sinting! Suami lain biasanya menutupi perselingkuhannya. Tapi kamu malah berusaha membuat istrimu, menyangka kamu berselingkuh." Komat-kamit mulut Philip mengomel, bagaikan Mbah dukun membaca mantra.

"Sudah aku bilang, Laverna akan menyerah kemudian melepaskanku. Itulah tujuan utamaku!" Kalimat menggebu-gebu dari Jeremy.

Philip menghela napas."Apa kamu tidak belajar dari pengalaman? Kenapa orang yang IQ-nya lebih tinggi dariku dapat berbuat kesalahan yang sama?"

"Apa?" Jeremy mengernyitkan keningnya.

"Begini, secara logika saja, kamu berpura-pura menjadi play boy bayaran yang tidur dan berciuman dengan sejuta wanita. Tapi ciuman pertamamu malah diambil. Kalau kamu menunjukkan tanda ini pada Laverna mungkin 'itu'mu akan diambil." Kalimat Philip membuat wajah Jeremy pias.

"Ituku?" Tanya Jeremy memastikan.

"Maksudku keperjakaanmu! Ayo! Semangat berjuang! Pegang ularmu baik-baik, jangan dimasukkan. Ini dekat dengan pemilu, jangan mencoblos di ranjang. Nanti setelah khilaf jadi ketagihan." Sebuah nasehat berharga dari seorang teman.

Jeremy terdiam sejenak, entah kenapa pemikirannya kemana-mana. Membayangkan Laverna menyerah di bawah tubuhnya. Dengan cepat pula pemuda itu menampar dirinya sendiri.

Perlahan Philip mendekat, kemudian berbisik."Itumu bereaksi, jika tidak dikeluarkan bisa menjadi penyakit."

"Setan!" Umpat Jeremy merasa dirinya dihasut. Meninggalkan Philip yang tertawa kecil meninggalkan Jeremy memasuki rumah yang cukup jauh memasuki pemukiman kumuh.

Melewati saluran air yang cukup bau, belum lagi sampah ada di mana-mana. Bagaimana Laverna bisa tahan tinggi di tempat seperti ini? Cepat atau lambat nona muda akan keluar rumah dan menangis.

Namun Jeremy kembali terbayang ciuman mereka. Gila! Kenapa sekujur tubuhnya bereaksi hanya karena sebuah ciuman?

Melanjutkan langkahnya dengan cepat. Dirinya tidak boleh menjamah Laverna sama sekali.

Hingga kala dirinya akan membuka pintu rumah. Pintu masih terkunci, suara seseorang terdengar dari dalam.

"Laverna!" Panggil Jeremy, menggedor pintu.

"Siapa?" Tanya seseorang dari dalam sana, suara yang benar-benar familiar.

"Jeremy." Jawab Jeremy merasa ada hal yang aneh.

"Jangan dibuka! Aku malu!" Suara Laverna terdengar samar dari dalam sana.

"Sudah! Tidak perlu malu! Ingat! Apa moto wanita penguasa suami!?" Tanya seorang wanita lagi.

"Pertaruhkan semuanya, sebelum suami berpaling. Tapi jika tetap berpaling juga, lebih baik tinggalkan, cari cinta yang lain." Jawaban ragu dari Laverna.

"Bagus!" Suara wanita yang lumayan familiar itu terdengar lagi.

Jeremy menelan ludahnya, wanita yang melahirkannya. Wanita tercantik yang rela bergadang semalaman demi menonton drama Korea. Dapat memperbudak ayahnya dengan satu kalimat.

"Mampus!" Ucap Jeremy, menyadari ibunya yang ada di dalam.

Tapi sudah terlambat, dirinya ditarik. Dipaksa masuk oleh sang ibu.

Namun, ada yang aneh kali ini, ibunya yang berkelas bak pemeran jahat di drama Korea, ibu mertua yang dalam setiap adegan akan menyiram dan melemparkan uang agar menjauhi putranya. Kali ini menjadi ibu-ibu berdaster lusuh, tersenyum di hadapannya.

"Kamu masih perjaka?" Tanya sang ibu padanya.

Jeremy tidak menjawab sama sekali, bagaimana pun Laverna pasti masih berada di tempat ini entah bersembunyi dimana.

"Kamu tidur dengan wanita lain!? Wanita murahan yang bagaimana!?" Teriak ibunya murka bagaikan induk singa, melihat tanda keunguan di leher putranya.

Dengan cepat Jeremy menghapusnya."Hanya makeup!" ucapnya gemetaran.

"Begitu? Jika kamu berani berhubungan dengan---" Kalimat sang ibu disela dengan cepat, tidak ingin Laverna tahu dirinya bukan playboy.

"Jadi! Apa tujuan ibu kemari!?" Tanya Jeremy.

"Tentu saja, mempercepat proses pembuatan cucu. Laverna!" Teriak sang ibu agar wanita itu keluar.

Wanita yang keluar dengan ragu, dari area belakang sofa. Kain tipis berwarna putih menutupi tubuhnya. Bukan tipis, lebih tepatnya seperti transparan.

Pakaian dalam bagian bawah terikat, sedangkan pakaian dalam bagian atasnya tidak dikenakan sama sekali. Membuat Laverna bersusah payah menutupi bagian dadanya yang hanya berlapis kain tipis hampir transparan.

"Jangan ditutupi!" Perintah Valery melepaskan tangan Laverna.

"Aku malu!" Ucap Laverna bingung harus bagaimana.

"Malu? Pelakor di luar sana lebih tidak tahu malu!" Tegas Valery memberikan ajaran sesat, tapi enak pada menantunya.

"Ibuku, meracuni mentalku." Batin Jeremy, dengan imajinasi menaklukkan Laverna. Tapi tidak! Dirinya harus menepati janjinya pada Brownies-nya, seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya.

Terpopuler

Comments

sansan

sansan

ini baru ibu mertua keren....🥰🥰🥰

2024-08-20

0

Abimanyu Rara Mpuzz

Abimanyu Rara Mpuzz

like mother in law❤️

2024-08-02

0

Bzaa

Bzaa

mka mertua udah gak sabar pen momong cucu😁

2024-06-26

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!