Panik kan?

...Menatap ke belakang, terlihat jejakku menghilang ditelan derasnya air hujan....

...Apa aku boleh serakah, berbalik untuk memilikimu? Nyatanya aku tetap harus melangkah....

...Tidak ingin menutup mata di pelukanmu. Tidak ingin menerima rasa bersalah darimu. Karena cinta, bukan rasa bersalah....

...Cinta adalah sebuah keikhlasan bagiku......

Laverna.

Jeremy menelan ludahnya."Berhenti!" teriaknya, mengeluarkan uang 50 ribu dari dompetnya. Kemudian menempelkan pada kening istrinya.

"Ini baru namanya suami. Detergen sudah habis juga...jadi 5000nya tidak aku kembalikan." Laverna tersenyum padanya.

"Terserah!" Ucapnya mengalihkan pandangannya. Tidak ingin melecehkan adik dari wanita yang dicintainya.

Laverna membaringkan tubuhnya, memeluk tubuh Jeremy dari belakang yang memunggungi nya.

"Lepas!" Ucap Jeremy.

"Biar seperti ini, sebentar saja. Kalau melawan aku akan mengikuti saran ibumu..." Ucap Laverna berusaha tersenyum.

Pada awalnya Jeremy yang berusaha melepaskan terdiam. Apa ini perasaannya saja? Atau memang ada rasa nyaman yang berbeda? Bukan napsu atau apapun, hanya nyaman saja dipeluk dari belakang seperti ini.

Tidak ada jawaban, membuat Laverna semakin mengeratkan pelukannya. Menikmati setiap detik paling indah di hidupnya. Sore ini sepulang kerja dirinya kembali muntah darah.

Obat-obatan? Ini kanker hati, bahkan terkadang berlebihan obat dapat memperburuk kondisinya.

"Kenapa kamu begini? Tidak mungkin hanya karena iri pada Jasmine." Tanya Jeremy tidak mengerti.

"Karena selama ini aku memendam perasaan padamu. 90 hari sudah cukup untukku. Jika kamu belum mencintaiku, aku akan pergi berkeliling dunia, mencari pria Eropa atau mungkin Barat, kemudian menikah di tempat yang jauh. Aku tidak akan kembali lagi." Laverna terkekeh, senyuman menyungging di wajahnya.

"Jika memiliki mimpi berkeliling dunia, lebih baik lakukan. Uangmu sudah cukup bukan? Dengar! Entah itu 90 hari, 9 tahun, ataupun 90 tahun, aku tidak akan pernah bisa mencintaimu!" Tegas Jeremy namun enggan melepaskan pelukan Laverna.

"Aku tau, anggap saja 90 hari ini hanya hadiah untukku yang akan segera pergi berlibur." Kalimat yang membuat Jeremy terdiam sejenak.

"Kamu akan menikah dengan orang asing di luar negeri?" Tanyanya.

"Iya, mungkin saja, aku akan menikah dan berganti kewarganegaraan. Hingga tidak perlu kembali lagi. Karena itu, ini hadiah perpisahan, sebelum liburan panjangku." Jawaban dari sang gadis yang hanya memiliki harapan hidup setipis tissue.

"Laverna, kenapa harus tinggal di luar negeri? Bagaimana dengan perusahaan ayahmu, akan ada banyak masalah jika---" Kalimat Jeremy disela.

"Ada kak Jasmine, dia akan menggantikan posisiku sebagai anak emas ayah. Selama ini aku bermimpi untuk hidup bebas. Liburanku setelah semua ini, aku akan mewujudkannya. Memakai celana jeans, dan pakaian hangat berkeliling Eropa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu juga! Berhentilah menjadi tukang es cendol! Terlalu sering bergadang dan mencicipi alkohol dapat membuat beberapa organ tubuhmu terganggu. Bagaimana jika kamu mati muda, siapa yang akan menjaga kak Jasmine?" Komat-kamit mulut itu mengomel. Sebuah nasehat dari seseorang yang tidak menjaga kesehatannya, berusaha keras. Hanya untuk membanggakan orang tuanya.

"Aku bukan tukang es cendol! Aku bartender!" Pemuda itu kembali menegaskan.

Laverna hanya mengangguk sembari tertawa."90 hari yang menyenangkan..." hanya itulah yang terucap dari bibirnya.

Sedangkan Jeremy hendak menyentuh tangan Laverna yang melingkar di perutnya. Entah kenapa dirinya tidak ingin sahabatnya itu pergi. Tapi tidak... niatnya diurungkan olehnya.

Jika itu memang yang akan dilakukan Laverna, mungkin ini akan lebih baik. Dirinya hanya harus bertahan selama 90 hari, kemudian kembali ke pelukan Brownies-nya.

Hujan yang mengguyur dengan deras, menbuat dua pasang bola mata terpejam. Mencari kehangatan yang dirindukan mereka.

Perlahan dalam tidurnya Jeremy bagaikan kembali ke masa lalu. Sebuah mimpi yang indah, dimana dirinya berbaring di atas rumput. Dengan kepalanya berada di pangkuan seorang gadis. Ini Brownies-nya, dirinya dapat merasakannya. Walaupun wajah gadis ini tidak terlihat.

Hembusan angin berlalu.

"Cookies, kamu manis." Gadis remaja itu menarik pipinya seperti biasanya.

"Jangan menarik pipiku! Ini sakit!" Pekik Jeremy, dengan tubuh kembali ke masa remaja.

"Aku tau, tapi kita terbuat dari coklat. Memiliki rasa manis dan pahit. Karena itu... lupakan aku..." Ucap gadis itu mengecup bibirnya.

Tunggu! Hal ini tidak pernah terjadi dalam masa lalunya. Jeremy segera bangun, duduk di atas rumput. Sedangkan Brownies-nya berdiri, gadis remaja yang dicintainya.

"Seperti coklat, memiliki sisi manis dan pahit. Sisi manis adalah saat pertemuan dan sisi pahit saat perpisahan." Kalimat dari gadis yang tidak terlihat wajahnya itu. Melangkah pergi.

"Tu...tung...tunggu!" Teriak Jeremy, tapi kakinya bagaikan terbelit akar tidak dapat melangkah. Perlahan senyuman samar gadis kecil itu terlihat dalam kabut. Wajah yang tidak terlihat, sebuah mimpi samar begitu aneh. Angin menghapus dirinya.

"Tunggu!" Teriak Jeremy terbangun dari tidurnya. Napasnya tersengal-sengal, air matanya mengalir. Ada rasa sakit menghujam dadanya.

Matanya menatap ke arah Laverna yang tengah menyiapkan pakaiannya."Sudah bangun? Sebaiknya kamu tidur lagi. Ini masih terlalu pagi." Itulah yang diucapkannya.

Rasa sesak yang aneh setiap menatap Laverna. Dirinya segera bangkit. Apa sebuah mimpi bagaikan pertanda Jasmine akan meninggalkannya? Brownies-nya yang selalu mengerti dengan dirinya? Gadis remaja yang menyelamatkan nyawanya.

"Kamu mau kemana?" Tanya Laverna kala Jeremy meraih jaket dan kunci motor.

"Kemana lagi? Meminta maaf pada Jasmine, agar tidak kehilangannya. Kamu seharusnya sadar diri!" Kalimat penuh penekanan dari Jeremy pada istrinya. Melangkah pergi dengan cepat.

Bibir Laverna berusaha tersenyum, kemudian berucap."Hati-hati jalanan licin, karena hujan semalam. Sampaikan salam ku pada kakak." Hanya itulah yang dikatakan olehnya.

Brak!

Kala pintu tertutup, Laverna melangkah menuju dapur. Matanya menatap ke arah cermin, wajahnya semakin pucat saja. Mungkin dirinya harus memakai perawatan wajah yang lain. Detik demi detik yang begitu berharga baginya. Tidak ingin dihabiskannya dengan rasa iri pada orang lain.

Yang terpenting baginya adalah kebahagiaannya. Semalaman dirinya memeluk Jeremy? Itu sudah menjadi kenangan terindah baginya. Sebuah cinta yang mungkin akan dibawanya hingga ke surga.

*

Motornya terhenti di depan gerbang rumah yang cukup besar. Jeremy terdiam sejenak, apa dengan bertemu Jasmine rasa sesak ini menghilang.

Hingga seorang security bertanya padanya."Maaf, mau cari siapa?" tanyanya.

"Apa Jasmine ada?" Jeremy menghela napas kasar. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Brownies-nya, setelah hari pernikahannya dengan Laverna.

"Nona mungkin belum bangun. Tapi kalau mau menunggu silahkan." Sang security yang memang tidak asing dengan wajah Jeremy membukakan pintu gerbang.

Dirinya menghela napas berkali-kali. Memasuki rumah di pemukiman elite tersebut. Seorang pelayan menghidangkan teh hangat untuknya.

Sebenarnya ada beberapa detail yang menarik perhatiannya. Ada mobil asing di tempat parkir rumah ini. Apa sedang ada tamu?

*

Tok!

Tok!

Tok!

Suara ketukan pintu terdengar, dengan malas Jasmine membuka pintu menatap ke arah pelayannya."Ada apa?" tanyanya.

"Jeremy datang, katanya ingin bertemu dengan nona." Jawab sang pelayan. Sementara Jasmine melirik ke arah Gery yang berada di ranjangnya. Masih dalam keadaan tertidur pulas.

Bingung harus bagaimana. Kenapa orang posesif tapi tidak mau disentuh itu (Jeremy) datang?

Menghela napas berkali-kali, setelah bercerai dengan Laverna sesuai perjanjian, dirinya akan tetap menjadikan Jeremy sebagai cadangan. Jadi ...

"Jasmine..." Tidak disangka dan diduga, Jeremy mengikuti sang pelayan. Hingga kini berada di lantai dua. Lebih tepatnya baru saja menaiki tangga.

"Mampus!" Batinnya kebingungan, tersenyum menunjukkan deretan gigi ala iklan Pepsodent. Merapikan rambutnya, agar tanda keunguan itu tidak terlihat.

Terpopuler

Comments

Putri Nunggal

Putri Nunggal

kenapa kamu itu bodoh Jimi gak bisa mengenali brownies yang asli dan percaya dengan pengakuan palsunya si jalang Jasmine

2024-02-12

0

Putri Nunggal

Putri Nunggal

Napa malah tambah sakit ko 😭😭😭

2024-02-12

0

Putri Nunggal

Putri Nunggal

kenapa kamu bisa bicara sejahat itu padahal kalian pernah besar bersama walaupun pernah terpisahkan karna jarak

2024-02-12

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!